
“Untuk malam ini kita bubarkan diri, besok setelah maghrib kita bertemu di rumah saya saja untuk membahas persiapan apa saja yang sudah siap, dan kapan kita akan lakukan pemusnahan” kata bu Tugiyem
Kami setuju dengan usulan dari bu Tugiyem, pagi ini rencananya aku dan mbak TIna akan ke rumah sakit dimana dokter Joko praktek, sedangkan pak Jay dan pak Hendrik akan ke kota S untuk mendatangi kolega pak jay yang mempunyai rumah penjagal hewan.
Sedangkan pak Diran dan Jiang akan ke rumah guru pak Diran untuk meminta restu mengadakan pemusnahan massal dan pembakaran semua yang ada di hotel ini…
Kami keluar dari wilayah hotel, tidak lupa aku matikan lampu hotel dan parkiran….
Di parkiran hotel dua mayat polisi yang sudah mengeluarkan bau busuk masih terbujur mengerikan. Besok pasti dari kepolisian akan ramai, karena kematian dua rekan mereka yang mengerikan.
“Ini masih pagi sekali… masih pukul tiga mbak.. Masak kita ke rumah sakit sekarang mbak?”
“Yah gimana lagi mas.. Lagian rumah sakit kan tidak jauh dari hotel tempat kita menginap mas”
“Ya wis mbak.. Kita ke UGD saja, semoga dokter Joko bisa memenuhi permintaan kita mbak”
Tidak ada lima belas menit perjalanan, kami sudah sampai di rumah sakit… pagi ini keadaan rumah sakit sangat sepi, tapi pos penjagaan di depan pasti ada yang jaga..
Motor kuarahkan ke belakang rumah sakit, karena disana ada kamar mayat dan UGD tempat dokter Joko berjaga.
Keadaan UGD itu sepi, lampu ruang tunggu UGD dimatikan sebagian, mobil ambulan yang terparkir juga ada di sini…
“Ayo kita masuk ke dalam mas.. Temui dokter Joko, semoga dia bisa membantu kita mbak”
Ternyata UGD itu sepi, hanya ada satu orang yang berjaga, kemungkinan besar dia dokter muda, dia sedang membaca sebuah majalah yang disediakan disana.
“Selamat malam dok.. Saya bisa bertemu dengan dokter Joko?”
“Oh dia sedang istirahat di dalam, ada yang bisa saya bantu, eh atau ada keluarga bapak dan ibu ini yang sakit?” tanya petugas yang kemungkinan adalah dokter muda itu
__ADS_1
“Ndak dok, kami keluarga dokter Joko, eh saya Tina dan ini mas Agus, minta tolong dipanggilkan dokter Joko pak, karena ada keperluan yang sangat penting” kata mbak Tina
“Oh gitu, sebentar saya hubungi dulu ruangan di dalam” kata orang yang kemungkinan adalah dokter muda yang kemudian memutar nomor di pesawat telepon yang ada di meja ruang UGD
Agak lama juga dia menunggu telepon yang dia hubungi itu menjawab, dokter muda itu beberapa kali menutup dan mencoba melakukan hubungan telepon lagi… dan akhirnya ada sahutan dari seberang.
“Dokter Joko ada Sus… tolong katakan kalau saudaranya yang bernama eh bu Tina dan pak Agus menunggu di ruang UGD” kata orang yang ada di depan kami ini kepada lawan bicaranya
“Eh bapak dan ibu tunggu saja di ruang tunggu UDG sana, nanti dokter Joko akan datang menemui kalian berdua” kata dokter muda kemudian menyalakan sebagian lampu di ruang tunggu UGD agar tidak gelap
Aku dan mbak Tina menunggu di ruang tunggu UGD yang tidak seberapa besar dan sangat sepi sekali ini, tidak ada suara apapun selain detak jantung dan suara nafas kami.
Lima menit berlalu kemudian dokter Joko masuk..
“Eh bu Tina dan pak Agus.. ada apa pak….. Ada sesuatu yang penting sehingga kalian datang pada jam segini?” tanya dokter Joko
“Iya dok, ada sesuatu yang sangat mengerikan terjadi, dan kami memerlukan bantuan dari dokter Joko”
Kami berjalan ke depan rumah sakit.. Bukan warung yang mbak Tina biasa datangi, tapi warung yang ada di pinggir rumah sakit, dan warung itu kebetulan dalam keadaan sepi.
Pak Joko memesan kopi, aku dan mbak Tina juga memesan minuman yang sama.
“Apa yang terjadi lagi di sana pak Agus”
“Ada dua polisi yang meninggal lagi pak.. Dan keadaanya mengerikan, pokoknya seperti mayat-mayat yang berasal dari sana sebelumnya”
“Waduuh.. Semakin hari tempat itu semakin membawa korban saja.. .eh apa itu kelakuan dari Pangat?” tanya dokter Joko
“Bukan dok.. Jasad pak Pangat masih belum ke sana….”
__ADS_1
Aku ceritakan apa saja yang menimpa kami ketika kami ada di sana malam ini, dan juga apa yang terjadi dengan rumah Solikin juga.
Dokter Joko mendengarkan dengan serius apa yang aku ceritakan tentang kejadian malam itu.
“Dan tujuan kami kesini adalah hal yang sangat penting dan mengerikan pak”
“Apa itu pak Agus…?” tanya pak Joko sambil menyeruput kopinya
Kuceritakan sambil berbisik apa yang menjadi syarat untuk mengumpulkan iblis yang ada disana, dan apa tujuan kami dengan pengumpulan iblis-iblis itu. Tentu saja dokter Joko kaget dengan apa yang aku katakan.
Dia menunduk menggeleng gelengkan kepalanya sambil menutup mata, keliatannya permintaan ini sangat berat bagi dia.
“Tidak mungkin pak Agus.. rumah sakit ini rumah sakit kecil, dan mayat disini pun hampir tidak ada, kecuali mayat-mayat yang datang dari hotel tempat kalian bermasalah itu…” kata dokter Joko dengan masih menunduk.
“Dan mayat-mayat yang ada disini akibat dari pembunuhan yang ada di hotel itu sudah dipindah ke rumah sakit kepolisian di Kota S untuk diselidiki lebih lanjut” lanjut dokter Joko
“Permintaan pak Agus Itu tindakan ilegal pak Agus…. Tapi saya masih bisa melakukanya demi kepentingan bersama, tapi karena disini sudah tidak ada persediaan mayat, maka sulit untuk merealisasikan permintaan kalian”
“Hmmm kalian perlunya kapan?” kata dokter Joko sambil melihat ke arah kami berdua
“Secepatnya dok, takutnya lubang ghaib yang dibuat oleh orang yang pernah kerja di sana itu semakin besar, dan semakin banyak iblis yang datang ke sana, dan akan semakin banyak korban yang berjatuhan”
“Iya pak Agus, saya paham.. Hhm mungkin saya bisa hubungi teman baik saya yang ada di kota S…mungkin dia mau membantu “ kata dokter Joko
“Mereka disana sering mendapat mayat mr X atau mayat yang tidak beridentitas”
“Dan biasanya mayat yang bisa disebut sebagai cadaver, karena digunakan mahasiswa kedokteran untuk melakukan praktek ilmu kedokteran itu akan dikubur setelah selesai digunakan untuk praktikum” kata dokter Joko
“Hmm akan ya kirim pesan pendek SMS ke ponselnya, jadi nanti apabila dia bangun dia akan membaca pesan pendek saya” gumam dokter Joko
__ADS_1
“Atau begini saja selain saya kirim pesan pendek….. Saya akan tulis surat pengantar untuk kalian dan pagi ini kalian berangkat ke kota S, nanti carilah teman saya itu, dan serahkan surat saya kepada dia”
Dokter Joko mengeluarkan ponsel dari kantung celananya, kulihat sekilas ponsel itu bermerk SIEMENS S25 yang berlayar warna, dia menuliskan sesuatu di ponselnya.