
“Ternyata pagar ini terkunci mas… bukannya mas Agus punya kuncinya?”
“Nah itu dia mbak, saya lupa naruh dimana kunci-kunci itu waktu terakhir kali kesini, tapi saya kira kunci-kunci gembok itu sudah diganti mbak”
“Hmm coba lihat pintu depan itu, juga ada gemboknya kan mbak”
“Iya mas, coba kita masuk ke sana lewat pintu rahasia saja mas”
“Ayo mbak, pintu yang tembus kamar Mamad saja dulu yang kita coba mbak”
Kami menuju ke samping rumah, ketika tepat ada di samping kamar Mamad, ternyata pintu rahasia itu sudah ditutup rapat menggunakan kayu kayu berbentuk papan yang terpaku rapat.
“Lewat sini juga gak bisa mbak, sudah ditutup rapat menggunakan beberapa papan kayu, kita coba ke samping, yang dekat dengan tempat pembuatan palet saja mbak”
“Tina kok gak yakin ya mas, bisa saja pintu rahasia yang ada di sebelah palet itu juga sudah disegel dengan papa-papan kayu juga mas”
“Yah..kita lihat dulu saja mbak…. Tapi yang mengerikan itu mbak hehehe… lihat rumput liar dan semak belukar yang tumbuh subur hampir setinggi dada kita”
“Saya ragu kalau harus menerobos semak belukar itu, takutnya ada binatang yang mengerikan dibalik semak itu”
“Benar juga mas…. Tina yakin kalau pintu yang ada di samping itu pasti juga sudah disegel juga mas…. Eh kita coba pintu yang ada di belakang mas, yang dekat dengan pohon beringin”
“Itu kan dekat dengan wilayah Inggrid mbak Tina, apa gak takut kalau kita ke sana mbak?”
“Inshaallah nggak papa mas….kita coba dulu, kalau memang gak bisa, terpaksa kita dobrak pintu depan itu mas”
Kami menggunakan motor pak Pangat untuk menuju ke arah belakang rumah, tetapi tepat di belokan yang mau ke arah sungai, atau ke arah belakang rumah..kami berhenti sebentar untuk mempelajari wilayah ini.
Ternyata jalur menuju ke belakang rumah relatif aman , karena rumput dan semak belukar yang ada di belakang rumah ini tidak sesubur yang ada di depan sana.
“Mbak Tina tunggu saja di sini, saya akan lihat pintu yang ada di belakang pohon beringin itu dulu mbak”
“Kita jangan berpisah mas, ingat kita ada di wilayah yang berbahaya, apapun bisa saja terjadi disini mas”
“Ya sudah mbak, ayo kita ke sana….”
Pohon beringin ini tetap saja sangar, dan kelihatan mengerikan juga hehehe, meskipun sore hari banyak juga putih-putih yang bergelantungan di atasnya. Mata mereka merah dan melotot ke arah kami berdua.
Aku jelas gak suka kalau ada yang melotot ke arahku, jelas kubalas dengan mata melotot juga ke tante-tante berdaster putih dengan rambut awut awutan itu.
“Pintu yang ini masih bisa kita masuki mbak… tapi rumput dan ilalang yang ada di dalam sana itu tingginya lumayan juga”
“Jangan mas…jangan mengambil resiko, ingat mas ilalang dan semak belukar yang rimbun dan lembab itu adalah sarang yang tepat untuk binatang panjang yang menjijikan dan mengerikan mas”
“Ya sudah kalau begitu mbak, kita dobrak saja pintu depan rumah. Kita cari batu besar dulu mbak, untuk memukul gembok yang terpasang di daun pintu”
*****
Aku dan mas Agus melompati pagar depan rumah penggergajian setelah sebelumnya kami sembunyikan dulu motor pak Pangat diantara pohon-pohon yang ada di depan rumah.
“Gembok pintu rumah ini gembok kecil dan murahan, bisa kita buka dengan memukul menggunakan palu atau batu kali. Berbeda dengan gembok waktu saya ada disini mbak, gembok besar dan mahal”
Setelah beberapa kali pukulan menggunakan batu kali yang tadi kami temukan di pinggir samping rumah, akhirnya gembok itu putus juga, benar mas Agus , gembok kecil murahan itu mudah untuk dihancurkan.
Hari sudah semakin sore, keadaan di sekitar sini berangsur angsur menjadi gelap, kami harus masuk dan segera mencari lampu minyak dan lampu petromak.
“Mbak… saat-saat yang mengerikan, kita harus buka pintu rumah ini setelah setahun saya tidak pernah masuk ke dalam sini”
__ADS_1
“Bismillah mas….”
Mas Agus menekan handle pintu depan, kemudian perlahan lahan dauh pintu itu dia dorong ke dalam.
Yang pertama kami rasakan adalah bau pengab yang menyeruak keluar, dan setelah itu adalah kegelapan yang ada di dalam rumah.
Kami belum berani masuk, selain menunggu di depan pintu, kami juga menunggu sesuatu yang tidak pasti, atau menunggu sesuatu yang akan keluar dari sana.
“Mbak … tolong ambilkan senter besar yang tadi kita beli di kota. Saya merasa di dalam sana kok penuh dengan bahaya hehehe”
“Maksud saya bukan bahaya mahluk astral, tetapi binatang-binatang dari luar yang masuk ke dalam rumah setelah rumah ini sudah lama kosong”
“Kalau makhluk sebangsa demit sih, saya yakin pasti banyak sekali di dalam rumah ini mbak”
“Sik mas. Tina buka tas ranselnya dulu, tadi senter itu Tina taruh di dalam tas ransel mas”
Tadi siang kami sempat membeli senter, semprot serangga dan nyamuk, beberapa pisau yang ukuranya besar, korek api, lilin, minyak tanah,dan spiritus.
Kami juga membawa beberapa mie instan dan beberapa kebutuhan untuk mandi.
Nyala cahaya senter itu sangat terang, karena memakai beberapa baterai besar sebagai daya untuk menyalakan bohlam senternya.
“Hmm keliatanya sih aman mbak, saya akan masuk ke dalam dulu mbak, saya lihat dulu keadaan di dalam rumah”
“Mas.. untuk masalah melihat dah cek keadaan rumah itu nanti saja, yang penting cari lampu petromaks nya dulu dan dinyalakan, agar seluruh ruangan rumah ini kelihatan”
Kenapa aku suruh mas Agus untuk menyalakan lampu petromaks itu dulu, karena rumah ini sekarang penuh dengan demit kuburan yang mengerikan.
Aku gak tau mereka ini berasal dari mana, yang pasti mereka yang ada di dalam rumah ini berbeda dengan yang ada di atas pohon beringin.
Aku lebih takut dengan yang beginian dari pada macam tante-tante berdaster putih lusuh yang suka hinggap di atas pohon.
“Mbak Tina tunggu saja disini sambil memegang senter, arahkan senter itu ke ruang tamu saja, karena lampu petromak itu harusnya ada disana”
Terus terang, dari tadi aku belum berani melihat secara langsung yang ada di dalam ruang tamu rumah, tadi aku hanya melihat sekilas saja, dan dengan sekilas saja aku bisa tahu bahwa rumah ini keadaannya sangat ramai.
Ramai dengan gelandangan ghaib yang bentuknya aneh aneh, mereka yang selama ini gentayangan entah itu korban tabrak lari, korban aborsi, atau korban pembunuhan…., sekarang mereka mempunyai rumah disini.
Aku takut?..... Jelas aku takut melihat bentuk mereka yang aneh dan mengerikan.
Mending aku lihat tante-tante berdaster putih yang suka tertawa cekikikan dikala senang dan susah.
Akhirnya mas Agus keluar dengan membawa sebuah lampu petromaks.
“Mas… banyak sekali demit yang ada disini, tapi berbeda dengan jenis macam poci, mbak Kunti, dan sejenisnya. Yang ini bentuknya mengerikan dengan tubuh yang tidak utuh lagi”
“Ya sudah biarkan saja mereka ada disini, kalau bisa diusir ya diusir saja dulu mbak, tetapi kalau tidak mau diusir ya jangan sampai mereka mengganggu kita”
“Iya mas… eh gimana lampu petromaks itu mas”
“Semoga kaos lampu petromaks ini masih bisa digunakan mbak, tolong arahkan senter ini ke lampu ini, saya akan periksa keadaan kaos lampunya”
“Hmm ternyata masih bisa digunakan, meskipun kaus lampunya sudah berwarna coklat, dan waktunya untuk diganti”
Mas Agus mengambil minyak tanah dalam wadah jerigen kecil dan sebuah botol spiritus.
Minyak tanah dituang ke dalam wadah lampu petromak, sedangkan spiritus dituang di dekat kaos lampu. Kemudian mas Agus memompa lampu itu sebelum dinyalakan.
__ADS_1
“Nah berhasil mbak… lampu ini masih terang sekali, ayo kita masuk rumah sekalian bersih-bersih bagian ruang tamu yang akan kita tempati ini saja dulu, untuk ruangan yang lainya besok pagi saja kita lakukan”
“Gak terlalu kotor hanya ada debu debu halus, beberapa puntung rokok, dan sarang laba-laba yang ada di tiap ujung plafon”
“Lha itu kenapa tadi saya beli obat semprot serangga, karena saya mengidap arachnophobia mbak…saya sangat takut dengan laba-laba, hiiii merinding rasanya banyangin laba-laba itu mbak”
“Kalau bisa tolong mbak Tina saja yang masuk ke dalam mbak… saya takut sekali melihat mereka yang bergelantungan dengan ukuran besar itu hiiii!”
“Biar Tina saja yang masuk untuk menyemprot laba-laba itu dulu mas, mas Agus tunggu saja di depan pintu masuk rumah”
Benar kata mas Agus, ternyata banyak sekali hewan berkaki delapan yang ukuranya besar-besar, untungnya aku bukan perempuan yang takut dengan laba-laba.
Setelah laba-laba yang ada di ujung plafon ini kusemprot hingga bersih, mas Agus baru berani melongok untuk melihat lihat keadaan rumah ini.
“Kayaknya sudah aman ya mbak?”
“Iya mas… ayo masuk, kita bersihkan ruang tamu ini dulu mas….oh iya, dimana sapunya mas?”
*****
Tepat pukul 20.00 keadaan ruang tamu rumah penggergajian ini sudah bersih, debu yang berserakan sudah tidak ada, beberapa puntung rokok yang kemungkinan jaman dulu ketika ada kelompok Wandi disini pun sudah kami buang.
“Sekarang untuk sementara kita hanya bisa tinggal di ruang tengah saja mbak, eh mbak Tina…bagaimana dengan aktifitas demit yang ada disini?”
“Kayaknya sebagian mereka sudah pergi mas, tinggal beberapa dari mereka yang masih ada disini, dan wajah mereka menunjukan kemarahan”
“Biarkan saja mbak, pokoknya tidak mengganggu kita yang sedang ada disini”
“Sekarang yang bisa kita lakukan apa mas?”
“Ya hanya bisa menunggu saja mbak, menunggu Inggrid atau suruhannya datang”
“Kita tidur bergantian ya mbak, kalau salah satu mulai ngantuk, maka yang satunya harus berjaga jaga, jangan sampai kita berdua tertidur disini”
“Iya mas… Tina kayaknya blum ngantuk untuk saat ini mas. Eh udah jam berapa sekarang mas?”
“Sekarang udah jam 21.00 mbak…”
“Kalau sudah ngantuk tidur saja dulu mbak”
“Iya mas… kayaknya Tina sudah ngantuk ini mas…”
Ketika aku akan memejamkan mata karena rasa kantuk yang tidak tertahankan, tiba-tiba mendadak muncul wajah Inggrid di depan wajahku, Inggrid dengan senyuman anehnya.
Kedua tangan Inggrid berada di leherku, dia akan mencekikku….!
“MAAAASSSSS… HEH..HEH…HEH….”
“TOLOOONG MAAASSSS….”
Aku berteriak sekuat tenaga ketika kedua tangan Inggrid mencekik leherku dengan kuat.
Tiba-tiba tubuhku goyang goyang.. Kemudian aku merasa ada tamparan di wajahku….
Tubuhku bergoyang goyang dengan keras…..
“BANGUN MBAK!!!..AYO BANGUUUUUUN!!!” sekilas aku mendengar suara mas Agus yang memanggil namaku berulang kali.
__ADS_1