
“Saya pingsan sampai dibangungkan oleh teriakan pak Solikin dan mbah Karyo
“Nah setelah itu paginya saya langsung pergi dari sana pak, saya tidak pamit kepada siapapun, termasuk mbah Karyo dan pak Solikin yang sudah baik dengan saya”
“Pokoknya saya secepat mungkin pergi dari rumah itu, saya tidak peduli lagi dengan segala ancaman yang tadi malam dikatakan perempuan yang menempel di plafon rumah”
“Saya tidak peduli dengan Burhan, Mamad, dan yang lainya”
“Yang ada di pikiran adalah saya hanya pergi dari rumah itu dan sembunyi dari apapun yang pasti akan mencari saya”
Aku merasa apa yang dialami Yetno selama tiga hari itu lebih mengerikan daripada yang kualami.
Wajar saja apabila Yetno mengalami gangguan jiwa akibat dari hal yang mengerikan di rumah penggergajian.
“Waktu itu adik saya datang dengan keadaan yang mengenaskan pak, dia seperti orang gila yang berbicara sendiri dan kadang teriak-teriak ketakutan” sambung Yu Gemi kakak dari Yetno
“Saya sebagai kakaknya Yetno sampai ketakutan dengan keadaan adik saya ini”
Yetno hanya diam saja ketika kakaknya meneruskan cerita tentang dirinya yang melarikan diri dari rumah penggergajian.
Tangan Yetno gemetar ketika menyalakan sebatang rokok untuk sekian kalinya.
“Pak Agus…. saya cuma minta pak Agus untuk hati-hati dengan Burhan, Saya tidak tau kenapa saya merasa bahwa Burhan itu orang yang paling berbahaya di sana”
“Iya mas Yetno, saya mengucapkan banyak terima kasih atas cerita mas Yetno yang benar-benar membuat saya merasa saya masih lebih beruntung dari pada mas Yetno”
“Ini luka saya mas…luka yang hampir busuk karena pukulan benda putih yang mirip dengan pocong”
Kutunjukan luka di dadaku yang masih dalam keadaan diperban.
Yetno dan Yu Gemi kaget melihat luka yang kuderita karena sangat parah katanya dibandingkan luka yang diderita Yetno.
“Kenapa bisa separah itu pak Agus?”
“Yah saya tidak tau mas Yetno, pokoknya apa yang dilakukan pocong itu benar-benar membuat saya menderita sekali”
“Menurut mas Yetno, apa yang harus saya lakukan disana?”
“Saya tidak berani memberikan pendapat pak, karena saya sendiri takut apabila ada pak Wandi atau Burhan atau bahkan Mamad mencari saya”
“Makanya saya beruntung sekali kerja sebagai kenek bus, karena saya jarang sekali ada di rumah, sehingga mereka akan kesulitan mencari saya”
“Kalau menurut saya, pak Agus lebih baik tetap saja disana, sembari mengawasi Burhan, karena sampai saat ini saya belum tau apa yang mereka lakukan di sana”
“Saya sama sekali tidak bisa menebak kelicikan apa yang mereka lakukan hingga berusaha mengusir saya dari sana”
“Seandainya ada mbah Karyo mungkin pak Agus bisa dibantu mbah Karyo”
“Bagaimana dengan pak Solikin mas, apakah dia bisa dipercaya?”
“Saya tidak bisa bilang pak, saya tidak dekat dengan pak Solikin soalnya”
“Ya sudah mas Yetno, terima kasih sudah kasih saya informasi, saya akan lebih hati-hati disana mas”
“Karena ini sudah sore saya mohon pamit dulu mas Yetno, akan saya bongkar apa yang sedang terjadi disana mas”
“Iya pak Agus…. pesan saya hanya satu, berhati-hatilah dengan Burhan karena saat ini orang yang paling dekat dengan pak Agus adalah Burhan”
“Mas Yet… lalu bagaimana dengan orang perempuan yang gantung diri itu, apakah dia masih mengikuti mas Yetno?”
“Tentu saja masih pak, tetapi berkat bantuan dari orang pintar, saya sekarang sudah terbebas pak, hanya kadang kalau pas saya sedang capek, mimpi itu datang lagi”
__ADS_1
“Tetapi hanya datang saja, dan tidak meminta saya melakukan apapun”
Setelah pamit, aku dan Tina menuju ke rumah Tina…
Informasi dari Yetno ini benar-benar bermanfaat, sehingga kini aku harus lebih hati-hati dengan Burhan.
Cuma yang aku heran, kenapa pak Wandi keluar dari pekerjaan disana apabila dia dan kedua orang itu sedang melakukan sesuatu yang menguntungkan dia disana.
Apakah dia keluar dari pekerjaan disana akibat dari istrinya yang tau perselingkuhanya dengan Tina?
Atau jangan-jangan Tina tau juga apa yang dikerjakan pak Wandi disana bersama Mamad dan Burhan?
Teka teki ini semakin membuatku pusing….
Belum lagi dengan serangan ghaib yang entah dilakukan oleh siapa disana, tapi apakah serangan itu berasal dari penghuni sana atau dari golongan Burhan dan pak Wandi.
“Mas… Tina kan belum sempat masak. gimana kita cari makan siang dulu aja mas” kata Tina sambil memeluk erat pinggangku
“Ayo mbak, kita mau cari makan apa dan dimana mbak?”
“Kita ke kota saja mas…. tina tau ada depot rawon enak mas”
Sebenarnya malas juga kalau harus ke kota, tapi ya sudah lah demi untuk menyenangkan Tina…
Ada satu hal yang aku tidak paham dirumah penggergajian itu…. sebenarnya apa yang sedang terjadi disana, dan kenapa sampai Yetno dan aku dibuat tidak kerasan di sana.
Apakah Burhan sedang melakukan sesuatu atau meneruskan sesuatu disana tanpa pak Wandi.
Atau apakah yang dilakukan Burhan itu ada hubunganya dengan pekerjaan disana, karena perasaanku tidak ada yang berharga sama sekali disana.
“Mas, apa mas Agus percaya dengan yang dikatakan Yetno tadi? Tina kok merasa Yetno itu berbohong ya mas”
“Tidak tau mas, pokoknya ada yang ndak beres juga dengan Yetno itu mas”
“Nanti saja kita bahas mbak, kalau sudah di rumah mbak Tina, atau waktu kita sedang makan”
“Mbahas sambil naik motor kok rasanya tidak enak mbak”
Kami dalam perjalanan ke kota yang lumayan juga jauhnya,
“Mas, gak usah ke kota mas, kita ke warung rujak cingur aja ya”
“Iya mbak, rasanya kejauhan kalau harus ke kota mbak”
“Iya mas, nanti di kiri jalan ada warung rujak cingur yang enak, kita kesana saja mas”
*****
Kami sudah sampai di rumah Tina, setelah tadi makan di warung rujak cingur.
“Gimana mas, apa mas tidak curiga sama omonganya Yetno tadi?”
“Yang mana mbak Tina, perasaan semua sesuai dengan yang saya alami mbak”
“Yang tadi tentang bagaimana tiba-tiba mbah Karyo mengajak kerja Yetno disana, tanpa persetujuan pak Wandi dan bos sampean mas”
“Karena untuk kelasnya Mamad atau Burhan itu kan yang mencarikan harus dari bos besarnya mas Agus”
“Karena apa…. karena Yetno itu kan tinggal di rumah penggergajian, sehingga tanggung jawab nya ke atasannya mas Agus kan”
“Kalau seandainya mbah Karyo mengajak Yetno untuk bekerja di bagian produksi, mungkin masih masuk akal mas”
__ADS_1
“Lha untuk tinggal di rumah penggergajian apabila tanpa persetujuan dan sepengetahuan bos besar jelas bahaya kan mas”
“Lalu tentang mbah Karyo, kenapa dia bisa mengatur pak Wandi agar menyetujui untuk menggunakan Yetno disana”
“Hmm benar juga apa yang mbak Tina katakan. jadi sebenarnya apa yang terjadi disana”
Aku semakin bingung, karena apa yang dikatakan oleh Tina ada benarnya juga.
Karena jelas tidak mungkin mencari orang pengganti Mamad hanya berasal dari orang yang bukan berasal dari bosku.
Dan benar juga kata Tina, bagaimana bisa mbah Karyo menyetir Pak Wandi agar menerima Yetno begitu saja.
Apakah mbah Karyo memegang rahasia pak Wandi sehingga mbah Karyo begitu mudahnya menaklukan pak Wandi yang pada awalnya menolak keberadaan Yetno.
“Saya tidak tau mana yang benar dan mana yang salah mbak, saya juga tidak tau harus tanya ke siapa lagi untuk kasus ini”
“Seandainya ada pak Karyo mungkin saya bisa tanya ke beliau mbak”
“Nah itu dia mas sayang suamiku…. sebenarnya tadi Tina merasa banyak hal yang janggal dari ceritanya Yetno, hanya saja Tina masih berusaha berlogika dulu”
“Menurut mbak Tina, apa yang harus saya lakukan dengan keadaan ini?”
“Yah diam saja mas, diam hingga semua terkuak sendiri, karena Tina sampai sekarang masih belum yakin apa yang dikatakan Yetno itu benar”
“Disini Yetno sangat membenci Burhan sampai dia bilang ke mas Agus suamiku bahwa mas Agus harus berhati-hati dengan Burhan”
“Padahal Yetno baru saja tidak ada satu hari kenal dengan Burhan”
“Bahkan yang mencekik Yetno malam hari itu saja dia tidak tau siapa orangnya kan mas”
“Dia hanya bilang orangnya tinggi dan besar, itu saja yang Yetno tau mas”
“Nah soal pak Wandi ini mbak Tina….. Selama Yetno ada disana, apakah pak Wandi menginap di rumah mbak Tina?”
“Dan apa mbak Tina juga memperlakukan pak Wandi seperti yang mbak lakukan kepada saya?”
“Sama sekali tidak mas!....”
“Mas Wandi kesini menginap disini apabila dia ada urusan telepon ke bos besarnya”
“Mas Agus pasti curiga sama Tina kan mas… asal mas Tau, Perlakuan Tina berbeda antara memperlakukan Wandi dengan memperlakukan mas Agus!”
“Pertama mas Wandi kesini, Tina rayu-rayu seperti yang Tina lakukan kepada mas Agus. tetapi ……”
“Tetapi ternyata dia memperlakukan Tina seperti memperlakukan pelachur. Mulai saat itu Tina selalu jaga jarak mas”
“Dia memang kadang setelah menelpon bosnya kadang tidur disini, di ruang tamu dengan alasan dia tidak berani pulang”
“Dan asal mas tau, ketika dia ada disini, Tina ada di dalam kamar, Tina kunci kamar Tina”
“Dan satu lagi rahasia Tina tentang hubungan Tina dengan mas Wandi….”
“Tina sakit hati setelah dibohongi akan dinikahi olehnya yang ngakunya duda, tetapi ternyata masih punya istri, dia juga beri Tina cincin yang mirip cincin kawin, yang ternyata milik istrinya”
“Tina taunya karena di bagian dalam cincin itu ada nama perempuan yang ternyata istrinya”
“Dan asal mas tau….yang melaporkan mas Wandi kepada istrinya adalah Tina sendiri mas!”
“Bagaimana Tina tau nomor telepon rumah mas Wandi, Tina tau dari nomor telepon yang sering digunakan di wartel ini”
“Selama ini dia hanya menghubungi dua nomor saja, pertama nomor telepon rumahnya, yang kedua nomor telepon bosnya!”
__ADS_1