
Aku ada di mobil ambulan dengan mayat Mr X yang sudah membusuk di bagian belakang mobil, tetapi untungnya mayat itu sudah dikafani dan dimasukan ke dalam peti mati sehingga katanya tidak menimbulkan bau.
Mobil ambulan yang aku naiki ini posisinya ada di depan mobil pak Jay… dan posisi kami sekarang sudah akan ke arah luar kota….
Tadi sebelum berangkat aku dan mbak Tina , juga sopir ambulan itu sempatkan diri untuk sholat maghrib dahulu., yah kami meminta perlindungan dari Allah agar perjalanan ini lancar hingga sampai tujuan.
“Mayat itu sudah membusuk ya pak?” tanya Sopir ambulance dengan suara pelan
“Kok bapak bisa tau?”
“Iya.. saya kan sudah biasa membawa mayat pak… dan mayat yang ini sudah bau” kata sopir itu lagi
“Ah masak sudah bau pak, kok saya tidak merasa bau pak?”
“Hehehe, saya sudah ratusan kali membawa mayat pak, sehingga saya bisa menebak dari bau yang muncul.. Meskipun sudah ada di dalam kotak, dan sudah diberi kain kafan, tetapi bau busuk itu masih tercium pak” kata sopir ambulan itu.
“Oh gitu ya pak, saya kok tidak mencium aroma sakali”
“Yah mungkin pak Agus belum peka saja, nanti lama kelamaan akan bau juga, karena lama-lama mayat itu sudah tidak membeku… makanya dikasih kain kafan dan diberi peti seperti yang ada di di belakang itu untuk meminimalisir bau busuk”
“Oh iya, nanti ini akan dikirim ke mana pak Agus?”
“Saya belum tau pak, tunggu info dari bapak-bapak yang ada di mobil belakang saja, yang penting sekarang kita menuju kearah rumah sakit dulu saja sambil menunggu informasi lebih lanjut”
Tiga puluh menit…… aku mulai mencium aroma yang kurang sedap… yah walaupun cuma aroma busuk itu hanya sesekali masuk ke hidungku, tapi bau busuk ya tetap bau busuk.. Lama-lama aku mual juga.
“Pak Agus.. lebih baik kita matikan acnya saja, dan mulai buka jendelanya saja pak… bau busuk dari mayat itu mulai memenuhi mobil ini”
__ADS_1
“Iya pak..benar bapak, saya sudah mulai mencium bau busuk”
Kubuka jendela mobil yang sudah hampir setengah perjalanan menuju ke arah desa tempat hotel itu berada..,. Tapi aku gak berani bilang ke sopir ambulance ini apabila mayat itu kita bawa ke hotel…
Harusnya pak Jay hubungi dokter Joko dan meminta saran dari beliau tentang apa yang harus kita lakukan dengan mayat ini.
Satu jam perjalanan bau busuk ini semakin mengular dan membuat perutku mual mual..
“Pak. bisa berhenti sebentar.. Saya mau muntah pak, gak kuat dengan bau yang ada di sini”
“Maaf pak, sesuai peraturan, mobil ambulance yang sedang bertugas dilarang berhenti. Apalagi dari rumah sakit tadi saya sudah menyalakan lampu strobo”
“Di laci situ ada tas kresek, sengaja saya bawa untuk penumpang yang akan muntah pak” tunjuk sopir ambulan itu pada laci mobil
Tiba-tiba hp milik pak Jay berdering… mungkin pak Hendrik yang akan mengabari aku ke mana kita akan membawa mayat busuk ini.
“Kita langsung ke hotel saja pak Agus… disana sudah menunggu pak Diran dan Jiang, nanti juga dokter Joko akan kita jemput untuk melakukan pembedahan disana saja” kata pak Hendrik melalui sambungan ponsel
Waduh kita langsung menuju ke hotel Singgasana Adem Ayem yang mengerikan… semoga nanti disana ada bu Tugiyem dan Kyai Dollah juga.. Terus terang aku gak berani kalau ambulance ini tiba disana sebelum mobil pak Jaya yang tiba disana duluan
“Eh sesuai dengan arahan dari mobil yang ada di belakang, kita nanti ke hotel Adem Ayem pak” kataku kepada sopir ambulan
“Lho ke sana lagi.. Bukankah disana sudah ditutup karena banyak pembunuhan yang aneh pak Agus?”
“Saya tidak tau pak. Nanti dokter Joko akan datang juga disana”
“Maaf ya pak Agus.. bukannya saya lancang, tetapi ketika saya dan rekan-rekan melakukan evakuasi mayat disana….”
__ADS_1
“Salah satu mayat yang saya bawa menuju ke rumah sakit yang ada di kota S itu sempat memberikan tanda melalui mata batin bahwa disana ada sesuatu yang sangat jahat, dan dia mati karena sesuatu yang jahat itu pak”
“Saya sudah puluhan kali bahkan ratusan kali membawa mayat, dan semakin hari mata batin saya semakin tajam, kadang saya mendengar teriakan kesakitan, kadang saya mendengar alunan pembacaan kitab suci, kadang mayat itu mencoba berinteraksi…..”
“Pokoknya macam-macamlah pak Agus, makanya saya kadang sudah kebal dengan hal-hal begituan, tetapi yang saya tidak kuat itu adalah bau busuk…karena kadang mayat itu juga berbau busuk seperti yang ada di belakang kita ini”
“Saya pernah tiga kali mengalami kejadian aneh…. ketika saya sedang membawa ambulan sendirian dengan mayat di belakang, ketika akan berangkat dari rumah sakit, tiba-tiba ada orang naik dan duduk di tempat yang pak Agus duduki ini”
“Saya pikir dia adalah anggota keluarga dari yang meninggal… ya saya ngobrol biasa saja tanpa ada rasa takut. Sesampai di tempat tujuan, dia juga turun dan mengucapkan terima kasih…pokoknya biasa saja lah pak”
“Tapi ketika saya ketemu salah satu keluarganya untuk memberikan dokumen dari rumah sakit, saya sempat cerita ada salah satu keluarga yang duduk di samping saya dan cerita banyak sekali agar saya tidak ngantuk selama perjalanan”
“Setelah saya ceritakan ciri ciri fisik yang duduk di samping saya, sanak keluarga yang sedang bicara dengan saya itu terkejut, karena yang menemai saya selama perjalanan itu adalah keluarganya yang meninggal” kata sopir itu sambil tersenyum
“Wah ngeri juga pak….”
“Sebenarnya gak ngeri pak Agus, hanya saja yang meninggal kan hanya ingin jasadnya dikirim dengan baik sampai ke rumahnya.. Semua roh pasti kepingin jasadnya dikirim ke keluarganya dalam keadaan baik kan pak” jawab sopir itu lagi
Waduh… apa yang dikatakan sopir ini benar, siapa yang gak kepingin jasadnya dikubur di kampung halamanya yang dihadiri oleh sanak keluarganya…
Trs bagaimana dengan mayat yang ada di belakang ini… ah nggak akan terjadi apa-apalah.. Perjalanan masih satu jam lagi, semoga tidak terjadi apa-apa hingga sampai ke hotel Singgasana Adem Ayem.
Suasana hening, tidak ada pembicaraan sama sekali dengan jendela mobil ambulan yang kubuka separuh, agar bau dari mayat itu nggak terus menerus masuk ke hidungku.
Kulirik pak Sopir, wajah dia serius melihat jalan yang ada di depanya, dia sama sekali tidak menoleh ke arahku, ada bulir keringat bergerombol di dahinya…
Coba aku ajak dia bicara…. Mungkin dia sedang ngantuk.
__ADS_1
“Pak.. eh bapak sudah lama kerja di rumah sakit itu?”
“Sudah pak” jawaban singkat tanpa menoleh ke arahku sama sekali, padahal sebelumnya dia bicara santai sambil sesekali menoleh ke aku.