RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
27.BERTEMU ANIK DAN BU TUGIYEM LAGI


__ADS_3

Mandi menjelang siang hari merupakan hal yang selama ini jarang dilakukan, karena aku merasa aneh kalau mandi menjelang siang. Tapi karena beberapa hal tadi, akibatnya aku terlambat mandi.


Air bak mandi sudah aku penuhi dengan air sumur yang dingin dan jernih.


Fiuuuhh ternyata berat juga ya nimba air, hebat juga Mamad yang tiap pagi selalu nimba air untuk penuhi bak mandi


Ndak ada Mamad rasanya ada yang kurang disini. Biasanya pagi begini ada makanan dan kopi panas yang sudah tersedia di meja butut itu


Ya sudah lah, memang sudah takdirnya dia meninggal, tiap manusia pasti akan meninggal, hanya saja waktunya mungkin berbeda beda.


Aku tersenyum kecut membayangkan Mamad.


Mamad yang baik, tapi sayang aku tidak bisa takziah ke rumahnya. Seandainya dia terus terang padaku, mungkin beda lagi ceritanya


Kuambil pakaian yang ada di dalam kamar, kemudian aku berjalan gontai ke kamar mandi


“Kamar mandi yang harusnya nyaman…. kenapa kamu begitu menakutkan buatku sih”


Aku hanya berdiri di depan pintu kamar mandi yang tertutup, tanpa ada keinginan untuk membukanya


Apa mungkin kalau kertas semen itu kubuka kamar mandi ini akan terlihat terang.


Ah nanti saja, aku harus tanya ke pak Solikin dulu perihal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan disini.


Akhirnya aku bisa mandi dengan tenang tanpa memikirkan yang buruk-buruk, pokoknya mandi, sabunan dan  selesai, tidak perlu melihat ke arah toilet itu.


Siang hari aku duduk di amben belakang sambil menunggu bu Tugiyem bersama anaknya Anik yang sebentar lagi datang ke sini.


Aku duduk sambil melihat keempat orang yang sedang sibuk bekerja, suara mesin diesel penggerak gergaji memakakan telinga, suara pukulan palu di bagian pembuatan palet juga membuat suasana makin berisik.


Ya mending berisik seperti ini dari pada sepi dan menegangkan, tapi nek sepi dan ada dik Anik ya lain lagi ceritanya hehehe


Sudah hampir jam 12.00 siang, tetapi kok belum keliatan bu Tugiyem dan anaknya ya?


Aneh juga kenapa aku resah ya, kenapa aku resah ketika pada waktunya belum muncul bu Tugiyem dan anaknya ya. Apa karena ada perasaan yang gimana gitu kepada Anik?.


Tapi ternyata resahku terobati, dari balik pagar utama masuk bu tugiyem dan anaknya yang bernama Anik, dari kejauhan aku bisa lihat mereka berdua tersenyum.


Kali ini Anik memakai celana panjang jeans, dan kaos warna putih.


Ternyata gadis desa ini modis juga kalau memakai pakaian seperti itu, aku cukup terkesima juga dengan dia.


“Assalamualaikum” sapa bu Tugiyem dan Anik bersamaan


“Waalaikumsalam bu Tugiyem dan dik Anik..”


Aku membalas sapaan dengan hati yang berbunga bunga, ndak sengaja aku menatap Anik yang makin cantik itu terus menerus


“Eh mas Agus… kenapa sih liat Anik kayak gitu ich”

__ADS_1


Anik mendekati amben tempatku duduk dan kemudian dia menaruh teko berisi kopi seperti sebelumnya.


“Hehehe hayoooo nak Agus lagi liat apa. Ndak boleh ngelamun lho ya, bisa bahaya hehehe” kata Bu Tugiyem kemudian duduk di bale-bale setelah menaruh semua barang bawaannya


“Oh iya , ini untuk nak Agus, untuk makan malam nanti, jadi ndak usah masak lagi ya”


“Lho bu, kok malah ngerepotin sih bu, eh bentar bu saya mau kembalikan rantang yang kemarin saya bawa itu bu” aku masuk ke dalam untuk mengambil rantang tumpuk tiga yang kemarin kubawa


“Gimana nak Agus, apa sudah laporan ke atasan, kalau keadaan disini kurang pekerjanya?”


“Rencana saya nanti sore bu, setelah mereka lautan, saya akan ke desa sebelah untuk interlokal”


“Hmmm tapi ada syaratnya nak Agus… hati-hati sama pemilik wartelnya nak” bisik bu Tugiyem


“Memangnya kenapa ya bu?” aku pura-pura tidak tau apa maksud dari omongan bu Tugiyem


“Dia perempuan kurang waras yang sukanya goda laki-laki, atau gini saja, nanti sore mau ditemani sama Anik?”


Aku jelas kaget dengan kata-kata bu tugiyem, kenapa Anik harus menemani aku ke wartel, apalagi jelas tidak mungkin aku harus antar jemput anik yang jaraknya ndak karuan itu.


“Ah apasih ibu ini , emoh ah bu, Anik emoh ah malam-malam kesini lagi” kata Anik dengan wajah tidak senangnya


“Terimakasih bu Tugiyem, saya ndak papa kok kalau sendirian ke sana, dan saya akan hati-hati dan akan selalu ingat apa yang bu Tugiyem katakan heheheh”


“Eh bu, yuk kita pindah ngobrol di dalam saja, itu bapak-bapaknya sudah bersih-bersih untuk istirahat dan makan siang bu”


Para pekerja mengambil nasi bungkus yang dibawa bu Tugiyem mereka makan di amben, sementara itu aku, bu Tugiyem dan Anik masuk ke dalam rumah.


“Iya bu saya tau, bahkan mulai saya ada disini hingga tadi malam selalu ketakutan bu”


“Tapi ndak papa kok nak Agus. Oh saran dari saya, usahakan nak Agus dalam keadaan berwudhu, jadi tiap nak agus kentut atau setelah makan, usahakan untuk selalu berwudhu lagi”


“Inshaallah tidak ada yang akan mengganggu nak Agus”


Waduh malam-malam kok wudhu, ke kamar mandi untuk buang air aja aku ketakutan kok, malah tiap habis kentut disuruh wudhu hehehe.


“Iya bu, terima kasih atas nasehatnya kepada saya. Ibu Tugiyem ini seperti ibu saya yang selalu menasehati saya”


“Padahal baru ketemu tiga kali, tapi saya merasa panjenengan ini ibu saya sendiri”


“Hehehe saya ndak papa kok kalau nak Agus anggap sebagai ibu sendiri, bener ndak Nik” Bu tugiyem menoleh kepada anaknya


“Lha anak ibu kan cuma aku buk, kok mau ambil mas Agus sebagai anak sih bu hihihihi” sahut Anik


“Ya ndak gitu nduk ku sing ayuuuu, ibu kan cuma anggap nak Agus ini seperti anak sendiri saja. Oh iya nak Agus, jangan malu-malu ke rumah kalau butuh sesuatu atau cuma mau ngobrol sama ibu ya”


“Lha kan, dik Aniknya protes bu hehehe, tapi terus terang saya senang sekali bisa ngobrol seperti ini bu, rasanya koyok ada yang perhatian sama saya”


“lha disini saya kan ndak punya teman ngobrol sama sekali bu”

__ADS_1


“Disini memang sepi nak, apalagi rumah ini hhmmm, rumah ini sendirian di hutan, dan sekarang nak Agus tidak mempunyai teman sama sekali”


Bu Tugiyen kemudian berdiri dan melihat lihat semua yang ada disini termasuk kamarku juga. Dia kemudian berhenti di depan kamar Mamad yang tertutup rapat, matanya memandang pintu kamar Mamad.


Kemudian dia meraba pintu kamar Mamad sebentar. Aku ndak tau apa maksudnya bu Tugiyem seperti itu


“Yang itu kamar Mamad ya nak, ada baiknya dibuka saja nak, agar udaranya enak, saya merasa kamar itu menyimpan sesuatu nak, yah mungkin barang Mamad yang tertinggal disana”


“Iya bu, memang rencana saya kamar itu akan saya buka bu, karena saya juga agak gimana gitu apabila ada sebuah ruangan yang tutupan seperti itu”


“Ehm nak, tolong dengarkan omongan saya nak. apabila maghrib tiba ada baiknya nak Agus sholat dan panjatkan permintaan maaf untuk Mamad, atau hhmmm… “  bu Tugiyem kemudian diam dan berpikir


“Emm bukan, bukan…. itu bukan. Ndak papa nak, lebih baik panjatkan doa permintaan maaf untuk Mamad”


“Ehhm Mamad, kasihan dia, dia belum siap untuk meninggal, dia mungkin agak menyesal harus pulang ke desanya”


“Yah mungkin sudah takdirnya dia akan meninggal di usia muda, Pokoknya pesan saya, tolong doakan arwah Mamad dan mintakan maaf atas dosa Mamad selama ini”


Bu Tugiyem kemudian berjalan pelan ke arah dapur dan dia berhenti di depan kamar mandi yang pintunya tertutup.


Dia berdiri di depan pintu kamar mandi, wajahnya memandang tajam ke arah pintu kamar mandii, alisnya  yang tebal namun agak lancip itu berkerut.


Seperti nya dia sedang curiga dengan keadan kamar mandi. kemudian beliau menengadah ke atas, dia melihat keadaan plafon area kamar mandi dengan yang ada di ruang tamu.


“Bisa saya buka pintu kamar mandi ini nak?”


“Bisa bu.ditarik saja bu, karena tidak ada kuncinya itu”


Aku kemudian berdiri dan mendekati bu tugiyem yang sedang melongok ke dalam kamar mandi tanpa masuk ke dalam nya.


Dia melihat bagian atas kamar mandi yang hanya berupa kayu usuk besar yang membentang,  kemudian dia melongok ke bagian toilet.


“Hmmm ternyata seperti ini, ya sudah lah kalau begitu”


“Maksudnya gimana bu Tugiyem, apa ada yang aneh dengan kamar mandi ini?”


“Ndak…ndak ada nak, hanya lebih baik lubang ventilasi itu dibuka saja, dan saya  bingung dengan kayu yang ada di atas itu, fungsinya sebenarnya untuk apa, kenapa melintang begitu saja di atas”


“Nak Agus, pintu kamar mandi ini apa tidak dibuka saja, agar ada udara yang masuk ke dalam nya


“Kalau kayak gini seperti nya nak Agus harus banyak berdoa disini, dan jangan lupa untuk selalu dalam keadaan berwudhu”


“Ya sudahlah, kalau begitu kami pulang dulu nak, dan ingat jangan pulang larut malam kalau dari wartel” pesan bu Tugiyem yang melangkah keluar.


Sepertinya bu Tugiyem tau sesuatu dengan rumah ini khususnya kamar Mamad dan kamar mandi itu, tetapi dia kayaknya merahasiakan itu kepadaku.


Tapi suatu saat aku akan menanyakan kepada bu Tugiyem apa yang ada di rumah ini, dan sejauh mana mereka menggangguku disini.


Tentu saja aku tidak lupa salim tangan kepada beliau yang akan menjadi mertuaku hehehe, Anik pun tidak lupa salim tangan kepadaku hihihi.

__ADS_1


Masih ada tiga puluh menit lagi para pekerja melanjutkan pekerjaanya. Pak Solikin yang dari tadi melihatku kemudian menghampiriku.


__ADS_2