
Kecepatan mobil aku tambah, mobil berjalan lebih cepat dari pada sebelumnya. Pak Diran masih melihat ke belakang.
Pak Diran tidak atau belum berkomentar apa-apa, tapi ketika aku lirik, dari raut wajahnya kayaknya ada sedikit kelegaan.
“Tetap dalam kecepatan seperti ini pak Agus….mudah-mudahan kita akan aman, karena penjaga Gusta sudah menghajar beberapa yang mengikuti mobil ini”
“Tetapi jangan berharap dulu, karena di belakang mulai bermunculan yang aneh-aneh dari dalam tanah, mereka semua mengikuti mobil ini berjalan”
“Tapi mereka tidak menyerang kita pak?”
“Belum dan tidak, karena penjaga Gusta sekarang ada di belakang kita, sedangkan yang mengejar kira ada di belakang penjaga Gusta…”
“Sudahlah, pak Agus fokus di jalan saja, biar saya saja yang melihat ke belakang”
“Mas…. pak Diran, Gustin aneh, dia tersenyum dan tertawa sendiri, sebenarnya apa yang sedang terjadi pak Diran?” tanya Tina yang duduk di belakang
“Anak itu tau kalau akan bertemu dengan saudara kembarnya bu, dia tau kalau akan bersatu lagi dengan Gusta… anak yang luar biasa dan mempunyai kelebihan yang hebat” jawab pak Diran
Kurang beberapa meter lagi kami sudah sampai ujung jalan hutan, setelah ini kami akan belok ke kanan menuju ke rumah pak Diran.
Tetapi ada yang aneh…
“Pak Diran… yang ada di depan itu apa?” aku sekilas melihat sesuatu yang ada di ujung jalan yang menuju ke jalan besar
“Itu leluhur bu Tina yang berusaha menghalangi, mereka memasang semacam barikade tak kasat mata…. Tapi, tetap jalan terus dan tabrak saja pak Agus!” jawab pak Diran
“Penjaga Gusta yang akan membersihkanya” tambah pak Diran
“Pak, apakah kekuatan Gusta bisa melebihi leluhur TIna?” tanya Istriku khawatir
“Kekuatan murni.. Kekuatan yang belum tersentuh dosa…”
“Kekuatan dari anak kecil berumur satu tahun yang belum mengenal dosa dan masih murni pemberian dari Tuhan, itu bisa mengalahkan apa saja yang sudah pernah bersinggungan dengan dosa!”
Aku ragu, karena beberapa kali aku melihat seperti bayangan putih di pintu masuk jalan, seperti ada pagar tak kasat mata yang akan menahan mobil…
Tapi atas apa yang diomongkan pak Diran, aku terus saja jalankan mobil hingga dekat dengan pintu masuk atau batas antara jalan desa dengan jalan yang menuju ke dalam hutan.
Ketika mobil melewati semacam pintu masuk atau batas jalan, rasanya mobil ada yang menahan, sehingga aku harus menambah tenaga mobil dengan cara ngegas mobil.
__ADS_1
Sempat juga mobil tertahan dan akan berhenti, tetapi tidak lama kemudian kami bisa keluar ke arah desa..
“Yang tadi membantu kita adalah kekuatan Gusta, harap diingat pak Agus dan bu Tina, sekarang kalian tidak berteman dengan penghuni ghaib hutan, sekarang kalian buronan dari leluhur bu TIna” kata pak Diran
“Apa bisa pak, itu kan leluhur Tina sendiri pak”
“Memang leluhurmu bu Tina, tetapi sekarang kaliang dianggap menculik penerus dari paku bumi wilayah hutan, si cantik Gustin adalah penerus itu, sedangkan bu Tina saat ini sudah tidak mempunyai kekuatan lagi, karena sudah melahirkan keturunan sebagai penerus bu Tina”
Sekeluar kami dari kawasan hutan, pak Diran tidak khawatir lagi dengan yang mungkin akan mengikuti dan mencari kami.
Kami langsung menuju rumah pak Diran yang tidak jauh dari kawasan hutan, dan masih satu desa dengan bekas ruman TIna yang sudah dijual.
Setelah sepuluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai juga di depan rumah pak Diran.
Ketika kami sudah dekat dengan rumah pak Diran, cahaya lampu sorot mobil sempat mengenai Istri pak Diran yang sedang menggendong Gusta sedang berdiri di depan rumah..
Aneh istri pak DIran tengah malam ada di depan rumah sedang menggendong Gusta.
“Dari tadi Gusta tertawa terus, dan dia minta keluar rumah, apabila saya masukan ke dalam rumah dia menangis, tetapi ketika saya ajak dia di depan rumah tangisnya langsung berhenti dan tertawa-tawa”
Istri pak Diran menjelaskan kenapa kok ada di luar di depan rumah malam-malam dan menggendong Gusta ketika pak Diran tanya kenapa kok malam-malam gini ada di depan rumah.
“Bu, ini saatnya kita berpisah dengan Gusta… karena pak Agus, bu Tina, dan kembaran Gusta si Gustin akan segera pergi dari sini sekarang juga” kata pak Diran kepada istrinya
“Malam malam gini pak, apa tidak bisa menunggu hingga besok pagi?” tanya istri pak Diran
“Tidak bisa bu, tadi sudah ada yang menyerang keluarga ini, tetapi untungnya kami diselamatkan oleh energi Gusta yang tiap malam mengajak Gusta dan Gustin bermain di dalam kamar itu bu”
Wajah istri pak Diran mendadak sedih, aku tau karena Gusta sudah satu tahun lebih bersama keluarga pak Diran, tentu saja hal ini akan membuat sedih bu Diran. Tapi ini semua harus dilakukan agar keluarga kami bisa utuh lagi.
Segala urusan dengan rumah penggergajian dan penginapan adem ayem sudah saatnya kami tinggalkan, kami punya impian, aku punya keluarga yang harus aku hidupi.
Istri pak Diran menyiapkan semua perlengkapan Gusta, sedangkan pak Diran sibuk dengan mengamati sekitar rumahnya, dia merasa suruhan dari leluhur istriku masih ada di sekitar sini.
Tapi kembali lagi kata pak Diran, kita dilindungi oleh penjaga Gusta, tidak ada yang bisa menyentuh mobil dan keluara kami selama ada penjaga Gusta yang menjaga Gustin hingga mereka dewasa.
“Sekarang saatnya pak Agus, dan bu TIna pergi dari sini, selamatkan keluarga kalian dan pergi yang jauh hingga tidak ada yang mencari kalian lagi” kata pak Diran
“Kalian tidak perlu takut dengan apa saja yang akan menyerang dan mencari kalian, karena disini ada penjaga Gusta. Kalian akan aman apabila tetap bersatu sebagai keluarga, karena penjaga Gusta tetap akan menjaga Gustin hingga Gustin sudah tiba waktunya nanti”
__ADS_1
“Besok pagi saya akan telepon pak Hendrik pak, dan tentu saja saya akan kabari pak Diran juga. Pokoknya saya tidak akan melupakan jasa pak Diran dan ibu Diran”
“Sekarang kami mohon pamit dulu”
Istri pak Diran sempat meneteskan air mata, pun diwajah pak Diran nampak kesedihan. Tapi apabila jalan kami memang seperti ini ya harus kami jalani dengan kuat.
Tepat pukul dua malam mobil aku jalankan dan menuju ke kota, kami harus mencari penginapan sementara, karena istriku akan bertemu dengan pembeli rumahnya dalam waktu dekat ini.
“Mas, apa tidak sebaiknya kira cari penginapan di luar kota saja, jangan di kota ini mas”
“Iya, kita ke luar kota saja, eh kalau bisa untuk tanda tangan notaris lakukan di kota saja yank, jangan di desa sana”
“Iya jelas mas, kan kita harus cari notaris dulu, dan pastinya adanya di kota mas”
Istriku dan dua anakku duduk di belakang….
Suara-suara dua anak yang berumur satu tahun lebih itu begitu ceria meskipun hanya berupa suara-suara yang tidak jelas, tapi aku bisa merasakan adanya kebahagiaan dari kedua anakku ini.
Begitupun istriku yang ada di belakang bersama kedua anakku, dari kaca spion tengah mobil aku bisa lihat istriku kerap membersihkan iler (liur) yang menetes dari mulut dua anak yang sedang tertawa-tawa tidak jelas itu.
Jam tiga malam kami sudah tiba di sebuah hotel yang cukup bagus… kami akan tinggal disini hingga pembayaran rumah diselesaikan oleh pembeli rumah.
*****
Satu hari berlalu di sebuah hotel di luar kota, hidup kami biasa saja, tidak ada yang aneh-aneh ataupun ghaib yang menyerang. Aku bisa tidur dengan nyenyak.
Istriku mendapat kabar bahwa besok pembeli rumah akan datang, dan kami akan bertemu di kantor notaris yang ada di kota untuk menyelesaikan urusan jual beli rumah.
Dengan selesainya urusan jual beli besok maka kami bisa meneruskan perjalanan ke tempat tujuan kami.
Kedua anakku juga sudah berlaku normal, pagi hari mereka giat bermain, sementara malamnya mereka tidur dengan nyenyaknya. Sejauh ini semua sudah terlihat normal.
Saat ini aku merasa jadi ayah yang bahagia, meskipun aku belum tau apa yang akan terjadi esok hari dan seterusnya.
Yang penting kami sudah pergi dari hutan yang membuat beberapa tahun kehidupanku penuh dengan ketegangan dan kengerian.
Apabila semua sesuai dengan rencana, maka setelah pembayaran hasil penjualan rumah, kami akan pergi ke pulau B, nanti disana akan ada teman dari pak Hendrik yang akan membantuku…
Kami akan menjadi keluarga yang normal dan bahagia dengan dua anak kembar yang akan menjadi dewasa.
__ADS_1
\=====SELESAI=====