
“Pak Cheng akan ada disana lama, dan dia akan mengatur strategi agar tau siapa tamu yang didomplengi si Pangat, dia tidak akan datang dan tidak akan bisa menyuruh Fong datang kesini kecuali ada masalah dengan Pangat”
“Sudah hanya itu saja yang disampaikan pak Cheng kepada Kunti ini” kata pak Diran
“Pak Diran… harusnya saya atau bapak dan Jiang kan bisa dengan mudah mendeteksi datangnya Pangat, kenapa kita harus bingung pak?”
“Iya harusnya itu mudah bu Tina, tapi setelah Pangat ada di salah satu tamu yang datang, kemudian tamu itu ternyata adalah seorang bapak dari sebuah keluarga… lalu apa yang akan bu Tina lakukan?”
“Apakah mengusir tamu itu dari sini? Dan siapa yang akan percaya bahwa dia adalah teman kalian yang berkhianat?”
“Harusnya mudah dan bisa dideteksi… bahkan kalian berdua juga bisa mendeteksinya…. Yang sulit itu bagaimana caranya agar tidak masuk ke hotel ini?”
“Apakah mungkin kalian mengusir seorang kepala keluarga atau seorang ibu dari beberapa anak yang datang bersama keluarganya ke sini?”
Setelah selesai dengan mbak Kun kami berjalan masuk ke dalam halaman hotel. Tetapi ketika beberapa langkah kami masuk ke dalam hotel, tiba-tiba pak Diran menyuruh kami untuk berhenti.
“Stop… dan merunduk… sekarang!” bisik pak Diran
“LIhat itu jauh disana… dekat dengan tepi sungai… ada sesuatu yang sedang duduk” bisik pak Diran lagi.
“Iya pak… tapi saya tidak jelas siapa yang ada disana pak… karena jauh dari sini.. Gimana kalau kita datangi saja yang disana itu pak?”
“Kalian berdua disini saja, biar saya saja yang ke sana” jawab pak Diran
“Jangan pak… kita bertiga saja yang kesana, kami disini dan pak Diran sama-sama pengurus hotel”
“Ya sudah ….” kata pak Diran
Ya disana memang ada seseorang yang sedang duduk menghadap ke sungai, atau tepatnya menghadap ke arah seberang sungai dimana disana ada makam Fong dan ada pemukiman.
Samar-samar dan semakin dekat mulai terlihat jelas orang yang ada disana itu tidak hanya duduk saja di atas pasir pantai, tetapi dia sedang melakukan sesuatu.
“Mas… apa mencium bau dupa?” bisik mbak Tina
“Iya mbak… saya mencium bau dupa samar-samar”
“Dia yang sedang menyalakan dupa… saya yakin pak Agus…” timpal pak Diran
Kami semakin dekat dengan orang yang sedang duduk bersila, dan di depan dia ada beberapa batang dupa yang masih menyala ujungnya… tapi aku tidak tau apa yang sedang dia lakukan disana, dan apa saja yang ada di depannya itu.
Orang itu siapa pun kami belum bisa mendeteksinya, karena keadaan di sini gelap ….
Tetapi pak Diran yang sudah ada di dekat orang itu tiba tiba menyapa dengan sopan.
“Selamat malam bapak… apa yang sedang bapak lakukan disini?” sapa pak Diran dengan sopan
“Eh ada pak Satpam.. Hehehehe uhug uhug… saya sedang menghormati dan menyapa lelembut yang ada di sekitar sini pak” jawab orang itu menoleh kepada pak Diran
Hmm ternyata orang yang ada disana itu adalah laki-laki tua yang berasal dari kota Semarang yang datangnya agak siangan tadi.
Laki laki tua yang datang bersama istrinya dan seorang perempuan muda yang datang pukul setengah tiga tadi.
“Oh pak Prabowo…. Apa yang sedang bapak lakukan disini, ini sudah malam dan anginnya kurang bagus untuk seusia bapak” tanya mbak Tina dengan sopan
“Mari sini duduk bersama saya…saya akan jelaskan apa yang sedang saya lakukan disini”
Kulihat pak Diran menuruti apa yang dikatakan orang tua yang disapa mbak Tina dengan nama pak Prabowo atau bisa dipanggil dengan pak Owo asal bukan dengan panggilan pak Owi saja
Mbak Tina pun juga mau duduk di sebelah pak Owo….
“Kita bersama sama ada disini untuk menghormati alam dan lelembut yang ada disini…. Saya yakin kita berbeda keyakinan, saya nasrani, dan mungkin kalian muslim….”
“Tapi kita hidup di tanah jawa, kita masih punya leluhur… dimana leluhur kita hidup di dunia lain selain yang kita pijak ini, jadi jangan menyangkut pautkan hal ini dengan yang namanya agama” jelas pak Owo dengan suara pelan dan meyakinkan
Pak Diran tidak menjawab omongn pak Owo, keliatanya pak Diran sedang menilai orang tua yang bernama pak Owo ini.
“Apalagi di alam bebas seperti ini, pasti disini juga banyak lelembut yang berkeliaran, jadi disini saya hanya ingin menyapa dan menghormati mereka agar tidak ada yang namanya saling ganggu satu sama lain” jelas pak Owo
__ADS_1
“Maaf pak Prabowo… setelah bapak melakukan hal ini… apa yang bapak rasakan sekarang?” tanya pak Diran dengan sopan
Pak Owo diam sesaat, dia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari pak Diran…. Dari tarikan nafasnya keliatanya ada sesuatu yang cukup mengganggunya. Tapi sayangnya aku tidak bisa melihat raut wajahnya.
“Lelembut yang ada disini, hampir semua yang ada disini tidak ada yang mengganggu atau yang ingin berbuat jahat, bahkan saya bisa merasakan bahwa area hotel ini sangat aman”
“Tetapi yang ada disana itu, yang ada di seberang sungai dan yang ada di sungai itu yang mengerikan, mereka haus darah dan saat ini mereka sedang menginginkan tumbal” jelas pak prabowo atau Owo bukan Owi dengan suara lirih
“Jadi harap hati-hati saja dengan yang ada disana, dan tolong dijaga tamu yang berenang di sungai ini, jangan sampai tamu-tamu disini berenang terlalu ke tengah sana” kata pak Owo lagi.
“Baiklah pak, nanti akan kami awasi tamu yang sedang ada di bagian sungai ini” kata pak Diran
“Satu lagi nak…. Kamu sepertinya paham dengan hal seperti ini, jadi jagalah tempat ini bersama dengan lelembut yang juga selalu berjaga jaga disini” kata pak Owo kepada pak Diran
“Nah sekarang ada baiknya pak Prabowo kembali ke kamar, karena sudah tengah malam dan angin malam disini kurang baik untuk malam ini” ajak pak Diran kemudian
“Baiklah pak.. Tolong bantu saya berdiri, dari tadi saya duduk bersila disini dan kaki saya agak kaku untuk berdiri uhug uhug” jawab pak Owo
Kami bantu pak Owo untuk berdiri dan memapah dia ke kamar yang paling ujung ini, kamar nomor sepuluh..
Tapi ketika kami sudah dekat dengan kamar nomor sepuluh, ternyata perempuan paruh baya yang datang bersama suami istri Prabowo ini sudah ada di sekitar halaman belakang hotel.
Perempuan itu kelihatannya berniat untuk menjemput pak Owo. Dia hanya berdiri di halaman hotel ketika kami dari arah sungai memapah pak Prabowo
“Lho bapak nggak papa…? Kok datang dipapah gini?” tanya perempuan muda itu ketika melihat kami datang bersama bapaknya
“Ini anak saya.. Panggil saja Wati. Dia tadi hendak menjemput saya disana” kata pak Owo tanpa tersenyum
*****
“Nah tamu kita ini sudah bisa menebak apa yang ada di seberang dan yang ada di tengah sungai” kata pak Diran
“Saya yakin nanti Fong atau siapalah namanya itu akan membunuh tamu yang ada disini dengan cara menenggelamkan di sungai sana”
“Kita harus lebih memperhatikan tamu-tamu yang ada di belakang sana, nanti saya akan beritahu Yogi juga untuk patroli ke bagian belakang hotel” kata pak Diran lagi
“Tenang saja Jiang, jangan pikirkan pak Cheng, saya yakin pak cheng bukan orang kemarin sore, saya yakin pak Cheng pasti punya rencana sendiri”
“Yang penting bagi kita adalah menjaga agar tamu yang ada disini aman dan jauh dari bahaya yang akan mengancam mereka”
“Pak Diran… tentang mimpi mbak TIna dan tentang pesan pak Cheng dan perkataan pak Owo tadi… apakah semua itu bisa terjadi?”
“Menurut saya bukan hanya terjadi, bahkan menurut saya bisa saling berkaitan, dan kita tidak tau apa yang akan terjadi disini sebentar lagi”
Malam masih panjang. Adzan subuh masih lima jam lagi, kami ada di ruang utama dari hotel, kami berempat tidak ada yang mengantuk sama sekali untuk saat ini, tapi …….
Tapi ketika waktu menunjukan pukul satu malam, aku mulai menguap, disusul oleh mbak Tina juga menguap, Tetapi tidak dengan Jiang dan pak Diran!
Kutahan rasa kantuk ini … tetapi sepertinya ada yang menyuruhku untuk memejamkan mata…
“Jiang.. Tolong bikinkan saya kopi” sambil aku lirik mbak Tina yang sudah tertidur di sofa
“Bikin tiga gelas Jiang untuk kita bertiga, jangan pakai gula, kasih sedikit garam” kata pak Diran yang matanya masih awas
“Aneh pak… mata saya tidak bisa dibuka sama sekali… rasanya ngantuk luar biasa pak”
“Pak Agus kan sudah beberapa hari ini tidurnya kurang, bahkan kalau siang pak Agus kan sibuk, jadi wajar kalau sekarang pak Agus ngantuk”
“Ngantuk sih ngantuk pak, tetapi tidak seperti ini juga pak”
“Nanti setelah minum kopi kita keliling sebentar pak Agus… saya ingin melihat halaman belakang sekali lagi”
“Huuaaaheeemm memangnya ada apa disana pak, apakah bapak merasa ada yang aneh lagi?”
“Bisa iya dan bisa juga tidak pak Agus… saya hanya merasa pengen ke halaman belakang lagi,,, huff hotel ini benar-benar membuat saya capek sekali”
“Selama puluhan tahun bekerja sebagai security hotel atau penginapan, baru hotel ini dengan hanya sepuluh kamar saja yang membuat saya sangat capek hehehe”
__ADS_1
“Capek bukan dalam arti harafiah pak Agus.. tetapi capek dalam segi mental dan rohani”
Jiang akhirnya datang dengan tiga gelas kopi hitam tapa gula yang dicampur sedikit garam, aku gak tau apa guna garam itu, tapi setelah aku minum beberapa sruputan…. Ada yang sedikit demi sedikit berubah.
Rasa kantuk itu perlahan lahan hilang!
“Bagaimana kopinya pak Agus… Jiang?”
“Heheheh beda pak.. Rasa kopi ini ajaib, meskipun pahit dan agak asin, tetapi saya tidak ngantuk sama sekali”
“Ya sudah.. Jiang kamu jaga disini.. Dan waspadalah, karena saya merasa ada yang aneh disini…Saya dan pak Agus mau cek keadaan di belakang sana. Dan tolong kamu jaga mbak Tina..”
Pak Diran berjalan agak cepat menuju ke halaman belakang, kami taman bunga halaman belakang yang saat ini diterangi dua buah lampu petromak membuat suasana aduhai… beberapa pondok disini menggunakan lampu petromak, dan sebagian menggunakan lampu teplok.
Dari jendela berkelambu di tiap pondokan atau kamar pasti akan terlihat cahaya lampu teplok atau lampu petromak
Taman di halaman belakang ini sunyi sepi… yah wajarlah karena saat ini sudah diatas pukul satu malam.
Pak Diran selalu mlihat keadaan di tiap kamar yang ada di belakang.. Aku nggak tau apa yang dilakukan pak Diran dengan melihat tiap kamar yang ada disini.
Kami berjalan pelan hingga akhirnya kami sampai di kamar nomor sepuluh.. Kamar yang dihuni oleh pak Prabowo beserta istrinya dan seorang anaknya.
Dan anehnya kamar nomor sepuluh ini gelap keadaannya!
Tidak ada cahaya yang terlihat dari luar untuk kamar yang dihuni oleh keluarga pak Owo ini.
Pak Diran berhenti di depan kamar nomor sepuluh ini… kemudian pak Diran menengadahkan kepalanya.. Seperti nya dia sedang mencari sesuatu di atas atap kamar.
Aku yang tidak paham apa yang sedang dicari pak Diran hanya diam saja….
Tapi aku samar-samar mencium bau dupa, mungkin dupa yang ditinggal pak Owo di pasir laut pinggir sungai.
“Pak….”
“Ssstttt” jawab pak Diran sambil menaruh telunjuknya di bibirnya.
Artinya mungkin pak Diran sedang konsentrasi atas sesuatu yang mungkin sedang terjadi di kamar pak Owo bukan Owi.
Pak Diran berjalan pelan.. Sambil terus memperhatikan kamar nomor sepuluh, sesekali dia menengadahkan kepalanya seperti sedang melihat sesuatu.
Dia berjalan pelan sambil berusaha mendengarkan sesuatu yang mungkin ada di sekitar sini,
Pak Diran hanya berdiri saja di depan kamar sepuluh.. Hingga berbelas belas detik dia hanya diam dan terus memperhatikan kamar nomor sepuluh.
Aku hanya berdiri sambil terus memperhatikan pak Diran yang sedang agak aneh kelakuannya…. Dan bau dupa ini terus menerus masuk ke hidungku, meskipun baunya samar, tetapi aku bisa yakin bahwa ini adalah bau dupa seperti yang ada di pinggir sungai itu.
Sudah lebih dari lima menit kami berdua ada di depan kamar nomor sepuluh tanpa melakukan apapun…
Setelah selesai dengan apa yang sedang diperhatikan, kemudian pak Diran berjalan menuju ke kursi kayu yang ada di tengah taman..
Kami berdua duduk di kursi itu… tapi hingga kini pak Diran belum berkata kepadaku tentang apa yang terjadi dengan kamar nomor sepuluh itu.
Pak Diran duduk di bangku kayu itu sambil menunduk.. Dia menunduk dan tidak berkata apa-apa kepadaku..aku tidak berani mengajak dia bicara sama sekali…
Pak Diran hanya diam dan menunduk, sesekali dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menyebut istigfar berkali kali.
“Pak Agus…tulis pesan di pesawat telepon satelit… katakan kepada pak Jay agar datang kesini sepagi mungkin” kata pak Diran dengan suara lirih dan seperti sedang menahan tangis
Aku tidak bertanya ada apa dengan kamar nomor sepuluh itu… aku segera menuju ke ruang utama untuk mengambil ponsel satelit.
Di ruangan utama ternyata mbak Tina sudah bangun dari tidurnya, dia bersama Jiang sedang duduk di sofa ruang tengah.
“Ada apa mas?” tanya mbak Tina
“Nggak tau mbak.. Pak Diran hanya diam saja, dan sekarang dia menyuruh saya untuk mengirim pesan pendek melalui ponsel satelit ini kepada pak Jay”
“Dia menyuruh pak Jay untuk datang sepagi mungkin ke hotel ini mbak”
__ADS_1