
Aku melayang mengejar sosok berkain putih dengan kapas ada di beberapa bagian wajahnya,
Pocong yang wajahnya adalah merupakan wajahku, pocong yang sekarang menuju ke arah lubang kuburan yang ada di belakang rumah penggergajian itu harus kuhentikan.
Tapi ada yang aneh dengan tubuhku, tubuhku tetap bergoyang hingga akhirnya suara perempuan itu muncul lagi.
Tidak kuhiraukan teriakan perempuan yang terus menerus mengatakan agar aku bangun, hingga tiba-tiba bagian belakang rumah rasnya amblas,
Aku jatuh masuk ke dalam bumi yang amblas….
Tubuhku sakit… dadaku makin sakit…..
“AYO BANGUN MAS!” teriak suara perempuan dengan nada marah
Apa yang sedang terjadi denganku, tadi perempuan itu menyuruhku agar bangun
.......PLAAAAK!......
pipiku rasanya perih sekali, kenapa pipiku bisa seperih ini jangkreeeeekkkk!....
Tapi aku tidak putus asa. terus ku kejar pocong yang berwujud wajahku.
Untungnya pocong itu cara melayangnya lambat sehingga tinggal sebentar lagi aku bisa meraih tubuhnya
“WOIII TUNGGU AKUUUU!!!!!!”
“AKU BELUM MATI!..... KAMU BUKAN POCONGKU!!!!!”
Aku berusaha melayang mengejar pocong yang semakin jauh dari posisiku, tapi anehnya aku tidak bisa bergerak sama sekali!
Aku seperti patung yang hanya diam melayang di tempatku berdiri, sementara itu pocong terus berjalan menuju ke lubang kuburan.
Ku usahakan untuk bisa bergerak tetapi sama sekali tubuhku tidak bisa bergerak.
Ada sesuatu yang berusaha menahan tubuhku agar tidak bergerak mendatangi pocong yang semakin jauh.
Aku berusaha berteriak tapi sekarang tidak ada suara yang keluar dari mulutku.
Aku bisu…. aku lumpuh… aku hanya bisa melihat punggung pocong yang semakin dekat dengan lubang yang terbuka.
Sementara kulihat di belakang, orang-orang yang sedang melafalkan bahasa aneh terus menerus itu tidak bergerak dari posisi mereka yang ada di dalam rumah!
“AAAAAH TOLOONG HENTIKAN POCONG ITU MASUK KE DALAM KUBUR, ITU BUKAN AKUUUUUUUU!....”
Memang aku berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku, teriakanku itu seolah adalah suara hatiku yang berusaha menyadarkan orang-orang yang ada di dalam rumah.
Aku berusaha menggerakan tubuhku, tetapi tidak bisa, seakan akan tubuhku diikat pada batu besar yang tidak bisa bergerak sama sekali meskipun sekuat apapun ku bergerak.
Tubuhku terus kugoyangkan agar aku bisa melayang dan mendatangi pocong itu, tapi kekuatan yang mengikat ku terlalu kuat.
PLAAAK!…..PLAAAAK!…PLAAAAK!
“BANGUUUN MAS!.... AYO BANGUUUN!....”
“AYOOO BANGUN MAS… SADAAR MAAAAAS!.....”
Pipiku sakit dan panas, aneh sekali , disini tidak ada siapapun, tetapi rasanya ada yang menampar pipiku hingga terasa sakit sekali.
Dan ada suara perempuan yang menyuruhku untuk bangun…
__ADS_1
Tidak ada siapapun disini kecuali enam orang berpakaian hitam yang terus menerus melafalkan kata-kata aneh yang tidak bisa kumengerti.
Tidak ada seorangpun perempuan yang ada di sini, tetapi aku bisa merasakan tamparan dan suara membangukan aku.
Semakin lama tubuhku semakin lelah, semakin aku berontak agar lepas dari sesuatu yang mengekangku, aku semakin lemah…
Hingga akhirnya aku hanya bisa pasrah saja, aku pasrah dengan pocong yang sekarang sudah masuk ke kuburan yang penuh dengan asap kemenyan.
Aku pasrah dengan enam laki-laki yang selalu mengucapkan seperti bahasa jawa tapi aneh secara berulang-ulang.
Semakin kulihat pocong itu masuk ke dalam kuburnya aku semakin lemah…..
*****
Kubuka mataku, aku terbangun dengan tubuh yang penuh keringat, di sebelahku mbak Tina sedang menangis sesenggukan.
Apa yang terjadi dengan mbak Tina hingga dia menangis seperti itu.
Eh mbak Tina…. kenapa dia menangis, apa yang terjadi dengan dia?
“ALHAMDULILLAH…. ALHAMDULILLAH…”
Tina berulang kali mengucapkan Alhamdulillah sambil menyeka air matanya…
Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan mbak Tina dan aku..
“Eh mbak Tina kenapa menangis mbak?”
“Apa ada yang salah dengan saya, atau ada yang mengganggu mbak Tina?
Dengan terpaksa aku bertanya kenapa dia menangis….
Apakah dia menangis ada hubunganya dengan mimpiku?
“Nggak..nggak papa mas Tina hanya sedih saja….” kemudian dia masuk ke kamar nya
Itu adalah jawaban singkat dari mbak Tina yang pernah kudengar.
Ndak biasanya dia menjawab pertanyaanku dengan singkat dan padat.
Aku bangun dari posisi tidur di sofa ruang tamu,.... uh tubuhku rasanya sakit sekali, punggungku dan terutama pipiku sakit sekali.
Tetapi dadaku rasanya tidak sesakit waktu sebelumnya….
Kulihat mbak Tina keluar dari kamarnya, dia sudah cantik lagi, setelah tadi di pipi dan wajahnya penuh dengan bekas air mata.
“Gimana mas Agus, apa luka di dadanya sudah enakan?” Dia bertanya sambil tersenyum, tetapi senyum yang dipaksakan.
Aku meraba perban di dadaku, kemudian kutekan tekan sedikit, ternyata sudah tidak panas, hanya saja masih perih.
“Sudah tidak seperti sebelumnya mbak Tina, sudah enakan, tapi….
“Tapi yang sakit sekarang pinggang dan pipi saya mbak”
Tina menundukan kepalanya, kemudian dia menangis sesenggukan…
“Tina tidak mau kehilangan mas Agus…..
“Tadi mas Agus berteriak dengan mata melotot, tapi mata mas agus hanya putih saja, Tina sangat takut mas Agus meninggal….Tina takut!”
__ADS_1
“Maafkan Tina mas, Tadi untuk menyadarkan mas Agus, Tina tampar mas Agus berkali kali”
“Tina rangkul mas Agus erat erat hingga tangan Tina lecet, Tina takut mas…Tina takut!”
“Mas Agus meronta ronta ketika Tina pegang hingga Tina makin erat memeluk mas Agus!”
Aku hanya diam saja dengan keanehan ini, karena apa? karena yang disebutkan oleh Tina itu adalah yang aku alami tadi……
Kulihat jam dinding di ruang tamu rumah mbak Tina, ternyata saat ini sudah pukul 03.55 pagi!
Mimpi yang sangat aneh, dan apa yang terjadi dengan Tina.
“Mbak Tina… tadi itu saya sedang mimpi aneh mbak, mbak Tina tenang dulu, akan saya ceritakan apa yang saya alami di mimpi saya itu mbak”
Aku mengusap air mata mbak Tina yang lagi-lagi membuat pipi mulus akibat skinker itu basah oleh air mata yang mengalir lagi.
Kurangkul Tina agar di bisa tenang…
Aku ndak tau apa yang barusan dia alami tetapi kalau dilihat dari sesenggukannya dia sepertinya barusan mengalami kejadian yang mengerikan.
Perlahan lahan aku bercerita mulai aku masuk ke dalam rumah dengn hanya menembus tembok hingga pocong yang mirip dengan ku itu masuk ke liang lahat.
Selama aku bercerita Tina tidak pernah melepas genggaman tanganmu di tanganku, dia mungkin sedang ketakutan sampai sampai dia tidak bisa mengontrol dirinya.
“Saya merasa hanya berupa mimpi aja mbak, saya ndak tau apa yang terjadi dengan diri saya”
Tina berusaha mengontrol dirinya setelah aku selesai bercerita kepada dia, dia juga berusaha memahami cerita ku.
Terlihat dari alis dia yang kadang menyatu , mungkin karena sedang berpikir apa yang sedang terjadi pada diriku.
“Mas… tadi entah pukul berapa, Tina dengar mas agus teriak… tetapi teriakan mas Agus itu tidak jelas sama sekali mas”
“Yang Tina bisa dengar dan pahami, mas Agus teriak soal pocong!....”
“Tina terbangun dan mendatangi mas Agus yang berusaha turun dari sofa dan merangkak!
“Mengerikan mas!.....
“Tina takut mas… mata mas Agus hanya putih saja yang terlihat, kemudian mas Agus teriak dengan suara yang sama sekali Tidak Tina pahami!”
“Tina takut sekali…. Tina takut mas Agus mati saat tadi itu!
“Tina tadi mau keluar cari bantuan, tetapi jelas tidak mungkin Tina keluar, karena mas Agus semakin bergerak aneh”
“Akhirnya Tina hanya bisa rangkul mas Agus erat erat!....”
“Tina tampar pipi mas Agus berkali kali agar mas Agus sadar”
“Sudah berapa surat pendek dan alfatihah yang tina baca mas…Tina takut sekali!”
“Tina merasa apabila mas Agus saat ini tidak juga sadar maka Tina akan kehilangan mas Agus selamanya…!”
Kami berdua terdiam, karena apa yang dikatakan Tina itu ada kaitannya dengan mimpiku.
Apakah kalau aku ikut dengan pocong itu ke kuburnya maka aku akan mati?
Tadi aku tidak bisa melayang apakah karena pinggangku dipegang Tina dengan erat?, sehingga dalam mimpi aku tidak bisa melayang.
“Eh mbak Tina, sebenarnya tadi itu saya merangkak ke arah mana mbak?”
__ADS_1
“Ndak tau mas…. pokoknya mas Agus ke arah pintu luar rumah Tina!”