
“Nanti saja bicaranya, kita masih ada satu kamar lagi yang harus kita buka” kata pak Tresno menoleh kepadaku dan pak Jay
Yah memang benar pak Tresno, kita sekarang fokus pada pembunuhan, bukan malah membahas yang sebenarnya susah untuk dibahas, dan tidak ada lagi disini.
Aku tau pak Jay sedang dalam keadaan bingung dengan adanya kejadian mengerikan ini, tetapi aku, pak Diran, pak Hendrik, mbak Tina, Jiang makin bingung tentang apa yang akan kami lakukan disini.
Kamar sembilan yang ada di seberang kamar sepuluh masih terbuka sedikit pintunya, seolah kamar itu dalam keadaan kosong. Atau mungkin memang hanya perempuan itu saja yang tinggal disana, sedangkan temannya mungkin pergi ke kota..
Ah sudahlah, gak usah berandai andai, kita lihat saja apa yang ada di dalam sana….
“Pintu kamar itu terbuka, apakah kalian ada yang kesini sebelumnya?” tanya pak Tresno
“Tidak pak… kami sama sekali tidak kesini, kamar itu terbuka ketika Jiang melihat seseorang yang keluar dari sana dan pergi ke arah sungai…. Makanya setelah itu kami bersama sama menuju ke arah sungai. Tapi ternyata itu hanya sekedar pengalihan saja” jawab pak Diran
“Ya sudah kalau begitu kita masuk saja ke dalam…. Eh apa kamar disini gelap?” tanya pak Tresno
“Seharusnya tidak pak, karena lampu teplok atau lampu petromak ada di dalam kamar itu” Jawab pak Diran
“Jiang… terangi bagian dalam itu… biar pak Tresno bisa lihat apa yang ada di dalam itu” suruh pak Diran
Jiang membawa lampu petromak mendekati pintu kamar, sehingga cahaya lampu petromak itu sempat menyinari bagian dalam rumah dengan baik.
Pak Tresno memberi kode kepada anak buahnya untuk masuk ke dalam setelah kedua anak buah pak Tresno melakukan sedikit pengambilan gambar di kamar nomor tiga.
Pintu kamar yang hanya sedikit terbuka itukemudian didorong oleh salah satu dari anak buah pak Tresno.
“ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIM… !“ teriak salah satu anak buah pak Tresno ketika membuka pintu kamar nomor sembilan
Kami semua kaget, pak Jay mundur beberapa langkah…mbak Tina malah muntah-muntah setelah melihat apa yang ada di dalam kamar itu.
Aku hanya bisa pasrah melihat kengerian yang ada di depanku, aku terpaksa melihat dengan mata kepala, dan tidak bisa menghindar, karena sesuatu yang mengerikan itu tepat ada di depanku.
Mayat seorang perempuan yang tergantung terbalik…
Mayat seorang perempuan yang dalam keadaan telanjang…
Mayat seorang perempuan yang bagian dadanya berlubang dan darah terus menetes ke atas kasur dengan sprei putih yang kini sudah berubah menjadi berwarna merah tua.
Mayat perempuan yang tergantung terbalik, kepala dia sekitar lima belas centimeter dari spring bed dengan kaki terikat menggunakan selimut yang diikat di atas kuda kuda atap rumah.
Memang tiap kamar yang ada disini tidak menggunakan plafon, tetapi langsung genting dan kayu kuda-kuda atap, jadi nampak lebih natural dari pada menggunakan plafon.
Ujung selimut terikat di kuda-kuda atap kamar, dan ujung satunya terikat di kedua kaki perempuan itu, darah masih keluar dari dadanya dan menetes melewati leher, wajah, rambut dan berakhir di sprei tempat tidur.
“Mengerikan sekali, dan lagi-lagi jantung mayat ini juga tidak ada, ayo periksa mayat itu, ambil gambarnya, setelah itu biarkan petugas dari rumah sakit yang mengambilnya…” kata pak Tresno’
“Ini jelas bukan pekerjaan manusia, dan perlu penyelidikan yang lebih mendalam untuk menyelidiki apa yang terjadi disini”
“Hotel ini apakah ada cctvnya?” tanya pak Tresno
“Ada pak” kata pak Jay
“Bagus…. Biarkan anak buah saya meminta rekaman cctv disini..”
Kami tidak ada yang masuk ke dalam kamar, hanya pak Tresno dan anak buahnya saja yang ada di dalam kamar, terus terang aku gak kuat kalau harus ada di dalam kamar sembilan itu.
Ada sekitar sepuluh menit pak Tresno dan anak buahnya entah melakukan apa di dalam sana. Hingga kemudian dari rumah sakit yang akan membawa mayat ini datang, dan menunggu bersama kami di depan kamar.
Empat orang dari kamar mayat rumah sakit sedang menunggu pak Tresno dan rekannya sedang memeriksa di dalam kamar. Hingga beberapa menit kemudian pak Tresno keluar dari kamar itu.
“Tidak ditemukan senjata tajam sama sekali… tapi di ruang utama ada sebuah pisau kan, dan itu pisau berasal dari mana?” gumam pak Tresno setelah keluar dari dalam kamar
“Biar nanti pihak dari kamar mayat yang akan memeriksa mayat-mayat yang ada disini” lanjut pak Tresno
Petugas dari rumah sakit selesai dengan tugas mereka, mayat-mayat dibawa ke kamar mayat rumah sakit untuk diteliti lebih lanjut.
Kami sekarang ada di dalam ruang utama hotel. Untuk sekedar tanya jawab ringan seputar apa yang sebenarnya tadi terjadi disini.
__ADS_1
Tentang tamu yang menginap disini dan apa saja yang mencurigakan sebelum kami menuju kantor polisi untuk pertanyaan yang lebih mendetail.
Rekaman cctv hotel juga dibawa untuk memperlihatkan apa saja yang terjadi di hotel itu sebelum semua aksi pembunuhan ini terjadi.
*****
Setelah memmberikan keterangan tentang apa yang terjadi dengan puluhan pertanyaan yang bersifat sementara di kantor polisi kepada kami semua termasuk pak Hendrik dan pak Jay, kami diperbolehkan pulang, tetapi tidak kembali ke hotel, karena pihak dari kepolisian masih akan menyelidiki disana.
“Gimana ini pak Diran?”
“Ya tidak gimana-gimana lagi pak Agus… kan sudah jelas tidak ada yang boleh masuk ke dalam sana sebelum pihak dari kepolisian selesai dengan penyelidikan hotel itu”
“Maksud saya, bagaimana dengan yang ada di dalam sana pak, saya rasa memang hal ini disengaja agar hotel itu dikosongkan sehingga ada pihak-pihak tertentu yang akan melakukan pencarian sesuatu disana”
“Maksudnya mencari apa” potong pak Jay yang ternyata mencuri dengar pembicaraanku dengan pak Diran
“Begini pak Jay…. kami akan cerita ke pak Jay tentang sesuatu yang tidak masuk akal, dan saya harap pak jay bisa mempercayainya, karena masalah-masalah disana itu erat kaitanya dengan yang akan kami ceritakan ini” kata pak Diran
“Dan ada hubunganya dengan Watuadem juga pak” tambah mbak Tina
“Eh begini saja…. Kita semua ke rumah saya saja yang ada di kota S, kita ngobrol disana saja, eh untuk pak Hendrik, apabila pak Hendrik akan pulang ya monggo, tetapi kalau tetap akan membahas masalah ini ayo ikut saya ke rumah dulu saja” ajak pak Jay.
“Begini saja, kasih alamat rumah pak Jay, saya harus pulang dulu, agar istri saya tidak khawatir, saya kan tinggal satu kota dengan pak Jay, jadi setelah dari rumah, saya akan langsung ke rumah pak Jay” kata pak Hendrik
“Kamu bagaimana pak Diran?” tanya pak Jay
“Saya harus kabari keluarga saya dulu pak” kata pak Diran
“Kamu tinggal dimana pak Diran?” tanya pak Jay
“Dekat sini pak di kampung sana, atau gini saja pak, saya sekalian naruh motor ke rumah, dan pamit dengan keluarga saya apabila saya akan diajak bos saya ke kota S” kata pak Diran
“Ya sudah pak Diran, saya tunggu kamu di depan kampungmu saja” jawab pak Jay
Untung pak Jay saat ini membawa mobil yang bisa muat orang banyak, sehingga aku, mbak Tina, Jiang dan pak Diran bisa muat di dalam mobil pak Jay.
Pak Hendrik sudah melaju duluan menuju ke rumahnya yang jaraknya tidak jauh dari rumah pak Jay.
Bagaimana nasib Hotel Singgasana Adem Ayem?
Hotel itu ditutup dan diberi garis polisi, darah yang masih ada disana dibiarkan, karena masih akan diadakan penyelidikan dari pihak kepolisian.
Kasus ini berat, dan polisi masih akan mengecek rekaman cctv yang ada di setiap sudut hotel, nanti hasil yang mencurigakan dari cctv itu akan diinfokan kepada kami.
*****
Hanya butuh waktu dua jam perjalanan dari hotel sampai ke rumah pak jay yang luas, rumah yang ada di daerah elit kota S.
Setelah mobil diparkirkan di garasi kami diajak masuk ke ruang tamu rumah pak Jay yang mewah.
Seorang pembantu datang untuk menawari kami minum.
“Coba mas Agus ceritakan tentang sebenarnya apa yang terjadi di hotel saya itu, dan apa hubunganya dengan teman saya Watuadem”
“Yang cerita pak Diran saja pak, karena disini yang mempunyai penglihatan ghaib hanya pak Diran dan pak Hendrik yang tadi itu” jawabku
“Saya dan mbak Tina juga bisa melihat pak, tapi kami belum bisa melihat dengan detail”
“Ya sudah. Pak Diran, bisa tolong jelaskan pak” kata pak Jay
Pak Diran kemudian setuju untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi dengan hotel, dan apa hubunganya dengan Watuadem, dia juga menceritakan tanah yang ada di hotel beserta apa yang ada di seberang sungai.
Pada awalnya pak Jay mendengarkan sambil tersenyum seolah ini adalah cerita untuk anak kecil, tetapi ketika mulai menginjak masalah Watuadem dia mulai nampak serius, apalagi dengan barang-barang yang dibawa Watuadem.
Pak Jay semakin serius ketika pak Diran mengatakan bahwa Jiang dan pak Cheng sebenarnya adalah penduduk ghaib dari seberang sungai yang menentang pemerintahan jahat pada saat ini.
Dan pada saat ini pak Cheng sedang mendapat tugas untuk memata matai apa yang akan dilakukan mereka terhadap tanah yang saat ini berdiri hotel Singgasana Adem Ayem itu.
__ADS_1
Pak Jay melihat Jiang dengan serius dan terlihat agak ketakutan ketika melihat Jiang.
“Tenang pak Jay, Jiang dan pak Cheng bukan ghaib jahat, mereka berdua berniat baik kepada tanah ini, dan mereka berdua bersahabat dengan leluhur bu Tina yang merupakan penguasa hutan itu” kata pak Diran
“Tentang apa yang tadi saya ceritakan itu adalah cerita yang sebenar benarnya….” lanjut pak Diran
“Nanti akan ada rekaman cctvnya pak, ketika pak Agus mengambil dua buah kelapa dari dalam tas Watuadem yang dalam kamar hingga saya bakar di sebelah pos jaga saya” kata pak Diran
“Tetapi sayangnya untuk kulit dan daging busuk dari babi hutan itu ada di dalam kamar pak” kata pak Diran lagi
“Jadi waktu ada kejadian bunuh diri yang pertama itu, disana itu si Watuadem baru melakukan sesuatu dengan yang ada di kamar nomor sepuluh?” tanya pak Jay
“Bukan melakukan sesuatu pak, tapi menaruh sebuah bungkusan yang berisi sesuatu, bungkusan itu adalah pembuka gerbang dan pengundang demit masuk ke sana” jawab pak Diran
“Eh mungkin nanti akan ada rekaman cctv tentang apa yang dilakukan Watuadem itu kan pak” kata pak Diran
“Kemudian sebelum adanya pembunuhan, ketika dia saya ajak ke sana, dia datang dengan membawa barang-barang yang tadi itu?” gumam pak jay
“Pantas saja ketika supir saya akan mengangkat tas tangan Watuadem dia marah-marah, dan sempat memaki supir saya agar tidak lancang membawa tas dia, dengan alasan di travel bag itu berisi pakaian yang mudah kusut apabila diangkat sembarangan” kata pak Jay
“Ok pak Diran, sekarang bagaimana?” tanya pak Jay yang mulai percaya dengan apa yang kami ceritakan
“Lha pak Jay kepinginya bagaimana, apakah membiarkan hotel itu tutup dan menjadi hotel hantu dan akhirnya tanah disana akan dikuasai oleh setan yang ada di seberang atau gimana?”
“Investasi saya sangat besar pada hotel itu pak Diran, malahan saya sedang berusaha mencari pemilik tanah yang ada di sebelah hotel. Karena rencana saya, saya akan memperluas hotel itu”
“Berarti pak Jay tetap ingin mempertahankan hotel itu kan… tapi bagaimana dengan opini publik tentang hotel itu yang baru saja terjadi pembunuhan?” kata pak Diran
“Itu bisa diatur pak Diran, teman saya Robert itu ahlinya kalau untuk masalah menetralkan opini negatif publik” jawab pak Jay
“Kalau begitu, kita harus bersihkan hotel itu dulu yang paling pertama, dan untuk urusan masalah yang besar, leluhur bu Tina yang akan melawan ghaib yang ada di seberang itu”
“Disana juga ada pak Cheng yang akan memberikan kabar kepada kami melalui kuntilanak yang tinggal di pohon” kata pak Diran
“Kuntilanak!... ada di sekitar hotel saya!... akan saya tebang pohon itu…” kata pak Jay dengan mata melotot
“Lhoo hahaha jangan pak, mereka yang tinggal di pohon beringin itu baik, saya saja sering melihat mereka, mbak Tina juga sering lihat, mereka tidak mengganggu, mereka cuma butuh tempat tinggal saja”
“Mas Agus juga bisa melihat mereka?” tanya pak Jay
“Bisa pak, mbak Tina juga bisa, jadi ada baiknya biarkan saja mereka disana”
Ketika kami sedang bicara, penjaga rumah pak Jay masuk. Kata penjaga rumah, di luar ada tamu yang bernama pak Hendrik.
Ternyata cepat juga pak Hendrik datang hehehe, hanya sekitar dua jam kami ada di rumah pak Jay, kemudian pak Hendrik menyusul ke sini.
Setelah basa basi dan memperkenalkan sekali lagi siapa dirinya dan sedang apa waktu itu di hotel Singgasana Adem Ayem, kemudian pembicaraan berlanjut lagi tentang pembahasan apa yang harus di lakukan disana.
“Wah… saya terima kasih sama Koh Hendrik yang mau bantu pak Diran dan rekan-rekan kami disana”
“Tenang saja Koh Jay, saya memang dari dulu suka hal-hal yang bersifat supranatural, makanya saya sering singgah di hotel hotel yang sekiranya letaknya agak di tempat yang bagaimana gitu hehehe. Dan menurut pengalaman saya, hotel milik Koh Jay ini yang paling mengerikan”
“Tetapi bukan mengerikan karena banyak hantu atau bagaimana lho, mengerikan dalam artian ada saja yang berusaha menyerang hotel itu” lanjut pak Hendrik yang dipanggil Koh oleh pak Jay, karena mereka berdua jelas terlihat berkulit putih dan bermata sipit
“Teros yekapa hotel saya ini koh lek menurut koh Hendrik?” tanya pak Jay
“Lek menurut saya, ya harus dibersikno Koh, ndak isa dibiarno gitu tok Koh. isa-isa kamu rugi dewek koh” jawab pak Hendrik.
“Lha disini kan sudah ada mbak Tina, de’e itu kan turunan dari leluhur ndek sana, jadi aman-aman ae hotelmu dari yang ada di seberang sungai, tapi sing ada ndek lingkungan hotelmu itu yang harus dibersikno”
“Tak kira aku sama pak Diran sik isa mbersikno hotelmu, cuma itu Koh, siapa namae.. Eh Watuadem, anak buahmu sing namae Watuadem itu harus dicari koh, bukan begitu pak Diran?” kata pak Hendrik
“Betul pak Hendrik.. Dia harus dicari dan ditanya siapa yang menyuruh dia untuk menyabotase hotel itu, nanti kita akan kita mintai pertanggung jawaban untuk mengusir yang dia taruh disana pak” kata pak Diran
“Sakjane kita aja bisa kok ngusiir yang ada didalam sana ya pak Diran, tapi butuh waktu lama. Jadi nek misale Koh Jay isa kasih tau ndek mana posisi Watuadem, bisa kita parani ae” kata pak Hendrik
“Masalae itu gini koh Hendrik, nomer ponsele Watudem itu wis ndak isa ditelpon semenjak kemaren. Tapi alamat rumae aku tau koh. Yekapa apa tak parani ae ta rumae Watuadem Koh?” kata pak Jay
__ADS_1
“Iya Koh, tpi ojok sama kita, lu ae dewek sing marani watuadem, ntik lek rame-rame dipikire mau nggerebek rumae de’e” kata pak Hendrik
Jadi untuk sementara ini, yang bisa kita lakukan ketika hotel itu sedang dalam penyelidikan adalah mencari Watuadem, dari Watuadem akan kita teruskan mencari siapa yang memerintah Watuadem, karena kami yakin dibalik Watuadem pasti ada seseorang yang menyuruhnya.