RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
239. DARAH LAGI


__ADS_3

“Buka saja pak Diran, kita harus siap dengan semua kejadian janggal disini”


“Benar mas Agus pak Diran… buka saja pintu itu” kata pak Hendrik


Sebelum membuka pintu sepertinya pak Diran dan pak Hendrik sepertinya sudah bisa merasakan apa yang ada di dalam kamar ini, makanya pak Diran agak gimana gitu sebelum membuka kamar nomor tiga ini.


Dari raut wajah pak  Diran dan pak Hendrik, aku bisa merasakan sebuah kengerian yang luar biasa di dalam kamar, dan aku sedikit sedikit hanya menebak di dalam pasti ada nyawa yang meregang..


Duh gustiiiii, sebenarnya ada apa lagi disini. Kenapa semua bisa serentak dan yang melakukan ini adalah si Watuadem, teman dari pak Jay.


Pak Diran menekan handle pintu kamar, dan kemudian secara perlahan lahan dia mendorong daun pintu kamar itu ke dalam….


Perlahan-lahan mulai nampak di keremangan lampu teplok….


Yang pertama aku lihat adalah lantai kamar yang dekat posisinya dengan pintu kamar… aku lihat ada cairan yang bergerak pelan dari dalam menuju ke arah pintu kamar.


Dari situ saja aku langsung bisa menerka itu cairan apa dan spontan aku  buang muka, aku yakin  pasti yang ada di dalam itu sangat mengerikan.


“Mas.. l…lihat.. s..saja ..jangang bu..buang muka mas” kata mbak Tina yang ada disebelahku


“Mbak Tina lebih baik agak mundur saja, saya rasa yang ada di dalam sana pasti mengerikan”


“Nggak m..mas, Tina mau lihat apa yang terjadi disini”


Bau anyir darah keluar dari dalam kamar. Pak Diran masih ada didepan pintu , sedangkan pak Hendrik sudah siap siaga di teras kamar. Jiang ada di sebelahku bersama mbak Tina.


“Bu Tina hubungi pak Jay sekarang, bilang ada korban meninggal lagi… dan bilang tersangka pembunuhnya masih kami cari”


“BIlang juga Watuadem saat ini tidak ada disini… cepat sekarang bu Tina” bisik pak Diran


“Jiang.. temani mbak Tina Jiang” kata pak Diran lagi


Sekarang tinggal aku, pak Diran, dan pak Hendrik yang ada di depan kamar nomor tiga…


Aku belum tau apa yang akan pak Hendrik dan pak Diran lakukan, karena di dalam kamar itu suasananya Hening sekali, dan seharusnya apabila ada korban meninggal, yang pertama dihubungi seharusnya adalah pihak kepolisian saja.


Tapi aku yakin pak Hendrik dan pak Diran saat ini bukan mau ngurusi korban yang meninggal, melainkan mencari siapa pembunuhnya, karena tadi sempat mendengar suara orang berteriak minta tolong.


Berbeda dengan kasus yang menimpa keluarga pak Owo, yang meninggal tanpa ada suara sama sekali. Yang ini tadi kan ada suara minta tolong, jadi kemungkinan besar ada yang berusaha menyakiti tamu yang menginap disini.


Setelah menunggu beberapa saat, pak Diran mundur beberapa langkah untuk mendekati pak Hendrik yang posisinya ada di teras.


“Pak Hendrik, saya kok tidak bisa mendeteksi adanya roh jahat disini?” tanya pak Diran dengan suara berbisik


“Iya pak Diran, saya juga tidak bisa merasakan adanya roh jahat di dalam kamar ini, ada kemungkinan roh jahat itu sudah pergi setelah melakukan tugasnya disini” jawab pak Hendrik


“Jadi apa yang harus kita lakukan pak?” tanya pak Diran dengan berbisik lagi


“Untuk kamar ini kita tutup saja dulu pak, kemudian telepon polisi. Kita jangan masuk ke dalam dulu, biarkan pihak kepolisian yang menangani ini” jawab pak Hendrik


“Tadi yang dikatakan Kunti itu apa pak?” tanya pak Hendrik kemudian


“Dia bilang orang jahat yang pernah menaruh sesuatu disini itu lari menuju ke desa sana, dan ketika orang jahat itu pergi, dia meninggalkan setan haus darah lagi di sekitar hotel ini, dan tiap setan yang dia taruh disini akan membunuh orang tiap hari tiap malam” kata pak Diran


“Jadi tentang kalapa tadi itu beda lagi pak Diran, kemudian yang tadi ada di  kamar itu bagaimana?” tanya pak Hendrik


“Kelapa itu sudah saya bakar bersama dengan yang ada di dalamnya….dan itu beda dengan yang ada di dalam kamar tadi”


“Yang tadi potongan daging celeng itu sudah kosong…sebagian sudah saya bakar dan sebagian isinya sudah berkeliaran di sekitar hotel ini, dan sekarang sedang bersembunyi di sekitar sini untuk menunggu jatahnya membunuh orang” jawab pak Diran


Untuk malam ini saya kira dia tidak akan melakukan pembunuhan lagi, dan korban yang ada di dalam kamar itu kemungkinan besar sudah mati. Tugas kita sekarang mencari perempuan yang kata Jiang tadi kesurupan” kata pak Hendrik

__ADS_1


“Kayaknya yang kesurupan itu hanya sebagai pengalih saja pak Hendrik, agar kita fokus mencari perempuan yang kesurupan sehingga yang ada di kamar ini akan terlewatkan oleh kita” kata pak Diran


“Eh pak Agus, tolong pak Agus ke ruang utama, telepon pak Jay lagi dan katakan harus panggil polisi sekarang, karena saya dan pak Diran tidak mau masuk ke dalam sana sebelum ada polisi yang datang” kata pak Diran


“Biak pak… kalau misalnya pak Jay gak mau gimana pak?”


“Paksa dia dan ancam kita yang akan melaporkan sendiri ke polisi kalau pak Jay tidak mau memanggil polisi ke sini” kata pak Diran dengan setengah emosi


Ketika aku akan menuju ke ruang utama.. Tiba-tiba aku mendengar teriakan dari ruang utama yang jaraknya tidak jauh dari kamar nomor Tiga!


Teriakan minta tolong dari mbak Tina dan Jiang!


“Pak Diran!” seruku sambil menoleh ke pak Diran dan pak Hendrik


“Ayo kita ke sana sekarang!” kata pak Diran


Apa yang terjadi dengan mbak Tina dan Jiang, apakah ini adalah orang perempuan yang kesurupan tadi yang diam diam masuk ke dalam ruang utama dan melakukan sesuatu disana….


Kami bertiga berlari menuju ke ruang utama….


Aku dorong pintu kaca yang membatasi ruang utama dengan halaman belakang hotel….


“ALLAHUAKBAR!” teriak pak Diran


Kami diam diantara pintu kaca yang keadaanya terbuka….


Seorang perempuan berdiri membelakangi kami…. Di tangan kanannya memegang pisau yang berlumuran darah, yang entah dia dapatkan dari mana, sedangkan di tangan kirinya dia memegang sesuatu yang berdarah-darah dan bergerak gerak dengan teratur.


Posisi kami adalah pak Diran, aku, dan yang belakang adalah pak Hendrik.


Pak Diran merentangkan tangannya, dengan maksud agar aku dan pak Hendrik tidak bergerak maju.


“Jangan maju…. Posisi bu Tina dan Jiang dalam bahaya” bisik pak Diran


Mbak Tina dan Jay ada di sofa ruang utama, mereka berdua di pojokan ruangan, mereka kayaknya baru saja mendapat ancaman dari perempuan yang mengerikan yang ada di depan kami ini.


Posisi mereka berdua terpojok!


“Perempuan itu dalam pengaruh setan pak Hendrik… coba sampean deteksi dimana posisi setan itu, nanti kalau sudah dapat di bagian tubuh mana setan itu berada, kita sergap perempuan itu buang pisaunya dan bakar setannya” bisik pak Diran


“Dari apa yang saya lihat.posisi setan itu sekarang ada di jantung perempuan itu, dan dia sepertinya tau apabila kita sedang mengincarnya juga. Dia akan mudah membunuh perempuan itu dengan mematikan jantungnya apabila kita lakukan penyergapan kepada dirinya” kata pak Hendrik


“Heh setan… lawanmu bukan mereka…. Ayo lawan kami disini” teriak pak Diran


Perempuan itu berbalik arah menghadap ke arah kami dengan cepat….


Dia menyeringai, memamerkan giginya yang penuh darah….


Kemudian yang mengerikan dia perlahan lahan memakan jantung yang dia pegang dengan tangan kirinya.


Darah muncrat dan mengenai wajah, kepala, dan tubuhnya ketika jantung yang kemungkinan jantung manusia itu dia gigit perlahan lahan.


“Kamu membakar anak-anakku hrrrrmmm!” kata perempuan yang sekarang mengerikan karena tubuhnya penuh darah sambil menunjuk pak Diran dengan pisaunya


Mbak Tina dan Jay  bergerak perlahan lahan menuju  meja resepsion, kemudian mbak Tina menyambar telepon, kemudian dia menekan nomor entah nomor siapa.. Apakah nomor telepon Jay atau nomor telepon polisi.


Mbak Tina ternyata menelepon kantor polisi setempat, yang aku dengar dia sedang minta tolong dan berkata ada pembunuhan di hotel Singgasana Adem Ayem, sementara itu tersangkanya sedang mengancam petugas keamanan dan tamu hotel.


“GRRHHMMMMNN!...KAMU MEMBAKAR ANAK ANAKKU!” teriaknya lagi sambil sekali lagi menggigit jantung yang dia pegang, darah muncrat lagi dan membasahi wajahnya ketika dia menggigit dan menarik dengan giginya jantung yang dia pegang


Pak Diran hanya diam, dia memberi kode dengan tangannya agar pak Hendrik berganti posisi denganku, sekarang aku pindah di bagian belakang. Pak Hendrik ada di belakang pak Diran.

__ADS_1


“Pak Hendrik, dia akan menyerang kita, dan kita tidak bisa melumpuhkannya karena dia ada di dalam jantung perempuan malang ini… apa yang harus kita lakukan pak Hendrik?”


“Tunggu hingga polisi datang pak… ulur waktu saja agar polisi datang dan menjadi saksi mata apabila perempuan ini mati karena sesuatu yang menguasai tubuhnya, bukan karena kita berdua pak” jawab pak Hendrik


“Iya benar pak Hendrik… tetapi kita harus kurung dia di suatu tempat, agar dia tidak lari ke belakang dan membuat gaduh yang ada dibelakang sana” bisik pak Diran tanpa menoleh ke belakang sama sekali


“Kamar itu saja. Kamar yang ditempati Watuadem saja pak… kebetulan pintu kamar itu kan di sebelah perempuan itu dan dalam keadaan terbuka” kata pak Hendrik


“Dan kemudian kita kasih pagar ghaib semampu dan secepat kita pak, agar dia tidak bisa menjebol kamar itu” lanjut pak Hendrik


“Mas Agus, tolong tutup pintu kaca dan kunci agar dia tidak pergi ke bagian belakang hotel” kata pak Hendrik lagi


Pak Diran dan pak Hendrik harus bisa mengurung perempuan yang sedang dirasuki setan itu agar mau masuk ke dalam kamar yang mengerikan itu. Dan disana nanti dia akan dikurung.


“Apakah aman memasukan dia ke dalam kamar sementara pisau itu masih ada di tangannya pak?” tanya pak Diran


“Pisau itu harus kita rebut dan dorong dia masuk ke dalam kamar itu” bisik pak Diran


Kulihat mbak Tina selesai dengan teleponya… sedangkan Jiang keliatanya paham apa yang kami bicarakan, dengan mengendap endap Jiang menuju ke meja resepsion, aku nggak tau apa yang akan dia lakukan, tetapi dia terus berjalan menuju ke meja dengan tatapan mata yang masih melihat ke perempuan mengerikan itu.


Sedangkan perempuan yang mengerikan itu kayaknya sedang menikmati santap malamnya di depan kami, dia beberapa kali menggigit sedikit demi sedikit jantung yang ada di tangannya.


Jiang seperti sedang mengambil sesuatu di bawah meja reception, dan ternyata yang dia ambil itu adalah tongkat softball. Aku nggak tau kalau ternyata Jiang menyimpan tongkat softball di bawah meja resepsion.


“Siap Siap pak Hendrik…Jiang akan melakukan sesuatu dengan tongkat softballnya” bisik pak Diran


Jiang mengangkat tongkat itu tinggi sambil perlahan lahan mendekati perempuan yang kerasukan sambil mengunyah jantung yang sekarang tinggal separuh itu.


Jiang mengarahkan tongkat itu ke arah tangan kanan yang memegang pisau mengerikan.


Jiang bersiap siap dan kemudian dengan tenaga penuh dia hantamkan tongkat softball itu ke tangan yang memegang pisau


BOOUGGH!...


Pisau itu terlepas, tapi perempuan itu tidak merasa kesakitan..


Perempuan mengerikan itu berbalik arah mengahadap ke Jiang yang sekarang ketakutan…


Fokus perempuan yang kesurupan itu kepada Jiang, karena Jiang sempat memukulnya meskipun  perempuan itu tidak merasa kesakitan sama sekali.


“Sekarang kita dorong ke dalam pak” bisik pak Diran kemudian maju dengan kekuatan penuh untuk mendorong perempuan itu masuk ke dalam kamar


Pak Hendrik juga tidak mau kalah, dia juga mendorong perempuan yang di tangan kirinya masih memegang jantung yang berdarah darah  itu.


Perempuan itu terjengkang dan masuk ke dalam kamar…


Pak Diran segera menutup pintu kamar dan menahannya hingga polisi datang, kemudian pak Hendrik dengan keahliannya menyegel atau mungkin memnberikan pagar ghaib di pintu yang sedang ditahan oleh pak Diran.


Setelah pak Hendrik mengunci secara ghaib, sekarang gantian pak Diran yang melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pak Hendrik.


Bahkan pak Diran kemudian keluar dari ruang utama untuk menyegel jendela kamar yang mengarah ke hutan itu.


“Jangan ambil pisau itu, biarkan ada disitu” kata pak Hendrik ketika aku akan mengambil pisau yang penuh dengan darah


Suara marah dan pukulan di pintu dan tembok rumah terdengar sangat keras. Aku yakin tamu yang ada disini ketakutan dengan suara aneh yang keluar dari mulut seorang perempuan.


Suara keras yang mirip suara laki-laki dengan intonasi rendah dan sangat serak dan kering.. Suara teriakan dan gedoran itu terus bersuara hingga aku mendengar suara sirine polisi yang semakin lama semakin dekat.


Teriakan itu luar biasa keras, gedoran itu juga sangat kuat…. Itu bukan tenaga perempuan, tetapi tenga puluhan orang laki-laki.


Tapi untungnya pintu dan area kamar ini sudah di segel pak Diran dan pak Hendrik, sehingga perempuan itu tidak bisa melakukan apa-apa selain menggedor dan berteriak.

__ADS_1


Kami menunggu hingga polisi datang kesini…


Benar juga tidak lama kemudian sirine mobil polisi sudah terdengar dari kejauhan…


__ADS_2