
Tadi setelah bak mandi penuh, aku langsung mandi tanpa memikirkan apapun, pokoknya mandi saja, dan untungnya perbanku tidak terkena air.
Kalau dibanding-bandingkan Burhan ini tidak serajin Mamad, kalau Mamad lihat bak mandi kosong, dia langsung isi dengan air yang dia timba dari sumur….
Tapi beda dengan Burhan……
Burhan tidak langsung mengisi bak mandi ini, hingga tadi tidak ada airnya sama sekali alias kosong melompong, atau malah bisa dibilang kering!
Tapi masak iya Burhan tidak mengisi bak mandi, apalagi sampai kosong melompong kayak tadi itu, macam bak kamar mandi yang sedang dikuras saja.
Tapi jangan suka berpikiran buruk, aku berusaha untuk berlogika dan berfakta saja..
Karena apabila semua yang kulihat disini kucoba untuk dipikir dengan kata-kata…’kok aneh, kok bisa gitu, masak iya sih’…. maka jadinya yang ada di pikiranku jauh dari logika.
Kalau sudah jauh dari logika maka yang muncul hanya pikiran-pikiran alam bawah sadar saja.
Disini aku berusaha untuk tidak memikirkan terlalu jauh tentang apa yang agak janggal, karena semua yang aku rasakan selama ini kelihatan karena rasa takutku dan pikiranku yang lepas dari logika.
Botol air mineral pemberian pak Pangat sudah kutaruh di meja kecil dalam kamar, hingga besok pagi setelah subuh aku bisa meminumnya.
Malam setelah jam enam petang aku dan Burhan duduk di depan rumah.
“Kemarin waktu kamu ke desa sebelah sungai rumah ini kau kunci kan?”
“Iya pak, sesuai dengan yang pak Agus bilang agar rumah ditinggalkan dalam keadaan terkunci”
“Memangnya kenapa pak, ada yang aneh?”
“Ndak papa mas, cuma mengingatkan kamu saja agar selalu mengunci rumah apabila kita sedang pergi”
“Waktu di rumah pak Wito gimana, sampean tidur di mana mas Burhan?”
“Saya ya tidur di kursi ruang tamu pak, rumah dia kecil sekali soalnya”
“Kenapa tidak di rumah pak Solikin?”
“Ndak pak, pak Solikin kan sedang sakit, makanya saya tidak mau mengganggu dia, paginya saja saya ke sana untuk mengajak dia kerja”
“Oh gitu, Besok mereka kerja lagi kan?”
“Iya pak, mereka akan kerja”
“Oh iya pak, besok telepon bos untuk minta solar, persediaan sudah menipis pak”
“Lho kok cepat habis ya mas, padahal jarang ada kerjaan kan mas”
“Mesin diesel yang dipakai itu model lama pak, sehingga boros bahan bakar”
“Oh iya pak Agus, ini kan sudah hari rabu jangan lupa untuk minta anggaran untuk beli kayu log dan untuk gaji karyawan untuk hari sabtunya pak”
Berarti besok sore aku harus telepon bos, untuk minta anggaran dana, tapi siangnya aku kan akan ketemu dengan Yetn dulu.
Berarti aku berangkat siang hari saja ke tempat mbak Tinanya, agar siangnya bisa ke tempat Yetno dan malamnya aku bisa interlokal.
__ADS_1
Semoga malam ini aku tidak terganggu oleh siapapun yang ada disini, aku ingin tidur nyenyak setelah beberapa hari ini aku tidak bisa tidur sama sekali.
Setelah makan malam seadanya, aku tidak langsung masuk kamar, tetapi aku duduk-duduk di depan rumah, aku masih ingin menikmati udara hutan pada malam hari.
“Pak Agus, saya tidur dulu ya, Seandainya nanti malam ada yang ngeri-ngeri lagi, tolong ketuk pintu kamar saya pak”
“Iya mas, saya masih kepingin di depan rumah dulu sebelum tidur”
Burhan sudah masuk ke kamarnya, sedangkan aku masih ingin sendirian duduk di depan rumah.
Sebetulnya ini belum malam, masih sekitar pukul 19.20, tapi bagi kami yang tinggal di sini, jam segini ini sudah malam.
“Hmmm apa yang sedang dilakukan Tina di sana ya, apakah dia sedang memikirkanku?
“Heheheh gak penting sekali c*k, mosok se Tina mau mikir keadaanku, asyu!
Cahaya lampu petromak yang terang itu memancar hingga ke halaman rumah tempat aku sedang duduk.
Keadaan diluar sini sangat sepi, yang ada hanya suara binatang malam dan belalang malam.
Tiba-tiba sudut mataku sempat menatap sesuatu yang berkelebat.
Hanya sudut mataku saja yang berhasil menangkap sekelebatan sesuatu yang berwarna hitam, karena ketika kutoleh tidak ada apapun.
Siapa lagi itu, dan kenapa harus mataku yang melihatnya. Mamad jelas tidak mungkin karena dia kan tidak mati, jadi seharusnya bukan hantu Mamad yang di sana itu.
Aku berusaha berpikir secara rasional saja, bahwa yang tadi sedang berkelebat itu hanya batang pohon yang tertiup angin.
Aku masih menikmati udara malam di depan rumah hingga sudut mataku melihat kelebatan sesuatu untuk kedua kalinya.
Aku jelas tau dan jelas merasa ada orang di antara pohon-pohon yang ada di depan ruman, dan jelas itu adalah orang, bukan mahluk halus atau sejenis lainya.
Bagaimana aku bisa yakin kalau yang sedang mengintip itu adalah manusia?
Karena tadi secara tidak sengaja kaki dia sempat menginjak ranting kering!
Tapi lebih baik aku menghindar saja, lebih baik aku masuk ke rumah, daripada ada apa-apa denganku.
Kututup dan kemudian kukunci pintu depan…
kulihat tempat pengisian minyak tanah pada lampu petromak, ternyata masih penuh, perkiraan kalau kondisi penuh seperti ini bisa bertahan sampai jam tiga pagi.
“Aku harus sholat, sesuai dengan apa yang pak Pangat omongkan, kalau sholat berarti aku harus ke kamar mandi dong untuk berwudhu”
Kamar ini mandi yang selalu gelap keadaanya baik siang maupun malam….
Heran juga…. harusnya kisi-kisi kamar mandi itu tidak perlu ditutup kertas semen, biarkan terbuka saja agar hawa segar pun masuk ke dalam.
Kubuka pintu kamar mandi yang keadaanya selalu tertutup.
Mungkin dikarenakan kusen pintu itu miring, sehingga pintu itu selalu menutup dengan sendirinya.
Kuambil air di bak mandi yang tadi ditimba oleh Burhan…
__ADS_1
Ketika kubuat untuk berkumur, rasa air ini kok agak berbeda.
Air ini rasanya agak berminyak dan agak bau…….
Aku sudah hafal yang namanya bau air sumur, air pam, atau air mineral kemasan.
Tapi air sumur ini kok agak gimana gitu, ada sedikit bau dan kalau disentuh dengan tangan kayak sedikit berminyak.
Apakah sumur belakang ini mulai tercemar?
Yah bisa saja sumber air ini mulai tercemar, apalagi sumur ini kan tidak jauh dari sungai, bisa saja air dari sungai masuk ke mata air sumur ini.
Mungkin memang seperti ini, tapi mungkin karena selama ini aku tidak pernah memperhatikan air sumur ini sehingga aku baru tau hari ini bahwa air sumur ini agak sedikit berbeda.
Tidak ada apapun yang terjadi ketika aku selesai menunaikan sholat isya, sehingga aku semakin yakin bahwa malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak.
“Hmm lebih baik ku ubah posisi tidur…kubalik saja posisi tidurku”
Sekarang aku tidur dengan posisi kaki di bagian kepala tempat tidur….
Karena aku curiga dengan bekas pembakaran kemenyan yang ada di kolong tempat tidur, tepat di bagian aku menyandarkan kepalaku.
Udara malam yang sejuk yang masuk melalui kisi-kisi jendela membuat aku merasa tenang dan akhirnya mengantuk.
*****
Aku terbangun!....
Keadaan kamar masih seperti biasa, lampu teplok pun masih nyala, tidak ada yang aneh seperti sebelumnya yang sangat menakutkan.
Posisi tidurku pun tidak berubah,....
Kuperhatikan kamar ini, ternyata masih seperti biasanya…
Kulihat jam tanganku, ternyata sekarang sudah pukul 23.50. sudah tengah malam, tapi..
Tapi aku harus buang air kecil, aku harus ke kamar mandi, cuma kok rasanya gimana gitu kalau harus ke kamar mandi.
Aku duduk di pinggiran tempat tidur sambil memandang pintu kamar.
“Apa yang akan terjadi apabila pintu kamar itu kubuka….”
Tentu saja tidak ada apa-apa karena di ruang tamu masih terang benderang, sinar lampu petromak masih kelihatan dari celah pintu kamar.
Aku melangkah menuju ke pintu kamar, rasa tertekan di kandung kemih makin memaksaku untuk segera menuju ke kamar mandi.
Aku tidak bisa menahan lagi……
kubuka pintu kamar….
“Selamat malam pak Agus….”
“Lho pak Solikin… mau apa disini?!”
__ADS_1
Aku kaget ketika kulihat Pak Solikin sedang duduk di ruang tamu dengan santainya, dia hanya tersenyum sambil melihatku yang sedang terheran heran ini.
“Silahkan kalau mau buang air kecil dulu pak Agus…….”