
Beberapa tamu akan check out pagi ini hingga siang nanti, sebelum jam dua belas seluruh tamu yang menginap disini akan check out, dan tentu saja akan diganti oleh tamu lain yang sudah antri menginap melalui biro perjalanan yang dimiliki pak Robert teman pak Jay.
Dan itu akan terus berulang dan berdatangan, namanya juga usaha penginapan, pasti yang diharapkan adalah tamu yang menginap disini.
Bagi pak jay hal ini merupakan ladang uang, tetapi tidak bagi kami yang bertugas menjaga hotel…. kengerian akan muncul kapan saja dan mungkin bisa saja menimpa tamu yang menginap disini.
Sayangnya Watuadem waktu itu tidak bisa meliihat siapa yang akan datang ke sini berikutnya.
“Mas…. lihat ini mas…dari email yang dikirim pak jay… hari ini sudah ada sepuluh keluarga atau tamu yang sudah check in melalui biro perjalanan pak Obet”
“Iya mbak.. Bahkan nomor kamar-kamarnya pun sudah sesuai semua….. Dan mereka semua juga menginap untuk dua malam semua mbak”
“Ya sudah mas… siap-siap saja apabila ada tamu yang sudah keluar, mas Agus dan team membersihkan kamar lagi… oh ya mas.. Trainer apa sudah gak kesini lagi ya?”
“Kayaknya kemarin itu terakhir mereka mengajari kita mbak.. Mereka anggap kita sudah mampu dilepas sendiri untuk mengurusi hotel ini mbak”
“Ya sudah mas… pagi ini kita nunggu cateringg datang, mas Agus dan Team sudah harus bersiap untuk mengantar sarapan bagi tamu disini sebelum siangnya mereka chek out mas”
Seperti biasa aku,pak Cheng dan Jiang akan membagikan sarapan setelah pihak catering datang dan menyiapkan semuanya. Setelah kegiatan pagi, tentunya aku dan ketiga temanku akan mengawasi bagian belakang…
Tamu tamu yang sedang ada dihalaman belakang dan dekat dengan sungai akan menjadi prioritas keamanan kami.
Tetapi untungnya pagi hingga siang ini tidak ada yang ke arah sungai, karena mereka sedang persiapan untuk check out dari hotel.
Mbak Tina sebagai petugas resepsionis sangat sibuk melayani tamu yang keluar dari hotel… sebenarnya tugas mbak Tina itu mudah… karena tidak mengurusi masalah pembayaran, karena pembayaran sudah melalui agen perjalanan pak Robert teman pak Jay.
Mbak Tina hanya mengurusi registrasi sesuai dengan email yang diterima dari karyawan pak Robert.
Aku dan ketiga temanku pagi hingga siang hari ini sangat sibuk membersihkan kamar yang sudah kosong, karena nanti pukul satu siang temu yang berikutnya akan datang kesini.
Tepat jam dua belas seluruh tamu sudah meninggalkan hotel.. Mbak Tina bisa beristirahat sebentar karena sebentar lagi tamu pengganti akan datang.
*****
“Pak Cheng …. Apa kita gak minta tambah orang untuk disini?”
“Untuk apa Gus?”
“Ya untuk bantu-bantu bersih bersih kamar pak?”
“Dan orang baru itu akan tau apa yang sedang kita lakukan disini… gitu Gus?”
“Iya sih pak… pasti mereka akan tau juga apa yang sedang kita lakukan pak”
“Kalau gitu ya gak usah ada orang baru lagi sini… cukup kita dan pak Diran saja yang tau masalah ini Gus”
Siang ini aku dan pak Cheng stand by di bagian belakang halaman yang dekat dengan sungai.
Memang kadang ada saja tamu yang ingin berenang ke tengah, meskipun sudah diberi tanda larangan agar tidak berenang ke tengah.
Tapi kehadiran kami disini cukup membantu orang yang ada di taman, kadang ada saja yang memerlukan bantuan kami untuk menyediakan minuman standart macam teh, air mineral atau bahkan kopi.
Siang hingga sore hari tidak ada apapun yang terjadi disini , semuanya aman terkendali.. Kecuali satu anak kecil yang mungkin berumur lima tahun yang selalu memegang sebuah boneka kodok berwarna hijau yang sudah pudar warnanya.
Anak kecil yang menyita perhatianku, karena selalu menatap seberang sungai dan kemudian tertawa sambil menunjuk nunjuk ke arah sungai.
Dan kejadian itu berulang hingga beberapa kali…menunjuk ke arah sungai atau seberang sungai, kemudian tertawa sendiri, dan tentu saja aku dan pak Cheng tidak bisa meremehkan apa yang dilakukan anak kecil itu.
“Gus.. kita harus selalu perhatikan anak kecil itu…saya rasa anak kecil itu melihat sesuatu disana, hanya saja saya untuk saat ini entah kenapa kok tidak bisa melihat apa yang ditunjuk oleh anak kecil itu”
“Iya pak…. “
__ADS_1
“Mungkin malam ini saya akan tau apa yang menyebabkan anak kecil itu tertawa dan menunjuk nunjuk ke arah sungai sana”
“Iya pak, saya kok curiga dengan aktivitas anak itu pak…”
“Pokoknya jangan lepas perhatian kita kepada anak itu Gus.. kita berempat harus bergantian..mbak Tina sore ini pasti sudah selesai bikin laporan tamu yang datang kepada karyawan kantor pak Obet kan”
“Jadi nanti apabila kita sibuk antar makanan, mbak Tina harus tetap melihat ke arah podok dimana keluarga anak itu tinggal Gus”
Sore hari ketika pihak catering datang…. Seperti biasa aku dan ketiga temanku membagikan makan malam bagi tamu yang ada di sini.
Tadi aku dan pak Cheng sudah cerita kepada mbak Tina dan Jiang tentang keanehan yang sedang dialami oleh anak balita itu, sehingga ketika aku, pak Cheng dan jiang membagikan makan malam, mbak Tina yang bertugas mengawasi pondokan tempat keluarga anak kecil itu tinggal.
Mbak Tina duduk di kursi taman sambil kadang melihat keadaan kamar atau pondok tempat keluarga anak itu tinggal.
Aku dan ketiga temanku pun seperti biasa menawarkan lampu apa yang akan digunakan di masing masing kamar, dan untuk saat ini mereka yang menginap menggunakan lampu teplok dari pada lampu Petromak.
“Gimana mbak, apa ada yang mencurigakan dengan kamar itu?”
“Nggak mas… Tina dari tadi duduk disini dan memperhatikan kamar itu, dan sesekali Tina melihat ke arah sungai, siapa tau ada yang aneh dengan keadaan di sungai itu ”
“Ya sudah mbak Tina… sebentar lagi malam tiba… kita harus lebih waspada lagi… lihat itu pak Cheng sedang melihat sekeliling untuk memastikan keadaan disini baik baik saja”
“Nanti malam saya akan keliling bersama dengan pak Diran lagi mbak…”
“Iya mas… duh tanggung jawab kita semakin besar mas… kalau dulu kita hanya tanggung jawab atas diri kita sendiri, sedangkan disini kita harus tanggung jawab atas keamanan tamu yang ada disni juga mas”
“Yah mau gimana lagi mbak… kita kan memang disini untuk sebuah misi”
Malam hari pukul delapan malam, semua tamu sudah masuk ke dalam kamarnya.
Pak Cheng dan aku ada di halaman belakang dengan dua lampu petromak yang menyala terang, sedangkan mbak Tina dah Jiang ada di dalam ruangan utama.
“Pak Cheng, saya mau ke pak Diran dulu, saya mau ceritakan tentang anak kecil yang selalu melihat ke arah sungai itu”
“Iya pak.. Lebih baik nanti jam sembilan saja saya ke sana pak”
Jam sembilan segala urusan sudah ditutup, termasuk Tina juga sudah mematikan komputernya, dan sekarang seharusnya kami sudah bisa istirahat, hanya satu orang saja yang bergantian jaga di ruangan utama siapa tau ada tamu yang membutuhkan sesuatu.
Tapi sayangnya karena suatu hal kami tidak bisa nyenyak beristirahat. Mungkin kami bisa tidur menjelang subuh saja, ketika dirasa semua aman di sini.
“Sana Gus… ajak Diran ke sini sekarang, kita bertiga coba lihat apa yang sedang terjadi disini”
“Iya pak…..”
Kebetulan ketika aku membuka pintu ruang utama, pak Diran sedang patroli di sekitar lahan parkir yang sekarang dipenuhi oleh sepuluh mobil yang terparkir rapi.
“Pak Diran…”
“Selamat malam pak Agus… gimana ada yang bisa saya bantu pak?”
“Ada yang mau saya omongkan ke pak Diran tentang tamu yang ada disini pak”
“Tentang apa pak Agus?”
“Kita ke dalam saja pak, di belakang kebetulan ada pak Cheng juga, kita bisa ngobrol bersama pak Cheng tentang apa yang tadi kami lihat pak”
*****
“Hmmmm jadi disini ada anak kecil yang kemungkinan besar bisa melihat sesuatu yang ada di sungai, tetapi pak Agus dan pak Cheng tidak bisa melihat apa yang ada di sungai itu?”
“Betul pak Diran….dan saya rasa sekarang anak kecil itu sedang menangis, yang bisa saya dengar lamat lamat, saat ini anak kecil itu ingin keluar dari kamar dan ingin ke sungai yang ada di belakang itu pak”
__ADS_1
“Iya benar… ada tangisan anak kecil, dan tentu saja tangisan itu akan menakutkan bagi tamu yang lainya, karena tamu yang lainya bisa saja akan mengira itu suara memedi yang ada disini”
“Gini saja pak Diran… bagaimana kalau saya ke sana dan meminta agar anak kecil itu menghentikan tangisannya, karena mengganggu tamu yang ada disini”
“Monggo pak Agus… tapi lebih baik ajak bu Tina juga.. Biar bu Tina yang bicara dengan orang tua dari anak itu” kata pak Diran
Aku masuk ke dalam ruangan utama untuk memanggil mbak Tina yang sedang dudul di balik meja resepsionis.
Kemudian aku dan mbak Tina menuju ke kamar atau pondok nomor lima… disanalah keluarga anak kecil itu tinggal bersama dua anaknya.
“Kamar nomor lima itu dihuni keluarga pak Tedi beserta dua anaknya….”
“Mbak Tina saja yang mengetuk pintunya nanti ya, dan tanyakan apa yang bisa kita bantu agar anaknya menghentikan tangisannya”
Mbak Tina mengetuk pintu kamar beberapa kali sambil mengucapkan permisi… setelah beberapa kali pintu itu diketuk akhirnya pintu itu terbuka
Seorang laki-laki yang mungkin berumur lima empat puluh tahunan membuka pintu.. Wajah bapak itu agak bingung melihat aku dan mbak Tina ada di depan pintu.
“Selamat malam pak Tedi… maaf kami dari pihak pelayanan hotel.. Kami mau tanya apakah ada yang bisa kami bantu, mungkin perlu kami bikinkan teh atau apa gitu agar putri bapak tidak nangis lagi?”
“Waduuhh maaf… tangisan anak saya mengganggu ya mbak?”
“Iya pak.. Takutnya tamu yang menginap disini nanti berpikiran bahwa ada makhluk halus yang sedang mengganggu mereka disini, padahal mereka tidak tau yang menangis itu adalah anak bapak heheheh”
“Iya mbak… ini si Dita… dia dari tadi kepingin keluar…. Katanya dia mau main ke sungai mbak… saya kan bingung mbak”
“Coba tanyakan dulu pak Tedi.. sebenarnya kenapa kok Dita sampai kepingin sekali ke sungai yang ada di belakang itu?”
“Tadi sudah kami tanya mbak… dia bilang disana ada mbak mbak cantik yang akan mengajak Dita bermain… mbak mbak yang katanya memakai rok kotak kotak dan berkaos putih”
“Eh maaf mbak…. Apa benar disana itu angker?” tanya istri pak Tedi
“Begini bu …pak… kita ini kan ada di tengah hutan, dan yang namanya di tengah hutan itu ada saja yang tidak sewajarnya, meskipun area hotel ini sudah diamankan dari hal yang berbau mistis”
“Jadi ya pasti masih ada beberapa hal mistis di luar hotel yang mungkin berusaha untuk mengganggu aktivitas disini” jelas mbak Tina
“Lalu untuk anak saya ini bagaimana mbak? Dia tidak mau diam kalau belum diajak ke luar dan ke arah sungai itu” kata pak Tedi
“Eh begini saja pak Tedi… saya akan memanggil petugas keamanan disini, dia mungkin bisa membantu dik Dita dalam masalah ini” kata mbak Tina
Aku sedikit berlari menuju ke pak Diran yang sedang menunggu di kursi tengah taman untuk memanggil pak Diran yang sedang menunggu disana.
*****
Pak Diran mendengarkan cerita dari pak Tedi apa saja yang dilakukan dik Dita ketika ada di hotel ini, termasuk malam ini ketika dik Dita minta keluar dan menuju ke arah sungai.
“Begini saja pak Tedi… untuk sementara pak pak Tedi ke ruangan utama saja, disana lebih terang keadaanya, karena disana ada lampunya”
“Nanti kita lihat lagi apakah dik Dita ini masih kepingin ke sungai atau dia sudah melupakan apa yang ada di sungai itu”
“Saya kira sebagai petugas keamanan..sangat wajar apabila di tengah hutan ada saja yang mengganggu seperti ini, tetapi percayalah hotel ini aman-aman saja selama kita tidak keluar dari wilayah hotel”
Pak Tedi beserta keluarga boyongan ke ruangan utama, dik Dita selama berjalan ke ruang utama digandeng oleh pak Diran, aku tau selama menggandeng tangan dik Dita, mulut pak Diran tidak berhenti mengucapkan doa.
Lampu dia ruangan utama aku nyalakan sema, sehingga ruang utama sekarang terang benderang.
“Bu Tina… tolong pegang tangan dik DIta, saya akan ambilkan minum yang sudah saya beri doa nanti….dan tolong jangan lepaskan tangan anak kecil itu, karena anak kecil itu sudah terpengaruh perempuan yang selalu ada di seberang sungai” bisik pak Diran kepada mbak Tina
“Iya pak.. Akan Tina usahakan memegang tangan dik Dita” jawab mbak Tina dengan berbisik
“Eh pak Tedi dan bu tedi.. Silahkan salah satu mendampingi dik Dita yang bersama bu Tina itu… pokoknya dampingi dik Dita hingga saya mau berikan doa kepada dik Dita” kata pak Diran
__ADS_1
“Dik Dita… yuk duduk sama tante sini… ini mbah Diran mau ambilkan minum buat dik Dita” ajak mbak Tina