RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
183. PROSES


__ADS_3

“Tiga brankar itu akan kalian gunakan, Jaino juga sudah siapkan penutup selimutnya  jadi seolah olah kalian ini adalah mayat yang belum tau siapa keluarganya” kata dokter Joko


“Batas waktunya paling lama hanya satu minggu saja Ngat, setelah itu harus dilakukan penguburan atau paling tidak dipindah dengan alasan sudah ada yang mengakui sebagai keluarganya”


“Saya kira tidak sampai satu minggu lah Jok, pokoknya tolong bantu kami bertiga Jok”


“Yaudah sekarang kalian segera lakukan persiapan, saya tidak mau ikut campur untuk masalah ini, saya dan Jaino akan ada di luar selama kamu dan dua teman kita ini sedang melakukan proses pemindahan” kata dokter Joko


“Tiga brangkar, kalian lebih baik ada di atas brankar itu saja, agar memudahkan kami untuk memindah posisi brankar, intinya kami  tidak mau susah payah menggotong tubuh kalian bertiga” kata dokter Joko


“Ayo pak Jaino… kita pergi dari sini saja sekarang….nanti kita kembali setelah beberapa jam, biarkan mereka melakukan apa yang akan mereka lakukan” kata dokter Joko yang kemudian pergi meninggalkan kami bertiga di dalam kamar mayat”


Aku, mas Agus dan pak Pangat ada di  kamar mayat, tiga brankar kosong sudah tersedia untuk kami bertiga.


Rasanya deg deg an sekali, padahal sebelumnya aku kan juga sudah pernah melakukan perjalanan menuju ke alam ghaib, ketika aku ke desa yang ada di tengah hutan itu.


Tapi entah kenapa untuk kali ini aku deg deg an sekali, mungkin karena prosesnya ya… karena aku harus ada di dalam kamar mayat seperti ini.


Kalau sebelumnya aku kan cukup ke tengah hutan saja, dan tiba-tiba aku sudah pindah alam ke desanya leluhurku, tapi kalau sekarang kan beda, dan lebih menegangkan.


“Kalian berdua yang akan saya berangkatkan dulu , karena saya harus mengawal agar kalian sampai di tempat tujuan dengan benar”


“Saya harus cari frekuensi masa  di daerah sekitar kuburan Inggrid yang paling lemah dulu, nanti setelah itu saya akan kirim kalian di masa itu”


“Maksud saya… di tempat Inggrid itu ada masa dimana mereka punya kekuatan yang luar biasa, dan ada masa dimana mereka terlalu lemah untuk mempertahankan diri”


“Kita akan masuk di masa dimana kekuatan yang ada di sekitar makam Inggrid itu sedang dalam keadaan yang lemah, sehingga nanti kita bisa lakukan penyerangan disana”


“Hanya saja nanti mungkin kalian berdua bukan berwujud Mbak Tina dan Mas Agus seperti sekarang ini, kalian mungkin akan menjadi orang lain”


“Tapi itu masih kemungkinan, semua bisa saja terjadi apabila kita berhubungan dengan yang namanya dunia ghaib”


“Nanti setelah kalian sampai, saya akan menyusul. Saya tidak mau ada apa-apa yang terjadi dengan kalian ketika harus saya berangkatkan” kata pak Pangat


“Ayo mbak TIna dan mas Agus…..kalian berdua tidur di brankar kosong itu sekarang”


Sebuah proses yang menegangkan, karena memang dibuat seperti ini tapi akan aku turuti saja, karena aku penasaran dengan apa dan bagaimana pak Pangat akan memindahkan aku dan mas Agus.


Aku dan mas Agus sudah dalam posisi tidur di atas brankar, sementara itu dokter Joko dan penjaga kamar mayat yang bernama Jaino ada di luar.


Pak pangat hanya berdiri di samping brankar, dia sepertinya sedang mengucapkan mantra-mantra, karena tadi aku sempat melirik, mulut dia seperti sedang komat kamit…


Sejauh ini tidak ada yang terjadi dengan aku, kecuali rasa kantuk yang amat sangat, rasa kantuk yang tidak bisa dilawan lagi, rasa kantuk yang menyebabkan aku harus tertidur…..


*****


“Huaaaahhmm.. Ngantuk sekali mas….untung Tina bisa tidur sebentar”


kulirik mas Agus yang masih ada di sebelahku.


Tapi sayangnya mungkin karena aku baru bangun dari tidur, dan tiba-tiba melihat mas Agus, akibatnya pandangan mataku agak kabur


lagipula keadaan disini agak gelap.


Mas Agus ternyata masih tertidur, mungkin dia sedang capek….


Perlahan lahan pandanganku mulai normal, perlahan lahan aku bisa merasakan bahwa aku sekarang ada di sebuah rumah dengan lampu minyak di tembok rumah yang berupa gedek atau anyaman bambu.


Kulihat sekeliling tempat aku dan mas Agus kini berada…..


Aku dan mas Agus ada di sebuah tempat tidur…lebih tepatnya aku dan mas Agus ada di sebuah tempat tidur kayu atau bisa juga disebut amben.


Amben yang terbuat dari kayu dan bambu yang disusun sedemikian rupa, dan diberi alas tikar.


“Ya Allah, aku baru ingat, aku, mas Agus dan pak Pangat saat ini kan sedang ada di alam lain, bukan di alam manusia”


Tapi kenapa hanya aku dan mas Agus yang ada disini, kenapa pak Pangat tidak nampak batang hidungnya, apakah ada masalah ketika dia mengirim kami ke sini, sehingga pak Pangat belum sampai juga.

__ADS_1


Aku duduk di atas amben, sambil kulihat sekelilingku…..tapi keadaan disini terlalu gelap untuk melihat di sekelilingku.


Tidak ada siapapun selain aku dan mas Agus saja, tidak ada orang lain, tidak ada pak Pangat juga.


Suasana di kamar ini gelap, karena hanya ada satu lampu minyak yang cahayanya tidak terlalu terang,  tapi cahaya itu cukup untuk menerangi kamar ini.


Kelihatannya kamar ini tidak ada jendelanya, meskipun ada mungkin bukan jendela yang menggunakan kaca, sehingga aku tidak bisa melihat keadaan di luar sana.


“Mas… ayo bangun mas… “ kugoncang goncangkan mas Agus yang ada di sebelahku


“Iya mbak.. Iyaaaa, saya akan bangun mbak, rasanya ngantuk sekali mbak”


“Bangun mas, kita sudah ada di tempat lain, tapi kok hanya kita berdua saja mas, sedangkan pak Pangat tidak ada”


“Iya mbak, sebentar, pandangan saya masih kabur mbak” kata mas Agus yang berusaha duduk di sebelahku


Ketika mas Agus sudah bisa duduk, dan sedang melihat sekeliling, tiba-tiba dia terpekik ketika melihat aku.


“Hiiiik.. Kamu siapa!” pekik mas Agus sambil duduk agak menjauh dari posisiku


“Aku TIna mas” sambil kutoleh mas Agus yang berusaha mundur dari sebelahku..


“Hiiiiii.. .kamu  bukan mas Agus…. Kamu siapa pak tua, kenapa kamu bisa tidur  di sebelahku dan mengaku bernama Agus!”


“Aku Agus mbak… wajah mbak Tina juga berubah total, mbak Tina jadi nenek-nenek tua!” kata mas Agus sambil berusaha berdiri


“Aduuuuhhh.. Kenapa tubuhku sulit sekali dibuat berdiri!” kata mas Agus lagi


Sosok mas Agus adalah orang tua atau lebih tepat dipanggil kakek kakek setengah bungkuk yang sekarang berusaha untuk berdiri di samping amben.


Posisi mas Agus sekarang sedang duduk di pinggir amben dengan kedua kakinya menapak lantai rumah yang aku belum tau lantai itu terbuat dari apa.


“Mas… kalau mas Agus kakek-kakek, lalu Tina ini berupa apa mas?”


Mas Agus menoleh ke arahku, kuperhatikan wajah penuh kerutan mas Agus… dia benar-benar sudah tua, wajahnya penuh kerutan, apakah wajahku juga setua mas Agus?


“Ih mas… masak Tina juga tua mas hehehe, awas mas… pelan-pelan kalau jalan hehehe..inget sudah tua, sudah rematik, pengapuran, awas tulang keropos hihihihi”


“Husssh mbak.. Jangan bilang gitu dong, kita kesini ini kan akan melawan Inggrid, tapi kenapa kita jadi orang tua bangka seperti ini mbak”


“Hahahah ojo dipikir abot-abot mas… nanti bisa pecah pembuluh darah otaknya hihihihi”


“Ayo coba mbak Tina juga jalan seperti saya mbak, kita balapan sampai pintu kamar itu, saya kok penasaran kita ada dimana ini, dan kenapa kita bisa setua ini mbak hehehe”


“Kita harus cari tau apa yang terjadi disini mbak, kemudian kita cari juga pak Pangat, harusnya dia kan ikut bersama kita mbak, ayo cepat mbak Tina juga harus belajar jalan kayak saya ini”


“Hehehe iya mas… TIna rasa sih kalau Tina masih lancar-lancar saja jalanya mas heheheh, coba lihat apa yang Tina bisa lakukan mas”


Aku yang semula duduk bersila di tempat tidur kayu atau amben, kemudian bergeser ke pinggir tempat tidur, kucoba unuk  menurunkan kakiku  ke lantai kamar gelap.


Tapi sialan… kaku sekali, aku bahkan aku kesulitan untuk menggerakan sendi dengkul dan mata kaki.


“Mas… kenapa kok kaku kayak gini ini, Tina hampir gak bisa gerakan kaki, sendi-sendi ini sangat kaku mas”


“Nah… apa yang tadi saya bilang mbak.. Ayo kita usahakan untuk menggerakan kaki mbak.. Pokoknya harus bisa jalan dulu yang penting mbak”


“Mas… kalau keadaan kita seperti ini, gimana kita mau melawan Inggrid dan pasukanya. Wong kita bergerak saja susah mas”


“Tenang dulu mbak, pasti ada alasanya? hingga kita seperti ini, pasti ada sesuatu dari diri kita yang bisa kita gunakan untuk melawan Inggrid”


“Pokoknya kita usahakan agar kita bisa jalan dulu mbak, semua kan ada prosesnya, tidak langsung bisa jalan dan melakukan sesuatu yang berbahaya kan mbak”


“Iya mas… ayo kita belajar jalan”


Meskipun tubuhku dan mas Agus tua renta, tapi cara bicara dan cara berpikir kita masih seperti semula, tidak ada yang berubah kecuali  tubuh kami yang mirip kakek nenek.


Mungkin dengan berlatih jalan, maka tidak lama kemudian aku dan mas Agus bisa kembali normal.

__ADS_1


“Ayo mbak Tina kita harus bisa belajar jalan untuk keluar dari kamar ini, saya penasaran ada apa di luar sana mbak”


“LIhat mbak, saya sudah hampir mencapai pintu kamar heheheh”


“Iya kek… nenek tau, tapi kaki nenek susah untuk digerakan keeeeek”


“Hush, jangan gitu ah mbak, mosok manggilnya kakek dan nenek gitu mbak hehehe”


“Hehehe jelas gak mungkin kita manggil dengan mbak dan mas dong… wong keadaan kita sudah tua renta gini mas hehehe, untuk sementara kita disini ada baiknya kita manggil dengan sebutan nek dan kek saja mas”


“Ok mbak, saya setuju… Ayo nek, cepat belajar jalan, kita harus bisa jalan dengan normal nek…”


“Iya keeek, tapi sebentar kek, kaki nenek susah sekali digerakan kek”


Aku baru tau rasanya apabila ada nenek-nenek yang cara berjalannya pelan, dan kadang aku merasa gak sabaran ketika harus melihat seorang nenek yang cara berjalannya sangat pelan.


Ternyata semua itu karena memang sendi-sendi tubuhnya sulit untuk digerakan, sekarang aku baru tau rasanya heheheh.


Dengan perlahan lahan akhirnya aku bisa menggerakan kakiku untuk jalan menuju ke pintu kamar, perlahan lahan aku bisa menyusul mas Agus yang sudah hampir sampai di depan pintu kamar.


Sulit dan sakit memang, tetapi kalau tidak dipaksakan, apa yang akan terjadi pada kami berdua, apalagi kita yang tua ini harus melawan Inggrid.


“Ayo nek.. Kita keluar dari sini, kakek rasa sekarang sudah pagi lho nek”


“Kok kakek bisa yakin kalau sekarang sudah pagi kek?”


“Itu nek, dari sela sela dinding anyaman bambu yang tidak terlalu rapat, keliatan kalau di luar sana sudah mulai ada sinar mataharinya nek”


“Oh iya kek.. Diluar kayaknya sudah pagi ya… yuk kita keluar dan berjemur diri kek, agar tubuh kita tidak kaku hihihi”


“Iya nek… tap yang paling penting adalah bagaimana keluar dari kamar ini hehehe, jarak tempat tidur dengan pintu itu kan tidak ada lima meter, tetapi sampai sekarang kok kita belum sampek sampek ya nek?”


“Tetap berusaha Kek… gerakan sendi sendi kaki kita kek”


Gila bener… sulit sekali menggerakan kaki, tapi perlahan lahan akhirnya aku bisa juga mendekati pintu kamar, dan ini merupakan kemajuan dalam beberapa menit terakhir ini.


Aku masih belum tau, aku dan mas Agus ini sebagai apa atau siapa. Mungkin nanti setelah kami ketemu orang-orang disini baru kami akan tau siapa kami.


Sedikit lagi pintu kamar sudah bisa aku raih, sekarang aku dan mas Agus bergandengan tangan untuk menjaga keseimbangan kami berdua.


Pintu dari kayu ini berhasil kami raih, tidak ada handle pintu, yang ada hanya pegangan yang terbuat dari kayu yang dibuat sedemikian rupa hingga bisa kami tarik dan bisa kami dorong.


“Kayaknya ditarik saja mbak… “


“Iya keeek…hihihihi”


Kutarik pegangan pintu yang terbuat dari kayu dan dibuat dengan kasar, akhirnya pintu ini bisa terbuka juga.


Di depan kami berdua adalah sebuah ruangan kumuh, tanpa ada perabotan kecuali sebuah amben lagi, dan di pojokan ada semacam tungku untuk memasak.


Ada juga beberapa peralatan dapur yang berserakan di depanku.


Bagian atas rumah ini adalah genting, tetapi batas antara genting dan dinding rumah ini berlubang, mungkin maksudnya agar asap dari apa untuk memasak ini bisa keluar dari sela sela genting dan dinding rumah yang terbuat dari kayu ini.


“Kek… gimana menurutmu?”


“Hehehe kita jalani saja nek, yang penting kita keluar dari sini dulu saja nek, kita lihat apa yang ada di luar sana nek, nanti kita pikir lagi apa yang harus kita lakukan setelah ini nek”


“Ayo kita belajar jalan menuju ke pintu depan kek.. Semoga di  luar sana ada yang bisa kita kenali kek”


Aku sebenarnya gak yakin ada yang akan aku kenal, tapi aku berusaha menyakinkan diriku sendiri bahwa di luaran sana aku dan mas Agus akan bertemu dengan seseorang yang akan kita kenal.


Perlahan lahan, namun sudah ada kemajuan, karena sendi kakiku sudah tidak sekaku tadi, aku dan mas Agus menuju ke pintu luar rumah…


Pintu rumah ini sama saja dengan yang ada di dalam kamar tadi, hanya terbuat dari kayu yang ditata dan di paku saja, tetapi pintu yang ini ada semacam slotnya, slot yang juga terbuat dari kayu, sehingga tidak ada orang yang akan masuk ke sini.


Mas Agus membuka slot pintu dan kemudian menarik pintu itu ke dalam….

__ADS_1


__ADS_2