RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
234. KEDATANGAN TAMU PENTING


__ADS_3

Aku berdiri sambil berusaha mendengarkan suara perempuan yang sedang berbicara…


Suara itu ada di sekitar sini… dari dekat kamarku,  aku harus terus berusaha mencari suara perempuan yang tadi kudengar.


Suara itu sangat pelan, dan kadang suara itu hilang, tidak lama kemudian suara itu muncul lagi. Terus begitu hingga beberapa kali.


Kini aku berpindah di dekat pintu kamar mbak Tina…. Ternyata suara itu berasal dari kamar mbak Tina.


Memang samar-samar di dalam kamar mbak Tina aku mendengar suara orang yang sedang bicara, tapi suara itu sangat pelan.


Kutempelkan telingaku di daun pintu kamar mbak Tina…. Dan semakin yakin aku mendengar seseorang yang sepertinya sedang berbicara di dalam kamar itu.


“Waduh ada yang gak beres ini, tadi malam aku, sekarang mbak Tina” gumamku


Kuhampiri Jiang yang ada di pintu kaca, kemudian dengan perlahan lahan dia kuajak untuk mendengarkan suara perempuan yang ada di sekitar kamar mbak Tina.


Ternyata Jiang juga mendengar suara itu..


“Jiang hubungi pak Diran pakai Walky talky yang kamu bawa itu… tapi disana di luar pintu kaca saja..cepat”


Jiang mengangguk setelah aku suruh… dengan berjingkat dia menuju ke pintu kaca, dan keluar ke halaman belakang untuk menghubungi pak Diran.


Sedangkan aku tetap ada disini untuk mendengarkan suara yang masih terdengar…


Sekarang suara itu tidak hanya bicara, tetapi kadang bersenandung, kadang ada nada dibalik kata-kata yang tidak jelas.


Dari ruang utama aku bisa lihat pak Diran setengah berlari menuju ke ruang utama.


Dengan perlahan lahan pak Diran membuka pintu kaca yang membatasi ruang utama dengan bagian belakang hotel.


Pak Diran berjalan berjingkat jingkat menuju ke posisiku yang ada di depan kamar mbak Tina…. Kemudian pak Diran menempelkan telinganya di daun pintu kamar mbak Tina.


Setelah pak Diran yakin bahwa di dalam sana ada suara perempuan yang entah berkata apa, dan menyenandungkan lagu apa, selanjutnya pak Diran memberikan isyarat agar aku mengetuk pintu kamar mbak Tina.


Tok tok tok…


“Mbak Tina…. Ini saya Agus mbak… eh ada yang bisa saya bantu mbak?”


“Mbak Tinaaaa… tolong bukakan pintu mbak….”


Tidak ada sahutan dari dalam, tetapi suara orang yang bersenandung itu juga tiba-tiba hilang… sekarang tidak ada suara apapun di dalam ruangan utama selain suara nafas dan jantungku sendiri.


Pak Diran memandangku, kemudian dia menyuruh aku sekali lagi untuk mengetuk dan memanggil mbak Tina.


Kalau dilihat dari raut wajah pak Diran, pak Diran sepertinya agak khawatir dengan keadaan mbak Tina yang ada di dalam kamar.


Tok tok tok….


“Mbak Tina.. bangun mbak… kita bicara di ruang tamu yuk”


“Mbak Tinaaaaa… “


Tok tok tok….


Aku melihat pak Diran untuk meminta pendapat apa yang harus aku lakukan lagi, karena mbak Tina tidak mendengar juga aku mengetuk dan memanggil namanya.


Pak Diran menyuruhku untuk membuka pintu kamar, tetapi sebelumnya aku disuruh untuk memanggil namanya sekali lagi.


“Mbak Tina… permisi saya mau masuk ke kamar mbak Tina”


Tidak ada sahutan dari mbak Tina… kemudian aku putar handle pintu, perlahan kudorong ke arah dalam daun pintu kamar mbak Tina… kamar itu gelap, tanpa penerangan sama sekali.


Aku berusaha mengingat ingat dulu waktu aku tidur di rumah mbak Tina, apakah dia mematikan lampu atau tidak…


Seingatku dulu dia kalau tidur dengan kondisi lampu yang menyala, tapi bukan lampu utama, melainkan lampu tidur yang mungkin sekitar lima watt saja.

__ADS_1


Tapi kondisi kamar ini gelap, tanpa ada cahaya sama sekali.


Aku nggak tau apakah pak Diran saat ini bisa mendeteksi sesuatu atau tidak, karena dari tadi pak Diran tidak berkata sepatah katapun selain isyarat tangan yang dari tadi ditujukan kepadaku.


Pak Diran hanya berdiri diam di depan kamar mbak Tina, sejenak kemudian dia menghembuskan nafasnya


“Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di kamar ini…?”


“Saya tau kamu bukan makhluk jahat, dan saya beserta teman saya ini juga bukan makhluk jahat” kata pak Diran sambil memandang di dalam kamar mbak Tina


Aku menoleh ke pak Diran.. Untuk sekedar mendapat jawaban atas apa yang barusan dia katakan, tapi pak Diran sama sekali tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku, dia tetap menatap kamar gelap.


Aku sama sekali tidak bisa melihat apapun.. Yang bisa kulihat hanya gelap gulita dan samar-samar tubuh mbak Tina yang tidur menghadap ke arah jendela kamar.


Pak Diran sama sekali tidak mengatakan kepadaku siapa yang ada di dalam kamar, tetapi kalau pak Diran bilang yang ada di dalam kamar ini baik ya pastinya baik juga bagi aku .


“Saya dan teman saya dan bu Tina berusaha menjaga tempat ini dari pengaruh jahat ghaib yang ada di seberang sungai… kalau anda berkenan bicara dengan saya dan teman saya, ayo kita bicara” kata pak Diran lagi


“Pak Agus…agak mundur dikit.. Kasih jalan untuk yang mau keluar dari kamar bu Tina… nanti saya beri tanda pak Agus untuk membangunkan bu Tina” bisik pak Diran


Kumundurkan tubuhku dan kusejajarkan dengan tembok ruangan utama…


Tidak lama kemudian hawa dingin melewati tubuhku.. Dingin sekali seperti es.. Tapi hawa dingin itu hanya lewat sejenak saja, karena setelah itu udara disini kembali normal.


Sekarang pak Agus bangunkan bu Tina.. dan ajak dia ke ruang tamu… saya rasa bu Tina akan tau siapa yang ada disini.


Pak Diran menuju ke sofa, sedangkan aku masuk ke dalam kamar mbak Tina dan berusaha membangunkannya.


“Mbak Tina bangun mbak…”sambil kupegang lengannya


“Ayo mbak bangun mbak”


“Huuaaheemmm.. Ada apa mas..kok mas Agus ada di dalam kamar Tina?” tanya mbak Tina kemudian duduk di tempat tidurnya.


“Nanti saja ceritanya, kita ke ruang tamu saja mbak, ditunggu sama pak Diran”


Aku keluar dari kamar mbak Tina dan kemudian aku mengambil posisi duduk di sofa yang menghadap ke jendela luar ruangan utama..


“Eh pak Agus, jangan duduk disana, disini saja disebelah saya saja. Nanti bu Tina duduk di kursi yang menghadap ke belakang, oh iya, tolong panggilkan Jiang dulu pak, ajak dia kesini juga”


Aku yakin ada sesuatu di sofa tunggal yang menghadap ke luar, sehingga aku dilarang duduk disana, dan kemungkinan besar yang ada disini adalah ghaib yang dihormati, sehingga pak Diran mengajak kami berkumpul disini.


Jiang sudah hadir.. Pak Diran menyuruh Jiang untuk mengambil kursi meja resepsionis, kemudian bersama sama kami duduk diruang tamu.


“Jangan nyalakan lampu Jiang… biarkan gelap seperti ini saja… kita tinggal nunggu bu Tina dulu” kata pak Diran ketika Jiang akan menyalakan lampu ruang tamu


“Bu Tina ayo kita ngobrol.. Duduk di kursi sofa itu saja bu Tina, yang menghadap ke halaman belakang” kata pak Diran


“Bu Tina, pak Agus, dan Jiang, saat ini kita kedatangan tamu dari penduduk asli disini, dan juga merupakan leluhur dari bu Tina…dan sebentar lagi tamu kita akan menampakan diri di hadapan kita”


Perlahan-lahan kursi kosong yang menghadap ke luar itu muncul bayangan.. Bayangan yang semakin lama semakin jelas hingga kemudian sosok bayangan itu berubah menjadi wujud manusia.


“Mbah Sutinah….” desis mbak Tina


Tidak hanya mbah Sutinah yang aku pernah kunjungi rumahnya, ternyata di sebelah kursi juga ada sosok yang semakin lama berubah wujud menjadi perempuan cantik yang wajahnya ada beberapa persamaan dengan mbak Tina.


Dari bentuk rahang, hidung, dahi dan rambutnya, dan tubuhnya hampir sama dengan mbak Tina.


“Cah ayu Tina… ini mbahmu… mbahmu ini  ibu dari ibumu yang meninggal ketika kamu masih dalam kandungan ibumu” kata mbah Sutinah


“Cantik sekali mbahku ini…” kata mbak Tina sambil menatap perempuan muda yang tersenyum di sebelah mbah Sutinah


Berarti yang tadi aku lihat di ruang tamu, perempuan berambut panjang yang mirip dengan mbak Tina itu adalah mbahnya mbak Tina hehehe… tapi bener meskipun wajahnya pucat, dia nampak cantik dengan balutan pakaian panjang sejenis longdres atau mungkin daster ya.


“Iki lho mbahmu Pratiwi kangen sama kamu cah ayu Tina” kata mbah Sutinah sambil terus tersenyum.

__ADS_1


“Pratiwi iki khawatir dengan keselamatanmu cah ayu, selain itu tujuan kami kesini adalah untuk masalah tempat keramat ini” kata mbah Sutinah yang wajah pucatnya berubah menjadi serius.


“Sudah saatnya mbahmu ini katakan kepada cah ayu Agustina sebagai keturunan terakhir yang masih perawan….”


“Sudah saatnya mbah-mbahmu ceritakan sebuah rahasia yang seharusnya koe belum perlu tau, hanya saja keadaan disini semakin memburuk, maka koe cah ayu Agustina sudah waktunya tau apa yang ada disini”


“Sebenarnya koe iki tidak boleh menginjakan kaki disini, bukan tidak boleh, tetapi belum saatnya koe menginjakan kaki disini, di bawah tempat yang kalian pijak ini”


“Karena di bawah ini ada sesuatu yang harusnya untuk saat ini nduk Tina belum boleh menginjak, karena kemampuanmu belum mencukupi sama sekali”


“Sesuatu yang kuat dan jahat”


“Sebagai keturunan terakhir yang masih perawan, cah ayu Agustina pelan-pelan akan digembleng dan dibekali dengan kemampuan yang harus dimiliki oleh seluruh keturunan langsung dari tanah ini”


“Kemampuan ini berfungsi untuk menjaga pasak, dan mengendalikan kekuatan yang tadi mbahmu sebut jahat ini”


“Seharusnya setelah cah ayu kami bekali  dengan kemampuan yang dimiliki  tiap keturunan langsung dari leluhurmu, baru koe Tina kami arahkan ke tempat ini”


“Harapan kami, nduk Tina bisa membantu menjaga dan merawat apa yang ada disini”


“Persis di bawah ini adalah pusaka leluhurmu, ada sebuah pasak. Pasak untuk mengurung sebuah kekuatan yang luar biasa kuat dan jahat”


“Kekuatan yang kuat itu sebenarnya tidak jahat, tetapi karena sifat kekuatan itu akan menyerang lawan dari pemiliknya dan akan membawa korban yang tidak sedikit, maka dari itu mbahmu ini sebut kekuatan itu jahat”


“Jadi akan banyak demit, ghaib, atau bahkan manusia sendiri yang akan kesini untuk mengambil pasak itu, pasak keramat itu muncul memperlihatkan diri ketika koe sebagai keturunan terakhir yang masih perawan menginjakan kaki disini”


“Dia muncul dari penyimpanan ghaib dengan tujuan minta untuk dijaga, dirawat, dan dimiliki oleh koe nduk”


“Maka dari itu setelah kemunculan pasak ini, mengakibatkan musuh seberang sungai semakin bernafsu untuk mengambil pasak itu… termasuk temanmu yang dulu pernah diajak ke rumah mbahmu ini… dia sekarang bekerja sama dengan setan seberang sungai untuk mengambil pasak ini”


“Untuk serangan dari seberang sungai…kalian semua ora usah khawatir, karena kami mampu menahan dan menyerang balik, tetapi untuk yang sudah masuk ke sini dan semakin hari semakin banyak yang  akan masuk, itu yang harus cah ayu Agustina dan kawan kawanya tahan dan bunuh”


“Seperti tamu yang beberapa hari lalu dibunuh oleh pasukan ghaib, dia orang tua yang menginap disini dan dengan ngawurnya berusaha mencari apa yang merupakan benda pusaka kita”


“Seharusnya hal seperti itu tidak perlu terjadi cah ayu, asalkan nduk Tina dan teman-temanmu bisa mengatasi masalah itu”


“Kamu…” tunjuk mbah Sutinah kepada pak Diran


“Saya tau ilmumu berasal dari mana, gurumu siapa, dan kemampuanmu seperti apa….saya tau semua leluhurmu, jadi jangan kecewakan leluhurmu” kata mbah Sutinah kepada pak Diran


“Ilmu dan gurumu itu masih ada hubungannya dengan penduduk disini. Leluhurmu dulu adalah penduduk desa sebelah yang sebenarnya baik dengan kami, hanya saja masalah kiriman penyakit maka akibatnya desa leluhurmu bermusuhan dengan desa kami”


“Terus terang mbahmu ini merasa kecolongan dengan teman yang kamu ajak ke rumah itu nduk, mbahmu pikir dia orang baik, ternyata dia lebih jahat dari penguasa seberang sungai”


“Kalian harus hati-hati karena jasad dia yang berisi roh orang gila sekarang ada di sekitar hutan ini, roh orang gila itu suka darah, jangan sampai dia masuk ke dalam rumah ini”


“Jadi kalian tidak usah khawatir dengan yang ada di seberang sana, jawara ghaib masih bisa memaksa mereka mundur, yang harus kalian takutkan adalah orang datang kesini macam orang tua yang kami bunuh itu”


“Pesan kami, buat koe nduk…. Jangan sekali kali meninggalkan tanah ini pada malam hari… tetap ada disini, karena energimu sedikit banyak membantu menjaga pasak itu dari incaran orang lain”


Kemudian keadaan hening, karena mbah Sutinah selesai bicara, kayaknya dia menunggu kami mengajukan pertanyaan. Kulihat pak Diran hanya menunduk, sedangkan mbak Tina kayaknya sedang berpikir tentang apa yang akan ditanyakan.


“Mbah…” kata mbak Tina


“Kalau seumpama Tina kepingin bicara sama mbah Gimana, apakah Tina harus ke tengah hutan?”


“Hehehe tidak perlu nduk… lha mbahmu kesini ini apa bukan karena kamu yang beberapa hari ini memikirkan mbahmu… sebenarnya mbahmu mau ke sini dari kemarin”


“Tetapi karena kemarin masih ada orang yang membantu disini, mangkane mbahmu baru bisa ke sini sekarang” jawab mbah Sutinah


“Maksudnya orang yang membantu disini itu pak Hendrik mbah?” tanya mbak TIna


“Iya nduk, kami sampai sekarang belum bisa melihat silsilah orang itu, karena mbahmu juga harus tahu leluhur dia dulu agar kita tidak salah menilai orang” kata mbah Sutinah


“Apa dia itu juga jahat dan ingin menguasai pasak mbah?” tanya mbak Tina lagi

__ADS_1


“Untuk saat ini belum nduk… dia hanya sebatas membantu kalian disini. Maka dari itu untuk melihat sifat orang itu, mbahmu harus lihat dulu leluhur dia itu siapa, dan dia itu titisan dari leluhur yang sifatnya bagaimana”


“Contohnya kamu Diran… kamu adalah titisan dari leluhur yang pernah bikin masalah dengan menyerang desa kami… tetapi pada akhirnya yang menitis di diri kamu itu berteman dengan dengan kami”


__ADS_2