RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
71. CERITA YETNO 2


__ADS_3

“Saya makin ketakutan pak, waktu itu nafas saya makin sesak karena dada saya terkena pukulan sesuatu yang melayang menembus plafon kamar itu”


“Ditambah rasa takut saya yang makin menjadi-jadi karena suara perempuan itu, akibatnya saya saat itu pingsang pak”


Yetno diam sejenak, wajah dia kini mulai gusar setelah bercerita  barusan.


Dia mengambil sebatang rokok dari sebungkus rokok dan korek yang dari tadi dia bawa.


Aku bisa lihat tangan dia yang sedikit bergetar ketika menyalakan sebatang rokok itu, keringatnya pun mulai membasahi dahi dan rambut gondrongnya.


Yetno diam sambil menghisap rokok…..


Dia hanya menghisap dan menghembuskan rokok itu dengan cepat, tanpa dia rasakan nikmatnya asap rokok yang memenuhi mulut dan tenggorokanya.


“Mas Yetno. kalau tidak bisa cerita tidak papa mas, saya tidak memaksa kok mas”


“B..bisa pak, saya harus cerita tentang apa yang saya ketahui…”


“S..saya merasa pak Agus mampu menyelesaikan sesuatu yang aneh disana”


“Jadi malam itu saya memang pingsan, tetapi saya bisa bangun dari pingsan ketika saya mendengar sesuatu yang keras”


“Suara yang mirip dengan sebuah benda yang sedang ditarik… atau didorong… pokoknya ada benda berat yang sedang dipindahkanlah pak”


“Pokoknya yang saya dengar itu adalah suara gesekan antara benda berat dengan tanah yang ada di samping kamar saya”


“Waktu itu pikiran saya makin menjadi-jadi, yang saya pikir itu adalah hantu yang sedang menarik manusia… atau zombie apalah yang sedang menarik mangsanya!”


“Saya semakin ketakutan..saya takut apabila sesuatu yang ada di sebelah kamar saya itu mengetahui keadaan saya yang ada di kamar itu”


“Bahkan untuk bernafas pun saya usahakan untuk sepelan mungkin, saking takutnya saya pak”


Yetno diam lagi sambil menghisap batang rokok yang tinggal separuh…


Mungkin untuk mengatasi rasa takut akibat dia mengingat kembali kisah yang pernah dialami, maka dia merokok dengan cepat tanpa dia rasakan nikmatnya rokok itu.


Yetno menghisap dan mengeluarkan asap rokok  itu dengan cepat…


Sebenarnya apa yang dialami Yetno juga pernah kualami, hanya saja aku tidak mau memberitahu apa yang kualami juga…, Kecuali suara perempuan itu.


Aku belum pernah mendengar ada suara perempuan seperti yang Yetno ceritakan tadi.


Kubiarkan dia menuntaskan ceritanya, agar dia bisa lega…


“Suara benda berat yang entah didorong atau sedang diseret itu tidak hanya sekali saja pak, tetapi hingga dua kali saya mendengar suara sesuatu yang sedang menyeret atau mendorong benda berat”


“Kejadian itu kira-kira jam berapa mas?”


“Saya tidak tau jam berapa waktu itu, karena saya tidak memiliki jam tangan pak”

__ADS_1


“Nah setelah itu suara mesin yang mirip dengan suara mesin diesel yang ada di belakang rumah makin lama makin mengecil dan akhirnya suara itu hilang”


“Suasana gelap dan sunyi sepi dikamar mulai menakutkan saya lagi pak….


“Tetapi tiba-tiba saya mendengar suara orang yang berbicara dengan berbisik. dan suara itu tidak jauh dari rumah ini pak”


“Saya mengumpulkan keberanian saya untuk mengintip asal suara orang yang sedang berbisik bisik itu”


“Setelah hati saya semakin yakin bahwa suara itu adalah suara orang, maka di dalam kamar yang gelap itu saya berjalan mendekati jendela kamar”


“Melalui kisi-kisi jendela saya berusaha melihat siapa yang ada di luar sana….


Yetno kembali menghisap rokoknya, tetapi untuk saat ini dia terlihat lebih tenang, dia bisa mengendalikan emosi dan ketakutanya.


Bahkan asap rokok itu dia bisa nikmati juga…


“Tidak jauh dari rumah ini saya melihat dua orang pak, dia adalah Mamad dan satu orang saat itu saya belum tau namanya, karena waktu malam itu saya belum tau siapa dia”


“Waktu itu saya yakin yang saya lihat itu adalah Mamad dan satu orang lagi yang waktu itu saya belum kenal”


“Saya bisa melihat meskipun tidak seberapa jelas, karena cahaya bulan saat itu sedang terang, sehingga saya bisa melihat dua orang yang sedang berdiri di dekat pohon besar”


“Setelah melihat mereka berdua, saya semakin berani pak, hal-hal ghaib yang tadi sempat merasuki sudah saya buang jauh-jauh”


“Kemudian saya beranikan diri untuk keluar dari kamar… tujuan saya adalah bagian belakang rumah”


“Bukankah waktu itu keadaanya gelap gulita mas, kunci rumah sampean taruh mana mas?”


“Memang benar saat itu keadaanya gelap gulita, tapi tidak tau kenapa saya mempunyai keberanian untuk keluar dari kamar”


“Seperti ada yang menuntun dan memapah saya pak”


“Sebentar pak, saya lanjutkan lagi cerita saya pak”


“Ketika saya sudah di ada di depan kamar mandi, yang saat itu pintunya dalam keadaan terbuka, tiba-tiba ada orang yang sedang berusaha membuka pintu belakang”


“Tetapi karena ternyata kumpulan kunci rumah masih menempel di pintu belakang karena saya lupa mencabutnya, maka orang yang akan masuk itu tidak bisa membuka pintu”


“Saya tidak tau itu maling atau apa, pokoknya ada orang yang berusaha membuka pintu rumah bagian belakang”


“Dari sini saya yakin bahwa ada yang sedang akan mengerjai saya pak”


“Insting saya berkata bahwa orang yang berusaha masuk lewat belakang tadi pasti akan menuju ke pintu depan”


“Saat ini hal-hal tentang perhantuan sudah hilang dari pikiran saya, tetapi dada saya rasanya masih sakit sekali….”


“Ketika sudah tidak ada suara orang yang berusaha membuka pintu belakang lagi, saya cabut anak kunci dari pintu belakang”


“Kemudian saya menuju ke pintu depan…anak kunci pintu depan saya masukan di lubang kuncinya”

__ADS_1


“Ternyata perkiraan saya benar, tidak lama ada orang yang berusaha membuka pintu depan”


“Tetapi karena anak kunci sudah saya masukan ke lubang kunci, akibatnya orang itu tidak berhasil membuka pintu”


“Saat itu saya tidak peduli pak, mau itu pak Wandi atau siapapun, pokoknya rumah itu harus aman dan terkunci semua”


“Di luar tidak ada suara siapapun, padahal saya berharap ada suara yang saya kenal, agar saya bisa ceritakan kepada pak Wandi”


“Kamu kok bisa seberani itu mas. Apakah sudah tidak takut sama sekali?”


“Tidak pak, saya sudah tidak takut lagi, yang ada di pikiran saya adalah bagaimana mengamankan rumah ini, sesuai dengan omongan mbah Karyo”


“Sebelumnya mbah Karyo pernah bilang, kalau malam kunci  semua pintu dan jangan bolehkan siapapun masuk, karena kadang ada saja yang hilang”


“Ketika saya tanya mbah Karyo yang hilang itu apa, mbah Karyo hanya diam saja, tidak menjelaskan apa yang hilang di rumah itu”


“Saya lanjutkan ya pak….”


“Orang itu tetap saja berusaha membuka kunci rumah, tetapi akhirnya menyerah juga, akhirnya keadaan menjadi sepi lagi pak”


“Keadaan sepi dan gelap ini perlahan lahan kembali membuat saya takut….”


“Kemudian saya berusaha berpikir logis, bawah suara-suara yang tadi itu berusaha menakuti saya agar saya tidak keluar dari kamar, agar orang yang masuk tadi bebas melakukan pencurian di dalam rumah”


“Besok paginya perkiraan mungkin sekitar pukul 05.30 an, karena saat itu sinar matahari masih di ufuk timur. dan sinarnya belum terang sama sekali,  ada truk yang mendekat rumah”


“Waktu itu saya sedang duduk-duduk di ruang tamu. Saya keluar rumah untuk melihat siapa yang datang dan perlunya apa datang sepagi ini”


“Truk itu parkir di depan rumah, dan kemudian keneknya turun….”


“Kenek truk itu memperkenalkan diri sebagai Burhan, dan truk itu datang karena akan mengambil palet yang sudah siap diangkut”


“Dan kenek itu adalah yang semalam saya lihat bersama dengan Mamad di samping kamar saya pak”


“Saya merasa ada sesuatu disini yang tidak saya ketahui, tetapi saya tidak ngurus karena niat saya adalah kerja disini”


“Tidak lama kemudian para pekerja datang. pak Solikin membuka pintu gerbang samping, dan mereka mulai mengangkati palet untuk ditumpuk di atas truk”


“Ketika sudah separuh pemuatan, tiba-tiba pak Wandi datang. yah seperti kemarin dia datang kemudian kebelakang untuk melihat mesin dan lainya, termasuk ke drum-drum solar yang ada di dekat sumur”


Tidak lama kemudian datang mobil pick up, ternyata mobil itu membawa solar. dua drum penuh berisi solar mereka gelindingkan dari atas mobil menggunakan dua buah papan yang kuat.


“Hari kedua ini berhasil saya lewati dengan selamat hingga pagi hari. Waktu istirahat tiba saya seperti biasa hanya ngobrol dengan mbah Karyo saja”


“Tapi saya tidak cerita tentang apa yang saya alami, juga tentang luka saya juga…”


“Saya cuma cerita bahwa malam-malam saya lihat Mamad dan Burhan ada di samping rumah. Itu Saja pak”


“Yang saya tidak suka itu tatapan pak Wandi, dia menatap saya dengan wajah yang benar-benar tidak bersahabat pada waktu itu”

__ADS_1


__ADS_2