RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
23.MAKAN SIANG DI RUMAH MBOK YEM


__ADS_3

“Permisi… Assalamualaikum…”


Beberapa kali ku teriakan salam di depan rumah pak Solikin yang hanya beberapa meter jaraknya dari rumah almarhum mbah Karyo, tapi belum ada jawaban juga


“Waalaikumsalam…siapa ya?.... oh ada pak Agus, wah ada apa ini kok bos tau-tau datang ke sini”


Pak Solikin keluar dari dalam rumahnya, dia hanya memakai sarung dengan atasan kaos dalam saja


“Apa ada yang bisa saya bantu pak Agus, kami mungkin baru bisa kerja besok pak, sesuai dengan adat disini yang tidak boleh ada kegiatan setelah ada orang yang meninggal di sini”


“Maaf pak saya bukan mau kabari untuk bekerja hari ini pak, tapi saya mau kabari apabila Mamad tadi malam meninggal di desanya, karena ditabrak bus ketika akan menyeberang jalan pak”


“Innalillahi wainnailaihi rojiun.....”


Wajah pak Solikin mendadak tegang, dia menatap tanah yang ada di depan..sesekali dia melepas pandangan ke seberang rumah dengan wajah yang tegang


“Kenapa mulai lagi kejadian ini…. hhmm, kenapa beliau …eehm jangan sampai terulang lagi”


Pak solikin bergumam dengan tatapan mata yang kosong, seakan akan dia sedang mengingat ingat sesuatu. seakan akan dia pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya.


“Maksudnya apa ya pak, kok saya tidak paham sama sekali pak?”


“Ndak papa pak Agus, eh pak Agus besok kami akan bekerja seperti biasa kok. Eh kabar tentang Mamad akan saya teruskan kepada rekan rekan yang lainnya”


Pak Solikin berusaha bersikap tenang, tetapi aku bisa lihat kecemasan yang ada di wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang sedang dia rasakan.


Pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan penduduk sini kepadaku, aku yakin itu, hanya saja kenapa mereka tidak berterus terang saja kepadaku.


“Tapi bagaimana dengan pengganti mbah Karyo pak Solikin, tadi sih saya sudah kabari ke bos kita pak, tapi belum ada tanggapan yang serius dari mereka”


“Eh tentang pengganti  mbah Karyo, eh biar saja dulu… nanti akan kita kerjakan dulu tanpa pengganti”


Pak Solikin nampak bingung, keliatan dia sedang berpikir tentang kematian Mamad, sehingga dia tidak konsen dengan pertanyaanku.


“Pak Solikin ndak papa kah sampean pak, kenapa kok kelihatannya bingung pak” aku makin penasaran


“Iya pak Agus… eh saya agak tidak enak badan ini, mungkin saya agak masuk angin”


“Ya sudahlah pak Solikin, saya pamit dulu pak, semoga besok bapak sudah sehat”


“Eh maaf pak Solikin, di desa ini ada toko sembako ndak, kebetulan persediaan makanan saya habis pak”


"Dari pada saya harus beli sembako di desa tempat saya interlokal, kan kejauhan pak"


“Ada pak, itu … eh jalan ini lurus saja, kemudian nanti belok ke kiri, nanti disana sebuah ada toko kelontong, itu rumah bu Tugiyem. Beliau satu-satunya penjual bahan pokok yang terdekat dari sini”


“Oh baik pak, saya akan kesana pak, terimakasih pak”


Aku kemudian undur diri dari rumah pak Solikin yang masih melihatku berjalan menuju ke rumah bu Tugiyem yang cantik dengan anaknya si Anik yang cantik juga.


Desa yang cukup sepi menurutku, jam segini hanya ada segelintir orang yang berpapasan denganku , mungkin beberapa laki-lakinya sudah meladang pada pagi hari sebelum matahari terbit.


kuikuti saran pak Solikin dan akhirnya tidak lama kemudian ada rumah yang bagian depannya dibangun kayak kios gitu, dan memang menjual aneka bahan pokok.


kios itu di memang terlihat menjual aneka kebutuhan rumah, selain juga menjual beberapa obat umum yang mungkin diperlukan penduduk disini.

__ADS_1


“Assalamualaikum”  sapaku kepada seseorang yang sedang mengisi sebuah buku tts dengan bolpoin di tangan kanannya. seorang perempuan yang sedang serius dengan pikirannya hingga dahinya berkerut.


“Waalaikumsalam….”


Perempuan yang berambut lurus dengan senyum yang mengembang itu menjawab sapaanku


“Dik Anik, permisi… ibu ada dik?”


“Ada mas Agus, mas Agus kesini ini mau belanja atau mau ketemu ibu sih?” tanya Anik dengan tersenyum


“Tentu saja mau belanjalah dik Anik hehehe, saya mau belanja, tapi saya juga ada perlu sama ibunya mbak Anik juga”


“Bentar mas, saya panggilkan ibu dulu ya”


Anik kemudian pergi ke bagian belakang dan keluar dari pintu belakang menuju ke rumahnya yang ada di belakang kiosnya.


Sebuah kios sembako yang menjual berbagai macam kebutuhan pokok disini, tetapi kalau kondisi disini sepi yang susah juga, tapi bu Tugiyem itu kan juga pintar masak, seharusnya dia buka warung bukan buka toko kelontong seperti ini.


Tidak lama kemudian dari arah rumah belakang muncul bu Tugiyem bersama anaknya yang bernama Anik itu, dua orang ibu dan anaknya, mereka berdua sama sama cantik, dan mereka berdua saat ini tersenyum sambil melangkah ke arahku.


“Wah ada nak Agus, mau beli sesuatu atau mau dolan kesini saja ini nak hehehe” tanya bu Tugiyem yang masih saja tersenyum


“Saya mau beli beras dan beberapa bahan makanan lainya bu, dan saya juga mau kabari berita duka, kalau Mamad kemarin malam meninggal ketika dia pulang ke desanya”


“Inalillahi wainailaihi rojiun” kata mereka berdua berbarengan


“Meninggalnya kenapa nak kalau saya boleh tau?”


“Info yang saya dengar dia tertabrak bus di dekat desanya sana bu. Saya dapat kabar dari teman dia yang datang ke rumah bu”


“Tadi saya sudah dari rumah pak Solikin, dan saya titip untuk dikabari ke pekerja yang lainya juga bu”


“Hmm kasihan juga Mamad, apa mungkin dia juga menjadi yang diminta beliau ya?” kata bu Tugiyem dengan suara pelan hingga aku nyaris tidak dengar apa yang dia omongkan”


“Bagaimana bu, apa yang terjadi dengan Mamad bu, apakah..eh apakah itu karena saya lihat penampakan yang ada di hutan?”


“Eh nak Agus, ayo masuk ke rumah dulu, kita ngobrol di dalam rumah saja yuk, ayo sekalian makan siang di rumah saya saja daripada nak Agus masak yang tidak jelas”


“Waduuh saya bikin repot ibu kalau begini bu hehehe, tapi kalau saya dipaksa ya saya tidak bisa nolak bu hihihihi”


“Halaaah mas Agus ini purak purak kok” kata Anik yang cantik sekali


Aku sudah ada di ruang tamu rumah bu Tugiyem, ruang tamu yang biasa saja dan tidak nampak barang yang mewah sama sekali, maklum daerah ini belum juga tersentuh listrik.


Tapi tadi aku lihat di luar sudah ada beberapa tiang listrik, hanya saja tiang listrik itu belum ada kabelnya, mungkin masih dalam proses pemasangan.


“Bu,disini kan saya lihat sudah ada tiang listrik, tetapi belum ada kabelnya ya bu, apa mungkin listrik disini baru akan masuk bu?”


“Ya itu nak Agus disini memang belum ada listrik, tapi info dari perangkat desa sebentar lagi akan ada listrik masuk desa”


“Begini nak Agus. Masyarakat disini itu masih mempercayai hal-hal tahayul, saya pun juga masih percaya dengan hal seperti itu, karena  memang sudah diberitahu sejak saya masih kecil mas”


“Tentang yang tadi saya katakan itu, menurut legenda masyarakat sini yang saya dengar di hutan sebelum rumah penggergajian itu ada hutan, nah di hutan itu juga ada semacam kampung demit”


“Apabila ada orang desa sini yang melihat penampakan mereka, maka orang itu tidak akan selamat. Dan apabila ada orang desa sini yang melihat makam ghaib disana itu maka di sekeliling orang itu akan mati”

__ADS_1


“Entah nak Agus mau percaya atau tidak ya ndak papa, hanya saja saya sebagai penduduk disini tidak begitu saja percaya dengan apa yang diceritakan oleh orang sini”


“Buktinya saya mbok Yem mau mengundang nak Agus masuk ke dalam rumah saya, padahal apabila  hal ini saya lakukan maka jelas berbahaya bagi saya dan Anik kan”


“Iya betul bu”


Aku menundukan wajah, karena ternyata mbok Yem masih mau menerimaku di rumahnya meskipun aku melihat makam ghaib itu


“Nah sekarang tidak usah memikirkan hal itu nak, sekarang kita makan siang bersama ya”


“Eh maaf bu, apa tidak lebih baik menunggu suami ibu datang dulu , baru kita makan bersama bu?”


“Mau nunggu sampai kapan nak, Wong suami ibu sudah meninggal semenjak Anik masih kecil. Saya hidup sendiri nak, saya besarkan Anik sendiri hehehe”


“Wah maaf bu, saya tidak tau bu”


“Ya sudah yuk kita makan siang bareng ya, sebentar bisakan anik yang menyiapkan dulu nak” kata bu Tugiyem kemudian masuk ke dalam rumah bagian dalam


Hari ini jelas makan enak, tapi yah hanya makan siang saja, dan nanti malam aku sudah sendirian lagi di rumah pemotongan kayu itu.


Hari ini aku bisa ngobrol banyak dengan anak gadis mbok Yem yang bernama Anik, hari ini aku puas melihat senyum Anik dengan lesung pipinya yang indah.


*****


Setelah selesai makan bersama mereka berdua, setelah selesai membantu sekedarnya membawa piring kotor dan lainya, ini waktunya aku pamit pulang.


“Bu Tugiyem, saya pamit dulu ndak enak ninggal rumah terlalu lama gini bu”


“Eh tunggu sebentar nak, ini saya bawakan bekal makanan untuk nanti malam, tunggu sebentar ya nak Agus”  kata suara dari bagian dalam rumah


“Ibuku itu ya gitu itu mas kalau sudah suka sama orang, dia akan baik sekali, beda kalau dia tidak suka sama orang, dia akan lebih jahat daripada ibu tiri hihihihi” kata Anik yang ternyata lucu juga


“Ah dik Anik iki ono-ono wae sih, pokoke kalau kita baik dengan orang insyaallah orang itu akan baik dengan kits dik Anik”


Dari bagian dalam rumah mbok Yem membawakan rantang tumpuk tiga untukku, jelas kalau ada rantang seperti ini berarti aku harus kesini lagi untuk mengembalikan rantang itu kan.


“Bu… malah saya ini kok ngerepotin ibu sih, saya kesini kan niatnya mau beli bahan makanan bu. kok malah sekarang pulangnya bawa rantang segala bu, Eh bu sekalian saya mau beli bahan makanan bu”


“Ndak papa to mas Agus, besok bawa sini lagi rantangnya ya. oh iya mas Agus mau beli apa saja?” kata bu Tugiyem masuk ke dalam kiosnya setelah memberikan aku rantang yang agak berat isinya.


Setelah semua selesai, dan setelah aku pamit kepada Anik dan bu Tugiyem, aku berjalan pulang. Saat ini sudah pukul 15.00, cukup lama juga aku berada di rumah mbok Yem.


Tadi sempat ngobrol banyak juga dengan bu Tugiyem, kami ngobrol ngalor ngidul dan tanya tanya tentang silsilah keluarga juga heheheh.


Opo mungkin aku mau dijodohkan dengan Anik ya, sakjane aku ya mau saja tapi kan aku juga sudah punya pacar di desaku.


Tapi kalau dilihat dengan mata telanjang, aku sih lebih milih Anik, dia gadis desa yang belum tersentuh peradaban kota  hehehe


Memang sih dibandingkan dengan pacarku yang ada di desa, jauh berbeda, Anik ini cantik , bahkan bisa dibilang cantik sekali dengan lesung pipi dan rambut panjangnya yang hampir sepantat.


Sedangkan pacarku  ya cantik juga, pacarku yang ada di desa itu cantik karena polesan bahan kimia hihihihi.


Jembatan yang membelah antara desa dengan rumah penggergajian sudah nampak, berarti sebentar lagi aku akan sampai di rumah. Pagar rumah dan pohon beringin sudah nampak di kejauhan.


“Eh itu siapa ya……… kok disana ada yang sosok yang sedang berdiri di pinggir sungai dekat dengan kotak yang kugunakan untuk buang air besar?”

__ADS_1


__ADS_2