RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
280. SOLIKIN LENYAP


__ADS_3

Setan berbadan kekar ganteng… tapi humu itu masih mengocok kuntilanya dengan cepat…


Heran juga kok bisa dia ngocok kuntila itu tanpa lecet sama sekali, padahal aku aja kadang pakai sabun bisa lecet kalau terlalu kencang dan cepat..


Astaga aku lupa…. Dia kan setan, mungkin gak akan lecet kalau dia itu setan…….


Dan sekarang tugasku adalah memegang dan membakar kuntila itu… janc*k kalau memegang sosis bakar jumbo rasa barbeque yang harganya dua belas ribuan itu sih aku mau aja….


Tapi ini bukan sosis bakar… ini adalah sebuah kuntila yang ukuranya sebesar dua kalinya sirup marjan.. Apalagi kuntila itu tadi kan habis dikeluarin dari lubang deborah Solilkin… duh baunya apa gak ngeri ya!


“Pak Agus.. ayo kita lakukan” kata pak Diran membuyarkan  lamunanku


Paki Diran dan pak Hendrik langsung maju dan memegang tiap tubuh dari setan itu, dan setan itu memang terbakar, tapi hanya sesaat.


Berkali kali pak Hendrik dan pak Diran memegang tubuh, kaki, tangan, kepada dan sebagainya hingga kemudian setan yang dipanggil dengan nama Kreco itu melepaskan kuntika yang dia kocok tadi.


Ini adalah saatku harus membakar sosis bakar yang ukuranya sebesar dua kalinya sirup marjan rasa cocopandan.


Setan itu meronta ronta… di belakang setan itu Solikin tertawa tawa senang sambil tetap mengelus kuntila dia yang ukuranya tidak besar. Hanya mungkin sebesar botol minyak kayu putih ukuran yang paling kecil, tapi uratnya besar… hiii nggilani


Aku maju dan….


….HAP….


Aku pegang dengan dua telapak tanganku kuntila milik setan yang kekar dan ganteng itu… janc*k ketika aku pegang rasanya gembuk tapi agak keras, dan berurat besar-besar, rasanya gembuk gak kayak kuntilaku yang keras seperti batu.


Sementara itu pak Diran dan pak  Hendrik tetap bergelut berusaha memegang kedua tangan setan itu. Agar setan ini tidak memegang dan mengocok kuntilanya.


Setan ganteng dan kekar itu menjatuhkan tubuhnya dengan keras!


“ADUUUH… SETAN BANKSATH!..” teriak pak Diran ketika tertindih setan itu


“AKAN AKU MASUKAN KAKIKU KE LUBANG DHUBURMU SETAN LAKNAT… AKAN KAU BAKAR LUBANG DHUBURMU!!!!” teriak pak Diran


“AAARGGGHHH LEPASKAN AKU  MANUSIA.. LEPASKAN AKUUUU  AARRRGGHHHH” teriak setan itu  sambil terus berusaha melepaskan diri dari cengkeraman aku, pak Diran dan pak Hendrik.


Pokoknya kami bertiga seperti lem lalat, sangat lengket dan sulit bagi setan ini untuk melepaskan diri.


Pak Hendrik dan pak Diran meskipun terbanting-banting tetapi masih dengan kuat memegang tangan setan itu hingga  tangan itu terbakar terus menerus.. Begitu juga dengan aku yang terus memegang kuntila raksasa dengan kedua tanganku..

__ADS_1


Bau gosong  tercium dari kedua tangan dan kuntila setan ini…


Setan itu semakin memberontak… dan berguling kesana kemari.. Dia berteriak keras ketika kuntila yang aku pegang ini mulai matang dan siap untuk dihidangkan…..


Eh.. siap untuk dihanguskan


“PAK HENDRIK, TETAP DI POSISI.. SAYA AKAN MASUKAN KAKI SAYA KE DALAM DEBORAH (DHUBHUR) SETAN INI” teriak pak Diran ya kemudian berbalik ke bagian belakang setan


Tanpa melepaskan tangan kiri setan ini yang mulai terbakar.. Pak Diran sekarang ada di belakang setang ini….


Dan kebetulan posisi setan in  sedang dalam keadaan menungging..


Pak Diran sudah siap dengan kaki kirinya…


“PAK AGUS… BAGAIMANA KHEMALUAN SETAN INI….?” teriak pak Diran


“Terbakar matang welldone pak…”


“Aaaduuh aarrgh…janc****k!!!!!” ketika aku sedang menjawab pertanyaan pak Diran.. Lutut kanan setan ini menendang telor dan kuntilaku


“Kenapa pak Agus?” tanya pak Diran


Anjeeeng!..... Rasanya ngilu c*k!


Asyuuuuu! Ngiluuuu pol aarrghhh.. Aku  sampek gak bisa bernafas sama sekali …..


Tapi tanganku tetap membakar kuntila setan itu…. Lama kelamaan kuntila itu benar-benar gosong dan rapuh.. Setelah rapuh karena gosong dan akhirnya…


 Del……. Kuntila itu lepas dari tubuh setan.


“SEKARANG PAK!......SEKARANG KUNTILA INI SUDAH LEPAS!” teriakku


Ketika kuntila ini lepas.. Pak Diran yang sudah siap dengan kakinya….


….JLEEEBB....!!!!


“HHHOOOOAAAARRRRGHHHH!!!!!……AAAARRRRGHHHHH!!!!!!” setan itu teriak kesakitan


Dengan kekuatan super, pak Diran berhasil memasukan kakinya ke lubang deborah setan itu…  kaki pak Diran masuk sebatas di mata kaki masuk ke lubang deborah setan itu.

__ADS_1


Janc*k lubang deboran setan itu sudah sangat oversize… kaki pak Diran aja bisa masuk ke sana… wuiih bener-bener humu profesional tingkat setan.


Setan kekar dan ganteng yang dipanggil dengan nama Kreco ini berguling guling kesakitan…Tetapi kami tetap memegang tubuh setan yang semakin lama mulai terbakar….


Lubang deborah setan itu terbakar… hingga bagian dalam pun kayaknya juga terbakar.. Jadi setan ini bisa dikatakan terbakar dari dalam dan dari luar.


Dengan lepasnya kuntila ini dari pangkal telurnya, dan lubang deborah( dhubhur) dia juga terbakar…. tiba-tiba tubuh setan ini mudah terbakar… terbakar hebat cepat dan akhirnya hangus.. Hangus dan akhirnya jadi abu….


Suasana yang tadinya hiruk pikuk akhirnya sunyi senyap…. Sepi… dan….


“SOLIKIN HILANG!” kata pak Hendrik


“Sialan,  kita tadi sedang bergelut dengan teman humunya, hingga kita sama sekali tidak perhatikan Solikin.. Ayo kita cari di luar” kata pak Diran


Kami bertiga keluar dari kamar…


“Astaga.. Halaman ini penuh dengan tumpukan abu.. Banyak sekali abu yang bertebaran di sini” gumam pak Diran


“Berarti ketika kita bakar setan humu itu, setan yang ada disini juga ikut terbakar” kata pak Hendrik


“Iya pak… sekarang keadaan disini berbeda dari sebelumnya.. Tidak menakutkan, tidak mencekam….Lebih aman dan tenang.. Eh coba pak Diran tanya ke mbak Kunti pak”


“Heeh  pak Agus.. sungguh sangat berbeda keadaan sekarang dan tadi…. Ayo kita ke mbak Kunti” jawab pak Diran


Pagi sudah menjelang, sinar matahari sudah mulai muncul di ufuk timur, kami sekarang menuju ke bawah pohon beringin dimana mbak Kunti tinggal


Ketika kami datang, ternyata di pagi hari ini kunti itu masih ada, dan dia tidak sendirian, dia bersama beberapa penghuni  pohon beringin itu.


“Solikin kemana? Dan apakah setan yang ada di taman itu sudah terbakar habis? Tanya pak Diran


“Hihihihihiiiiiiii.. Solikin ke seberang sungan dalam keadaan thelanjang bulat…..hihihihiiiiii”


“Iblis yang ada di taman terbakar semua.. Sekarang sudah tidak ada lagi iblis jahat disini” kata teman mbak Kun yang wajahnya sama saja apabila dilihat sekilas


“Ya sudah mbak Kun.. selamat beristirahat… sebentar lagi matahari akan muncul.. Kamu cepat sembunyi” kata pak Diran


Kami masuk ke dalam hotel lagi dan berjalan menuju ke parkiran, karena di sana masih ada mbak Tina yang harusnya masih dalam kekuasaan Nyai Kembang Melati.


Ketika kami sudah di depan ruangan utama yang menuju ke parkiran, ternyata di parkiran sudah ada bu Tugiyem, pak Dollah, anggota polisi, dokter Joko, pak Parlan, dan ..mbak Tina….!

__ADS_1


Mbak Tina yang asli .. bukan Nyai Kembang Melati


__ADS_2