
Seperti pagi sebelumnya… rutinitas aku dan Jiang yang membagikan sarapan pagi, tapi untuk pagi ini aku dan jiang dibantu oleh mbak Tina.
Tanpa ada pak Cheng pekerjaan kami akan keteteran, jadi agar tidak ada komplain dari tamu, mbak Tina juga turun tangan membagikan sarapan ke tiap kamar yang ada disini.
Jam sepuluh semua selesai…dan pihak cateringpun pergi dari hotel.
Sekarang waktunya mbak Tina ada di balik meja resepsion, karena biasanya pada antara jam sebelas hingga jam dua belas akan ada beberapa keluarga yang checkout.
Tentu saja aku dan Jiang akan sibuk juga untuk membersihkan kamar yang sudah kosong, karena nanti jam satu siang sudah ada tamu yang akan datang, sesuai dengan email yang diterima yang berasal dari kantor teman pak Jay yang bernama pak Robert.
Dari pagi hingga siang hari ini kami sibuk luar biasa, karena tidak ada pak Cheng sehingga aktivitas bersih bersih agak terganggu, belum lagi kami siang ini harus menyapu dedaunan dan mengemasi sampah ke dalam plastik besar.
“Mas…..istirahat dulu saja, sudah jam dua siang ini” kata mbak Tina
“Memangnya tamu sudah lengkap yang datang mbak?”
“Kurang satu mas… keluarga yang berjumlah orang dari kota Semarang”
“Wuiiih jauh jauh dari Semarang kok niatnya cuma mau menginap disini mbak?”
“Hehehe gak tau mas…. Ini kan hebatnya team marketingnya pak Robert dalam memasarkan hotel ini”
“Nanti saja saya istirahat mbak, setelah menyapu halaman belakang bersama Jiang, harusnya pak Jay ini juga mendatangkan team bersih bersih ya mbak,, sehingga kita tidak keteran seperti ini”
“Iya mas… nanti coba mas Agus telpon pak Jay dan bicarakan mengenai team bersih bersih dan pemeliharaan taman hotel”
Selama masih ada tamu yang belum datang, area ruang utama depan meja resepsionis harus bersih, dan mbak Tina tidak bisa meninggalkan meja terima tamu dulu.
Kami juga belum bisa ngobrol selama masih menunggu tamu yang akan datang, sehingga apa yang mbak Tina akan ceritakan kepada saya pun belum kesampaian.
Tapi akhirnya pukul setengah tiga sore tamu yang dari Semarang itu datang juga.
Kebetulan aku ada di parkiran, dan yang mengatur parkir mobil yang baru datang ini. Sedangkan Jiang ada di dalam ruangan resepsionis menunggu perintah dari mbak Tina.
Suami , istri yang sudah tua, beserta seorang perempuan yang mungkin seumur dengan mbak Tina turun dari mobil.
Kubantu mereka membawa tiga buah travelbag dan beberapa tas kresek yang berisi makanan ringan dan camilan, karena wanita muda ini kesulitan membawa semua travelbag itu.
Di dalam ruangan resepsionis mereka bertiga mendapat penjelasan oleh mbak Tina tentang aturan dan larangan yang ada di hotel ini.
“JIang… tolong antar tamu kita ke kamar nomor sepuluh…” kata mbak Tina kepada Jiang yang memang sedang ada di dalam ruangan resepsionis
“Nah sudah selesai mas… tamu- tamu sudah datang semua… kita bisa istirahat sebentar dan Tina mau cerita tentang mimpi Tina semalam mas”
“Bentar mbak Tina… saya mau telepon pak Jay dulu untuk team kebersihan hotel mbak”
“Ya dah mas….”
Aku menghubungi pak Jay dengan menggunakan telepon satelit yang menggunakan operator bernama byru itu. Dan ternyata pak Jay menanggapi dengan baik untuk menyewa jasa kebersihan lingkungan hotel, tetapi untuk masalah roomboy tetap menjadi tanggung jawab aku dan Jiang.
“Mas…. Tina mau cerita mas…”
“Iya mbak… Gimana mbak Tina?”
“Semalem nggak tau awalnya gimana… tapi tiba-tiba tanah yang ada di hotel ini melesak amblas ke dalam tanah mas… eh bukan hotel mas…. Tapi ruangan bangunan utama ini… Tina waku itu tidak melihat hotel yang ada di belakang”
“Karena fokus Tina hanya bangunan utama ini saja mas”
“jadi tanah bangunan utama ini mas.. Tiba-tiba amblas dalam sekali…dan tidak lama kemudian air sungai yang ada di belakang itu tiba-tiba datang dan memenuhi lubang dalam yang terbentuk”
“Tina ada di pinggir sisi lubang yang sudah mulai penuh dengan air sungai , mas Agus ada di sisi pinggir bersama Tina”
“Dan yang mengerikan pak Cheng bersama Jiang masuk ke dalam lubang itu”
“Tina teriak teriak ketakutan dan meminta pertolongan mas Agus yang juga ada di sisi yang dekat dengan Tina, tetapi sayangnya mas Agus tidak mendengar teriakan Tina…”
“Mas Agus melarikan diri nggak tau kemana…. Tina di sisi tepi lubang yang sudah penuh dengan air”
__ADS_1
“Ketika Tina panik, tiba-tiba ada yang memukul kepala Tina dari belakang mas, Tina terhempas dan tergeletak di sisi pinggir, tetapi samar-samar TIna melihat Fong yang sedang tertawa”
“Tapi Fong tidak sendirian mas… dia bersama perempuan buruk rupa yang pernah TIna temui waktu itu, perempuan buruk rupa yang merupakan putri dari pemilik kawasan benteng yang ditusuk pak Pangat yang bernama Inggrid itu mas”
“Mereka berdua menertawakan Tina dan mereka saling berangkulan satu sama lain….seperti sepasang sahabat yang tidak akan pernah saling menyakiti”
“Tetapi tidak lama kemudian perempuan buruk rupa dan cacat itu mendorong Fong masuk ke dalam lubang dengan air berputar dan dalam itu mas”
Mbak Tina berhenti bercerita tentang mimpinya…
Dan aku yang diceritakan mbak Tina pun berpikir apakah seperti itu yang sedang kami alami ini?
Apakah benar mirip dengan yang mbak Tina alami dalam mimpi itu akhir dari semua ini?”
“Ada lagi mbak?”
“Eh maksud saya apakah ada kelanjutan dari mimpinya mbak Tina?”
“Nggak ada mas… setelah itu Tina pingsan”
“Gimana mas… tentang mimpi Tina ini mas?”
“Saya belum bisa mengambil kesimpulan mbak…. Karena aneh dan bertolak belakang dengan kenyataan yang ada”
“Anggaplah mimpi itu sebagai bunga tidur saja mbak Tina….dan kita tetap pada apa yang kita rencanakan, yaitu membunuh Fong
“Dan jangan terlalu percaya dengan yang namanya mimpi mbak”
“Ya sudah mbak… tamu terakhir sudah datang, saya akan ke belakang untuk mengawasi bagian belakang bersama Jiang”
Hari sudah semakin sore, sebentar lagi catering akan datang, dan pastinya kami akan sangat sibuk untuk mengantar makanan untuk tamu yang ada disini.
Saat ini Jiang sudah kembali ke ruang utama untuk menunggu pihak catering datang, sedangkan aku seperti biasanya berjaga jaga di belakang.
Tamu terakhir yang berasal dari semarang itu sedang menikmati sore hari di pinggir sungai yang berpasir pantai, tidak ada yang aneh untuk sore ini kecuali satu hal.
Padahal sore ini angin bertiup sepoi sepoi, dan tidak mungkin bisa menggoyangkan dahan yang sebesar itu
Daun daun itu bergoyang seperti sedang memberi tanda , sayangnya aku nggak tau tanda apa itu. Jadi lebih baik aku biarkan saja daun itu terus bergoyang, hanya saja aku yakin ada sesuatu yang menyebabkan daun itu bergoyang.
Hari semakin sore… orang-orang yang tadi ada di pinggir sungai sudah kembali ke kamar masing masing, aku dan Jiang membagikan makan malam untuk mereka.
Sambil menunggu tamu yang sedang makan, aku, Jiang, Pak Diran, dan mbak Tina ada di ruangan utama.
Mbak Tina sedang menceritakan perihal mimpinya kepada pak Diran.
“Bu TIna bisa ingat tidak, ketika itu Bu Tina ada dimana, apakah ada di kamar ini atau di sebuah tempat yang mirip dengan kamar ini?” tanya pak Diran
“Yang saya Ingat itu saya ada di dalam kamar pak, dan lantai kamar amblas yang mengakibatkan adanya sebuah lubang yang sangat dalam dan lebar” jawab mbak Tina
“Kemudian air sungai masuk ke dalam lubang itu ya bu Tina?”
“Betul pak… tiba-tiba air sungai mengalir dan masuk ke dalam lubang itu, selanjutnya yang terjadi itu yang tadi saya ceritakan kepada pak Diran itu”
“Menurut saya kejadian itu bukan di sini bu… karena kamar tempat bu TIna berada itu dekat dengan aliran sungai, jadi kemungkinan besar disana, dekat dengan pohon beringin di sana bu”
“Dan bisa jadi sebuah mimpi itu adalah tanda atau merupakan jendela untuk mengintip keadaan masa depan yang kita tidak pernah tau sebelumnya” jawab pak Diran
“Jadi kita tetap waspada atas tanda apapun yang muncul, tanda yang kita tidak pernah tau keberadaanya”
“Eh pak Diran… tadi sore saya juga melihat sebuah keanehan di pohon beringin belakang itu pak”
Kuceritakan kepada pak Diran tentang sebagian daun yang bergoyang, padahal waktu itu tidak ada angin besar…ada angin pun bahkan tidak mungkin bisa menggerakan batang dan daun yang agak berat.
“Nanti malam setelah selesai semua, kita ke belakang sana pak Agus.. saya rasa Kunti yang kemarin itu yang memberi tanda kepada pak Agus, hanya saja pak Agus belum peka untuk menerima tanda yang ada di pohon itu” kata pak Diran
Pukul sembilan malam, pihak catering sudah pulang, pagar depan hotel sudah ditutup oleh pak Diran, sekarang waktunya pak Diran untuk patroli keadaan di sekitar sini.
__ADS_1
Mbak Tina masih ada di belakang meja resepsionis, sedangkan Jiang sedang membereskan bagian samping hotel yang tadi ditempati orang-orang catering.
Aku ada di pintu depan hotel menunggu pak Diran yang akan mulai patroli malam.
“Pak Diran yuk kita ke belakang, saya penasaran dengan yang tadi sore itu pak”
“Iya pak Agus, tapi kalau kita ke belakang, disini hanya ada bu Tina saja, Jiang masih ada di samping hotel kan”
“Tina ikut saja pak… terus terang akibat dari mimpi kemarin itu, Tina jadinya gak berani tidur pak” kata mbak Tina
“Jangan bu Tina, ruangan utama ini jangan ditinggal. Kalau ada apa-apa kita tidak ada yang tau lho bu” jawab pak Diran
“Gini saja pak Agus… panggil si Jiang dulu ke sini untuk temani bu Tina disini… baru nanti kita ke belakang hotel”
Aku menuju ke samping hotel untuk memanggil Jiang agar ada di ruangan utama menemani mbak Tina yang sedang sendirian.
Sebenarnya mbak tina itu lebih baik ikut ke halaman belakang hotel, karena mbak TIna itu kan keturunan dari penghuni asli dari hutan ini, mungkin ada yang akan disampaikan mbak Kun kepada mbak TIna.
“Jiang… kamu ke ruangan utama dulu saja. Urusan samping ini nanti saja jiang, karena saya dan pak Diran mau ke belakang hotel”
“Pak Agus… kalau bu Tina mau ikut ke belakang ya tidak papa, saya jaga di ruang utama saja”
“Kamu berani sendirian di ruang utama Jiang?”
“Hehehe saya ini kan demit pak… ngapain harus takut sama demit juga hihihihi”
Akhirnya setelah diyakinkan Jiang, aku, mbak Tina dan pak Diran menujuke halaman belakang hotel… dekat dengan pohon beringin yang tadi sore sempat membuat aku terkejut.
Pak Cheng menengadah ke atas pohon,dia kayaknya sedang mencari Kunti yang kemarin pernah bicara dengan dia.
“Ah kamu ternyata ada disana… bagaimana kabarmu?” tanya pak Diran dengan suara nyaris pelan
“Apa… kamu bilang kamu takut sama mbak-mbak yang sedang bersama kami..” kata pak Diran mungkin setelah dia mendengar apa yang dikatakan mbak Kunti itu
“Jangan khawatir, mbak ini baik, dia tidak akan mengusir kalian. Bukankah kalian sudah sering melihat mbak ini disini?” tanya pak Diran lagi dengan suara lirih
“Oh begitu…”
“Jadi gini pak Agus dan bu Tina… Kunti ini dan yang lainya takut dengan bu Tina, karena kata mereka bu TIna ini adalah keturunan dari leluhur penghuni hutan”
“Dan penghuni hutan ini sangat ditakuti oleh demit yang ada di pohon beringin ini. Selama ini memang mereka sering melihat bu Tina dan pak Agus disini, tetapi mereka takut kalau-kalau bu Tina mengusir mereka seperti dukun yang tempo hari datang ke sini”
“Eh sebentar… kayaknya kunti itu ingin bicara hal yang penting dengan saya” kata pak Diran lagi
Kali ini wajah pak Diran cukup serius, dia sesekali mengangguk dan melihat kunti itu tanpa berkedip sama sekali, keliatanya apa yang disampaikan Kunti itu sangat penting sekali.
“Eh begini pak Agus… ternyata benar, sore tadi mbak Kun ini ingin berkomunikasi dengan pak Agus, tetapi dia tidak tau bagaimana cara berkomunikasi dengan pak Agus, sehingga dia hanya bisa menggoyang-goyangkan dahan saja”
“Begini pak… ternyata ada pesan dari pak Cheng yang disampaikan ke mbak Kun ini untuk disampaikan kepada kita”
“Kata mbak Kun, pak Cheng dalam keadaan baik baik saja, dan yang berbahaya, Fong bersama arwah teman kalian yang bernama Pak Pangat itu berencana untuk melakukan penyerangan kepada tamu hotel yang ada disini”
“Hanya karena hutan ini dan hotel ini ada pagar ghaib yang sangat kuat, maka nanti Pangat yang akan menembusnya, dia akan masuk ke raga manusia seperti yang dilakukan Jiang dan pak Cheng”
“Kemudian dia akan menyamar sebagai tamu hotel, dan akan masuk kesini dengan membawa sesuatu yang bisa menetralisir pagar ghaib ini”
“Kata mbak Kunti…pak Cheng mendapat info ini dari temanya yang merupakan pengawal dari Fong”
“Lalu apa yang bisa kita lakukan pak, jelas tidak mungkin kita lapor ke pak Jay, dia jelas tidak percaya omongn kita, yang dia percaya hanya omongan dari Watuadem itu”
“Sebentar… kunti ini ingin bicara lagi dengan saya…”
Pak Diran berusaha keras mendengarkan apa yang sedang dibicarakan kunti itu…
Kalau sampai apa yang direncanakan Pangat dan Fong itu terjadi, maka aku dan yang lainya ini jelas tidak tau apa yang harus kami lakukan.
Kita tidak tau mana tamu yang sesungguhnya dan mana tamu yang ada Pangatnya. Dan yang aku tidak habis pikir, kenapa mereka ingin menyerang tamu hotel ini.
__ADS_1