
Ternyata itu Mamad….
Orang yang tinggi besar dan hitam itu adalah Mamad, sesuai dengan ciri khasnya tinggi hitam dan besar.
Berarti yang waktu Yetno cerita kepadaku tentang orang yang mencekiknya di kamar itu juga Mamad, tapi apakah cerita Yetno ini hanya khayalan dia atau tidak itu yang aku tidak tau.
Aku dan Tina tidak bisa bergerak sama sekali ketika dua orang konyol itu kembali ke rumah penggergajian setelah mereka menyembunyikan motornya.
Mereka berdua setengah berlari menuju ke rumah penggergajian setelah mereka berdua merasa bahwa Burhan dalam masalah.
Yetno dan orang yang aku belum tau siapa dia dan wajahnya itu melewati tempat kami sembunyi sambil jongkok.
“Mas, mereka sudah melewati kita… gimana mas, kita ikuti mereka atau kita balik saja?”
“Kalau benar Burhan dalam bahaya, harusnya kita juga ke sana mbak, saya tidak mau ada apa-apa dengan Burhan ketika saya sedang pergi”
“Tapi apa benar Mamad itu kelakuannya seperti itu mas, Tina rasa Mamad itu orang yang baik dan tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun”
“Bahkan pak Wandi juga pernah cerita tentang kebaikan Mamad mas”
“Ayo kita kesana saja mbak, kita tunggu hingga dua orang itu belok ke kiri, baru kita ke sana mbak”
Kami setengah berlari dengan berusaha agar tidak ada suara langkah kaki sama sekali, pokoknya aku dan Tina berusaha tidak menginjak daun kering yang bisa mengakibatkan suara kresek kresek.
Dari posisiku saat ini aku bisa melihat dua orang itu sekarang ada di depan pagar rumah, mereka berdua ada di depan pagar dan….
“Ternyata yang bersama Yetno itu adalah pak Wito mbak…!”
“Mereka berdua berarti dekat dengan Burhan!”
“Nah kan mas…makin aneh kan”
“Lalu apa hubungannya mereka dengan Burhan, apakah mereka tiga serangkai yang juga sebagai pencuri solar?”
“Saya kok makin bingung ya mbak…”
“Mbak Tina ingat dengan cerita Yetno tidak?”
“Yang mana mas,... atau yang dia pernah lihat Burhan bersama Mamad?”
“Gini mbak, Yetno dulu kan cerita bahwa Burhan itu bahaya, dan saya disuruh Yetno untuk berhati hati dengan Burhan…”
“Tapi buktinya dia sekarang satu kelompok dengan Burhan mbak”
“Iya mas, tapi itu kan kejadian sudah lama dan waktu itu Yetno kan baru kenal dengan Burhan mas”
“Jadi apa yang dilakukan Burhan pada waktu itu mungkin berbeda dengan saat ini mas”
Kami sembunyi di pepohonan yang ada di seberang rumah, keadaan di seberang rumah memang gelap.
Berbeda dengan di depan halaman rumah, disana ada cahaya sinar lampu petromak yang memancar dari dalam ruang tamu melalui jendela rumah.
“Mbak Tina… tempat kita berdiri ini adalah tempat bayangan hitam yang selalu melihat saya ketika saya ada di teras rumah”
__ADS_1
“Kita kan tidak mengganggu dia mas, saya rasa bayangan hitam itu tidak keberatan dengan keberadaan kita kok”
“Permisi ya siapapun kamu yang tinggal disini, saya tidak bermaksud mengganggu, tetapi saya hanya ingin mengamati orang yang ada di dalam rumah itu”
“Hihihi mas Agus ini…. tapi bener juga apa yang mas agus katakan itu, kita harus permisi dimanapun kita berada mas hehehe”
Mataku tetap tertuju ke Yetno dan pak Wito yang sekarang sudah masuk ke halaman rumah penggergajian.
“Apa yang sedang mereka berdua lakukan mas?”
“Ya itu mbak, saya juga heran bagaimana bisa pak Wito dan Yetno menantang bahaya dengan masuk ke halaman rumah itu”
Pak Wito dan Yetno hanya beberapa saat saja ada di halaman rumah, kemudian mereka berdua keluar dari halaman rumah.
Mereka tidak menuju kembali ke hutan, melainkan mereka berdua menuju ke samping rumah lagi.
Kedua orang itu jalan dengan hati-hati sambil menunduk, mereka takut apabila ada orang yang melihat kehadiran mereka berdua.
“Mas, Tina kayaknya kepingin ke samping rumah, Tina merasa ada sesuatu yang sedang dilakukan oleh dua orang itu tadi”
“Gini mbak Tina, apakah mbak Tina masih bisa melihat dua orang itu berjalan ke mana, kalau masih bisa…ayo kita ke sana mbak”
“Masih dalam jangkauan mas, mereka masih ada di ujung pagar yang mengarah ke samping rumah”
“Ayo kita ikuti mereka… dan ingat di samping rumah sulit untuk cari tempat sembunyi mbak, adanya cuma semak belukar saja”
Kedua orang pak Wito dan Yetno masih terlihat mata kami berdua, mereka berjalan pelan menuju ke arah samping rumah.
Hanya karena adanya cahaya bulan, maka kami masih bisa melihat bayangan kedua orang itu.
Aku berjalan di depan Tina, kami berjalan di samping semak belukar, yah agar mudah untuk mencari tempat berlindung apabila ada sesuatu yang berbahaya.
Aku berjalan sangat pelan…..
“Mas… bau wangi bunga lagi!” bisik Tina
“Iya mbak, semoga tidak ada apa-apa dengan kita”
Bau wangi bunga itu perlahan lahan semakin tajam dan pada akhirnya bau wangi itu berubah…
“Uhh.. kenapa sekarang bau itu berubah menjadi sangat busuk mas”
“Ssstt, jangan keras-keras mbak….”
“Iya mbak, sekarang baunya busuk sekali dan mirip dengan bau bangkai”
Aku ndak tau apa yang menyebabkan bau busuk ini, yang pasti bau busuk ini sangat busuk dan bau ini ada di sekitar kami berdiri.
Sik.. waktu itu…
Waktu aku sendirian di hutan dan tiba-tiba diperlihatkan bayangan rumah oleh ghaib yang ada disini..
Ada yang aneh dengan halaman samping, ada yang berbeda dengan ketika aku diperlihatkan bayangan rumah. tapi apa ya…
__ADS_1
Duh aku lupa apa yang berbeda disini…
Ah asyudahlah, lebih baik fokus dengan keadaan disini saja.
“Mas… kenapa mas Agus diam?”
“Eh ndak papa mbak, saya merasa ada yang berbeda disini, tapi saya lupa apa yang berbeda itu mbak”
“Ah saya bener-bener lupa mbak…”
Aku benar-benar tidak ingat apa yang berbeda disini…
Tapi aku yakin sekali ada yang berbeda dengan waktu itu.
Tidak lama kemudian bau busuk itu hilang, dan berganti dengan wangi lagi.
Aku ndak tau apa bedanya bau-bau ini, apakah kalau busuk itu yang datang adalah makhluk ghaib yang mengerikan, sedangkan kalau wangi berarti yang datang adalah sesuatu yang indah?.
“Mas… mereka berdua sekarang diam di sana, di bagian belakang rumah, tidak tau apa yang mereka sedang kerjakan itu mas”
“Iya mbak….”
Pak Wito dan Yetno sedang jongkok di belakang samping rumah, mereka tidak melakukan apapun, mereka hanya jongkok dan berdiam diri saja.
“Mereka berdua seperti orang yang sedang menunggu sesuatu mbak, tidak ada yang mereka kerjakan selain jongkok dan merokok!”
“Iya mas, mmpph apa mereka sedang menunggu Burhan dan Mamad ya?”
“Ndak mungkin mbak, kalau menunggu Burhan mungkin iya, tetapi kalau Mamad itu yang saya tidak tau mbak”
Jarak kami dengan kedua orang itu mungkin ada sekitar tujuh meteran, kami hanya dibatasi oleh semak belukar saja.
Ketika kami sedang memperhatikan apa yang sedang diperbuat oleh pak Wito dan Burhan. tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara langkah kaki.
Suara langkah kaki yang berasal dari depan menuju ke arah belakang.
“mas….” kata Tina sambil memegang lenganku
“Tenang dan tetap dia mbak Tina, kita akan selamat… tenang saja”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon maaf, untuk mungkin sehari atau dua hari ini mungkin saya tidak update dulu, karena sore ini saya bedrest di rumah sakit. gantian dengan suami saya yang sudah pulih.
Mungkin akibat kecapekan, sehingga tadi pagi setelah menulis bab novel ini saya sempat pingsan…dan suami saya melarang untuk menulis dulu selama masa bed rest saya.
Mohon maaf dan terima kasih*
Tapi saya nekat.... tetep bawa alat ketik
Tapi ini kondisi blm diinfus...
__ADS_1