RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
205. PENJELASAN PAK CHENG TENTANG RAGA PANGAT


__ADS_3

“Sekarang apa yang harus kita lakukan dok?”


“Saya tidak tau mas… menurut saya, kalian lakukan saja apa yang harus dilakukan, hanya saja saya tidak bisa memberikan masukan atau ide apa yang harus kalian lakukan” kata dokter Joko


“Yang menjadi masalah bagi saya saat ini  adalah, dimana dan kemana tubuh Pangat yang sudah membusuk itu…”


“Saya takut apabila tubuh Pangat berjalan jalan. Pikiran saya sudah gak karu karuan mas… saya tau Pangat sangat dihormati di desanya…Tapi dengan tubuh busuk dan berjalan jalan itu sangat mengerikan, saya tidak bisa membayangkannya” kata dokter Joko


“Berarti kami harus cari kemana pak pangat berada… gitu pak?”


“Kalian tidak perlu mencari kemana dia mas…. Karena dia yang akan menemui kalian sendiri, dan saya yakin sekali kalau dia akan datang ke hotel penggergajian”


“Dia akan mencari kalian berdua dan dua teman kalian yang ada disana juga”


“Tidak ada yang bisa kalian lakukan selain melawan Pangat, dan tugas kalian juga harus menjaga tamu hotel agar aman dari serangan Fong dan Pangat”


“Apa kami malam ini harus ke sana dok?”


“Saya pikir tidak usah, tapi ada baiknya kalian melihat ke sana, untuk memastikan keadaan disana apakah aman atau tidaknya”


“Iya mas, Tina pikir kita tidak usah ke sana, tetapi Tina merasa ada sesuatu di sekitar sana mas….jadi ada baiknya kita hanya jalan-jalan kesana saja, sesuai yang dikatakan  dokter Joko”


“Ya sudah kalau begitu dok,  saya coba untuk jalan ke sana… hanya untuk memastikan bahwa keadaan aman dan tidak ada apapun yang terjadi disana”


Aku rasa ada yang sedang terjadi disana, hanya saja aku tidak bisa mengira apa yang sedang terjadi itu, tapi aku merasa ada sesuatu di sekitar sana.


Keadaan hilangnya mayat pak Pangat ini aneh dan mengerikan, dan jangan sampai ada semacam mayat hidup yang jalan menuju ke rumah penggergajian.


Maka dari itu untuk memastikan keadaan ini, aku dan mas Agus harus ke sana, kita harus meyakinkan bahwa keadaan aman-aman saja.


“Yang terjadi saat ini bisa dikatakan adalah tanggung jawab kalian berdua, seh sebenarnya bukan kalian, tetapi karena saat di alam  ghaib kalian bersama Pangat, maka ini menjadi tanggung jawab kalian, saya tidak mau ikut campur dengan urusan mengerikan ini”


“Tenang dok, kita tidak akan mengikutkan dokter Joko, memang ini kesalahan fatal yang terjadi karena pak Pangat yang tidak bisa menahan keinginan untuk memiliki sesuatu”


“Sekarang kami mohon pamit dulu dok” kata mas Agus.


Saat ini belum tengah malam, masih pukul sebelas kurang, tetapi suasana jalan yang menuju ke arah desa sangat sepi, cukup mendukung perasaan aku yang sedang menyusuri jalan menuju desa dengan perlahan lahan.


Sengaja mas Agus tidak memacu motor milik pak Pangat ini dengan cepat, karena kami ingin menelusuri jalan dan memastikan tidak ada sesuatu yang sedang berjalan menuju ke arah rumah penggergajian.


Sorot lampu motor yang dibantu oleh penerangan jalan sangat membantu untuk mencari atau melihat sosok yang kemungkinan sedang berjalan menuju ke arah desa.


Tapi hingga sekarang sejauh mata memandang, tidak ada sosok yang sedang jalan menuju ke arah desa atau ke arah rumah penggergajian.


“Sejauh ini masih aman mas…. Gak ada tuih sosok yang menyerupai mayat hidup yan jalan menuju ke arah desa mas”


“Iya mbak… tapi sekarang kan kita masih di jalan pinggiran desa mbak, kita belum sampai ke daerah sana mbak”


“Mbak… seumpama nanti kita mungkin lihat pak Pangat disana, apakah leluhur mbak Tina bisa membantu kita mbak?”


“Wah Tina nggak tau mas… semoga saja mereka masih mau  membantu Tina… pokoknya kita usahakan semaksimal mungkin saja mas”


Motor masih melaju dengan lambat, masih menelusuri jalan yang menuju ke arah rumah penggergajian….


Tetapi hingga kami sudah sangat dekat dengan jalan masuk ke rumah penggergajian yang sekarang sudah beraspal, kami belum dan tidak melihat adanya hal aneh di sekitar sini.


Tidak ada penampakan pak Pangat yang mungkin jalan di sekitar sini….


“Mas, kita masuk ke sana atau gimana?”


“Gak usah mbak… kita balik ke losmen saja mbak… besok pagi kan kita ke sini lagi untuk melihat perkembangan disini dan siapa tau  besok ada paranormal yang akan bertugas untuk menetralkan keadaan disana mbak”


“Gak enak kalau kita jam segini masuk ke dalam proyek itu mbak, disangkanya kita mau ngapain ngapain mbak”


“Iya benar mas…lebih baik kita gak usah ngubek-ngubek hotel itu sebelum ada yang mengerikan disana, kita pura pura tidak tau apa-apa saja”


Bener mas Agus..lebih baik sebelum terjadi sesuatu, kita gak usah sibuk di sana, lebih baik tunggu hingga ada sesuatu baru kita lakukan apa yang harus dilakukan.


Lagi pula disana saat ini ada Jiang dan pak Cheng.. Mereka kan tidur di hotel itu, jadi apabila terjadi sesuatu disana, mereka berdua yang akan menanganinya.

__ADS_1


Sekarang aku dan mas Agus kembali ke losmen sebelum pak Jay menyuruh kami untuk tidur di mes hotel.


*****


pagi yang cukup  panas…


Aku dan mas Agus menuju ke hotel setelah sarapan pagi…


Kami rasa untuk saat ini tidak perlu ke rumah sakit dulu, aku merasa tidak enak dengan dokter Joko atas hilangnya secara ghaib jasad pak Pangat.


Jadi pagi ini kami langsung ke rumah penggergajian yang saja..


“Mas…. jalan yang menuju ke hotel ini sekarang bagus ya hehehe…. Sudah beraspal halus, beda dengan ketika disini masih berupa rumah mengerikan”


“Sama saja mbak… tetap mengerikan, yang sekarang kan hanya beda casing saja mbak….pada intinya sama saja lah”


“Tapi bagi orang awam, untuk saat ini tempat ini sangat indah, sejuk dan menyenangkan”


Aku dan mas Agus sedang melewati jalan yang menuju ke rumah penggergajian, eh hotel sih…


Jalan yang dulunya berupa tanah dan kerikil dan bebatuan itu sekarang sudah mulus… sudah beraspal..


Di sebelah kiri dan kanan sekarang ada lampu penerangan jalan yang terpasang zig zag antara kiri dan kanan. Dan lampu penerangan jalan itu katanya menggunakan tenaga cahaya matahari  yang tersimpan di dalam aki atau baterai.


Rumput liar dan tanaman semak belukar sudah terpangkas rapi,  sehingga tidak terkesan mengerikan dan liar, beberapa pohon yang menghalangi jalan pun sudah ditebang. Pokoknya jalan masuk ke area yang dulunya rumah penggergajian ini sekarang sudah berubah total.


Sengaja mas Agus menjalankan motor dengan pelan sambil menikmati udara pagi hutan dan jalan beraspal yang mulus…


Perlahan lahan kami akhirnya sampai di tikungan ke kiri yang menuju ke hotel atau tempat peristirahatan.


“Mas…. tempat ini nanti akan dikasih nama apa ya?”


“Hehehe mungkin rumah peristirahatan selamanya mbak  hihihihi”


“Hush ngawur ae mas…. “


“Iya mbak… kok aneh ya…. Ayo kita masuk ke dalam mbak”


“Tapi pintu pagar dan pintu utama itu masih tertutup rapat mas, kita ndak bisa masuk ke dalam”


“Bagaimana kalau kita ke bagian belakang rumah mbak. Siapa tau pintu bagian belakang masih ada pintu yang terbuka mbak”


Biasanya tukang itu jam delapan atau bahkan jam tujuh sudah mulai bekerja, tetapi disini saat ini tidak.. Saat ini sudah hampir pukul sembilan tetapi keadaan disini masih sepi sepi saja.


Sama sekali tidak ada kegiatan renovasi atau perbaikan, rumah penggergajian yang sudah berubah menjadi hotel ini sangat sepi, seolah olah kosong.


Aku dan mas Agus berjalan ke samping untuk menuju ke bagian belakang…. Tetapi ternyata bagian belakang ini sudah tertutup pagar.


“Gak bisa mbak….pagar sudah menutup jalan yang menuju ke belakang… Terpaksa kita  menunggu mereka bangun dulu”


“Ya sudah mas… sekalian nunggu pak Jay datang, kita tunggu di parkiran sini dulu saja mas”


Ada yang aneh disini, sudah hampir pukul sembilan, tetapi belum ada kegiatan sama sekali, bahkan pak Cheng dan Jiang yang harusnya tinggal disini juga belum keluar dari dalam rumah.


Padahal beberapa motor dan sepeda engkol masih terparkir di sini… ada tiga motor dan lima sepeda angin yang ditaruh di dalam bagian dalam halaman rumah penggergajian.


Berarti ada sekitar delapan orang yang ada di dalam, tapi kenapa hingga jam segini mereka belum juga bangun.


Aku yakin semalam pasti terjadi apa-apa dengan mereka, atau paling tidak mereka yang kerja disini meliht sesuatu atau penampakan…


Ketika jam digital mas Agus sudah menunjukan pukul sembilan lebih, pintu depan rumah penggergajian terbuka.


Salah satu pekerja yang kemarin sedang merenovasi bagian pondok keluar dari sana…


Dia keluar bersama satu orang yang lebih muda…


“Pak… kok baru dibuka pintunya” sapa mas Agus sambil berdiri menghampiri orang itu


“Oh.. sudah lama nunggu di depan pak?” tanya orang itu sambil membuka gembok pintu pagar halaman rumah atau hotel

__ADS_1


“Hampir setengah jam kami di depan sini pak” jawab mas Agus


“Kok baru dibuka pintunya pak…?”


“Iya pak.. Kami baru saja bangun…. Semalam kami lembur sampai pukul tiga pagi pak” jawab yang lebih muda.


“Oh gitu… saya pikir ada apa-apa disini pak” jawab mas Agus


“Hehehe disini tenang aman dan damai pak.. Yang bener itu bikin ngantuk pak hehehehe”jawab yang muda lagi


Kemudian satu persatu pekerja keluar dari dalam ruangan.. Termasuk  pak Cheng dan Jiang


Aku dan mas Agus tidak menghampiri atau memanggil pak Cheng dan Jiang dulu, kami biarkan mereka berdua yang mendatangi kami , sehingga tidak membuat curiga pekerja yang lainya.


Aku dan mas Agus duduk di parkiran.. Di semacam pengganjal roda mobil yang berjajar di lahan parkir. Pak Cheng dan jian datang menghampiri kami. Mereka membawa segelas plastik kopi.


“Eh Gus.. mbak Tina.. mau kopi?.. Kita ngobrol sambil minum kopi ya” kata pak Cheng


“Jiang, ambilkan dua gelas kopi buat mereka” suruh pak Cheng


“Pak Cheng…memangnya disini kalau kerja mulainya jam berapa?” tanya mas Agus


“Karena semalam kita lembur… mulai kerja ya jam 10 nanti Gus… semalam kita sampai jam tiga pagi, pokoknya bisa gak bisa hari ini sudah rampung semua.. Gitu kata mandor disini”


Jiang datang dengan dua gelas plastik kopi dan diberikan kepada aku dan mas Agus….


Kemudian Jiang duduk di sebelah kami bertiga di bantalan pengganjal roda mobil.


“Semalam disini… hmm kalau tidak salah jam dua belas hingga jam satu pagi banyak sekali yang berusaha masuk” kata pak Cheng dengan suara pelan


“Semalam itu berasal dari seberang sungai ya Jiang?” lanjut pak Cheng


“Iya pak… dari seberang sungai.. Mereka berduyun duyun datang ke sini, tetapi anehnya mereka tidak bisa masuk ke dalam area sini, seolah olah disini ada pagarnya”


“Apakah kalian berdua yang membuat pagar itu?” tanya pak Cheng


“Nggak pak…kami tidak bisa melakukan hal seperti itu.. Eh mungkin leluhur mbak Tina…mbak Tina ini kan keturunan  terakhir yang belum menikah dari  penduduk tengah hutan ini pak” jawab mas Agus


“Hmm mungkin juga ya… tapi kan mbak Tina tidak ada disini semalam, ngapain juga leluhur mbak Tina memagari area ini…. Mereka yang datang itu hanya sebatas pada area belakang.. Area sungai sana, mereka tidak bisa masuk ke dataran sini” jawab pak Cheng


“Tapi Inggrid eh Fong kok bisa pak.. Bahkan dia sempat tinggal disini dan menghantui rumah ini”


“Wah itu saya tidak tau mbak Tina.. yang pasti tadi malam itu mereka tidak bisa masuk area di atas sungai…bayangan hitam yang banyak itu hanya bisa berada di atas sungai saja… bener gak Jiang?”


“Iya pak.. Tapi tadi malam saya juga lihat ada yang sudah bisa ke halaman belakang.. Di dekat pondok pondok itu pak, tapi tetap tidak bisa masuk ke bangunan utama ini” jawab Jiang


“Eh pekerja lain apa ada yang lihat juga pak?”


“Rata-rata mereka kerja di dalam pondok Gus.. mereka sedang menyelesaikan detail detail yang ada di dalam tiap-tiap pondok, sedangkan saya dan Jiang ada di tengah halaman untuk membuat pondasi tiang yang digunakan untuk menggantung lampu petromak”


“Di tengah taman itu nanti akan ada dua tiang  tempat menggantung lampu petromak” lanjut pak Cheng


“Jadi saya dan Jiang tau persis yang sedang berusaha masuk ke sini, tapi Jiang tadi sempat lihat juga ada beberapa yang sudah masuk kesini” kata pak Cheng lagi


“Lalu apa yang harus kita lakukan pak?” tanya mas Agus


“Ya tunggu saja bos Jay….katanya dia akan membawa seorang paranormal kesini kan” jawab pak Cheng


“Oh iya pak… ada satu hal yang harus saya sampaikan ke bapak… ini soal raga teman saya yang membunuh Inggrid… yang ditahan di alam ghaib itu, Yang namanya pak Pangat itu pak”


“Kemarin raga dia  yang membusuk dan ditaruh di dalam kamar mayat itu hilang… dan tidak ada yang tau bagaimana bisa hilang, karena penjaga rumah sakit sendiri tidak melihat ada orang yang datang dan mengambil mayat yang ada di kamar mayat” kata mas Agus


Seketika wajah pak Cheng dan Jiang berubah.. Wajah mereka berdua menjadi tegang ketika mendengar bahwa raga pak Pangat hilang.


“Kenapa pak.. Apakah ada yang mengerikan dengan hilangnya raga itu pak?” tanya mas Agus pura pura goblok


“Fong…ilmu hitam yang dipelajari Fong… dia bisa menghidupkan yang mati, tetapi arwahnya tetap ditahan di alam ghaib… raga yang mati itu bisa menghilang dan bisa muncul di manapun yang ditentukan oleh Fong”


“Dan tentu saja itu sangat berbahaya….karena raga busuk itu bisa menjadi semacam mayat hidup yang bisa masuk ke manapun, karena sejatinya mayat itu tidak berenergi, tetapi mempunyai unsur merusak dan membunuh”

__ADS_1


__ADS_2