
“Dinding sudah diperiksa, tidak ada apapun yang bisa digunakan orang untuk menaruh sesuatu pak”
“Kalau begitu periksa bagian atas pak Agus, saya rasa di bagian atas macam ventilasi udara dan sejenisnya bisa digunakan untuk menyembunyikan sesuatu” kata pak Diran kemudian mengambil kursi kamar dan menaruh di bawah ventilasi kamar
Pak Diran terus mencari di tiap centimeter ventilasi udara kamar… dan ketika sampai di ventilasi paling ujung dia sepertinya menemukan sesuatu.
Kemudian secara perlahan lahan pak Diran menurunkan sesuatu yang ada di ventilasi udara.
“Nah dapat!” seru pak Diran kemudian turun dari kursi kamar
Dia membuka telapak tangannya untuk memperlihatkan kepada kami… ada sebuah bungkusan hitam yang entah apa isinya, bungkusan hitam itu tidak dia buka, tetapi dia biarkan tertutup dalam genggamannya
“Ayo kita keluar dari sini , akan saya lempar ke seberang sungai benda setan ini” bisik pak Diran kemudian buru-buru dia keluar dari kamar nomor sepuluh
Aku, pak Diran, dan mbak Tina sudah ada di dekat sungai, pasti akan membutuhkan tenaga besar untuk melempar benda dalam kain hitam itu agar sampai di seberang sungai dengan selamat, karena benda yang dibungkus kain hitam itu sepertinya sangat ringan.
“Pak Agus kan masih muda dan mempunyai tenaga yang kuat… tolong lempar benda ini hingga ke seberang sungai sana, saya ingin tau apakah benda ini berpengaruh apabila ada di seberang sungai” kata pak Diran
“Baik pak… akan saya cobanya pak, tapi apabila benda itu masuk ke dalam sungai bagaimana pak?”
“Nggak papa, kan sungai itu sifatnya melarung ke laut, jadi apabila jatuh ke sungai itu ya sebenarnya gak papa” jawab pak Diran
Benda dengan kain hitam itu ada di genggamanku, benda ini ringan, dan di dalamnya ada sesuatu yang keras, harusnya sulit apabila harus dilempar melewati sungai, tapi harus dicoba …. Atau gini saja, benda iki aku ikat ke sebuah batu, kemudian aku lempar ke seberang sungai….
“Eh pak Diran… saya butuh batu dan tali agar benda ini bisa sampai di seberang dengan selamat”
“Ini pakai tali sepatu saya saja pak Agus” kata pak Diran melepas sepatu PDHnya
Aku ambil batu yang ukuranya tidak terlalu kecil tapi agak berat daripada batu lainnya.
Setelah dapat batu, benda dengan kain hitam itu aku ikat menggunakan tali sepatu pak Diran.
Aku bersiap siap untuk melempar batu yang berisi sebuah wadah kain hitam yang di dalamnya entah berisi apa.
Setelah yakin kain ini sudah terpasang kuat di batu, kemudian aku lempar tepat ke arah kuburan Fong… dan ternyata berhasil, batu dan bungkusan itu sudah sampai ke kuburan fong dengan selamat.
“Nah… satu masalah sudah selesai pak Agus… sekarang tinggal mengusir demit-demit yang sudah terlanjur ada di dalam sini, dan tentu saja itu tidak mudah, karena demit-demit itu akan berpindah pindah”
“Eh pak, tapi kenapa saya tidak bisa melihat demit yang ada disini, tapi saya bisa melihat mbak Kunti dan pocong yang ada di pohon beringin itu”
“Kan sudah saya bilang pak Agus, semua itu ada tingkatannya… demit jahat yang ada disini ada satu tingkat di atas mbak kunti dan pocong, demit jahat yang haus darah dan suka mempengaruhi manusia untuk saling bunuh” jawab pak Diran
“Tapi tenang saja pak Agus, dengan bantuan bu Tina malam ini kita bisa usir beberapa demit pengganggu yang jahat”
Aku gak tau bagaimana cara mengusir mereka dari sini, tapi kalau mbak Tina bisa melakukannya pasti tidak sulit.
Malam ini sepertinya tidak ada yang bisa kami lakukan selain hanya diam di ruang utama setelah kami membuang kain hitam aneh ke kuburan Fong..
Kata pak Diran untuk saat ini demit yang ada di hotel ini sedang sembunyi entah dimana.
“Mbak Tina…lebih baik mbak Tina tidur saja dulu, biar kami bertiga yang berjaga disini, lagipula untuk malam ini kelihatannya tidak ada yang bisa kita kerjakan”
“Besok mbak Tina akan sibuk terima tamu. Kamu juga Jiang, lebih baik kamu tidur saja dulu, karena besok setelah subuh kita akan sibuk dengan membersihkan kamar yang akan dipakai tamu yang akan datang”
Mbak Tina dan Jiang masuk ke kamar masing masing, sedangkan pak Diran pamit kembali ke pos jaganya.
Keadaan halaman belakang aman, tidak ada sesuatu pun yang mencurigakan, aku pun bisa istirahat di sofa ruang utama.
*****
Malam hari berganti pagi… aku sempat beberapa jam tidur di sofa ruangan utama, lumayan juga untuk malam ini tanpa ada gangguan sama sekali.
Jiang keliatanya sedang memperiapkan satu set alat-alat yang akan digunakan untuk membersihkan kamar hotel.
Pukul delapan pagi mbak Tina sudah siap di meja resepsionis, aku sedang bicara dengan pak Yogi sebagai pengganti pak Diran yang piket pagi hingga sore hari.
Tiba-tiba dari arah jalan masuk ada satu mobil yang mengarah ke hotel…. Kemudian pak Diran mengatur parkir mobil itu.
__ADS_1
Satu orang laki-laki turun dari sisi pintu kemudi, dan kemudian masuk ke ruang utama.
Aku penasaran dengan tamu yang sepagi ini masuk ke hotel… bisanya tamu gini ini berasal dari luar kota yang agak jauh.
Orang itu ada di meja mbak Tina.. kelihatannya dia akan masuk ke hotel ini lebih awal, tetapi tentu saja tidak bisa karena kamar yang ada disini belum kami bersihkan
“Pak Agus…. Kamar tiga sudah siap?” tanya mbak Tina
“Belum bu Tina, pagi ini kami belum melakukan pembersihan, tapi bisa kami prioritaskan, tunggu satu jam dulu agar kami siapkan kamar dulu”
Mbak Tina menjelaskan kepada tamu yang datang pagi untuk menunggu satu jam sebelum kamar siap.
Aku dan Jiang tidak memerlukan waktu lama untuk menyiapkan kamar, satu kamar kami bisa lakukan tidak lebih dari sepuluh menit, karena kamar-kamar itu sudah siap dua hari lalu, sekarang kami hanya membersihkan dan memberikan wewangian saja.
Pagi hingga siang hari seperti biasa mbak Tina disibukan dengan tamu yang datang hingga semua kamar penuh.
Sore hari seperti biasa pihak catering datang, aku dan Jiang dibantu mbak Tina mengantar makanan ke tiap kamar hingga seluruh kamar.
Sore hari setelah selesai dengan urusan makanan pak Diran masuk ke ruang utama.
“Pak Agus… malam ini kita jangan lengah.. Saya rasa malam ini mungkin akan ada gangguan dari demit yang ada disini, karena mereka tidak terima apa yang kita lakukan kepada mereka”
“Iya pak Diran, hanya saja saya tidak tau apa yang bisa saya bantu untuk pak Diran”
“Ikuti saja apa yang saya suruh pak Agus…. Kita lakukan dengan tenang agar tamu yang ada disini tidak ketakutan”
Malam hari sekitar jam sembilan malam catering meninggalkan hotel… suasana seperti biasanya…sunyi…senyap dan sedikit mencekam.
Aku dan pak Diran sedang ada di halaman belakang… sambil mata kami tetap awas…
Dari tadi ada beberapa pocong dan kunti yang lewat… tapi mereka tidak mengganggu, mereka hanya numpang lewat saja.
Ketika aku dan pak Diran sedang mengawasi seliweran beberapa pocong dan kunti, tiba-tiba pintu kamar pondokan nomor enam terbuka.
Seorang laki-laki kurus yang memakai kaos putih dan celana pendek keluar dari dalam kamar dan berjalan tenang menuju ke arah kami berdua.
“Selamat malam pak…lagi cari udara malam?” tanyaku iseng
“Malam juga pak… iya mas… kepingin tau keadaan malam hari disini” jawabnya sambil tetap menghisap rokok sambil memandang kesana kemari
“Hotel ini sudah lama berdiri?” tanyanya
“Baru kok pak… dulu hotel ini adalah rumah penggergajian, dan oleh pemiliknya diubah menjadi sebuah hotel yang menawarkan pesona tengah hutan”
“Hmm iya…iya…. Memang hotel yang menyajikan suasana hutan seperti ini baru ini saja, dan memang hal seperti ini yang saya cari” kata tamu itu
“Maksudnya cari apa pak?” aku penasaran dengan kata cari yang dikemukakan oleh orang itu
“Hehehe suasana hutan dengan yang asli dengan penghuni hutan yang melayang layang namun tidak mengganggu” jawabnya
“Eh maaf pak… disini gak ada yang melayang layang pak hehehe” jawab pak Diran
“Iya tidak ada pak, tapi bagi saya yang agak peka, saya suka melihat yang berseliweran disini tetapi tidak mengganggu”
“Oh jadi bapak ini bisa melihat makhluk ghaib gitu ya pak?” kata pak Diran
“Betul pak satpam, eh pak Sudiran” jawab bapak-bapak itu.
“Saya memang mencari situasi seperti ini, saya sudah ke beberapa hotel yang menawarkan keindahan alam, tentu dengan mahluk halus yang ada juga, tetapi baru ini mahluk halus itu tidak mengganggu sama sekali”
“Hahaha bapak ini bisa saja, cari hotel kok cari yang banyak demitnya pak” kata pak Diran
“Bukan cari yang banyak demitnya pak Sudiran, tetapi saya suka melihat mereka dengan kesibukannya. Sehingga saya bisa membandingkan dengan sibuknya manusia”
“Kalau begitu ayo kita ke belakang pak.. Ke tepi sungai” ajakku kepada orang itu
“Eh ada apa di tepi sungai malam-malam gini pak, maaf pak siapa ini namanya” tanya dia
__ADS_1
“Nama saya Agus pak… saya staff disini”
“Nama saya Hendrik, saya dari kota S….” jawabnya
“Eh pak Agus, yakin mau mengajak pak Hendrik ke pinggir sungai?” tanya pak Diran
“Hehehe saya cuma menawarkan saja kok pak Diran, siapa tau pak Hendrik tertarik melihat bagian belakang hotel ini pada malam hari”
“Ayo kita ke sana pak Agus dan pak Diran, saya penasaran dengan yang ada di belakang sana” kata pak Hendrik
Aku tau pak Diran kurang senang dengan ajakanku kepada pak Hendrik untuk ke pinggir sungai, tetapi mau gimana lagi aku sudah mengajak pak Hendrik ke pinggir sungai.
Tapi pak Diran diam saja sambil mengikuti kami…
“Eh pak Hendrik… disini mungkin agak berbeda dengan yang ada di dalam hotel, karena yang ada di belakang ini bukan yang ada di dalam hotel sana” kata pak Diran
Pak Hendrik memperhatikan bagian belakang hotel ini dengan wajah yang berbeda dengan ketika dia ada di bagian dalam hotel.
Dia terus memperhatikan dengan perlahan-lahan tanpa bicara sama sekali.
“Hmm di seberang sana… energinya sangat hitam” kata pak Hendrik lirih
“Sangat mengerikan… dan berbahaya” gumam pak Hendrik lagi
“Tapi… hmmm tapi disini ada semacam pagar ghaib yang membentengi bagian hotel ini dengan yang ada di seberang sungai” katanya lagi
“Aneh sekali…..”
Orang ini mempunyai mata batin yang lumayan, sama seperti pak Diran, dia bisa merasakan apa yang ada di seberang sungai itu dengan tepat.
Dan dia bisa merasakan adanya pagar ghaib yang ada di sekitar sini juga….
“Eh pak Agus dan pak Diran…. Apa pemilik hotel ini tidak melakukan pantauan dulu mengenai hal tak kasat mata yang ada disini?”
“Saya tidak tau pak Hendrik, karena saya hanya pekerja disini, eh apakah yang ada di seberang sungai itu bahaya pak?” aku coba untuk memancing pak Hendrik yang kelihatannya paham sekali
“Selama pagar ghaib ini ada, keadaan Hotel ini aman sekali, tetapi sekali ada lubang maka mereka akan bisa masuk ke dalam …. Tapi tidak mungkin, tidak mungkin pagar ghaib ini kan bobol”
“Pagar ini kuat sekali energinya…. Sepengetahuan saya yang sudah mempelajari hal seperti ini, pagar yang kuat ini menandakan adanya sesuatu yang dilindungi disini, sesuatu yang sangat berharga yang jangan sampai jatuh ke tangan yang salah” kata pak hendrik
“Apa pak Satpam Sudiran dan mas Agus juga bisa melihat hal ghaib?”
“Saya tidak bisa melihat… hanya bisa merasakan sedikit sedikit saja” jawab pak Diran
“Hehehe lumayan hebat juga yang ada disini… ya sudah saya mau balik ke kamar…..”
Aku, pak Hendrik dan pak Diran berjalan kembali ke area hotel, karena pak Hendrik akan masuk ke kamarnya.
Tetapi baru saja kami masuk ke area Hotel, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sesuatu yang sedang berdiri di tengah taman, sosok orang yang berdiri tegap di dekat dua lampu petromak yang sedang menyala terang.
“Mas Agus… itu siapa, apakah tamu hotel juga?”
“Iya pak Diran…. Tapi saya nggak tau dia penghuni kamar berapa, apa yang sedang dia lakukan disini pak Diran?”
“Awas pak Sudiran dan pak Agus…. Keliatanya ada yang tidak beres dengan orang itu” kata pak Hendrik
“Kalian berdua bantu saya, saya akan lihat orang itu …..” kata pak Hendrik lagi
Orang itu berdiri membelakangi cahaya petromak, sehingga kami tidak bisa tau wajah orang yang hanya berdiri mematung di depan kami.
Kami belum tau orang itu laki-laki atau perempuan, karena posisi dia yang membelakangi lampu Petromak.
Perlahan-lahan kami semakin dekat dengan sosok yang berdiri mematung itu…. Perlahan lahan hingga kemudian pak Hendrik dapat memegang tangan kanan orang itu.
Ternyata seorang perempuan muda yang lumayan cantik, tapi sayangnya aku nggak tau dia berasal dari kamar mana.
“Lebih baik kita ajak dia jalan ke ruang utama saja pak Hendrik, agar tamu yang lainya tidak terganggu” bisik pak Diran
__ADS_1
Pak Hendrik hanya mengangguk pelan dengan usul pak Diran, dan anehnya pak Diran tidak mengambil alih apa yang sedang dilakukan oleh pak Hendrik, pak diran hanya membiarkan pak hendrik yang akan melakukan sesuatu dengan perempuan itu