RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
104.PAK SOLIKIN HILAG INGATAN?


__ADS_3

Aku tidak berani memandang perempuan itu terlalu lama, aku hanya melirik…


Tapi ketika kualihkan pandanganku ke tempat lain… ternyata tempat ini berbeda…


Aku menoleh ke belakang… bukan pagar seng seperti yang ada di rumah penggergajian.. pagar tempat aku bersandar ini terbuat dari kayu yang diserut halus dan dicat warna putih.


Kutoleh ke arah pohon beringin… ternyata pohon ini tetap besar, tetapi bentuknya lebih beraturan dengan sulur-sulurnya yang terpotong rapi.


Sungai di depanku pun berbeda, lebih lebar dari sebelumnya ,dan airnya terlihat jernih dan agak dalam.


Dan tempatku duduk ini ternyata berlapis rumput yang rapi dan hijau. rumput yang terpotong rapi…


Aku sedang berada dimana?...


“Mas Agus sudah tidak kaget?” tanya perempuan disampingku yang sedang duduk sambil menatap ke arah sungai


Perempuan ini sekarang tidak lagi tersenyum, dia cantik, bermata sipit dan berkulit putih…


Tetapi ada kesedihan di wajahnya…


“Kamu siapa?”


“Saya Inggrid…” jawabnya singkat dengan mata masih memandang ke sungai yang berair jernih


“S…sa..saya ada dimana ini mbak Inggrid”


“Panggil saya Inggrid saja….”


“Tolong jangan takut dengan saya.. saya tidak akan menyakiti mas Agus”


“I..iya Ing…Inggrid..”


“Mas Agus sedang bermimpi… mas Agus terlalu lelah”


“Angin sepoi sepoi ini memang enak untuk dinikmati di belakang rumah ya mas” Kali ini Inggrid menoleh ke arahku


Dia benar-benar cantik, memang matanya khas perempuan Tionghoa, tetapi hidungnya lebih mancung dari pada perempuan bermata sipit yang pernah kutemui.


Dia menatapku dengan senyum yang… terlalu dipaksakan!


Ada sesuatu di wajahnya yang membuat wajah cantiknya terlihat sendu.


“Eh iya mbak Inggrid..”


“Eehh mbak.. eh Inggrid ada apa masuk ke dalam mimpi saya?”


“Gak papa. Inggid cuma ingin bertemu dengan mas Agus, dan membuat mas Agus bermimpi yang indah”


Inggrid kemudian menatap sungai yang ada di depan kami…


Dia menatap sambil terus berusaha tersenyum…


Tetapi..lama kemudian ada bulir bulir air mata yang keluar dari sisi matanya…


Air mata itu mengalir di pipinya yang mulus.


“Ya sudah mas Agus… Inggrid pergi dulu ya, kapan-kapan kita bertemu lagi…”


Belum sempat aku mengucapkan sesuatu atau bertanya sesuatu,...tiba-tiba aku tebangun karena aku merasa ada yang menyentuh pundakku..


“Wah .. pak Agus, ayo bangun… ngapain tidur di bawah pohon beringin pagi-pagi seperti ini” kata pak Wito sambil memegang pundakku dan menggoyang-goyangkannya


“Hehehe Huuuaaammhhh, saya ngantuk sekali pak, setelah tadi pagi datang dari kampung”


“Kok pak Wito sendirian saja, yang lainya mana pak?”


“Hehehe. Solikin sakit pak Agus…”


“Lho sakit apa pak?”


“Sekarang dia badanya demam dan panas.. gara-gara…


“Gara-gara apa pak Wito?”


“Jadi gini ceritanya pak AGus…”


“Kemarin malam ada anak Solikin yang datang ke rumah bersama suaminya”


“Mereka menggunakan motor model terbaru, dan motor itu diparkir di halaman rumah Solikin”


“Tapi ternyata keberadaan motor itu sempat mengundang penjahat yang akan mencurinya”


“Tapi untungnya warga desa berbondong bondong datang, tapi sayangnya maling itu tidak tertangkap, karena maling itu lari ke arah rumah ini”


“Ketika kami warga desa sedang berjaga-jaga di sekitar sungai, ada bunyi kentongan lagi, dan bunyi itu berasal dari istri Solikin”


“Ternyata ada orang yang berusaha masuk ke rumah Solikin, tetapi sayangnya orang itu tidak tertangkap warga..”


“Ketika warga sudah merasa keadaan menjadi aman dan akan pulang ke rumah masing-masing… tiba-tiba ada orang yang memukul kepala solikin dari Belakang”


“Istri Solikin teriak, sehingga warga kampung mencari ke seluruh pelosok rumah, tetapi tetap tidak menemukan orang yang memukul Solikin”


“Sayangnya tidak ada yang tau siapa yang memukul Solikin, dan sekarang keadaan Solikin demam panas dan kepalanya sakit katanya”


“Saya kesini karena disuruh Solikin…”

__ADS_1


“Tadi malam kata Solikin pak Agus pagi ini akan pulang, dan ternyata pak Agus sedang tidur di sini”


“Waduuh siapa mereka itu pak, dan kenapa sampai menyakiti pak Solikin segala”


“Itu yang sampai sekarang belum diketahui pak Agus, saya sendiri sampai heran kenapa sampai ada orang yang memukul Solikin”


“Burhan kemana pak Wito?”


“Lho bukannya dia ada di dalam rumah pak Agus,... makanya tadi saya heran, kok pak Agus ada di luar sini, padahal di dalam rumah kan ada Burhan”


“Tadi saya tidak ingin membangunkan Burhan pak, rencana saya nanti masuk ke rumah bersama dengan pekerja yang datang saja”


“Eh ayo antar saya masuk ke rumah pak Wit.. eh pak Wito bawa kunci gerbang belakang tidak?”


“Waduh… yang punya kunci hanya Solikin pak Agus. Ayo saya antar masuk pak”


Apa yang dilakukan Burhan, kenapa dia sampai memukul pak Solikin, dan apa sebenarnya salah dari pak Solikin itu.


Aku curiga Burhan tahu kehadiranku dan Tina di rumah pak Solikin, sehingga ketika aku dan TIna pergi, dia marah dan memukul pak Solikin dari belakang.


Kemudian Burhan buru-buru ke rumah ini untuk mengambil motor dan berusaha menyusul aku dan Tina, hingga dia akan masuk ke rumah Tina dengan paksa.


Sebenarnya apa yang dia maui..


Kok lama-lama Burhan itu mirip psikopat saja.


“Ayo pak Wito…  tadi saya sempat ketuk ketuk pintu rumah, tidak ada yang membukakan pintu”


 “saya takut ada apa-apa dengan Burhan sehingga saya tidak berani masuk ke dalam rumah”


Aku dan pak Wito berjalan menuju ke arah rumah penggergajian yang sepi.. hanya suara burung-burung yang berkicau di pagi hari saja yang bikin suasana ramai.


“Tuh kan pak Wito, motor kami tidak ada di sana pak”


“Iya pak Agus mungkin dia sedang menjemput pak Agus?”


“Ya jelas tidak mungkin pak, dia saja tidak tau kapan saya akan datang, saya tidak beritahu kapan saya datang soalnya adik saya di desa masih sakit”


“Ya sudah pak Agus.. ayo kita coba masuk kedalam, dan semoga pintu rumah tidak terkunci pak?”


“Haa…tidak terkunci, bukanya pintu rumah harusnya terkunci apabila ditinggal pergi?”


“Hehehe saya hanya mengira-ngira saja pak Agus… siapa tau tidak terkunci….”


Hmm kenapa pak Wito bilang kalau pintu rumah ini tidak terkunci, apakah dia juga pernah masuk ke rumah ini?


Ada yang aneh dengan pak Wito..


Tapi kita lihat saja nanti, karena aku masih mengerucut kecurigaanku pada Burhan saja.


Aku dan pak Wito sudah di depan pintu rumah..


Ketika handel pintu kutekan… Ternyata bisa terbuka.


Pintu ini tidak terkunci dan kemungkinan besar memang tidak pernah dikunci oleh Burhan!


“Nah betul perkiraan saya pak Agus, pintu ini tidak terkunci”


“Aneh juga ya pak, kenapa Burhan tidak pernah mengunci pintu rumah, kalau seumpama ada maling bagaimana”


“Hehehe menurut saya tidak akan ada orang yang berani mencuri di rumah ini pak heheheh”


“Sekarang kita ke rumah Solikin saja pak Agus, saya kesini karena Solikin tadi malam menyuruh saya untuk ngabari pak AGus”


“Sik sebentar pak, sekalian saya mau bawa baju ganti, saya mau mandi di rumah pak Solikin saja hehehe”


Kuambil satu baju yang masih bisa dipakai, karena bajuku yang lainya sudah belum pernah aku cuci mulai aku ada disini.


Paling ketika mandi di rumah Tina saja baru pakaian ku dicucikan Tina hehehe.


Aku sudah siap dengan membawa satu stel pakaian  yang masih bersih.


Ketika aku akan keluar.. ternyata di dekat radio tua  ada segepok kunci yang tergeletak.


“Ini Kuncinya pak Wito… ternyata memang Burhan sengaja tidak mengunci pintu rumah dan pagar, sebaiknya rumah saya kunci dan saya bawa kuncinya ke rumah pak Solikin saja ya pak”


“Nanti kalau seandainya Burhan datang bagaimana pak Agus?”


“Biar dia nunggu atau ke rumah pak Solikin atau pak Wito saja”


“Dengan dia meninggalkan rumah dalam keadaan tidak terkunci saja sudah merupakan pelanggaran pak”


Aku dan pak Wito berjalan kaki menuju ke rumah pak Solikin.


Aku masih bingung dengan motif Burhan yang menyakiti pak Solikin, dan tujuan dia masuk secara paksa ke rumah Tina.


Apa karena dia tau kalau aku dan Tina ada disana, atau ada motif lain?


Bukanya memang selama ini pak Solikin tidak suka dengan Burhan, apakah karena itu?


Tapi memang pak Solikin kan belum cerita kepadaku sebenarnya ada apa dia dengan Burhan.


Nanti saja aku tanyakan kalau keadaan memang sudah lebih baik.


*****

__ADS_1


“Pak Agus, saya pulang dulu saja pak”


“Ya sudah pak Wit, terimakasih sudah beritahu keadaan pak Solikin”


Aku ada di depan rumah pak Solikin yang pagi ini pintu depannya sudah terbuka.


Dia kelihatannya sedang menunggu seseorang sehingga pintu depan rumah itu dibiarkanya terbuka.


Ketika aku berjalan masuk ke halaman rumahnya, aku mendengar suara-suara orang yang sedang bicara di ruang tamu.


“Kemungkinan suami ibu ini mengalami gegar otak, dan lebih baik dibawa ke rumah sakit kota saja” kata salah satu suara yang aku dengar


“Iya dokter, memang setelah bagian kepala belakangnya dipukul, beberapa jam kemudian suami saya ini muntah-muntah”


“Tapi dia saat itu masih sadar dan sempat bicara kepada temannya supaya pagi ini menyuruh bosnya yang bernama pak Agus untuk datang ke sini”


“Tetapi ternyata pagi ini dia kesakitan lagi dan anehnya dia tidak bisa mengingat kejadian ketika dia dipukul itu dokter”


Waduh…. segitu parahnya yang diderita pak Solikin hingga dia mengami gegar otak, tapi yang gawat dia mengalami amnesia.


Kalau memang benar yang melakukan ini adalah Burhan, maka bisa dapat dilaporkan polisi, Burhan sudah melakukan tindak pidana!


“Begini saja bu, lebih baik pagi ini pak Solikin dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa dengan menggunakan alat yang lebih komplit disana”


“Kalau saya kan hanya mendiagnosa berdasarkan apa yang saya lihat saja, saya tidak berani memberikan obat sebelum ada pemeriksaan dari rumah sakit” kata dokter itu lagi


Lebih baik kutunggu hingga dokter itu pulang dulu saja, baru aku masuk ke dalam rumah pak Solikin, setelah itu akan kucarikan kendaraan umum untuk membawa pak Solikin ke rumah sakit.


Dokter itu  kelihatannya hendak pulang, karena kudengar dia sudah berpamitan kepada bu Solikin.


Kejadian ini kejadian luar biasa menurutku dan harus dilaporkan ke bos besar, tetapi apakah aku tidak perlu bicara dahulu dengan pak Wandi?


Dan untuk biaya pengobatan yang bisa jadi tidak sedikit, apakah harus ditalangi semuanya?


Nanti saja… lebih baik aku bicara dengan istri pak Solikin dulu.


“Monggo bu Soikin… saya pamit dulu” kata dokter puskesmas itu pamit ke bu Solikin dan berjalan keluar.


Bu Solikin masih ada di depan pintu rumahnya…


“Selamat pagi bu… gimana kabar pak Solikin?” aku buru-buru menyapanya


“Oh ada pak Agus… ayo masuk dulu, semalam bapak selalu bicara ingin ketemu dengan pak Agus… ayo masuk pak”


“I…iya bu”


Aku masuk ke rumah bu Solikin, dan kemudian masuk ke kamar pak Solikin.


Pak Solikin terbaring  tempat tidurnya sambil beberapa kali mengaduh dan mengeluh pusing.


Tapi yang mengerikan dia tidak mengenalku, dia hanya melihatku sejenak… kemudian mengeluh kepalanya sakit lagi kepada istrinya.


“Bu, tunggu disini saja… saya akan mencari kendaraan untuk membawa pak Solikin ke rumah sakit di kota”


“Saya titip tas yang berisi pakaian disini ya bu”


“Iya pak Agus… tapi kenapa pak Agus kok bawa tas pakaian ke sini?”


“Tadinya saya mau numpang mandi disini bu hehehe… sudahlah saya berangkat dulu ke  depan untuk mencari angkot yang bisa digunakan membawa pak Solikin”


“Ya mandi dulu sana pak Agus, setelah itu baru cari kendaraan untuk ke rumah sakit”


“Ya sudah bu, saya mandi dulu saja….”


*****


Aku berjalan agak cepat menuju ke depan desa, dimana biasanya disana ada kendaraan umum angkutan desa yang sedang menunggu penumpang yang berasal dari desa ini.


Tadi waktu melewati rumah bu Tugiyem sempat bertemu dengan dia, tetapi karena aku harus mencari kendaraan umum maka aku tidak bisa bicara banyak dengan beliau,


Bu Tugiyem hanya tanya keadaan pak Solikin dan menyarankan aku untuk menunggu kendaraan umum yang  ada di depan gapura desa.


Karena kata bu Tugiyem, biasanya jam segini ini ada kendaraan umum yang sedang menunggu penduduk desa yang mau ke kota.


Pagi hari yang sibuk, setelah tadi bermimpi perempuan cantik yang bernama Inggrid, sekarang harus membantu pak Solikin.


Memang kalau dipikir pikir, ini semua adalah salahku,  kalau aku tidak ke rumah pak Solikin maka tidak akan terjadi hal seperti ini.


Tapi ya sudahlah… semua sudah terjadi, yang penting sekarang adalah aku harus mencari kendaraan umum untuk mengangkut pak Solikin ke rumah sakit.


Sekarang aku sudah berada di depan gapura desa, dan mamang pagi ini disini ada satu kendaraan umum yang sedang menunggu penumpang dan masih dalam keadaan kosong.


Aku akan kesana untuk bicara dengan supirnya…


Setelah mendapat kesepakatan harga, kami menuju ke rumah pak Solikin.


*****


“Bu solikin, sekalian bawakan pakaian ganti pak Solikin, siapa tau dia akan rawat inap disana bu, nanti saya akan bicara dengan atasan saya untuk meminta dana”


“Tidak usah pak Agus… anak kami nanti akan ke rumah sakit, dia dan suaminya yang akan membiayai bapak”


Mobil angkutan antar desa ini jalan menuju ke arah kota…


Dan melewati jembatan besi yang meskipun pagi hari seperti ini masih menunjukan ke angkerannya.

__ADS_1


Kemudian berbelok ke kanan ke arah dua kuburan dan kemudian lurus menuju ke rumah sakit kota.


Nanti rencanaku.. aku akan menelepon Tina, aku akan kabari bahwa aku sekarang ada di rumah sakit.


__ADS_2