
“Pak Diran dan dokter Joko, jangan pulang dulu ya , itu istri saya datang”
“Dokter Joko masih tidur pak Agus, dia pasti tidak akan pulang duluan heheheh, akan saya tunggu hingga istri pak Agus datang, saya juga kepingin tau apa yang dibicarakan oleh leluhurnya tentang kedua anak pak Agus”
Tina pulang dengan wajah yang lelah dan murung, mungkin dia di tempat leluhurnya mendapat kabar yang kurang baik untuk kedua anak kembar kami.
Tapi apapun keputusan yang ada, tentu saja kami akan menurutinya, karena baik istriku maupun anakku adalah memiliki warisan darah dan kekuatan sebagai pusat dari hutan dan sekitarnya.
“Pak Diran, mas AGus, dan eh dokter joko sudah pulang?”
“Dia sedang tidur di sofa, kita lebih baik masuk dulu, dan ngomong di dalam yank”
Kami ada di ruang tamu rumah, sebelumnya aku membangunkan dokter Joko yang tertidur di sofa yang ada ruang tamu.
Seperti biasa pak Diran duduk menghadap ke belakang bersama dokter joko, aku dan istriku duduk di sampingnya.
“Gimana, apa ada yang penting untuk disampaikan yank?”
“Iya mas, leluhur Tina ternyata tau tentang ini, mereka tau apabila kedua anak kita dipisahkan maka akan terjadi hal ini”
“Dan hal ini itu harus tetap dipertahankan hingga anak kita khususnya si Gustin dewasa”
“Mbah-mbah Tina tidak peduli dengan penjaga dan Gusta, mereka anggap Gusta si penjaga hanya bertugas menjaga Gustin yang merupakan pewaris berikutnya setelah Tina”
“Kata mbah-mbah seharusnya Tina hanya melahirkan Gustin saja, tetapi entah bagaimana penjaga anak kita Gustin yang seharusnya tidak kasat mata, menjadi kasat mata dan lahir bersamaan dengan Gustin”
“Jangan sampai mereka disatukan, karena akan berdampak buruk bagi hutan ini baik bagi masyarakat tak kasat mata maupun bagi kita, karena kembali lagi tentang energi yang berbahaya apabila mereka berdua disatukan”
“Begini yank, tadi aku pak Diran dan dokter Joko mencoba berkomunikasi dengan yang ada disini” aku ceritakan kepada Tina tentang apa yang ada di dalam diri Gusta, yang merupakan penjaga
Kuceritakan tentang sakit di kepalaku, dan semua yang telah kami lakukan disini hingga pagi sebelum istriku datang, tentu saja apa yang aku ceritakan ini bertolak belakang dengan kemauan dari leluhur istriku.
Tentang yang ada di dalam kepalaku, yang akan dicabut apabila kedua anak kita kita satukan lagi.
__ADS_1
Istriku kaget ketika aku ceritakan tentang Gusta yang akan tersingkir dan mati apabila sang penjaga tidak ada di dalam tubuh Gusta, karena seharusnya sang penjaga selalu ada di dalam tubuh Gusta untuk menjaga Gustin.
Aku tau ancaman dari penjaga Gustin tidak main-main, apa yang dia ancam itu sangat berbahaya bagi aku dan nyawa Gusta juga.
Aku tau Tina pasti akan memaksa untuk mempertahankan kedua anak kami. Aku tau dia tidak akan rela apabila Gusta harus mati apabila mereka dipisahkan
“Gimana yank, apa yang dikatakan leluhurmu itu bertentangan dengan yang diminta oleh sang penjaga. Aku tentu saja akan memilih anak kita daripada menuruti kemauan leluhurmu”
“Pilihan yang sulit bu Agus.. apakah kalian harus mengorbankan salah satu anak kalian, dan bukan hanya anak kalian yang akan jadi korban, pak Aguspun akan jadi korban apabila kedua anak kalian tidak disatukan” kata dokter Joko
“Benar apa yang dikatakan dokter Joko, disini ada dua nyawa yang akan menjadi korban apabila kedua anak kembar itu tidak segera disatukan” tambah pak Diran
“Oh iya yank, kenapa penjaga rumah kita tidak melakukan penyerangan terhadap sang penjaga?”
“Itu juga tadi sempat Tina tanyakan mas, dan jawaban dari mereka sederhana saja, sang penjaga menjaga Gustin. Pokoknya pada intinya Gusta dan Gustin secara kasat mata harus dipisahkan, agar kekuatan mereka tidak menyatu dan menimbulkan bahaya bagi yang ada di sini”
“Kita mendapat jalan buntu yank…. “
“Tentu saja leluhurmu tidak peduli dengan yang lainnya selain tanah mereka dan hutan ini saja, mereka tentu saja tidak peduli dengan aku dan Gusta, pokoknya Gustin bisa hidup dan mewarisi apa yang kamu punya Yank”
“Tina tidak akan memisahkan mereka berdua mas, Tina gak mau kehilangan Gusta dan mas Agus suami Tina”
“Lalu bagaimana dengan leluhur dan proyek disini yank?”
“Ingat, kita bisa ,hidup disini karena proyek ini, kita bisa punya rumah karena proyek ini. Dan satu lagi, kamu adalah pewaris keturunan terakhir sebelum anakmu menggantikan kamu yank”
“Pak Agus, lebih baik dipikirkan dulu masak-masak, mungkin butuh satu dua hari untuk berpikir, saya dan dokter Joko akan meninggalkan kalian untuk berpikir jernih” kata pak Diran
Aku tau keputusan ini sangat berat bagi aku dan Tina, tetapi semua harus dipikirkan, termasuk apa yang ada di dalam kepalaku ini.
Meskipun aku dapat obat dari dokter Joko, bukan berarti aku akan sembuh begitu saja, obat ini hanya sebagai penghilang rasa sakit saja.
Jelas nyawaku dan nyawa anaku Gusta akan terancam apabila kedua anakku tidak disatukan, aku rasa Tina tentu saja tidak akan memilih menjadi janda dengan satu anak hehehe.
__ADS_1
Pak Diran dan Dokter Joko sudah pulang, sekarang tinggal memikirkan apa yang harus kami putuskan.
“Mas, Gustin apa semalam tidak minta susu? Kok susu yang Tina sediakan masih utuh?”
“Nggak yank, huuuf….mereka berdua semalam suntuk bermain, maksud aku jasad tak nyata mereka bermain. Dan begitu setiap malam, mereka selalu bermain hingga mereka kecapekan”
“Mas, kalau keadaan seperti ini, bukan hanya Gusta dan mas Agus saja yang akan celaka, Gustin juga akan terkena imbasnya juga mas”
“Mas… kita ini sudah berkeluarga, dan dikaruniai dua anak kembar. Dan keduanya ada hubunganya dengan keadaan ghaib di hutan ini, termasuk proyek pak Jay dan pak Hendrik”
“Apakah kita harus mempertahankan proyek dan keadaan disini, dan mengorbankan anak kita, bahkan bisa juga mas Agus tidak selamat”
“Apakah kita harus mendahulukan kepentingan orang lain, sementara keluarga kita sedang sekarat mas?”
“Coba mas Agus pikirkan dulu baik-baik. Bagi Tina pergi dari sini jauh-jauh dan memiliki kehidupan yang baru dan tidak peduli dengan yang ada disini adalah pilihan Tina yang terbaik mas”
Aku sudah mengira Tina pasti akan memilih keluarga daripada dia ada disini dengan kondisi yang tidak baik. Aku pun akan berpikiran yang sama dengan Tina.
Aku belum mau mati sekarang, aku kepingin melihat kedua anakku menikah dan aku masih ingin menimang cucuku.
“Keputusanmu itu adalah yang sedang aku pikirkan yank. Apakah kamu sudah memikirkan kemana dan atau dimana kita akan tinggal?”
“Sudah mas… Tina tidak ingin menginjakan kaki di daerah ini lagi, kita harus pergi jauh, dan menyeberang lautan agar bisa terpisah dari yang mencari kita disini”
“Yakin dengan menyeberang lautan, kita akan aman-aman saja dan tidak ada yang mencari kita?”
“Iya mas, dan sangat yakin sekali, tapi kita memerlukan modal untuk tinggal di sana, kita juga memerlukan rumah untuk tempat tinggal kedua anak kita”
“Bagi Tina sih tinggal di manapun tidak masalah, tetapi jangan untuk kedua anak kita mas, kita harus beri mereka tempat tinggal yang layak”
“Terus kita dapat uang dari mana Yank?”
“Huf, kalau mau sabar, Tina bisa menjual dua rumah yang ada di desa itu mas, keduanya kan rumah Tina, meskipun rumah yang ada wartelnya itu warisan keluarga Tina”
__ADS_1
“Kapan hari itu pak RT bilang kalau ada yang ingin membeli rumah Tina yang kosong, katanya akan dibangun toko disana, eh tapi coba nanti siang Tina telepon pak RT dulu saja mas”