RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
150. TIDAK DISANGKA SANGKA


__ADS_3

Inggrid menyuruh aku dan mas Agus untuk jalan menuju ke arah luar, karena saat ini orang yang sedang mencari kami sudah kembali ke solikin, termasuk si Kunyuk juga…


Malam ini rencana kami tetap menunggu mobil yang akan membawa drum yang  merupakan muatan utama mereka.


Perlahan lahan akhirnya kami bisa keluar dari wilayah rumah penggergajian.


“langsung ke ****** saja mbak…. kita sembunyi di dalam sana saja”


“Ah .. mas Agus saja yang ada disana, Tina di bawah pohon beringin saja mas!”


“Kenapa mbak.. disana saya kira tempat paling aman lah mbak…”


“Nggak mas.. itu bukan tempat yang aman.. tempat itu mengerikan hehehe, dah mas Agus saja yang disana…. Tina dibalik akar-akar pohon ini saja”


Aku gak mau sembunyi dalam kotak ajaib tempat hajatan itu… iih jijik deh!


Sebenarnya ada di bawah pohon beringin ini bukan ide bagus..  karena dari awal aku masuk ke rumah melalui pohon beringin ini, banyak mahluk mengerikan yang selalu melihat aku dengan mata melotot..


Tetapi ketika kupelototi mereka.. mereka malah lari ketakutan, apa karena ada hubunganya dengan aku yang keturunan penduduk tengah hutan ini.


“Diam Tina… ada yang sedang berlari ke arah sini dari samping rumah penggergajian.. kelihatanya ada orang yang sedang mengejar seseorang”


“Cepat berlindung di balik pohon saja Tina…” kata Inggrid


Aku tidak tau siapa yang sedang dikejar dan siapa yang mengejar.. tetapi tidak lama kemudian aku mendengar suara  orang yang sedang berlari…


Suara satu orang yang berlari menuju ke arah desa….


Tapii tidak lama kemudian aku mendengar suara beberapa orang yang sedang lari juga.. kelihatannya ini yang sedang mengejar orang yang tadi dikejar…


“Kalau kalian sudah bisa melihat dengan jelas.. cepat tembak orang itu.. jangan sampai lolos” teriak seseorang yang sedang mengejar


Aku tidak tau siapa itu yang sedang teriak.. yang pasti kalau orang yang dikejar itu tertangkap, pasti orang itu akan mati!


“Jangan keluar dari balik pohon itu dulu Tina… salah satu dari tiga orang yang mengejar itu kembali ke rumah penggergajian dengan berjalan kaki”


“Siapa sebenarnya mereka itu Nggrid?”


“Yang dikejar adalah pak Hari yang sedang membawa kardus”


“Yang mengejar Paijo dan dua anak buahnya… tapi yang sekarang sedang mengejar hanya dua anak buahnya saja.. Paijo kembali ke rumah penggergajian”


“Kamu diam saja disana, dan jangan bergerak, karena sebentar lagi Paijo akan melewati kotak ******!”


“Eh mas Agus sudah kamu beritahu Nggrid?”


“Tentu saja sudah Tina”


Paijo setengah berlari menuju ke rumah penggergajian..


Untuk sementara ini keadaan disini sudah aman!


Kenapa pak Hari nekat ke depan rumah.. kenapa setelah dia mendapatkan kotak itu dia tidak pergi saja dari sini?


Apa sebenarnya yang sedang dia cari.. aku curiga dia kesini bukan hanya ingin mengabadikan barang bukti saja…. pasti dia sedang ada misi terselubung.


Aku bingung seandainya pak Hari tertakangkap dan tertembak….lalu bagaimana dengan nasibku, nasib mas Agus, pak Pangat, pak Joko.


Justru pak Pangat  itu yang pasti akan dicari oleh Paijo, karena sebelum kesini pak Hari kan sempat ketemu paijo di rumah pak Pangat…


…DOOR….!!!...


“Hiiiiiii…..” Langsung kututup mulutku setelah tadi aku terkejut dan tidak sengaja teriak!


CBYUUURRRR…..!!!!!


Si..siapa itu yang tertembak….


Apakah itu pak Hari….?


Dan tadi ada suara seseorang yang jatuh ke air… siapa yang jatuh ke air.. apakah itu suara mas Agus yang jatuh ke air…


Aku panik!...


Tidak ada Inggrid disini!


Aku buta sama sekali tentang suara tembakan dan suara orang yang jatuh ke air itu!


“Diaaam Tina.. jangan sekali kali kaget seperti itu lagi… sekarang diam dan tutup mulutmu rapat rapat” kata Inggrid yang muncul di hadapanku

__ADS_1


“T..tadi itu siapa yang tertembak Nggrid!”


“Tenang Tina.. kemungkinan besar itu pak Hari..dan yang jatuh ke air itu mas Agus…”


“Inggrid tidak berani meninggalkan kamu disini sendirian untuk melihat siapa yang tertembak… karena tadi kamu sempat teriak dan ada suara orang jatuh ke air”


“Takutnya mereka akan datang kesini untuk mencari asal suara teriakan dan suara sesuatu yang tadi jatuh ke air”


Baru juga Inggrid selesai bicara melalui batin denganku, tiba-tiba aku mulai mendengar suara orang yang berlarian. semakin lama suara orang yang sedang lari itu semakin dekat.


Dan pada akhirnya suara orang yang tadi berlarian itu berhenti di sekitar pohon beringin.


Aku ketakutan.. aku hanya bisa jongkok di balik pohon beringin dan berharap agar aku sama sekali tidak menimbulkan suara.


“Perasaan saya suara orang teriak dan yang jatuh ke air itu ada disekitar sini!” kata orang yang ada di sekitar pinggir sungai dekat pohon beringin


“Sama.. perkiraan saya juga ada di sekitar sini. coba kamu keluarkan sentermu,... terangi air sungai yang ada di sekitar sini, kalau masih ada ombaknya, berarti tadi ada yang jatuh disini”


Aduuuh mas Agus pasti dalam bahaya!... aku tidak bisa menolong mas Agus.. karena keadaanku sendiri sedang bahaya.


Tapi aku yakin mas Agus pasti punya akal untuk menyelamatkan diri.


“Nah kan.. lihat itu air yang di sekitar ****** itu bergerak gerak, berarti tadi disini ada orang yang sedang buang air besar…”


“Kemudian setelah mendengar suara tembakanmu, orang itu terpeleset dan jatuh ke kubangan tai tai itu”


“Ayo kita cari sampai dapat..ingat kata komandan,.. jangan sampai ada saksi sama sekali”


“Iyaaaa.. tapi yang tadi kita dengar kan suara orang perempuan… mana ada perempuan malam-malam buang air besar di ****** itu!”


“Ini gak mungkin bro….!”


“Terserah mau kunti ,mau pocong, mau apalah..pokoknya jangan sampai ada saksi sama sekali”


Setelah bicara seperti itu, mereka kemudian diam.., hanya langkah kaki mereka saja yang terdengar.


Langkah kaki yang mondar mandir di sekitar pohon beringin, sesekali mereka diam tidak melangkah.. kemudian melangkah lagi..mondar mandir.


“Sudah.. tidak ada siapapun disini…  kita sudahi saja, kita anggap tidak ada siapapun ya… “


 “Ok setuju… ayo sekarang kita urus mayat yang tadi kita tembak saja”


Tapi aku masih mematung di balik pohon.. aku tidak berani bergerak sedikitpun… kedua kakiku sampai kesemutan dan mati rasa, karena tidak bergerak sama sekali.


Kemana si Inggrid…kenapa dari tadi dia tidak muncul di hadapanku… apakah sekarang sudah aman atau tidak.


Ketika aku akan bergerak untuk melemaskan kaki dan anggota tubuh lainya..


Ada suara orang yang sedang berlari, suara itu berasal dari rumah penggergajian..


Suara orang yang kadang lari kadang berjalan cepat itu menuju ke arah desa sebelah sungai..


“Siapa tadi yang melepaskan tembakan!” teriak orang yang sekarang berjalan cepat menuju ke arah desa.


Suara orang itu semakin jauh,, aku nggak dengar apa yang mereka bicarakan…


Yang aku dengar hanya siapa tadi yang melepas tembakan saja, kelanjutannya aku sama sekali nggak dengar.


“Tina…” bisik Inggrid tiba-tiba


“Kamu ini dari mana Nggrid.. Tina dari tadi nungguin kamu dengan ketakutan!”


“Maaf Tina… Inggrid tadi sibuk menuntun mas Agus yang jatuh ke sungai.. mas Agus kan nggak bisa berenang, jadi tadi Inggrid berusaha cari dasar sungai yang bisa di tapak,, bisa diinjak dan tidak dalam”


“Sekarang mas Agus sudah ada di seberang sungai, di semak belukar… sekarang tinggal kamu saja yang akan Inggrid selamatkan”


“Tapi untuk sementara waktu ini tetap disini saja dulu… tunggu hingga tiga orang itu pergi dari sini”


“Eh Inggrid mau lihat dulu apa yang sedang dilakukan tiga orang itu disana.. kok lama sekali mereka ada disana… kamu tunggu disini dulu TIna”


Iya… lama sekali tiga orang yang tadi menuju ke arah desa itu.


Apakah mereka bertiga sedang melakukan sesuatu dengan mayat yang mereka tembak, misalnya membuang ke sungai atau ke semak belukar yang banyak terdapat disana.


Tapi yang penting mas Agus selamat.. aku sudah senang kok..


“Tina… ternyata orang yang tadi mereka tembak itu hilang, ketiga orang itu sedang sibuk mencari orang yang tadi merekat tembak”


“Tetapi dus yang dibawa pak Hari sudah ditemukan oleh Paijo dan kawan-kawanya…. tapi ada yang aneh Tina. Paijo dan kawan-kawanya malah menyembunyikan dus itu”

__ADS_1


Hmm ada yang gak beres disini… kenapa Paijo menyembunyikan dos  itu, apakah dia ingin menguasai barang yang ada di dalam dos itu?


Padahal kan dos itu hanya berisi tepung.. dos itu berfungsi sebagai pengalihan bukan objek utama dari transaksi ini.


Bodoh Paijo… dia tertipu seperti di Hari yang juga tertipu!


“Inggrid rasa sekarang kesempatan kamu untuk menyelamatkan diri ke seberang sungai… disana ada tempat yang nyaman, letaknya ada di balik semak belukar”


“Tapi.. apakah harus lewat sungai yang mengerikan itu Nggrid?”


“Kalau menyeberang jembatan apa tidak aman?”


“Ketiga orang itu sekarang ada di dekat jembatan, keliatanya mereka akan menyeberang jembatan untuk ke desa sana”


“Cepat kalau mengambil keputusan TIna.. keburu ketiga orang itu datang kesini”


“Ya sudah bantu Tina ke seberang sungai, terserah kamu Inggrid… mau lewat mana saja”


Sebelum Inggrid mengajakku seberang sungai, dia akan melihat keadaan di sekitar sini dulu.Inggrid pergi ke arah tiga orang yang sedang mencari korban tembakan yang hilang.


Setelah beberapa lama akhirnya Ingrid datang juga. tetapi dia tidak langsung mengajakku ke seberang sungai, melainkan dia menawariku untuk menjadi saksi apa yang dilakukan orang-orng yang ada di dalam rumah penggergajian


“Tina…. di sana ada kamera yang terjatuh, kemungkinan besar milik pak Hari, dan sekarang pak Hari entah kemana, kelihatannya dia sudah bisa menyelamatkan diri”


“Inggrid hanya ingin Tina dan mas Agus menyelesaikan kasus ini secepatnya, karena Inggrid juga kepingin TIna dan mas Agus menyelesaikan kasus Inggrid yang puluhan tahun masih belum tuntas”


“Paijo dan dua temanya sekarang ada di desa seberang sungai… dan tidak jauh dari sini ada kamera milik pak Hari yang terjatuh karena dia lari menghindari kejaran dua orang anak buah Paijo”


“Sekarang kita ambil kamera itu dan gunakan untuk mengambil gambar”


“Tapi… tapi gambar apa yang akan TIna ambil Nggrid…keadaan di dalam sana penuh dengan penjahat dan sangat gelap kan”


“Tenang saja Tina…semua bisa Inggrid atur, yang penting gunakan Kamera milik pak Hari ini untuk mengambil gambar yang kamu inginkan”


“Tapi di sana kan gelap Nggrid, lagipula, jelas tidak mungkin menggunakan lampu blitz”


“Akan Inggrid bantu… suasana yang gelap itu hanya dari mata manusia saja, berbeda dengan mata burung hantu  dan kucing yang bisa melihat dalam gelap”


“Ya memang Tina… mata kucing dan burung hantu bisa melihat dalam gelap karena mata mereka yang terbuka lebar itu bisa menampung cahaya yang banyak”


“Nah dalam hal ini saya Inggrid akan coba untuk merekayasa cahaya yang akan masuk ke lensa kamera. Inggrid belum pernah mencoba sih.. hanya saja Inggrid tau cara agar mata Tina dan kamera itu bisa melihat dengan jelas di kegelapan”


“Memang butuh energi dari Inggrid yang lumayan banyak, tapi Inggrid percaya semua akan berjalan dengan lancar, dan untuk latihan awal…  Inggrid akan coba agar mata mbak Tina bisa menerima banyak cahaya dalam gelap”


“Ayo kita cari kamera yang jatuh itu TIna, dan Inggrid akan mencoba membesarkan pupil Tina hingga bisa menerima cahaya yang lebih banyak”


“Ya sudah… Tina setuju Nggrid!”


Aku diam saja ketika entah bagaimana tiba-tiba penglihatanku menjadi kabur…sangat kabur , tapi itu hanya beberapa detik saja, karena perlahan lahan mataku bisa melihat keadaan malam hari ini dengan jelas.


Bukan terang. melainkan sangat jelas dan tajam.. meskipun tidak ada cahaya sama sekali..kini aku bisa melihat jembatan yang jauh dari posisiku..


Aku juga bisa melihat dengan jelas yang ada di seberang jembatan.


“Inggrid rasa sudah berhasil merekayasa mata Tina.. tapi Tidak bisa terus menerus.. keadaan ini akan kita gunakan ketika kita akan memfoto saja, untuk mencari objek yang harus difoto”


“Sekarang Inggrid akan kembalikan penglihatan kamu yang normal dulu…dan ayo kita ambil kamera milik pak Hai yang ada di sana Tina


“Nggrid.. kalau kamu punya keahlian seperti ini, kenapa nggak kamu terapkan ke pak Hari saja?”


“Hehehe Inggrid belum bisa percaya dengan polisi itu… ayo cepat kita ambil kameranya dan kemudian masuk ke area dalam rumah”


“Cari objek yang tepat dan ambil gambarnya”


Dengan dibantu Inggrid akhirnya aku bisa menemukan kamera milik pak Hari yang terjatuh, kemudian aku tidak langsung menuju ke halaman rumah, melainkan aku menunggu hingga pagi tiba ketika ada truk yang akan mengambil drum yang ada di samping rumah.


Karena memang tujuanku  dan Inggrid memfoto ketika  barang yang ada disana diambil pada pagi harinya.


Lalu bagaimana dengan Paijo dan kedua temanya…


Aku rasa mereka mengambil kesempatan dalam kesempitan, mereka bertiga menyembunyikan barang yang dicuri oleh pak Hari… mereka tidak tau bahwa yang objek yang sebenarnya adalah drum yang ada di samping rumah.


Aku yakin setelah ini dia akan mendatangi Solikin  dan melaporkan bahwa orang yang mencuri dus itu sudah tidak bisa ditangkap.


Dan jawaban Solikin pasti…… kamu tidak becus melakukan penjagaan.. sudah sana kamu jaga di depan saja, jangan sampai kecolongan lagi, saya sedang menanti orang yang akan datang untuk dus itu!


Dan untuk dus yang hilang, itu sudah urusan saya, kamu Paijo… sebenarnya tugasmu sederhana, hanya berjaga saja, tetapi kamu tidak bisa diandalkan


Akal-akalan solikin mengena juga…

__ADS_1


Paijo Pun dengan senang hati pasti akan berjaga di depan hutan…karena dia merasa sudah memiliki objek yang menjadi masalah malam ini.


__ADS_2