RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
29.BERSAMA MBAK AGUSTINA


__ADS_3

Sore hari semua sudah dipersiapkan, mulai dari lampu petromak hingga lampu minyak yang di dalam kamarku. Tapi lampu itu hanya kupersiapkan saja, tidak aku nyalakan


Motor tua juga sudah ku keluarkan di halaman rumah. Pintu depan sudah aku kunci, kemudian pagar juga sudah ku kunci


“Sekarang pukul 17.20. sudah cukup sore untuk ke desa, semoga gak ada sesuatu di jalan, semoga motor ini tidak mogok ya Allah”


Motor tua ini ku jalankan menembus hutan yang lebat. cahaya matahari sore seakan tidak mampu menembus rimbunnya pepohonan hingga aku harus menyalakan lampu motor yang tidak terlalu terang.


Setelah menembus hutan dengan waktu yang tidak sebentar, karena aku menjalankan motor ini dengan sangat pelan dan sangat hati-hati akhirnya desa sebelah mulai terlihat.


Pepohonan sudah mulai berkurang, lampu jalan desa sudah mulai nampak. Untuk diketahui, jalan yang kulalui ini hanya jalan setapak yang biasanya digunakan penduduk desa untuk ke desa sebelah.


Atau juga untuk menuju ke rumah penggergajian, jadi bukan jalan yang dibuat untuk tujuan kemana gitu. Hanya jalan setapak yang jarang dilalui oleh manusia saja.


Lebih baik aku cari mushola dulu saja, sudah lewat waktu maghrib ini, ketika kulihat jam tanganku sudah menunjukan waktu maghrib.


Jalan desa ini sedikit ramai dengan orang yang berlalu lalang, lebih manusiawi daripada di  rumah penggergajian yang penuh dengan mahluk astral.


Setelah dari masjid yang tidak begitu besar. kemudian kuarahkan motor ini ke wartel.


Kulewati lapak mie ayam yang kelihatannya baru saja buka, karena mas Samsol masih mengatur meja dan kursi di dalam warung tendanya.


Tujuanku memang ke warung mie ayam, tapi aku mau ke wartel dulu, yah untuk kabari  keadaanku kepada yang ada di desa dulu.


Meskipun rasa ini sudah agak hambar karena kehadiran Anik anak dari ibu Tugiyem, tapi ndak ada salahnya juga kalau kasih kabar kepada yang ada di rumah kan.


Tapi kalau aku harus selalu kasih kabar, takutnya hubungan ini akan terus berlanjut, padahal aku sudah kesengsem sama dik Anik yang cantiknya masih asli  itu.


“Hehehe wartel aduhai sudah ada di depan mata”


“Bentar lagi aku akan disambut mbak Tina yang semlohai”


Pikiranku sudah ndak karuan membayangkan pakaian apa yang akan dikenakan mbak Tina, dan ajakan apalagi yang nanti akan ditawarkan kepadaku.


Perlahan namun pasti motor tua ini menuju ke wartel yang letaknya di sebelah balai desa.


Aku berhenti di depan pagar wartel yang terbuka dan siap menerima tamu yang akan melakukan panggilan telepon lokal maupun interlokal.


“Selamat Sore mbak Tina, saya bisa pake kamar yang mana ini mbak” seperti biasanya aku selalu tanya  KBU mana yang bisa kugunakan


“Ah ada mas Agus”


Jawab perempuan yang saat ini makin seksyi dengan pakaian yang super ketat hingga lekuk tubuhnya terlihat olehku, diap pun membiarkan rambutnya yang indah  itu terurai.


Perempuan itu mendekati aku dan dengan senyum mengembang dan berbicara kepadaku.


“Pake kamar Tina aja mas lebih enak” dengan tatapan nakal mbak Tina


Waduuuhhh otaku langsung traveling kemana-mana, apalagi dia ucapkan sambil sedikit berbisik dan mendesyah wangi..wangiiii


“Ah mbak Tina ini lho, bikin saya ndredeg aja sih mbak”


“Sekali kali ndredeg sama Tina kan ndak papa mas, daripada mas Agus ndak pernah ndredeg sama sekali”


“Hahahah bisa saja mbak Tina ini, aku tak telepon dulu ya mbak, nanti kita ngobrol lagi mbak”


Sekali-kali lah nyoba apa yang biasanya dilakukan pak Wandi, eh tapi kan aku sempat di warning sama bu Tugiyem, bahkan dia juga nyuruh Anik untuk antar aku ke wartel heheheh.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam KBU ( kamar bicara umum), pertama yang kulakukan adalah memutar nomor yang saat ini sedang menungguku di desa. Pacarku yang minta dinikahi itu hihihi


Setelah diakhiri dengan pertengkaran dengan alasan karena aku tidak bisa dihubungi, aku tidak pernah menghubungi dia, dia minta dihubungi setiap waktu, dan dia tidak mau menerima alasanku, Akhirnya kututup aja teleponnya.


Dipikir mudah apa ke wartel yang harus melalui hutan angker, di pikir di hutan ada sinyal ponsel apa? dipikir semua itu semudah yang dibayangkan apa?


Rasa hambar yang tadi sudah hambar sekarang makin hambar  dan cenderung pahit.


Gatel c*k niate apik malah dadi tukaran, lebih baik ngobrol sama mbak Tina ae lah


“Mbak Tina… berapa saya bayarnya”


aku mendatangi mbak Tina yang sedang menggelung rambutnya sehingga lehernya yang putih itu terlihat.


“Dua ribu ajah massshh” kata mbak Tina yang masih menguncir rambutnya


“Juangkreeek gulune (lehernya) bikin adem panas ae” Gumamku,


Tanganku ndredeg ketika mengambil dompet, sehingga akhirnya dompetku jatuh diantara kakiku.


Tanpa ba bi bu mbak Tina jongkok  untuk mengambil dompetku yang jatuh diantara kakiku.


Aku semakin ndredeg ketika belahan dah-dah nya yang begitu menggiurkan terlihat mataku.


Mbak Tina tidak segera bangun dari kedua kakiku, tetapi dia menengadahkan kepalanya melihat ke arahku dengan manjah.


“inih massh dompetnyaah, lain kali hati-hati ya masshhh”


Dengan suara yang mendesah dan wajah yang sengaja dia dekatkan dengan wajahku


“Jangan pulang dulu massssh, kita minum teh dulu yuk”


“Duduk dulu ya mas, Tina mau tutup wartel dulu”


Dia berjalan berlenggak-lenggok di sampingku, kemudian dia menuju ke arah wartelnya. dia hanya menutup sementara wartelnya saja ternyata.


Aku hanya bisa diam dan terduduk di sofa berwarna pink yang seirama dengan warna temboknya yang pink juga.


Aku merasa bahwa ini mungkin memang rejekiku, setelah tadi sempat bersitegang dengan pacarku yang ada di desa.


Sekarang aku malah ada di tempat yang membuat gairahku meledak-ledak.


“Bentar ya mas, Tina mau buatkan teh untuk mas Agus….”


“Jangan tegang gitu dong mas, ntar ndak enak lho mas kalau mas Agus tegang duluan…”


“Kita lebih enak tegangnya bareng-bareng aja mas”


Tina kemudian masuk ke dalam rumahnya, dia  tadi bilang mau buatkan aku teh, tapi aku bingung teh apa yang dia mau buat, karena pak Wandi pun juga dibuatkan Teh olehnya.


Lama juga dia ada di dalam, kalau hanya membuat Teh kan harusnya tidak selama ini hehehe. tapi ini kenapa hingga sekarang dia belum juga keluar dari dalam.


Baru saja tak rasani kenapa kok mana sekali dia ada di dalam, eh dia keluar dari dalam ruang bagian dalam dengan membawa dua gelas teh hangat.


Tina pun sudah berganti pakaian, dia sekarang memakai baju terusan macam long dress warna putih yang agak menerawang.


Tetapi jelas aku tidak akan melihat apa yang ada di balik long dress yang menerawang itu, aku hanya duduk menundukan kepala saja ketika mbak Tina duduk di depanku.

__ADS_1


“Ayo diminum dulu, ndak usah menundukan kepala segala mas, saya ndak gigit kok mas hehehe” Tina berkata  dengan suara yang lembut


“I…Iya mbak Tina, eh iya mbak”


Gugup? jelas aku gugup. Kenapa kok gugup?, karena yang di depanku ada adalah mbak Tina dengan pakaian yang sedikit menerawang!


“Jangan gugup gitu mas, ayo diminum saja mas”


“Tina tau masnya akan pulang ke hutan, ndak ndak baik ke hutan kalau perut dalam keadaan dingin”


“Ini Tina sediakan teh hangat yang manis, agar perut hangat dan mas Agus bisa aman sampai tujuan tanpa masuk angin  hehehe”


Suara Tina benar-benar bikin adem, dia pintar membuat nyaman pasangannya.


Inilah kenapa aku sempat kepikiran untuk suka dengan Tina daripada Anik atau pacarku yang ada di desa. Karena macam Tina ini bisa ngemong dan sudah terbiasa membuat nyaman pasangannya.


Tapi aku hanya bisa menunduk saja, karena kupikir aku harus terlihat sopan di depan mbak Tina yang sekarang menggunakan pakaian yang menggoda iman.


“Jangan menunduk terus dong mas Agus, Tina kan bukan patung yang  harus dicuekin mas, Tina kan juga ingin ngobrol dengan mas Agus”


“Tina hanya ingin mas Agus ini tenang, rilex, dan nyaman sebelum kembali lagi ke hutan yang sepi disana itu”


“Iya mbak Tina, kok mbak Tina bisa tau kalau saya memang kesepian mbak?”


“Hihihi ya jelas masnya kesepianlah, disana kan sepi sekali, kalau mas agus ada pasangan disana ya tiap hari bisa bikin anak mas hihihihi”


Sialan..bisa aja ini si Tina,  dia ini sebenarnya sedang mancing aku atau gimana ini.


“Betul mbak Tina, eeh teman saya satu-satunya yang namanya Mamad itu kemarin malam meninggal, karena tertabrak bus waktu dia ijin pulang kampung”


“Tina ikut berduka cita mas. dan Tina sudah bisa menebak bakal ada yang akan meninggal lagi disana”


“Apa mbak Tina tau  apa yang terjadi di sana sebelumnya mbak?”


“Jelas Tina tau mas karena Tina kan dulu  berasal dari sana juga, eh nanti lah mas akan Tina ceritakan desa yang  penduduknya masih sangat mempercayai hal-hal mistis”


“Tapi mas Agus jangan takut mas, turuti saja apa kata Tina, dan mas Agus akan aman sampai dirumah tanpa akan melihat penampakan  yang ada di hutan”


“Tina juga tau keadaan desa seberang sungai itu mas” katanya dengan suara manja


“Oh berarti mbak Tina kenal dengan penduduk disana?”


Tina hanya mengangguk dengan tersenyum manis kepadaku


“Jelas Tina kenal mereka mas, Tina juga tau mbah Karyo meninggal karena tenggelam di sungai yang angker itu”


“Sekarang yang penting, itu tehnya diminum saja dulu mas, itu bukan sekedar teh biasa, tetapi ada campuran semacam rempahnya agar tubuh mas Agus selalu hangat”


Kenapa dia baik sekali padaku, dan kenapa cara bicaranya itu begitu tenang hingga aku merasakan sebuah kenyamanan ada disini?


Pantas saja pak Wandi kerasan ada di rumah ini,  mungkin karena mbak Tina yang benar-benar  bisa  ngemong  laki-laki kesepian macam kami ini.


“Jangan melamun mas, ayo diminum dulu tehnya, dan setelah minum teh itu mas Agus jangan pulang dulu, tunggu disini bersama Tina”


Tina berkata begitu sambil tersenyum manis menggoda,


Dia kemudian menundukan tubuhnya untuk mengambil gelasku, dan kemudian dia sodorkan ke aku, yang belum juga meminum tehku.

__ADS_1


Akibat dari dia menundukan tubuhnya, aku bisa  melihat dengan jelas bagian dalam tubuhnya yang indah tanpa ada halangan sama sekali.


__ADS_2