RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
47. UNTUNG ADA DOKTER JOKO


__ADS_3

Pukul 22.40 kami sudah sampai di rumah sakit di kota.


“Hmmm lukanya kok makin parah gini bu, tadi waktu pulang apa yang dilakukan dengan luka ini?” tanya dokter jaga itu ketika aku dan Tina sudah ada di UGD


“Tidak ada dok, tadi setelah dari sini kami pulang, tetapi suami saya minta diantar ke tempat dia kerja untuk melihat keadaan disana”


“Memangnya diantar kemana dan terkena angin malam juga?” dokter itu curiga dengan perkataan Tina


“Saya antar ke rumah penggergajian yang ada dalam hutan desa …. pak. Setelah melakukan pengecekan tidak ada yang mencurigakan kami kemudian kembali ke rumah lagi”


“Kami berdua sempat melewati hutan, apakah karena terkena angin hutan, makanya luka suami saya menjadi semakin parah dok?”


“Hmmm saya tidak bisa menerka apa yang sedang terjadi dengan suami ibu, hanya saja luka yang diderita ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya”


“Berbeda bagaimana Dok?”


“Sebentar saya mau panggil teman saya dulu, dia yang mungkin paham dengan luka macam seperti ini”


Dokter itu kemudian meninggalkan aku dan Tina, aku ndak tau apa yang akan dia lakukan, tapi setidaknya aku  merasa bahwa keadaan luka yang sedang aku alami ini tidak beres.


“Mas… Tina curiga dengan sesuatu waktu kita perjalanan dari rumah penggergajian kemudian ke rumah TIna”


“Yang waktu bau wangi itu kan mbak Tina?”


“Hah???? Tina pikir hanya Tina aja yang mencium bau wangi itu  mas, ternyata mas Agus juga nyium bau wangi itu juga ya?”


“Iya mbak, waktu itu tiba-tiba luka saya makin sakit”


Tina tidak merespon apa yang aku bicarakan, dia kelihatanya tau apa yang sedang kupikirkan, wajah Tina yang tadinya agak santai saat ini tiba-tiba menegang.


“Mas, Tina takut apabila mas Agus….. ah sudah lah”


“Kenapa mbak Tina?


“Ndak papa mas, sudahlah kita tunggu saja hingga dokter itu datang lagi mas”


Aku merasa ada yang aneh dengan Tina, tidak biasanya dia tidak meneruskan pembicaraan, dia sekarang malah duduk dengan termenung.


Aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Tina, hanya saja yang bisa diambil kesimpulan, ternyata Tina juga tau tentang bau wangi yang ada di hutan itu.


Ketika aku sedang memikirkan apa saja yang sedang dipikirkan Tina, tiba-tiba dokter yang tadi memeriksaku datang, dia bersama temannya yang mungkin juga akan memeriksa lukaku.


Seorang yang agak tua dengan rambut yang seluruhnya sudah beruban,  dan dengan tubuh yang agak bungkuk.


“Bu Agus, ini dokter Joko, kebetulan beliau tadi sedang memeriksa beberapa berkas. Saya ajak kesini karena beliau lebih paham dengan luka yang diderita suami ibu” kata dokter muda itu


“Permisi pak, bisa saya lihat lukanya” kata dokter Joko


Tina membantu dengan membuka kemejaku agar mudah bagi dokter Joko untuk memeriksa luka yang sedang kuderita.


Dokter itu terkejut ketika melihat luka yang ada di dadaku. Tetapi hanya sesaat, karena setelah itu dokter Joko mengajak dokter muda yang memeriksaku menjauh.

__ADS_1


“Eh  bu Agus, bisa ikut kami sebentar?” ajak dokter Joko


Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, dan kenapa hanya membahas lukaku saja mereka menjauhi aku.


Aku curiga dokter Joko itu bukan hanya sekedar dokter, tetapi dia mungkin juga paranormal yang memahami luka akibat dari mahluk ghaib.


Aku hanya bisa melihat Tina manggut-manggut dengan penjelasan kedua dokter itu, agak lama juga mereka membicarakan tentang luka yang kuderita.


Sekarang mereka kembali ke arahku setelah berdiskusi, tetapi hanya Tina saja yang saat ini mendekatiku, kedua dokter itu masih agak menjauh dari aku.


“Mas Agus….. lebih baik mas Agus terus terang saja apa yang terjadi dengan mas Agus, karena Dokter Joko itu  ternyata tau apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Agus”


“Kok beliau bisa tau apa yang sedang terjadi dengan saya mbak Tina?”


“Tina sendiri juga tidak paham mas, pokoknya dia tau kalau luka mas Agus ini akibat dari diserang oleh pocong”


“Dokter Joko akan meminta keterangan kepada mas Agus sebentar lagi, jadi mas Agus lebih baik jujur saja”


“Iya mbak Tina, saya akan cerita apa yang menimpa saya mbak”


Tidak lama kemudian Kedua dokter itu mendatangiku, tetapi hanya dokter Joko yang mendekatiku dengan tersenyum.


“Bagaimana pak Agus, tolong ceritakan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi dengan luka pak Agus itu?”


“Baik Dok, akan saya ceritakan bagaimana saya bisa mendapatkan luka mengerikan ini”


Aku bercerita kepada dokter Joko apa saja dan bagaimana kejadiannya hingga aku diserang oleh Pocong yang ada di rumah penggergajian.


“Tapi pak Agus cukup beruntung tidak terkena ludahnya, bisa-bisa luka itu akan berlubang karena daging pak Agus meleleh”


“Menurut dokter Hendra, untuk luka seperti ini sebenarnya bisa dilakukan tindakan medis, dan dokter Hendra sudah betul dengan memberikan resep yang sebelumnya” dokter Joko menjelaskan dengan serius


“Tetapi sayangnya luka yang lumayan ini kemudian dijilati oleh bangsa-bangsa lelembut penghuni hutan itu, sehingga luka yang tadinya sudah agak parah sekarang makin bernanah dan menghitam”


“Seharusnya dengan luka yang seperti ini, pak Agus jangan bepergian, apalagi melewati hutan”


“Untuk saat ini saya hanya akan berikan air yang sudah saya beri doa, itu untuk aspek spiritualnya. Sedangkan untuk segi medisnya mungkin dokter Hendra bisa berikan pengobatan yang sesuai dengan kondisi luka seperti ini”


Setelah berbicara denganku Dokter Joko kemudian pergi dari area UGD, mungkin dia sedang mengambil air yang tadi dia bicarakan padaku.


Sementara itu Dokter Hendra mengambil jarum suntik dan satu botol kecil berisi cairan obat yang aku ndak paham obat apa itu.


Sedangkan Tina.. ya mbak Tina sedang menangis sesenggukan, dia bukan istriku, juga bukan pacarku, kami hanya baru bertemu tiga kali, tetapi dia sudah menganggapku sebagai suaminya.


Mbak Tina hanya memandang dari kejauhan, aku bisa melihat matanya yang sembab, sementara rambutnya yang panjang diikat ekor kuda.


“Pak Agus, saya akan suntik pak Agus dengan antibiotik dulu, ini untuk mencegah infeksi akibat luka yang cukup serius, dan nanti resep obatnya akan saya tambahi juga”


Tina menghampiriku dan memegang tanganku ketika dokter Hendra menginjeksi cairan antibiotik itu.


“Mas..yang sabar ya mas, pasti mas Agus bisa sembuh kok mas” kata Tina sambil memegang tanganku

__ADS_1


“Inshaallah bu, bisa sembuh kok. Pak Agus benar-benar beruntung lho punya istri yang begitu perhatian kepada suaminya hehehe” Jawab dokter Hendra


“Terima kasih dok dia memang istri yang luar biasa kok dok”


Ketika kami sedang berbicara, kemudian dokter  Joko datang dengan membawa sebuah botol air mineral ukuran besar yang sudah tidak ada segelnya.


Kemudian dokter Joko mendekati aku sambil tersenyum….


“Ini air mineral yang saya katakan tadi pak Agus, jadi sewaktu sedang mengganti perban dan membersihkan luka itu, bersihkan dengan menggunakan air ini”


“Cukup dengan diusapkan saya di luka yang akan dibersihkan sebelum diberi salep anti infeksi”


“Selain berguna sebagai pembersih luka, bisa juga diminumkan ke pak agus, sedikit saja, sekitar setengah gelas saja”


“Insyaallah besok luka itu akan kering dengan sendirinya, dan lakukan pengobatan seperti biasanya”


“Bagaimana bu Agus, bisa dipahami apa yang tadi saya katakan kan?” tanya dokter Joko


“Bisa dok, eh malam ini kan lukanya sudah dibersihkan dokter Hendra, apakah saya harus bersihkan luka suami saya lagi dengan air pemberian dokter itu?”


“Untuk malam ini cukup diminumkan saja bu Agus, besok pagi baru dioleskan air yang saya berikan tadi itu, insyaallah  besok sore jaringan yang busuk itu akan kembali normal”


“Tapi hanya kembali normal seperti luka biasa, bukan sembuh lho ya bu Agus, sembuhnya nanti ya pakai obat dari resep dokter Hendra”


Memang lukaku akan normal dan belum sembuh, tetapi bagaimana dengan rumah penggergajian?


“Apakah saya bisa kembali ke rumah penggergajian Dok? mengingat saya punya tanggung jawab yang besar disana Dok?”


Aku bertanya karena jelas tidak mungkin aku tiap hari ada di rumah Tina, bisa-bisa digerebek sama orang desa dan bisa-bisa dinikahkan paksa hehehe.


Kalau Tina sih setuju saja apabila dinikahkan paksa, kalau digerebek dia malah seneng hehehe, tetapi aku yang belum yakin.


“Insyaallah bisa, asalkan luka itu harus dioles atau dicuci dengan air yang saya berikan ini. Dan jangan lupa untuk tetap berdoa di segala situasi pak”


“Oh iya bu Agus, kalau nanti malam terasa sakit, tolong minum obat pereda sakitnya dengan menggunakan air yang saya berikan tadi”


Setelah semua dipahami, dan setelah Tina menyelesaikan pembayaran, kami berdua kembali ke rumah mbak Tina.


Asal diketahui saja. sebenarnya aku ndak suka kalau dibonceng Tina, gimana ndak, bau tubuh dan rambut dia ini sangat menggugah bhirahiku.


Jam segini jalan di kota kecil hingga ke desa tempat mbak Tina tinggal sangat sepi, jarang ada kendaraan yang berpapasan maupun berjalan bersama kami.


Tina mengendarai motornya dengan santai hingga kami masuk ke desa tempat tinggal Tina.


“Mas Agus… nanti mas Agus bubuk di kamar Tina saja ya, Tina biar bubuk di sofa”


“Lho ya jangan dong mbak Tina….”


“Ohhh jadi mas Agus mau satu tempat tidur dengan Tina?” suara Tina terdengar sangat gembira


“Maksud saya, saya yang di sofa, mbak Tina yang di dalam kamar”

__ADS_1


“Hehehe iya mas, nanti saja kita lihat lah mas, gimana enaknya aja


__ADS_2