
“Kancil satu… disini kancil dua…. Bagaimana, apakah ayam-ayam itu sudah balik ke kandangnya.. Ganti”
“Kancil dua… disini kancil satu… ayam-ayam masih cari cacing dan belum balik ke kandang”
“Dikopi kancil satu… tetap standby dan selalu report… ganti dan selesai”
Percakapan itu terdengar dari HT yang sekarang dipegang oleh mas Agus..
Tetapi yang dimaksud ayam itu siapa, apakah kami atau pak Pangat, istrinya dan pak Joko?”
Lalu siapakah mereka ini, kalau di dengar dari pembicaraannya, rasanya orang yang tadi sedang bicara itu sudah terbiasa menggunakan HT sebagai alat komunikasi.
“Benar kan kata Inggrid…. Orang yang ada di depan gang itu sedang menunggu seseorang yang datang ke rumah ini, hanya saja Inggrid gak tau… yang mereka tunggu ini siapa”
“Iya Nggrid… saya juga belum bisa memastikan siapa yang orang itu sedang nanti.. Apakah kita atau pemilik rumah ini”
“Apa yang harus kita lakukan mas?”
“Nggak ada mbak Tina.. kita cuma menunggu kabar dari Burhan saja, oh iya sebaiknya frekuensi HT ini aku kembali kan ke frekuensi yang diberikan Burhan”
“Saya yakin pemilik rumah akan datang mbak”
“Kok mas Agus bisa yakin?”
“Bukan saya yang yakin mbak, tetapi orang yang ada di depan sana itu… dia dan teman-temanya yang yakin, sampai-sampai mereka menunggu di depan sana mbak”
“Hehehe belum tentu mas… kalau seumpama yang mereka tunggu itu bukan pemilik rumah, melainkan kita gimana mas?”
“Kalau yang mereka tunggu ini kita, pasti mereka tidak akan ada di depan jalan sana mbak… mereka pasti akan langsung menggerebek rumah kosong ini dulu… untuk memastikan rumah ini benar-benar kosong atau tidak”
“Kenapa mereka langsung menggerebek… karena pasti sudah diberitahu pak Pangat bahwa bisa saja kita akan balik ke sini untuk sembunyi”
“Oh iya ya mas… bener juga apa yang dikatakan mas Agus… eh mas..coba hubungi lagi Burhan, dan bilang ke dia bahwa di depan gang rumah ini ada orang yang sedang mengintai disini”
Mas Agus menghubungi Burhan beberapa kali, tapi tidak ada balasan , hingga untuk yang kelima kali mas Agus memanggil nama Burhan.
Setelah panggilan yang kelima, akhirnya Burhan menjawab juga.
“Ya.. ada apa pak Agus?” kata Burhan
“Begini pak Burhan… sampai kapan kami harus sembunyi? Karena di ujung gang ada orang yang sedang mengintai kesini, tetapi saya tidak tau siapa yang sedang mereka intai itu” kata mas Agus
“Begini saja pak Agus… untuk saat ini beberapa anak buah saya sudah ada di kion jual beli solar itu, tetapi ternyata barang bukti yang ada di dalam drum itu tidak ada. Alias kosong”
“Lho kok kosong pak, bukanya anak buah pak Burhan dari mulai truk itu berangkat hingga sampai tujuan tetap mengawal kan”
“Iya.. anak buah saya tidak pernah lepas mengamati…” jawab Burhan
“Eh gini pak Burhan, jeda waktu antara drum kosong itu sampai di kios jual beli solar hingga penggerebekan itu berapa menit?” tanya mas Agus
“Yah jedanya waktu anak buah saya datang ke rumah penggergajian itu, tetapi di sekitar sana ada satu anak buah saya yang tetap ada disana untuk mengamati pergerakan barang bukti”
“Hmm saya yakin pak Burhan… narkoba itu masih ada disana.. Coba cek sekali lagi…..”
“Dan satu lagi pak Burhan… apakah pak Burhan sudah ke TKP untuk melihat keadaan disana?”
“Tentu saja sudah Pak Agus.. ini saya ada di depan kios untuk berpikir dimana barang bukti itu disembunyikan. Karena di kios itu tidak ada tempat untuk menyembunyikan sesuatu”
“Bahkan lantainya yang berupa semen itu tidak ada bekas pintu atau sesuatu yang bisa dibuka” kata Burhan
“Eh gini pak Burhan kios atau warung itu kan tidak permanen kan.. Dindingnya dari kayu, betul tidak?”
“Iya betul pak Agus…”
“Nah sekarang penopang rumah itu terbuat dari batang bambu yang ukuranya besar kan?”
“IYa benar pak Agus… saya paham yang dikatakan pak Agus.. pasti pak Agus akan berkata bahwa barang itu disimpan di batang bambu kan?”
“.... Sudah kami periksa, permukaan batang bambu penyangga rumah itu besar dan tidak ada bekas lubang, celah atau semacam pintu untuk memasukan benda ke dalam batangnya”
“Jangan puas dulu pak Burhan., sekarang hitung, batang bambu penyangga rumah yang ukuranya lebar-lebar itu ada berapa buah?”
“Sebentar saya masuk ke dalam dulu pak Agus….”
__ADS_1
“Eh.. yang pojok ada empat besar-besar pak Agus.. kemudian tengah tiap sisi ada tiga batang bambu juga yang menjulang sampai ke genting”
“Jadi selain yang ada di tiap pojok, ada tiga buah bambu, yang berarti jumlah seluruhnya ada enam belas bambu termasuk yang dipojokan pak Burhan?”
“Eh iya pak Agus. ada enam belas bambu…”
“Ok sekarang pak Burhan harus tau… sebuah bangunan itu hanya memerlukan empat penyangga yang ada di pojokan… sekarang pak Burhan bisa periksa selain yang ada di pojokan itu” kata mas Agus
“Dan harus nya bambu bambu itu bisa diturunkan dengan mudah…. Bisa dicoba saja ide saya ini pak Burhan”
Aku paham apa yang dikatakan mas Agus, bagi orang yang bisa tinggal di pedesaan pasti akan terbiasa dengan rumah gedek atau rumah kayu.
Rumah gedek biasanya menggunakan penyangga bambu sebagai pilarnya, dan letaknya pasti ada di tiap pojokan.
Jadi apabila ada penyangga bambu yang letaknya ada di sisi dinding kayu atau gedek. Bisa dipastikan itu hanya hiasan saja, dan bisa dilepas dengan mudah
Sore hari sudah berganti malam. Di rumah kosong ini sekarang menjadi gelap, tapi untungnya tetangga depan memiliki lampu jalan yang cahayanya bisa sedikit masuk ke dalam rumah ini.
Inggrid saat ini ada di luar gang, dia menunggui orang yang dari tadi mengintai gang rumah pak Pangat.
“Pak Agus….. Pak Agus.. Burhan disini pak” kata suara yang keluar dari HT itu.
“Iya pak..Agus disini, bagaimana pak?”
“Ternyata apa yang dikatakan pak Agus benar, di batang bambu itu tersimpan narkoba yang tadi ada di dalam drum solar, saat ini kami hanya menangkap penjaga kios saja. Dan kami sedang lakukan pengembangan dengan penjaga kios ini”
“Ya Sudah pak.. .lalu bagaimana dengan saya dan Tina pak?” tanya mas Agus
“Pak Agus nanti akan saya hubungi lagi, karena saya sedang menunggu anggota yang dari kota S untuk melakukan identifikasi disini”
“Setelah itu pak Agus dan mbak Tina baru bisa kami evakuasi ke kota S sambil menunggu Paijo dan Hari yang akan kami tangkap”
“Tapi bagaimana dengan keberadaan Paijo dan Hari, apakah kalian tahu dimana mereka sekarang berada?” tanya mas Agus
“Tentu saja kami tau dimana mereka berdua pak…mereka ada di pos masing masing, dan semoga acara penangkapan penjaga kios dan penemuan barang bukti ini belum tersebar, takutnya mereka berdua akan melarikan diri” jawab Burhan
“Ya sudah pak Burhan, kami tetap menunggu disini saja”
Ketika selesai pembicaraan antara mas Agus dan Burhan… tiba-tiba Inggrid datang dan sembunyi di antara kami berdua.
“Anu TIna… pemilik rumah bersama istrinya datang… “
“Waduh… ada dokter Joko atau teman lainya atau tidak?”
“Nggak ada Tina..hanya pak Pangat dan istrinya saja, Inggrid takut kalau ditangkap pak Pangat”
“Mas.. pindahkan frekuensi HT itu mas cepat!”
“Iya mbak Tina… sik”
Ketika mas Agus memindahkan frekuensi HT yang sesuai dengan frekuensi pembicaraan orang yang sedang mengintai…
“Ayam sedang berjalan masuk ke kandangnya, tetapi hanya ayam kampung jantan dan betina saja, sedangkan ayam broilernya tidak ada… ganti”
“Kancil satu… tepat jam tujuh nanti lakukan pengepresan terhadap ayam yang ada di dalam kandang itu. Paksa bicara dimana ayam broiler itu berada… kancil dua selesai”
Selesai pembicaraan yang ada di HT itu aku dan mas Agus terdiam…
Aku merasa nanti jam tujuh pasti akan ada kejadian di rumah ini…
“Mas Agus… sekarang sudah jam berapa?”
“Sekarang pukul 18.15 mbak…. Apa yang harus kita lakukan mbak?”
“Sik bentar mas…. Yang paling utama adalah gak usah berpikir siapa yang ada di luar, dan siapa itu ayam broiler, yang harus kita pikirkan adalah keselamatan kita dulu saja mas”
“Gak bisa mbak… coba dengar itu pintu pagar sudah dibuka dari luar mbak, sebentar lagi pasti pintu rumah akan dibuka juga mbak”
“Cepat hubungi Burhan.. Bilang saja keadaan darurat, dan jangan keras-keras kalau bicara mas”
“Mbak, apakah mungkin kalau kita temui pak Pangat saat ini, dan beritahu keadaan yang akan terjadi pada pukul tujuh?” bisik mas Agus
“Eh Tina masih bingung mas… sebenarnya suami istri itu ada di pihak siapa, takutnya mereka berdua juga termasuk di dalam kelompok mereka semua” jawabku sambil berbisik juga.
__ADS_1
“Dah gini aja mbak Tina, kita kan ada disini dan tidak lama lagi kita akan ketahuan juga sama pak Pangat, kita gak usah mikir dia ada di pihak mana, kita masa bodoh aja, anggaplah kita gak tau apa-apa”
“Dan kita harus selamatkan pak Pangat dan istrinya, untuk urusan belakangan siapa dia dan apa perannya, bisa kita bahas nanti saja” bisik mas Agus
“Ya udah mas.. Mas Agus aja yang muncul duluan di rumah pak Pangat”
“Sudahlah.. Ayo kita ke dapur. Dan Inggrid, kamu tunggu disini saja dulu ya”
Mas Agus berjalan duluan ke arah bagian belakang rumah, menuju ke dapur.
Kami berjalan sangat pelan tanpa suara, sementara itu di bagian rumah utama, aku bisa mendengar dentingan suara gelas yang kayaknya dari ruang tamu menuju ke arah dapur.
“Mas kita sudah sampai dapur… gimana, kita buka pintu dapur ini atau gimana mas… cepat sudah hampir jam tujuh malam ini mas” bisikku
“Sssst diam dulu mbak, saya sedang berpikir ini lho”
Aku ndak tau apa yang akan mas Agus lakukan, tapi sekarang mas agus menuju ke pintu dapur yang memisahkan dapur rumah utama dengan rumah kosong.
Kemudian mas Agus mengetuk pelan pintu dapur itu..
Tok.. tok.. Tok..
“Pak…. Agus dan yayat…. Eh salah.. salah….
“Bu Pangat… permisi bu.. Saya Agus…
Tok.. tok.. Tok..
“Hei siapa itu…!... BAPAAAAK, DI RUMAH SEBELAH ADA ORANG” teriak bu Pangat kepada suaminya
Suara langkah kaki dari ruang tamu menuju ke bagian belakang rumah terdengar.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan apabila ternyata pak Pangat ini termasuk orang yang sedang mencari aku dan mas Agus.,
“SIAPA ITU.. AYO JAWAB” kata suara milik pak Pangat
“Tolong buka pintunya pak,.. Ini Agus dan Tina” kata mas Agus setengah berbisik
Pintu yang menghubungakan dapur terbuka dari dalam rumah utama, pak Pangat dan istrinya muncul dari balik pintu dalam rumah utama.
“Heh… kalian ini dari mana saja… saya sampai bingung dengan kalian berdua”
“Eh ceritanya panjang pak… nanti saja akan kami ceritakan, yang sekarang paling penting adalah sebentar lagi ada orang yang akan datang kesini dan akan mencari pak Pangat, orang itu berniat jahat kepada pak Pangat” kata mas Agus
“Siapa dan apa yang akan dia lakukan, dan bagaimana mas Agus bisa tau ada yang akan kesini?”
“Nanti saja akan saya jelaskan pak, yang penting saat ini ada orang yang berniat jahat kesini, dan bapak harus tau apa yang akan pak Pangat lakukan nanti”
“Jam tujuh sebentar lagi orang itu akan datang ke sini dan saya tidak tau siapa dia dan siapa yang suruh dia” jawab mas Agus
“Hmmm saya rasa kalian saat ini jujur… saya bisa baca pikiran kalian berdua…. Ayo kita ke ruang tamu saja…”
Nah kan… pak Pangat ini tidak pernah berhenti untuk membaca pikiran orang…. Apabila dia memang berniat untuk membaca.
Tapi kenapa waktu ada Hari ke sini dia sama sekali tidak membaca pikiran buruk Hari.
Kenapa dia membiarkan kami pergi bersama Hari dan akhirnya terjadi sesuatu yang mengerikan itu.
“Saya tau apa yang kamu sedang pikirkan mbak Tina… jangan kuatir… saya akan jelaskan kepada kalian berdua…”
“Saya sebenarnya juga banyak yang akan saya bicarakan dengan kalian berdua… tapi karena kalian bilang kalau akan ada orang yang akan kesini, maka saya urungkan untuk membahas apa yang akan saya bicarakan”
“Saya bersyukur kalian bisa datang kesini dengan selamat, karena terus terang saya salah perhitungan dengan membiarkan kalian berdua pergi kemarin malam itu”
Kami ada di ruang tamu…sedangkan istri pak Pangat seperti biasa, selalu ada di bagian belakang rumah, mungkin dia sekarang sedang bersih-bersih dapur.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh, kami kami menunggu orang yang akan datang kesini.
“Kalian berdua jangan disini dulu, kalian masuk ke ruangan dalam dulu, dan gorden pemisah ruangan itu tolong kalian tutup saja” kata pak Pangat
Ketika kami masuk ke ruangan dalam… tiba-tiba pintu luar rumah ada yang mengetuk..
Itu pasti orang yang tadi sedang mencari pak Pangat, sebenarnya siapa orang itu dan dia suruhan siapa, dan kenapa harus mencari pak Pangat bukan mencari aku dan mas Agus.
__ADS_1
“SIAPA DI LUAR?” teriak pak Pangat ketika untuk kedua kalinya ada ketukan di pintu depan rumah
“Nama saya Jito… apa benar ini rumah pak Pangat” kata orang yang ada di depan pintu rumah