RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
32. TINA YANG BERBEDA


__ADS_3

Waduh apa lagi yang mau dia lakukan iki rek, mosok aku disuruh mandi bersih, kemudian habis itu diajak nge ihik ihik di dalam kamar.


Setan di dalam tubuhku pun mulai berontak dan membisik hati nuraniku… ‘Ayo bersihkan tubuhmu Agus, Tina sudah menunggu tanpa selembar pakaian sama sekali’...


Hihihihi lebih baik aku mandi sajalah, lumayan mandi disini bisa tenang, karena tadi sore aku kan cuma mandi kucing. yah karena aku ketakutan ketika ada di dalam kamar mandi lah.


Uweedan, yang ada di dalam otakku saat ini hanya pikiran-pikiran mesyum saja. pikiran tentang Anik sudah hilang, apalagi pikiran tentang pacarku sudah lupa dari tadi!


Nyoba sekali saja kan tidak ada salahnya kan. Hanya sekali dengan mbak Tina saja kan tidak ada salahnya, seperti yang mungkin dilakukan oleh pak Wandi dulu hehe.


Ahh ada shampo!, udah tiga hari ini aku belum cuci rambut, kebetulan ini sekalian cuci rambut ah sesuai dengan suruhan Tina tadi, biar tidak bauk penguk, aku kan harus kasih yang istimewa untuk Tina.


Tidak lupa bagian-bagian penting dari tubuhku, bagian tubuhku yang paling penting itu kugosok dan ku kasih sabun hingga tiga kali, agar tidak bau cuka hihihi.


Aku mandi dengan cepat dan bersih, jantungku sudah berdetak kencang, aku sudah bayangkan apa yang akan aku lakukan di dalam kamar itu.


Pokoknya mbak Tina akan aku buat klepek klepek lah hihihih.


Kukeringkan tubuhku dengan handuk wangi milik mbak Tina sekering dan sebersih mungkin, agar mbak Tina tidak kecewa dengan ku.


“Enaknya aku berpakaian apa ndak ya hihihi. ah lebih baik berpakaian dulu saja, daripada dianggap mesyum”


Setelah dari kamar mandi aku tidak langsung menuju ke kamar dia, meskipun aku tau kamar dia itu yang mana, lebih baik ada di ruang tamu dulu saja.


Untungnya pintu kamar mandi itu berbunyi apabila dibuka, sehingga bunyi itu bisa memberi tanda kepada mbak Tina yang ada di kamarnya.


“Mas Agus sudah selesai ya mandinya?” kata suara lembut dari dalam kamar setelah aku keluar dari kamar mandi


“Iya mbak Tina, saya sudah selesai mandi, saya ada di ruang tamu mbak”


aku berbicara sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh siapapun yang mungkin sedang memasang telinganya


“Langsung masuk kamar Tina aja mas, Tina tunggu mas Agus disini, dan Tina sudah siap lahir batin mas” jawab Tina dari dalam kamar


Waduuuh ndogku kok malah kemecer ngene rek heheh, jantungku berdebar debar, aku gak kuat mbayangkan kemolekan tubuh mbak Tina yang aduhai itu.


Apa yang harus aku lakukan begitu aku masuk ke kamarnya? apa harus ku ajak bicara dulu atau aku langsung saja menunaikan tugas sebagai yang dianggapnya sebagai suami?


Ayoo Agus berpikirlah, apa yang sebaiknya akan kamu lakukan dulu, pokoknya jangan bikin malu di depan perempuan yang sudah siap lahir batin itu!


Jangan!, lebih baik seperti sebelumnya saja, aku harus jaim dulu aja, biar kan Tina saja yang memulainya, pokoknya jangan mulai terlebih dahulu.


“Mas, kok lama sekali sih, Tina udah nunggu dari tadi lho mas, ayo cepet masuk ke kamar Tina, Tina udah gak sabar nih mas”


Suara lembut namun manja itu terdengar lagi dan membuat jakunku naik turun, jantungku pun semakin terpacu.


“I..iya mbak, S..saya ke ke kamar mbak Tina sekarang”


Apa yang akan kamu lakukan ini Gus, apa kamu akan berbuat zina dengan perempuan yang ditinggal pergi suaminya itu! sebegitu murahkan moralmu Gus!

__ADS_1


Jangkrek.. kata hatiku menolak.,aku tidak boleh melakukan ini! ini tidak betul!. Harusnya aku bisa menolaknya dan memberikan pengertian kepadanya.


Aku bukan pak Wandi yang doyan kemolekan tubuh mbak Tina hingga digerebek istri pak Wandi. Aku harus menolak ajakan ihik ihik nya!


Jangan menuruti hawa nafsumu Gus! Kenikmatan itu hanya sebentar, tetapi penyesalanmu akan seumur hidup!


“Eh…mbak Tina apa ndak bisa keluar kamar saja mbak?”


“Ya nggak bisa mas, kan udah Tina siapkan semua di kamar mas, lagian Tina juga udah ganti, udah siap semuanya, tinggal nunggu mas agus sebagai imam Tina mas”


Juangkreeeeek.. opo-opoan iki, apa yang sudah dia siapkan di kamar, duh makin jedag jedug jantungku iki rek. kenapa dia bilang sudah ganti baju dan nunggu di dalam kamar?


Kenapa dia anggap aku ini adalah suaminya, dan sekaligus imamnya


Tapi aku wis ada disini, aku sudah mandi dan kramas, aku sudah makan malam bersama dia, aku sudah cerita apapun yang ada disana, bahkan Tina juga cerita sejarah disana.


Tadi juga aku sudah manja-manjaan dengan dia. Lha apa setelah itu aku ini sudah dianggap imamnya dan suami dia? waduh iso gawat ini.


Ngene aelah  kupuskan untuk masuk ke dalam saja, entah apa yang akan terjadi nanti ya akan kunikmati eh salah,  akan kutolak perlahan lahan saja hehehe.


“Mas Agus ini ngapain sih diluar itu, ayo ndang masuk mas, Tina udah dari tadi siap mas, ayooooo” teriak Tina dengan suara agak mendesyah


“Iya mbak Tina, saya akan masuk ke kamar, tapi jangan marah  sama saya ya mbak”


“Ih siapa yang marah sih mas, Tina ini udah nunggu dari tadi mas, ayo dong mas, cepetan”


Aku berdiri dari posisi duduk di ruang tamu rumah Tina, kemudian aku berjalan menuju ke pintu kamarnya.


“Mbak Tina permisi ya, saya mau masuk ke dalam kamar”


“Iya mas, buka aja pintunya, Tina udah siap mas. Nanti tolong tutup lagi pintunya ya mas” kata suara dari dalam kamar


Kupegang handle pintu kamar Tina dan kutekan perlahan…tapi aku menunduk, aku takut melihat yang ada di dalam kamar itu.


Aku menunduk sambil mendorong pintu kamar ke dalam…


Pintu kamar itu terbuka lebar…tetapi aku tetap menunduk, aku tidak berani melihat Tina, dan aku ada di ambang  pintu


“Ih mas Agus ini kenapa menunduk sih, ayo masuk maaasss”


“I…iya”


Akhirnya dengan keberanian yang ada ku dongakkan kepalaku untuk melihat perempuan yang ada di depanku….


“MASYAALLAH….!”


Aku tidak bisa berkata lagi


Tina memakai rukuh berwarna putih bersih dengan cantiknya, Tina sudah berdiri di sajadahnya.

__ADS_1


Di depanya ada juga sajadah, sarung dan kopiah yang sudah disiapkan dengan rapi.


Aku tercengang dan hanya bisa menatap Tina. Seketika juga aku menyebut Alhamdulillah dalam hati!


“Ayo pakai sarung dan kopiah nya mas, Tina sudah lama sekali kepingin jamaah dengan suami Tina, tapi sayangnya Tina tidak punya suami hihihii”


Aku masih berdiri di ambang pintu, masih tidak percaya dengan yang ada di depanku, semua yang tadinya kupikirkan akhirnya sirna.


Semua yang tadi sudah ku angan-angankan ternyata salah semua. Dalam kamar yang sudah wangi oleh wewangian yang biasanya digunakan untuk sholat ini terasa sangat nyaman.


“Alhamdulillah , I..iya mbak Tina, saya akan jadi imam sholatnya mbak Tina ya, karena ini sudah masuk isya, kita sholat isya saja ya mbak”


Aku masuk ke kamar mandi kecil yang ada di kamar Tina untuk mengganti celana panjangku dengan sarung yang sudah disiapkan oleh dia.


Sebenarnya aku ini bukan muslim yang taat beribadah, bahkan untuk baca Qur’an saja aku tidak pernah, tetapi untuk menjadi seorang imam Tina jelas aku mau.


Meskipun surat pendek yang kuhapal hanya Al ikhlas dan Annas saja tapi akhirnya hari ini, malam ini aku menjadi imam mbak Agustina.


Setelah mengucapkan salam pada rakaat terakhir, akhirnya selesailah Sholat kami, aku ndak tau shalat kami ini sah atau tidak, yang penting Tina bukan seperti yang aku kira sebelumnya.


Dia salim dan mencium tangan ku, dan itu seharusnya tidak boleh karena dia bukan muhrimku, tapi paling tidak dengan dia mau sholat itu saja sudah merupakan hal yang istimewa;


“Taruh situ saja mas, biar Tina yang bereskan, mas Agus tunggu saja Tina diluar mas”


Aku duduk di ruang tamu rumah Tina dengan perasaan yang lega, aku tidak menyangka akan mendapatkan pelayanan yang luar biasa hari ini.


Hari ini aku bangga karena bisa menjadi imam sholat, meskipun bukan dengan pacarku atau dengan Anik. dengan pacarku pun aku tidak pernah mau menjadi imam sholatnya.


Saat ini sudah pukul 22.40 jelas tidak mungkin aku bisa pulang ke rumah, untuk tidur bersama bakul mie ayam pun jelas ndak mungkin, karena aku belum janjian dengannya.


Masak aku harus tidur disini dirumah Tina, apa ya ndak digerebek orang desa disini?


“Mas Aguuus, Tina bahagia sekali malam ini mas. Bisa bersama dengan laki-laki yang tidak cuma mengandalkan nafsyunya saja seperti pak Wandi itu!”


“Iya mbak Tina, saya juga bahagia, karena baru kali ini ada yang mempercayai saya sebagai imamnya, meskipun sholat kita tadi jelas jelas tidak sah mbak hihihih”


“Eh memangnya pak Wandi kenapa mbak?” aku mulai membuka omongan tentang pak Wandi hihihi


“Huuh mas Wandi itu tidak beda dengan laki-laki kebanyakan yang berhidung belang! dia kesini cuman untuk mengumbar nafsyunya”


“Ngakunya duda… Tina udah seneng karena dia janji mau nikahin Tina”


“Bahkan dia udah kasih cincin untuk Tina.. eeeh tapi ternyata itu cincin milik istrinya yang dia curi!”


“Dia juga sering minjem uang ke Tina mas, katanya untuk tambahan biaya solar yang kurang. tapi sampai sekarang dia  gak kembalikan uang itu”


“Malah Tina disamperin sama istrinya. Istri dia marah-marah ke Tina. Jelas Tina kaget wong dia ngakunya duda tanpa anak kok!”


“Tapi sekarang orangnya ngilang!, semenjak istrinya kesini itu kemudian dia sama sekali tidak pernah kesini lagi, pamit aja nggak”

__ADS_1


“Sampai akhirnya beberapa hari lalu mas Agus datang untuk interlokal disini. Itu Tina baru tau kalau mas Wandi sudah tidak kerja disana lagi mas”


__ADS_2