
“Pak Agus mau ke mana?”
“Saya tidak tau Nyuk, pokoknya jauh dari mereka, saya tidak mau mempertaruhkan nyawa saya untuk berada disini”
“Kamu mau ke mana Nyuk?”
“Mungkin saya akan ke desa pak, saya akan ke desa saya saja… pokoknya di sebuah desa yang tidak diketahui oleh bos atau anak buahnya”
“Sebentar Nyuk… kamu kenal dengan mereka dan kelompok mereka ini, mereka sebenarnya ada berapa orang?”
“Saya tidak tau pak….”
“Saya tidak dekat dengan mereka, saya takut dengan bos saya, apalagi dengan orang yang bernama Burhan… yang saya dengar Burhan itu seorang residivis pak”
“Saya pernah dengar kalau bos saya dulu pernah memakai jasa Burhan untuk melakukan penculikan anak perempuan hanya karena ayah dari anak perempuan itu tidak mau bekerja sama dengan bos saya”
“Dulu Burhan itu kerja sendiri dengan kelompoknya, dia punya anak buah yang siap melakukan tugas apapun”
“Sebentar Nyuk, sebenarnya Burhan itu anak buah dari bosnya pak Wandi, atau anak buah dari bosmu?... "
"karena sejak awal Burhan ada disini , dia mengaku dikirim oleh bosnya pak Wandi”
Aku berusaha memancing Kunyuk, karena aku bingung, sebenarnya Burhan ini kerja dengan siapa?
Karena setahuku, dia ada disini karena dikirim oleh bos Jay yang merupakan bosku juga, dan juga bekas bosnya pak Wandi, tetapi kenapa pengakuan dari Kunyuk berbeda….
“Saya tidak tau pak, bos saya tidak pernah berkata kepada saya bahwa Burhan itu anak buah bos saya. Hanya saja bos saya itu memakai jasa Burhan”
“Yang saya tau Burhan itu sering disuruh suruh oleh bos saya untuk melakukan sesuatu…”
Berarti dalam masalah ini Burhan juga pernah dipakai jasanya oleh bosnya Kunyuk?...Kesimpulanku, Burhan adalah pekerja lepas, atau freelance untuk sebuah perintah kejahatan.
Burhan bisa bekerja pada bosnya Kunyuk dan bisa kerja pada bosnya pak Wandi, dan kemungkinan besar bosnya pak Wandi ini adalah bosku juga yang bernama pak Jay.
Semakin rumit saja masalah ini… sudahlah lebih baik sekarang fokus pada sembunyi saja hingga keadaan aman
“Oh iya Nyuk, di desamu kamu punya telepon atau tidak?”
“Ada pak… tapi di rumahnya pak kades… “
“Berapa nomor teleponnya?”
“Waduh… saya tidak bawa bolpoin dan kertas pak.”
“Berapa nomornya.. saya akan tulis di pohon ini, kebetulan saya bawa kunci rumah yang agak tajam bentuknya”
Nomor telepon kades yang ada di desa Kunyuk kuukir kecil di pohon, suatu saat akan aku telpon untuk menanyakan keadaanya.
Aku masih belum berani pergi dari hutan ini, karena percuma juga…
Sekeluar dari hutan yang ada adalah desa yang sangat sepi apabila jam segini, apalagi Wandi dan Mamad menggunakan motor.
Pastinya mereka akan dengan mudah mengejar kami berdua..
Eh…. tapi aku ada ide…
“Nyuk…. motor kamu kan tidak bisa hidup ya?”
“Iya pak, kok sampean bisa tau?”
“Ya saya lihat mereka berdua mengambil sesuatu dan membuang tidak jauh dari posisi motormu”
“Coba nanti kita lihat saja Nyuk…. apa yang merek buang itu”
“Karena saya kok curiga mereka membuang cop busi motor agar kamu tidak bisa lari”
“Waduuuh… benar juga… pantesan saya stater sampai kaki saya pegal, motor saya tetap saja tidak bisa nyala”
“Nanti kita cari barang itu Nyuk… sekalian kita cari motormu yang disembunyikan oleh mereka”
“Tapi kita tunggu mereka pergi dari sini dulu Nyuk, Saya tidak mau ambil resiko apabila mereka tiba-tiba muncul ketika kita sedang memperbaiki motormu”
Aku belum tau Wandi dan Mamad ada di mana, apakah mereka nekat menyeberang sungai untuk menuju ke desa nya pak Solikin…
Atau saat ini mereka sedang memeriksa keadaan disana.
Yang pasti untuk saat ini aku harus menunggu hingga Wandi dan Mamad pergi dari sini!
*****
Ketika sedang duduk dan menunggu pak Wandi dan Mamad datang….
Aku mencium bunga kamboja… wangi bunga yang samar tapi terus menggelitik hidung.
Aku pernah merasakan hal ini sebelumnya, aku masih ingat ketika tengah malam dalam keadaan motor mogok.
Aku ingat ketika itu aku ada di sebuah pemakaman yang luas.
“Pak… sampean mencium bau bunga kamboja” tanya Kunyuk lirih
“Iya nyuk… siap siap saja apabila ada yang datang dengan membawa obor sebentar lagi”
“Si…siapa yang akan datang sebentar lagi pak?”
“Sudahlah… banyak berdoa dan jangan jauh jauh dari posisiku”
Bau bunga kamboja semakin lama semakin tajam..
Aku merasa suasana disini semakin mencekam…
Aku menoleh ke Kiri…kanan…depan …belakang… aku mencari suatu tanda yang kemungkinan menandakan sesuatu yang akan terjadi.
Aku mencari nyala api obor seperti yang aku alami ketika aku baru beberapa hari disini..
Tetapi tidak ada apapun , tidak ada nyala obor…
Yang ada hanya tiba-tiba di depanku ada semacam gapura besar yang berlumut, serta bau bunga kamboja ini semakin tajam.
“Pak… baunya semakin tajam”
“Iya Nyuk sabar ya, sebentar lagi kamu akan melihat sesuatu yang belum pernah kamu lihat sebelumnya”
__ADS_1
“Tapi ingat.. kalau kamu beragama Islam… usahakan tetap berdzikir”
“Iya pak… saya Islam”
Gapura besar yang mungkin sekitaran lima meter di depanku itu semakin jelas terlihat, bukan hanya gapura saja yang terlihat.
Kali ini dari kejauhan aku lihat ada obor…
Nyala beberapa obor yang bergoyang goyang sesuai langkah kaki pembawanya.
Sik… apakah benar itu melangkah? bukanya yang waktu itu tidak melangkah sama sekali?
Ketika itu mereka yang sedang membawa obor itu melayang.
Tapi yang di depan kami ini kelihatannya berbeda dengan yang kulihat waktu itu.
Barisan mereka saat ini berasal dari jalan setapak di tengah hutan….
Yang terlihat mataku saat ini ada dua obor yang berdampingan di kiri dan kanan…
Di belakangnya ada juga dua obor, di kiri dan kanan juga…
Tetapi yang aneh adalah adanya jarak yang memisahkan obor yang ada di depan dengan yang ada di belakang.
Jarak yang memisahkan obor yang di depan dan yang dibelakang mungkin sekitar dua meteran…
Nyala obor itu semakin mendekat ke arah kami berdua, hingga kemudian aku tau apa yang memisahkan obor yang di depan dengan obor yang ada di belakang.
“Pak…pak… d.. di tengah kedua obor itu ada k.. keranda mayat….”
“Coba perhatikan ketika cahaya obor itu mengenai k…keranda itu pak”
“Sstt diam.. saya tau!”
Rombongan empat orang dengan keranda yang mereka bopong itu semakin dekat dengan tempat aku dan Kunyuk sembunyi.
Sama seperti yang dulu, aku sama sekali tidak mendengar langkah kaki empat orang yang sekarang semakin dekat dengan posisi kami bersembunyi.
Kunyuk ketakutan hingga dia tidak berani melihat empat orang yang sedang berjalan dengan gerakan yang sama dan membawa sebuah keranda.
Tidak ada langkah kaki…. yang kelihatan hanya nyala obor dan wajah mereka yang….. hitam.
Jarakku dengan mereka semakin dekat…
Dan akhirnya mereka berjalan melewati kami….
Salah satu dari mereka sempat menoleh ke arahku, tetapi wajah yang menoleh itu sama sekali tidak terlihat, karena hitam.
Hanya hitam saja yang kelihatan dari wajah mereka.
Hingga akhirnya mereka semua menuju ke arah gapura yang beberapa meter di depan kami
*****
“Mereka sudah hilang Nyuk, mereka masuk ke area kuburan itu”
Ketika mereka masuk ke area pekuburan,
Gapura kuburan itu hilang, empat orang yang membawa keranda mayat itu juga hilang.
Sekarang yang nampak adalah keadaan hutan seperti semula….
Yang kulihat hanya penampakan hutan seperti sebelum adanya kemuncul gapuran dan empat orang yang membawa keranda.
Aku menoleh ke segala arah….
Di sisi jalan setapak… aku lihat lampu belakang motor dikejauhan.
Lampu bagian belakang dari sebuah motor yang berjalan pelan menuju ke desa!
Lampu depan motor yang menuju ke arah desa itu bergoyang goyang mengikuti gerakan stir motor.
“Eh Nyuk… kayaknya Wandi dan Mamad sudah pergi itu ya?”
“Kemungkinan besar iya pak, tapi tadi kita kan sedang diperlihatkan kuburan dan orang yang aneh…”
“Berarti kita tadi sempat dilindungi oleh mereka ya pak?”
“Yah kemungkinan besar seperti itu Nyuk, kemungkinan besar mereka tadi juga memeriksa sisi hutan tempat kita sembunyi ini”
“Ternyata kita masih dilindungi Nyuk, ayo kita cari motormu dulu”
Motor Kunyuk dengan mudah kami temukan di antara semak belukar di antara pohon-pohon,
Untungnya Wandi dan Mamad tidak merusak motor Kunyuk,
“Sekarang kita cari di tempat kamu tadi memarkir motormu, ketika tadi mencuri uang mereka”
“Iya pak… saya masih ingat dimana saya menaruh motor saya tadi pak”
Akupun rasanya masih ingat dimana aku tadi melempar kabel busi yang tadi kutarik.
Maka tidak perlu waktu lama, kabel itu sudah kutemukan… dan motor bisa distarter.
Sekarang rencana berikutnya…rencana yang tanpa perencanaan sama sekali.
“Saya punya rencana untuk mencoba mengikuti kemana mereka pergi Nyuk… tapi saya harus mematikan lampu petromak rumah dulu”
“Ayo bantu saya untuk mematikan lampu dan mengamankan rumah”
“Sik Nyuk…saya ada rencana untuk menukar gembok pagar dengan gembok pintu depan rumah Nyuk”
“Atau gini aja… Gembok Gerbang belakang juga akan saya tukar juga… disini kan ada tiga gembok”
“Tiga gembok itu adalah gerbang belakang, pagar rumah, dan daun pintu depan rumah”
“Daun Pintu depan rumah itu ada gemboknya, biasanya saya gembok juga kalau saya sedang pergi, tapi tadi saya lupa memasang gemboknya”
Aku dibantu Kunyuk setelah mematikan lampu petromak dan lampu minyak, sekarang kami menukar gembok rumah…
Hal ini tentu saja semata mata untuk mempersulit Mamad yang akan masuk ke rumah ini.
__ADS_1
Dalam keadaan gelap tentu saja dia akan kesulitan membuka pintu dengan keadaan gembok yang tertukar.
“Eh pak…. gimana, setelah ini rencana kita apa?”
“Apa jadi mengejar pak Wandi dan Mamad?”
“Tidak perlu lah Nyuk… sekarang mereka sudah sampai di desa”
“Lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya pergi dari sini dengan aman… karena saya yakin mereka pasti akan berjaga jaga di ujung jalan setapak itu Nyuk”
Terus terang aku bingung apa yang harus aku lakukan, karena pastinya jalan yang menuju ke sini akan dijaga mereka.
Mereka tau bahwa hanya jalan ini saja untuk menuju ke desa, selain melewati desa sebelah sungai.
Untuk menuju ke kota dan terminal pun harus melewati desa itu. Jadi kemungkinan besar Wandi dan Mamad ada dia jalan masuk untuk menuju ke rumah penggergajian.
“Pak… jangan melamun…. sekarang apa yang akan kita lakukan pak?”
“Semakin lama kita ada disini semakin berbahaya pak!”
“Eh iya Nyuk… saya sedang berpikir caranya minggat dari rumah penggergajian ini”
“Eh saya ada pikiran…bagaimana kalau kita lewat desa sebelah sungai saja”
“Dimana itu pak?”
“Ya yang tadi… ketika Pak Wandi dan Mamad menuju ke belakang rumah ini, mereka berdua itu menuju ke arah desa belakang sungai”
“Hanya saja……”
“Hanya saja apa pak?”
“Nanti saja… pokoknya kita harus coba semua kemungkinannya”
Aku sedang memikirkan apakah motor kunyuk bisa menyeberangi jembatan desa itu.
Tapi menurut perasaanku, cukup lah kalau motor itu berjalan pelan pelan dengan cara diuntun depan belakang, jadi salah satu dari kami memegang bagian belakang motor, dan satunya lagi memegang bagian depan motor.
Aku rasa bisa sih…. pokoknya yakin!
“Ayo kita ke sana Nyuk… dan jangan banyak tanya dulu…yang penting kita bisa pergi dari sini dengan aman”
Kunyuk mengendarai motor dengan pelan… tanpa menyalakan lampu sama sekali.
Memang aku suruh untuk tidak menyalakan lampu, agar tidak terlihat oleh siapapun yang mungkin sedang sembunyi disini untuk mengamati kami.
Jalan sangat pelan dan tanpa lampu ini memerlukan skil yang tinggi, tapi untungnya aku hapal jalan disini…
Dengan sangat hati-hati aku memberitahu jalan mana saya yang berlubang dan mana yang bisa dilewati motor di sepanjang sisi sungai agar jalan motor ini bisa lancar hingga di depan jembatan.
“Stop Nyuk…..”
“Kita harus seberangi jembatan itu”
“Aduuuhhh.. bapak yakin?”
“Saya yakin sekali Nyuk… kamu pegang bagian belakang motor, aku yang bagian depan”
“Kalau mau selamat kita harus melewati jembatan ini sekarang”
Kunyuk mau tidak mau harus menerima usulanku.
Meskipun dari nada bicaranya dia merasa ragu untuk melewati jembatan bambu yang sempit ini.
Pertama yang kulakukan adalah menarik bagian depan motor untuk naik ke lantai jembatan yang lebih tinggi daripada jalan setapak, lantai jembatan itu terbuat dari bambu yang disusun rapi.
Kunyuk berusaha mendorong dengan menyeimbangkan motor ini agar tidak tergelincir masuk ke sungai, sedangkan aku menarik bagian depan motor.
Setelah beberapa belas menit yang menegangkan, akhirnya kami bisa menyeberangkan motor ini.
“Sekarang kita naik motor untuk menuju ke desa sana itu Nyuk…”
“S..sebentar pak…. “
“D…disana ada orang yang sedang berdiri dan memandang ke arah sungai”
Terus terang posisiku saat ini membelakangi jalan yang menuju desa seberang sungai, sehingga aku tidak tau apa yang sedang dilihat Kunyuk.
Tapi kenapa kunyuk menunjuk ke belakangku… dia menunjuk ke belakangku dengan ketakutan.
Kulihat ke arah dimana Kunyuk melihat sesuatu.
Ternyata benar juga… beberapa meter dari ujung jembatan di jalan setapak yang menuju desa…
Ada seseorang yang sedang berdiri dan memandang ke arah sungai.
Ku Perhatikan dengan seksama sosok itu……
Bulu kuduku merinding…darah di kepalaku berdesir ketika kuperhatikan sosok yang sedang berdiri itu.
Allahuakbar!...aku kenal dengan sosok yang sedang berdiri dan melihat ke arah sungai itu
“Nyuk… apa yang kita lihat itu adalah sosok mbah Karyo yang dulu meninggal karena tenggelam di sungai ini”
“Kita sapa saya beliau Nyuk, saya yakin beliau itu tidak jahat sama sekali”
“S…saya takut pak….”
“Sudahlah..alam beliau dengan alam kita berbeda… ayo kita pergi dari sini kalau kamu mau selamat”
kami tidak menaiki motor terlebih dahulu.. tetapi kami tuntun hingga melewati sosok ghaib dari mbah Karyo yang sampai sekarang masih memandang aliran sungai yang berwarna hitam karena gelap.
Sosok ghaib mbah Karyo itu tidak menyentuh tanah, tubuh dia melayang beberapa belas centi dari tanah.
“Assalamualaikum mbah Karyooo….. permisi mbah…”
Sosok itu tidak menjawab, tetapi tiba-tiba menghilang begitu saja dari hadapan kami.
“Sepertinya dia sudah mendengar sapaan salam kita pak…”
“Iya Nyuk… sekarang kita naiki motor ini menuju ke desa itu, nanti dari sana kita bisa ke arah kota”
__ADS_1
“Tapi kita harus tetap hati-hati, karena kita nanti akan bertemu dengan jalan masuk ke rumah penggergajian dimana kemungkinan besar Mamad dan Wandi sedang menunggu kita”