RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
157. BANTUAN INGGRID


__ADS_3

“Mas… apa pak Pangat gak bisa membaca pikiran orang yang ada di luar itu?”


“Kayaknya kalau gak lihat wajahnya, pak Pangat tidak bisa membaca pikiran orang yang ada diluar itu mbak”


“Kita minta bantuan Inggrid saja mbak”


“Tapi Inggrid kan nggak bisa masuk ke sini mas, karena ada jebakan yang dibuat pak pangat itu mas”


“Sik tunggu mbak, saya akan bisikin pak Pangat untuk membuka membuka jalan bagi Inggrid… mbak Tina tunggu disini saja, saya coba bisiki pak Pangat dulu”


Dengan mengendap endap mas AGus menemui pak Pangat yang ada di ruang tamu, dan pak Pangat sama sekali tidak mau membukakan pintu bagi orang yang sedang ada diluar itu.


“Jito siapa ya?” tanya pak Pangat tanpa membuka pintu sama sekali


“Saya pasien dari kota N pak… nama saya Jito Nurhayat.. Biasa dipanggil Yayat saja pak, dan saya kan sudah janjian dengan pak Pangat” kata orang yang ada di luar itu


“Duduk saja dulu di depan pagar, seperti pasien pasien saya biasanya” jawab pak Pangat


“Baik pak.. Akan saya tunggu di luar pagar saja”


Pak Pangat tidak menjawab omongan orang yang ada di luar itu, kelihatannya dia sedang bicara dengan mas Agus.


Aku tidak tau apa yang sedang dibicarakan mas Agus dengan pak Pangat, yang pasti sekarang pak Pangat belum juga menjawab omongan orang yang ada di luar sana.


“Sudah mbak… saya ada rencana untuk menggunakan Inggrid untuk melihat siapa yang ada di luar sana itu, pak Pangat akan mematikan penghalang rumah ini”


“Trs kalau maksudnya gimana mas, kan sama saja, orang itu akan masuk ke rumah ini juga mas”


“Biarkan nanti Inggrid dan pak Pangat bicara dulu mbak, karena bisa saja nanti mereka akan mendapat solusi apa yang harus dilakukan, sementara saya akan memanggil Inggrid yang masih ada di rumah kosong sebelah itu”


Aku nggak tau apa yang sedang dibicarakan Inggrid dan mas Agus…


Kini Inggrid sudah ada di ruang tamu bersama mas Agus dan Pak Pangat… aku gak dengar yang mereka sedang bicarakan.


Setelah mas Agus selesai dengan urusan Inggrid dan pak Pangat, dia sekarang sembunyi bersama aku di balik gorden penyekat ruang tamu dengan ruangan bagian belakang.


“Gimana mas, apa yang tadi mas Agus bicarakan dengan Inggrid dan pak Pangat?”


“Liat aja mbak… pokoknya sekarang tugas pertama Inggrid adalah melihat apa yang sedang dilakukan oleh orang itu dan apa yang sedang dia bawa”


“Setelah  itu Inggrid akan laporkan ke pak Pangat apa saja yang dibawa orang itu…. Nanti pak Pangat akan ajak bicara orang itu dulu hingga tau apa tujuan orang itu kesini”


“Kalau tujuan dia berbahaya…. Pak Pangat akan menyerang orang itu lewat ruangan belakang ….sementara itu saya yang ajak dia bicara dulu , seolah saya ini anak buah pak Pangat”


“Sementara itu Inggrid akan membuat orang yang ada di depan itu merinding, dan kehilangan konsentrasi ketika pak Pangat melumpuhkan orang itu”


“Ya sudah mas… nanti kelanjutanya kita harus pikirkan baik-baik mas, karena dengan melumpuhkan orang itu maka musuh pak Pangat akan bertambah.


“Iya mbak, tapi sebentar lagi kita kan kedatangan pak Burhan, karena habis ini saya akan hubungi pak Burhan untuk mengirim orang ke sini untuk menangkap orang yang telah dilumpuhkan pak Pangat”


“Ayo kita ke ruang tamu saja mbak… keliatanya pak Pangat harus dapat masukan dari kita juga apa yang akan dilakukan untuk orang yang ada di luar itu mbak”


“Jito eh atau Yayat…. Kamu tunggu dulu.. Saya kan baru datang dari pergi, biar saya siapkan dulu  semuanya” kata pak Pangat kepada orang yang ada di luar


“Ya.. saya akan tunggu disini” jawab orang yang ada di luar


Ketika aku dan mas Agus ke ruang tamu, ternyata Inggrid sudah ada di sebelah pak Pangat,  dan tentu saja Inggrid sedang bicara dengan cara ghaib kepada pak Pangat.


“Orang itu membawa sebuah belati dan HT , dia berniat buruk dengan masuk ke sini pak” kata Inggrid


“Siapa yang menyuruh orang itu ke sini Inggrid?” tanya pak Pangat


“Inggrid belum bisa tau  pak.. Yang penting orang itu akan melakukan sesuatu kepada pak Pangat” jawab Inggrid


“Ok mbak Inggrid.. Sekarang buat orang itu gak kerasan dan merinding dulu, saya akan hubungi Burhan dulu mbak… nanti setelah itu pak Pangat sesuai dengan rencana keluar melalui rumah kosong”


“Nanti saya yang akan ajak orang ini bicara dulu disini” kata  mas Agus


Mas Agus kemudian menuju ke balik gorden lagi untuk  bicara kepada Burhan mengenai orang yang akan berniat jahat itu.


Aku gak dengar apa yang sedang dibicarakan mas Agus dengan pak Burhan, yang pasti dia  akan menyuruh pak Burhan untuk kesini secepatnya.

__ADS_1


“Beres mbak.. Nanti ada Burhan dan anak buah Burhan yang akan kesini sebentar lagi, karena sekarang team Burhan yang dari kota S udah datang”


“Ok.. sekarang rencana kedua pak.. Pak Pangat keluar lewat rumah kosong, saya yang akan berjaga disini….saya yakin sekarang Inggrid sedang bekerja keras untuk membuat orang yang ada di luar sana kehilangan konsentrasi”


“Tapi… sebentar pak, lebih baik kita rubah rencana saja… biar saya yang keluar, saya pura-pura menjadi pasien juga. Saya yakin orang itu tidak tau saya dan mbak TIna…”


“Jadi saya yang nanti akan ajak dia bicara dulu pak, kemudian kalau bapak sudah siap.. Saya akan mengetuk pintu rumah bapak, dan kemudian bapak bisa lakukan apapun untuk pengaruhi orang itu dengan bantuan Inggrid” kata mas Agus


“Ya sudah mas Agus.. saya akan ada disini bersama mbak Tina… nanti kalau sudah siap masuk ke rumah, mbak Tina temani istri saya yang ada kamar belakang ruang tamu ini”


Mas AGus bergegas menuju ke rumah sebelah melewati dapur….


AGUS POV


Sebenarnya siapa lagi ya orang ini, dan kenapa dia sampai mencari pak Pangat. Kan sebenarnya yang seharusnya dicari itu kan aku dan mbak Tina.


Harusnya pak Pangat ini jangan diikut ikutkan masalah ini.


Huh rumah sebelah ini sangat gelap , dan semoga Inggrid berhasil membuat orang yang ada di luar itu pikirannya kacau karena ketakutan.


Sekarang aku harus bisa keluar dari rumah kosong ini tanpa ketahuan oleh yang namanya Jito Nurhayat itu.


Aku intip dulu keadaan luar rumah… siapa tau orang yang tadi tau tau ada di depan rumah kosong ini…. Hmm ternyata tidak ada…


Aku harus segera keluar dari sini dan memainkan sandiwara yang sudah kususun dengan pak Pangat.


Untungnya engsel pintu rumah kosong tidak bersuara ketika aku buka… Dan sekarang aku sudah ada di luar rumah kosong.


“Gila si Inggrid, dia sampai duduk di pundak orang yang bernama Yayat..”


Orang itu sekarang sedang menahan sakit hingga sedikit bungkuk cara berdirinya hihihihi. Inggrid sudah berhasil melakukan tugasnya.


Orang itu terbungkuk bungkuk dengan tangan kirinya memegang pagar rumah pak Pangat, sedang di depan pagar rumah pak Pangat ada sebuah tas ransel kecil yang tergeletak.


Sekarang giliran aku yang akan melakukan tugas berikutnya… yaitu memperkenalkan diri sebagai pasien pak Pangat juga.


“Lho mas… kamu kenapa kok sampai terbungkuk bungkuk gitu?... sedang sakit dan nunggu pak Pangat?”


“I..iya mas… saya mau ketemu pak Pangat. S….saya tidak tau kenapa tiba-tiba pundak saya terasa berat dan linu sekali” kata Jito Nurhayat


“Nama saya Jito Nurhayat…panggil saja saya Yayat…”


“Iya mas… tolong saya berdiri..rasanya kaki saya sudah tidak mampu digunakan untuk berdiri, rasanya badan saya ini berat dan pundak saya linu sekali “


Inggrid yang ada di atas pudak Yayat  tersenyum penuh kemenangan, dia merasa bisa memanipulasi orang yang ada di bawahnya menjadi lunak.. Tapi bukan tulang lunak.


Inggrid berhasil membuat orang yang tadinya jahat menjadi tidak berdaya…


Yah seperti pemerintahan negara tetangga yang dengan bangganya menaikan tarif dasar listrik, menaikan harga bahan bakar minyak, dan yang terakhir merubah frekuensi televisi dari manual menjadi digital.


Dan hebatnya rakyatnya tidak melakukan apapun, karena sudah tidak berdaya sama sekali akibat beban yang ditanggung, dan hanya menyerah dengan keadaan… tapi itu kan di negara sana.. Kalau disini berbeda…!


“Ayo saya bantu mas Yayat.. Semoga pak Pangat bisa sembuhkan penyakit kita berdua”


“Mas Agus ini sakit apa?”


“Eh penyakit saya.. Eh malu saya mengatakannya mas Yayat”


“Kalau malu ya gak papa mas.. Tapi kan saya penasaran juga, kenapa tiba-tiba ada mas Agus di belakang saya, tepat di belakang phanthat saya”


“Penyakit saya suka dengan sesama jenis mas Yat, dan sekarang malah nganu saya ini tidak bisa berdiri, mungkin saya disantet oleh cowok yang suka dengan saya”


Buru-buru yayat berusaha tegak berdiri dah menggeser tubuhnya ke samping agak menjauh dari posisi depanku hihihi.


“Aduuuuh.. Sakitnyaaaa” teriak Yayat ketika memaksa dirinya menjauhi aku


“Sudah…. jangan banyak bergerak mas Yayat.. Biar saya saja yang membuka pintu pagar rumah pak Pangat, dan mengetuk pintu rumahnya”


Aku melangkah masuk setelah membuka pagar rumah pak Pangat. Kemudian aku ketuk pintu depan rumahnya yang masih tertutup rapat..


Tapi aku tau pak Pangat pasti sedang menunggu di balik daun pintu ini.

__ADS_1


Kuketuk daun pintu rumah pak Pangat.


“Siapa” tanyanya dari dalam… dia tanya lagi “siapa”, padahal tadi sebelumnya si Jito Nurhayat kan sudah mengetuk pintu itu hehehem mungkin saking tegangnya pak Pangat sampai lupa ya.


“Agus dan Yayat pak”


“Masuk…!”


Yayat yang keadaannya agak bungkuk karena ulah Inggrid aku papah masuk ke dalam ruang tamu rumah pak Pangat yang keadaanya sudah rapi daripada tadi, mungkin sudah dibersihkan Mbak Tina dan istrinya pak Pangat.


“Tutup pintunya…”


“Duduk!”


“Ada perlu apa kalian berdua ke sini, ada laporan apa di parkiran,  dan pasar?”


“Eh maaf pak.. Kami mau berobat, bukan mau lapor tentang parkiran dan pasar” kataku sambil menahan tawa karena wajah pak Pangat sekarang berubah menjadi bengis dan kaku tanpa tertawa sama sekali


“Oh iya maaf… saya salah sangka!... kalian siapa dan mau apa?”


“Nama saya Agus, dan yang sedang kesakitan ini namanya Yayat pak”


“Eh.. kalau saya… eh saya mau berobat untuk nganu saya yang tidak bisa berdiri… tetapi kayaknya orang ini saja yang butuh bantuan bapak. Karena keadaanya kok mengerikan”


“Hmmm untuk kamu akan saya obati secara tersendiri dan perlu waktu yang agak lama..”


“Kemudian kamu yang namanya Yayat… dan kamu kesini mau apa selain berobat, katakan sebenarnya atau penyakitmu akan semakin parah saja” kata pak Pangat dengan intonasi datar dan mengeja kata demi kata dengan perlahan lahan tanpa melihat kami berdua.


Tidak  ada suara apapun yang keluar dari mulut orang yang bernama Yayat ini, dia tetap membisu dan menahan sakit yang mungkin semakin menjadi jadi, karena sekarang tangan Inggrid mulai masuk ke kepala orang itu.


Tangan Inggrid mulai memijat mijat otak Yayat, sesekali Inggrid meremas otak Yayat seperti spongebob waktu meremas otak Patrick.


Inggrid sedang duduk di pundak Yayat, mirip dengan orang yang digendong, tetapi tangan Inggrid saat ini sedang ******* ***** otak Yayat.


“Saya tau apa yang sedang kamu lakukan disini.. Dan saya tau apa yang sekarang sedang kamu rasakan”


“Eh maaf pak Pangat, apa lebih baik saya pergi dulu saja dari sini, sementara bapak mengobati Yayat ini?”


“Tidak usah mas, kamu disini saja ndak papa, saya terbiasa mengobati pasien bersama sama kok “


Inggrid terus ******* ***** otak Yayat.. Seperti kalau mencuci baju waktu di rumah penggergajian sebelum kenal dengan Tina hihihihi.


Dengan hanya melihat Inggrid yang sedang meremas otak si  Yayat aku bisa merasakan betapa ngilu dan sakitnya apa yang dirasakan oleh Yayat.


“OK … kamu kalau tidak mau bicara dengan saya.. Saya yang akan bicara dengan kamu.. Eh mana tas ransel mu,. Kenapa tidak kamu bawa masuk saja?”


“Saya tau apa yang ada di dalam tas mu itu… kamu tunggu disini saja, akan saya ambil tasmu yang ada diluar” kata pak Pangat


Inggrid tertawa ketika Yayat berusaha menahan pak Pangat yang sedang berjalan menuju ke luar rumahnya.  Tangan Inggrid tiba tiba meremas mata kanan Yayat.


“Aduh mataku ku” teriak Yayat sambil memegang mata kanannya


“Tenang mas Yat.. saya yakin pak Pangat bisa mengobati sakit yang diderita mas Yayat luar dalam” aku berusaha menenangkan Yayat yang makin menderita.


Yayat berusaha untuk bangun dari duduk nya, tetapi Inggrid yang ada di bahunya kemudian menendang  punggung Yayat…seketika Yayat yang tadinya berusaha berdiri, sekarang malah jatuh terjerembab.


“Hmmm .. kamu tidak usah berusaha untuk berdiri…saya bisa ambil tasmu yang ada di luar kok” kata pak Pangat yang masuk dari luar dan menutup pintu rumahnya


“Nah sebelum saya buka isi tasmu dan tau apa yang ada di dalam tasmu, sebaiknya kamu katakan kepada saya, siapa kamu dan apa yang sedang kamu lakukan disini….” kata pak Pangat


“Sakitmu itu karena niatmu yang  tidak baik disini, sehingga kamu menderita sakit yang parah…”


“B..baik pak… saya hanya orang suruhan pak” kata Yayat yang mulai buka suara


“Nah kan, semakin kamu bicara maka sakitmu mulai berkurang kan. Kalau kamu diam, maka sakitmu akan bertambah parah”


“Sekarang katakan kepada saya… kamu ini disuruh oleh siapa?”


“S..saya disuruh komandan?” tanya pak Pangat


“B..bukan.. Saya hanya orang yang biasa disuruh oleh komandan saya”

__ADS_1


“Siapa nama komandan yang menyuruhmu untuk kesini?”


“P..pak..P…Paijo!”


__ADS_2