
Ternyata yang diberikan ke pak Jay itu bukan rumah Watu yang sebenarnya, menurut pak Hendrik alamat itu adalah sebuah kontrakan di gang kumuh.
Aku heran dengan pak Jay, katanya sudah lama kenal dengan Watu, tapi dia tidak tau rumah yang sebenarnya.
“Koh.. lek liak alamat rumah ini. Ini daerah kumuh koh, ndek sana banyak kos kosan ambek rumah kontrakan… mosok rumahe Watu ndek sana koh?” kata pak Hendrik
“Gua ndak tau Koh Hendrik, selama ini gua ndak pernah pigi rumahe… lek ketemuan sama gua mesti ndek pasar atom sana koh” jawab pak Jay
“Gini saja pak Jay dan pak Hendrik, biar saya dan pak Agus yang kesana pagi ini, agar tidak menimbulkan kecurigaan tetangga di sana…”
“Eh pak Diran… apa tidak sebaiknya kita periksa juga rumah pak Solikin yang ada dekat hotel itu?” tanya mbak Tina
“Nanti malam kita periksa mbak…yang penting kita harus bisa menemukan ruangan tempat dia melakukan ritual”
“Dan satu lagi pak Jay… foto yang menunjukan bahwa itu adalah pak Solikin yang sedang dipenjara itu menurut saya mencurigakan” kata pak Diran
“Karena menurut pak Agus dan bu Tina, Solikin memperdalam ilmu hitam, tetapi foto yang ditunjukan itu hanya orang biasa yang sama sekali tidak mempunyai keahlian dalam bidang ghaib!”
“Jadi apakah itu Solikin yang sebenarnya atau bukan itu yang akan kita cari tau dulu pak.” kata pak Diran lagi
“Menurut saya pagi hingga sore hari ini saya dan pak Agus menuju ke rumah yang ditunjukan alamatnya itu, kemudian pak Jay bicara kepada pak Polisi tentang siapa yang ada di dalam penjara itu, karena saya tidak yakin yang ada di dalam penjara itu Solikin” lanjut pak Diran
“Nanti malam kita ke hotel lagi, tetapi usahakan masuk melalui pintu depan, karena saya ingin mendeteksi iblis yang masih berkeliaran disana” kata pak Diran
“Saya antar saja pak Diran, kita bertiga ke kota S sekarang, biarkan pak Jay bersama mbak Tina dan Jiang mengurusi tentang foto Solikin itu” kata pak Hendrik
Semua setuju dengan yang dikatakan pak Diran….
Dengan menggunakan mobil pak Hendrik, aku, pak Hendrik dan pak Diran menuju ke S pagi ini juga….
Sedangkan pak Jay, dan yang lainya tetap menunggu di hotel, mereka pasti juga punya tugas yang juga sama pentingnya dengan yang akan kami lakukan.
Setelah dua jam perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami sampai di kota S, terus terang aku tidak paham jalan-jalan di kota besar ini, yang tau keadaan disini adalah pak Hendrik.
Setelah masuk ke jantung kota besar ini, kami menuju ke arah timur… lama kelamaan kami masuk ke sebuah pemukiman yang agak kumuh dan kotor.
“Alamat yang diberikan oleh anak buah koh Jay itu ada di daerah sini pak Diran, sekarang saya akan cari tempat parkir yang aman dulu hehehe” kata pak Hendrik sambil tertawa
“Disini apa tidak aman pak Hendrik?”
__ADS_1
“Yah bisa dibilang begitu pak Agus… eh disana ada pertokoan, nanti saya titipkan mobil ini ke penjaga keamananya dulu, sekalian kita tanya alamat Watu ini ada dimana” kata pak Hendrik yang kemudian mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah pertokoan.
*****
“Bos… titip mobil ya” kata pak Hendrik sambil menyerahkan satu lembar uang kertas yang bernilai lumayan kepada petugas keamanan yang berpakaian biru tua dan agak lusuh itu
“Mau kemana kalian bertiga, pasti sedang cari orang ya?” tanya petugas keamanan itu
“Lho kok bapak tau?” kata pak Diran
“Hehehe banyak orang seperti bapak-bapak kesini untuk cari orang ke daerah sini hehehe… boleh saya tau alamat yang mau bapak-bapak tuju ini?” tanya petugas keamanan
Pak Hendrik menunjukan secarik kertas yang berisi alamat Watu yang sedang kami cari. Beberapa saat petugas keamanan itu mengerutkan dahinya, dia kayaknya sedang memahami alamat yang pak Hendrik berikan itu.
“Waduh… ini masuk gang kecil kecil pak. Hanya bisa jalan kaki aja, sampeyan ( kamu) masuk ke gang yang pinggirnya banyak sampahnya itu.. Nanti liat gang-gang kecil yang ada di kiri kanannya”
“Menurut saya alamat ini ada di salah satu gang kecil disana itu” tunjuk petugas keamanan pada sebuah belokan yang agak jauh, belokan yang dari sini bisa terlihat sampah yang menggunung.
“Nanti sampek sana tanyakan saja sama orang yang disana, karena rumah kontrakan di sana itu nomornya acak…”
Hihihi kami ada di daerah yang padat penduduk, kotor dan agak kumuh… aku nggak tau apa nama daerah ini, pokoknya setiap kami jalan banyak orang yang melihat kami dengan mata sinis.
“Sepertinya itu belokan yang dimaksud pak Hendrik… belokan yang disisinya banyak sampahnya” kata pak Diran
“Ayo kita ke sana pak Diran” kata pak Hendrik
Jalan yang kami masuki ini lebih kecil dari pada jalan yang sebelumnya, ini lebih cocok disebut gang, karena mungkin hanya motor yang bisa masuk ke sini.
Tetapi sebenarnya mobil bisa juga masuk ke sini, tapi pasti sulit karena selain gang ini tidak lebar di pinggir gang ini banyak motor dan sepeda yang diparkir, ada juga orang yang berjualan hingga memakan badan jalan.
Di kiri kanan gang ini ada gang yang lebih sempit lagi, dan gang gang yang lebih sempit itu yang akan kami datangi… gang yang sangat sempit hingga motor yang masuk harus di tuntun.
“Banyak gang kecil yang tidak ada namanya pak Hendrik, ehhm sini mana kertas alamatnya, biar saya yang tanya ke penduduk disini” kata pak Diran
Pak Diran mendatangi sekelompok pemuda yang sedang nongkrong….
Terus terang aku kurang percaya diri untuk mendatangi sekelompok pemuda yang sedang nongkrong yang posisinya agak jauh, yang saat ini sedang didatangi oleh pak Diran.
Karena dari tatapan mata mereka, mereka itu kayaknya curiga dengan kami bertiga, apalagi pak Hendrik yang dari etnis china.
__ADS_1
Pak Diran dengan sopan menanyakan alamat yang tertulis di secarik kertas pemberian pak Jay … dan ternyata ada salah satu orang yang kelihatannya tau dimana alamat yang kita cari. Karena karena orang itu menunjuk ke sebuah gang yang tidak jauh dari tempat kami sedang menunggu pak Diran.
*****
“Disana itu..gang yang ada disana itu yang sesuai dengan alamat yang ditulis di kertas ini” kata pak Diran setelah menanyakan alamat
“Hehehe mereka itu curiga dengan kita bergita pak Hendrik, karena menurut mereka apabila ada orang yang bukan dari etnis mereka masuk ke pemukiman ini, bisa dipastikan sedang mencari kriminal atau buronan yang lari ke daerah ini” kata pak Diran
“Tapi sebenarnya mereka tadi itu baik, mereka tidak suka apabila ada kriminal yang lari ke sini, karena semakin membuat nama daerah ini semakin jelek”
Kami berjalan menuju ke gang yang ditunjuk oleh pemuda yang nongkrong tadi..
Gang yang sangat sempit sudah ada di depan kami, kami kemudian masuk ke gang itu, gang yang ramai dengan anak kecil yang bermain, ada juga ibu-ibu yang sedang duduk bergerombol ngegosip hehehe
“Kata pemuda yang tadi tau rumah kontrakan ini Watu, letak kontrakan ini ada di sebelah kiri, dan bercat hijau” kata pak Diran
“Yang itu ya pak” tunjukku pada sebuah rumah petak berwarna hijau
“Hmm iya pak Agus, sepertinya yang ini rumahnya”
“Tunggu disini dulu kalian, saya akan tanyakan ke ibu-ibu yang duduk ngegosip itu” kata pak Diran
Heheh ibu-ibu itu dari tadi memang memperhatikan kami yang jalan menuju ke rumah bercat hijau… dan sekarang pak Diran menghampiri mereka yang sedang duduk-duduk
“NDAK ADA YANG NAMANYA WATUADEM DI SINI PAK” kata seorang ibu-ibu itu dengan suara keras
“Kalau rumah yang itu dikontrak sama Solikan” kata ibu-ibu yang satunya
Pak Diran menjabarkan ciri-ciri Watuadem kepada ibu-ibu itu….ibu-ibu itu mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan pak Diran
“ITU SOLIKAN PAK…. BREWOK DAN ADA KUMISNYA” kata salah satu ibu-ibu yang suaranya tidak bisa pelan
“Iya betul pak… kalau ada brewok dan berkumis itu Solikan, tapi Solikan sudah dua minggu ini tidak datang kesini” kata ibu-ibu satunya,
Aku nggak tau apa yang dibicarakan pak Diran, tetapi tidak lama kemudian salah satu ibu-ibu itu berdiri dan menunjuk ke salah satu rumah yang berderet disini.
“Itu yang punya kontrakan pak, namanya pak Mat Sobirin, sampian (kamu) ke sana sana pak” kata ibu-ibu yang berdiri sambil menunjuk ke sebuah rumah yang jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah Solikan atau Watuadem
Setelah mengucapkan terima kasih, kemudian pak Diran menuju ke arah kami.
__ADS_1
“Kita tanya yang punya kontrakan saja pak Hendrik, karena pemilik kontrakan kata ibu-ibu itu bingung karena Solikan sudah dua minggu tidak ada kabarnya” kata pak Diran