
“Lebih kencang lagi pak Parlan… saya rasa cahaya yang ada di belakang kita itu bukan dari teman kita” kata pak Diran
Ambulan sudah keluar dari area hutan hotel, dan berbelok ke arah kanan, ke arah desa mbah Tina atau ke arah kota…
Kulihat mbak Tina yang belum berubah, dia terlihat masih menggunakan pakaian adat kebesaran yang kayak ada di film-film kerajaan gitu.
Mbak Tina masih menutup matanya, aku tidak tau sampai kapan dia akan seperti ini, hingga kapan dia akan sadar..
“Pak Parlan kondisi bensin gimana pak?”
“Masih ada kurang dari separuh pak Agus” jawab pak Parlan
“Kenapa pak Agus tanya soal bahan bakar mobil ini?” tanya pak Diran
“Kita kan tidak tau sampai kapan mbak Tina seperti ini pak, sedangkan tadi di belakang kita ada cahaya putih yang kayaknya mengikuti kita pak”
“Yah semoga semua jalan sesuai rencana pak Agus, semoga mbak Tina cepat berubah dan sadarkan diri” jawab pak Diran
Mobil berjalan terus menuju ke arah kota…
Sekarang sudah jam tiga lebih, satu jam lagi sudah subuh, masak sih sudah ada matahari terbit nanti masihada saja yang ngejar mbak Tina…
Aku duduk bersandarkan di kursi model samping kayak angkot pada mobil ambulance yang terus berjalan….
Kulihat wajah yang ada di tubuh mbak Tina…
Wajah itu sangat cantik, khas perempuan jawa… aku tersenyum sambil terus memandangi wajah yang ada di wajah mbah Tina ini….
Terus kupandangi dan aku coba rasakan dengan penglihatanku wajah perempuan cantik yang ada di depanku ini.
“..…Putar mobil ini mas Agus.. kembali ke hutan….jangan bawa Tina terlalu jauh dari hutan….”
Aku terbelalak…..kulihat mbak Tina sekali lagi. Dia masih pingsan!
Kulihat pak Diran dan pak Hendrik, mereka berdua masih dengan lamunannya sendiri-sendiri, berarti mereka tidak mendengar suara tadi…. Berarti hanya aku saja yang mendengar suara yang mirip dengan suara mbak Tina itu.
Kulihat sekali lagi wajah mbak Tina, tidak ada yang berubah, dia tetap menutup mata dan terlihat cantik… tapi siapa tadi yang bicara?
“....Mas Agus, ayo cepat kita harus ada di dekat hutan… ini yang suruh Nyai Kembang Melati sendiri….”
Ancik!... suara itu muncul lagi… kulihat pak Hendrik dan pak Diran masih duduk dengan tenang, mereka jelas tidak mendengar suara tadi.,
“Eh pak Diran… “
“Apa pak Agus?”
__ADS_1
“Eh pak Diran apa dari tadi gak dengar mbak Tina bicara?”
“Nggak pak.. Dari tadi saya hanya terus waspada dengan keadaan di mobil ini.. Memangnya ada apa dan mbak Tina bicara apa pak Agus?”
“Tadi mbak Tina bicara kalau kita disuruh balik ke hutan, dan jangan jauh jauh dari hutan. Dan kata mbak Tina yang suruh itu adalah Nyai Kembang Melati sendiri”
Pak Diran diam sesaat, sepertinya dia sedang berpikir….
“Ada apa pak Diran?” tanya pak Hendrik yang ada di sebelahnya
“Tadi kata pak Agus, dia mendengar suara bu Tina yang menyuruh kita balik ke hutan, dan jangan terlalu jauh dari hutan” jawab pak Diran
“Apa benar begitu mas Agus?” tanya pak Hendrik
“I..iya pak Hendrik, bahkan dia bicara hingga dua kali pak”
Pak Hendrik diam dan kemudian memandang mbak Tina yang masih berwujud Nyai Kembang Melati. Kemudian pak Hendrik melihat aku dan pak Diran.
“Kalau memang begitu ya harus kembali ke hutan.. Bagaimana menurut pak Diran?” tanya pak Diran
“Ya kalau memang benar keadaanya seperti itu ya kita harus kembali ke hutan lagi pak Hendrik… tapi apa pak Hendrik dan pak Agus yakin dan percaya dengan suara itu?
“Gimana pak… ya percaya tidak percaya ya tadi memang ada yang membisiki saya untuk jangan terlalu jauh dari hutan pak”
“Ya sudah kita bertiga sepakat bahwa tetap kembali ke hutan.. Apapun resikonya ya harus kita hadapi” kata pak Diran
“Pak Agus.. tolong pindah posisi duduknya.. Saya mau bicara dengan dokter Joko” kata pak Diran yang duduk diantara aku dan pak Hendrik
“Eh dok… ada baiknya kita ke hutan lagi saja” kata pak Diran setelah dia pindah posisi duduk dekat dengan kursi depan
“Ada apa pak Diran, bukanya kita disuruh membawa bu Tina jauh hingga dia sadar kembali pak” jawab dokter Joko yang ada di sebelah supir
“Iya benar dok, tapi barusan pak Agus mendengar suara mbak Tina yang mengatakan jangan terlalu jauh dari hutan… yah mungkin ada benarnya juga, karena daearah kekuasaan leluhur bu Tina dan mungkin juga Nyai kembang Melati ada disana”
Pak Parlan memelankan laju ambulan, karena dia mendengar pembicaraan pak Diran dan dokter Joko. tapi mobil tidak sampai berhenti, hanya mengurangi kecepatannya saja.
Saat ini sudah hampir pukul empat pagi…
“Bagaimana dok?” tanya pak Parlan
“Ya sudah pak Parlan kita kembali saja ke sekitar hutan hingga bu Tina sadar… kita tetap waspada, dan tabrak saja apabila ada sesuatu yang berusaha menghalangi kita pak”
Pak Parlan memutar balik mobil ambulance, kemudian dengan kecepatan sedang mobil berjalan kembali ke arah hutan. Pak parlan selalu menggunakan lampu jauh agar bisa melihat sesuatu yang jauh di depan.
Mobil terus melaju ke arah hutan…
__ADS_1
“Pak.. yang ada di depan itu apa?” tanya pak Diran yang sekarang memperhatikan kaca depan
Tidak ada jawaban dari dokter Joko dan pak parlan, mereka berdua juga sedang memperhatikan sesuatu yang ada di kejauhan.
Aku berusaha melihat apa yang ada di depan, karena dudukku sekarang ada di tengah antara pak Diran dan pak Hendrik menyebabkan aku kesulitan melihat apa yang ada di depan sana
“Pelankan dulu mobilnya pak Parlan” kata dokter Joko
“Sepertinya yang ada di depan itu mayat Pangat yang tadi kita tabrak… dia sekarang sudah tidak mempunya kaki, dia hanya ngesot dengan menggunakan satu tangan saja” gumam dokter Joko
“Lanjut pak… tabrak lagi saja!” suruh dokter Joko
“Tabrak hingga tidak ada yang tersisa lagi” kata dokter Joko lagi
Pak Parlan menambah kecepatan mobil….
Semakin dekat.. Semakin dekat.. Ternyata benar, itu adalah mayat Pangat yang sudah gak karu karuan..
……BRAAAK….
Mayat Pangat untuk kedua kalinya ditabrak oleh mobil ambulan yang dikemudikan pak Parlan dengan sangar.
Ngeri juga mayat Pangat ini, dia sudah bisa ngesot hingga keluar dari wilayah hutan, sudah ada di jalan raya yang menuju ke desa!
“Di depan kita sudah jalan yang menuju ke arah hotel… gimana kita masuk ke dalam atau gimana pak Agus?” tanya dokter Joko
“Kita masuk pak… langsung ke tengah hutan saja”
Mobil berbelok ke jalan yang menuju ke hotel.
Dengan kecepatan pelan dan menggunakan lampu jauh, kami yang ada di dalam mobil berusaha memperhatikan apa saja yang aneh di sekitar sini.
Perlahan lahan…. Hingga sekarang kami sudah ada di tengah jalan yang menuju ke hotel..
Anehnya lampu penerangan pinggir jalan yang harusnya otomatis menyala sekarang sudah mati semua, padahal ketika kami pergi dari sini lampu penerangan jalan itu masih nyala.
Aku lihat mbak Tina, siapa tau ada bisikan dia lagi…
Tiba-tiba bau bunga… tepat di tengah hutan, di tempat biasanya dulu aku dan mbak Tina sembunyi ketika masalah narkoba itu… di tempat ketika aku dan mbak Tina mengunjungi mbah Sutinah.
Pak Diran dan pak Hendrik saling pandang karena rasa cinta….
Eh salah…
Pak Hendrik dan pak Diran saling pandang karena mungkin mereka juga mencium bau bunga melati yang semakin tajam.
__ADS_1
Aku tau ini adalah sesuatu yang akan membantu kami… tapi ketika aku melihat mbak Tina…
Mbak Tina eh Nyai kembang Melati membuka matanya.. Dalam keadaan masih terbaring dia membuka matanya…