
Lebih baik aku pergi mencari mas Agus dulu, bukankah pak Paijo sudah mengiyakan datang kesini. dan sekarang dalam perjalanan menuju ke sini.
“Pak Majid.. kita ke parkiran dulu saja, siapa tau mobil dokter Joko masih ada disana”
“Baik bu.. mari ikuti saya bu”
Dengan setengah berlari aku mengikuti langkah pak Majid yang berjalan dengan cepat dengan langkah lebar.
Hanya hitungan menit aku dan pak Majid sudah ada di parkiran tempat dokter dan karyawan rumah sakit ini…
“Itu mobil dokter Joko, berarti dia tidak pergi dari sini bu… kecuali dia menuju ke kamar Jenazah yang letaknya ada di bagian belakang”
“Karena kalau ke kamar jenazah harus lewat parkiran, dan memang memutar dan agak jauh bu”
“Dari pada kita memutar lewat luar rumah sakit, lebih baik kita lewati jalan yang biasa dilalui dokter dan perawat disini bu”
“Sebenarnya jalan ini tidak boleh dilewati selain perawat dan dokter, tapi karena kita dalam keadan gawat, maka kita lewat sini saja bu…jalan ini jalan singkat dari UGD menuju ke kamar Jenazah bu”
“Bagaimana bu, kita kesana atau tidak?”
“Ya sudah pak.. sudah kepalang basah ini. ayo antar saya ke kamar jenazah”
“Ikuti saya bu”
Pak Majid dan aku masuk kembali ke rumah sakit, kemudian kami kami menuju ke arah UGD lagi. dari UGD ada pintu yang bertuliskan dilarang masuk selain dokter dan karyawan rumah sakit.
Setelah melalui beberapa pintu dan ruangan, akhirnya kami sekarang ada di bagian luar belakang rumah sakit… di depan sebuah bangunan kecil yang letaknya ada di pojokan rumah sakit.
Plang atau papan nama yang tertera di atas menyatakan kaluau banguan kecil ini adalah kamar Jenazah.
“Bagaimana bu…. apakah ibu tetap akan masuk ke dalam sana atau gimana?”
“Bapak saja yang ke sana, tanyakan saya ke petugas jaganya dulu saja” terus terang aku takut juga apabila harus masuk ke ruang kamar jenazah ini.
“Ibu tunggu disini saja dulu kalau memang takut, biar saya saja yang masuk ke sana”
Pak Majid berjalan ke arah bangunan kecil dengan pintu tertutup.
Aku berpikir apabila pintu yang ada di banguanan itu terbuka, maka akan terlihat jenazah yang adalamya.
Ah tapi itu kan pikiranku sendiri, pikiran yang tidak benar, pikiran yang muncul ketika akal sehat tidak jalan sama sekali.
Pak Majid mengetuk pintu kamar jenazah, aku memalingkan muka… aku tidak berani melihat kenyataan apabila yang ada di dalam sana itu benar-benar mengerikan.
Aku bisa dengar kalau pintu itu terbuka, dan seseorang keluar dari ruangan kecil itu.
Pak Majid sedang bicara dengan petugas jaga kamar jenazah.. tapi hanya sebentar, karena setelah itu dia kembali ke arahku.
Ketika aku sedang melihat pak Majid berbicara dengan petugas kamar jenazah.. tiba-tiba secara tidak sengaja melalui ujung mataku aku melihat sebuah bayangan yang berkelebat.
Hanya sekelebatan melalui ujung mataku saja, aku tidak melihat secara keseluruhan apa itu yang nampak sekelebatan itu.
Ah… bisa saja itu hanya ilusi saja….
Akhirnya pak Majid selesai berbicara dengan petugas kamar jenazah, dia berjalan ke arahku dengan tergesa gesa.
“Betul tadi dokter Joko dan seseorang dengan jilbab kesini.. kata petugas jaga kamar Jenazah itu bu”
“Tapi tidak lama kemudian mereka pergi”
“Pak.. apakah mayat Kunyuk yang tadi meninggal karena tusukan itu ada disana?”
“Pastinya ada bu, karena dokter Joko dan suami ibu kesini karena untuk melihat mayat yang baru saja datang dari UGD”
“Huufffhh saya sedikit lega, meskipun suami saya belum saya temukan, yang penting saat ini suami saya sedang bersama dokter Joko yang akan mungkin melindunginya dari dua orang jahat itu pak”
“Sekarang bagaimana bu, kita ke mana lagi?”
“Kita kembali ke UGD saja pak.. pasti mereka berdua ada disana pak. sembari menunggu pak Paijo datang kesini”
“Kita lewat samping rumah sakit saja ya bu, jalur yang harusnya dilewati oleh umum apabila akan menuju ke kamar jenazah”
Mungkin yang didengar orang yang ada di ruang UGD tentang dokter Joko yang bilang tempat aman itu ada di kamar Jenazah ini benar.
Tapi mas Agus dan dokter Joko tidak ada disana kan, mereka sudah pergi dari sana.
Jadi tempat aman itu mungkin bukan untuk mas Agus, tapi tempat aman bagi mayat Kunyuk hihihihi.
__ADS_1
jarak antara kamar mayat dan UGD ini sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena letaknya memutar sehingga rasanya jauh sekali
Ketika aku dan pak Majid ada di samping rumah sakit… di depan kami ada beberapa orang yang bergerombol.
“Kelihatannya ada orang pingsan bu.. saya kesana dulu” kata pak Majid dengan setengah berlari
Aku juga tidak mau kalah dengan pak Majid, aku juga lari menuju ke kerumunan orang yang ada di samping rumah sakit itu.
Beberapa orang menyingkir ketika pak Majid sampai di kerumunan orang itu.
Ketika aku sudah sampai.. ternyata benar ada orang yang tergeletak di samping rumah sakit.. dan orang itu adalah….
“Dokter Joko… bangun Dok…!” teriak pak Majid
Dokter Joko tergeletak di samping rumah sakit dengan hidung yang mengeluarkan darah… sementara itu pak Majid dengan menggunakan HT menghubungi bagian UGD dan anggota satpam lainya.
Tapi yang terkapar disini hanya dokter Joko sendirian..lalu dimana mas Agus?
“SUAMI SAYA DIMANA…?!” teriakku histeris
*****
Di ruangan petugas keamanan rumah sakit..
Aku duduk di pojokan dekat jendela, disini juga ada pak Paijo dan tiga orang yang berpakaian biasa seperti aku juga. Selain itu ada pak Majid dan beberapa anggota keamanan rumah sakit.
Tapi tidak itu saja.. aku bisa merasakan ada sesuatu selain kami yang ada disini, tetapi aku tidak bisa melihat sesuatu itu., aku hanya bisa merasakan saja.
Seketika bulu kudukku merinding…tapi tidak ada orang lain di ruangan petugas keamanan ini.
Kuperhatikan tiga orang yang berpakaian seperti aku yang merupakan saksi mata yang melihat adanya aksi pemukulan dan penculikan di samping rumah sakit.
Selain meminta keterangan dari tiga orang saksi mata pemukulan pak Paijo juga meminta keterangan dari aku juga… dan aku sudah menceritakan apa yang pagi hingga siang ini terjadi kepada pak Paijo.
“Jadi percuma juga apabila ibu Agus berusaha mencari atau mengikuti dua orang yang telah melakukan pemukulan terhadap dokter Joko dan melakukan penculikan terhadap suami ibu” kata pak Paijo
“Kita harus tenang dan menggali informasi dulu dari saksi mata ini” lanjut pak Paijo
“Tapi saya yakin mereka akan membawa suami saya ke rumah penggergajian yang ada di tengah hutan pak” aku makin emosi ketika pak Paijo bersikap tenang tanpa menunjukan kepanikan sama sekali
“Iya… saya tau bu.. dan tolong sabar dulu….” kata pak Paijo
“Salah satu dari mereka mengatakan kurung di rumah biasanya saja, gitu pak” kata salah satu saksi mata yang berpakaian batik
“Bu Agus tau dimana rumah yang biasanya itu?” tanya pak Paijo
“Jelas tau pak, itu kan rumah penggergajian…!”
“Ya sudah… kita ke sana saja.. eh terima kasih atas info dari mas mas ini” kata pak Paijo kepada tiga orang saksi mata pemukulan itu
“Pak Majid.. tolong diperketat lagi penjagaan di rumah sakit ini, apalagi dengan penghuni kamar nomor tiga, jangan sampai kalian mecolongan lagi.
Duh aparat keamanan ini kenapa lambat sekali kerjanya…
padahal tadi kan aku sudah bilang, mereka pasti akan membawa mas Agus di rumah penggergajian, tapi kenapa harus menanyai saksi mata segala!
Kelamaan kerja mereka!
Tapi ternyata tidak begitu. Ternyata sekarang pak Paijo dengan menggunakan sebuah HT dia mengontak seseorang yang entah ada dimana.
Pak Paijo menyuruh orang yang dikontak itu untuk bersiap apabila ada beberapa orang yang menuju ke sana
“Yah semua sesuai dengan perkiraan saya sebelumnya… tenang saja bu, saya sudah suruh orang untuk untuk standby di daerah hutan sana sebelumnya”
“Memang saya sengaja tidak pasang orang disini, karena saya sudah serahkan kepada pak Majid untuk yang ada di wilayah sini”
“Saya pasang orang di sekitar sana itu atas dasar informasi yang diberikan pak Agus dan ibu Agus waktu saya datang kesini bersama dokter Joko”
“Dan tadi hasil saya mengontak rekan saya yang ada disana, dia mengatakan bahwa dari semalam hingga sore hari di sekitar sana ada kegiatan”
“Kegiatan beberapa orang yang berseliweran masuk ke area hutan, tapi memang sengaja tidak saya perintahkan untuk melakukan tindakan, karena fokus saya untuk sementara ini adalah identifikasi dan penyidikan dulu”
Aku berjalan bersama pak Paijo menuju ke arah parkiran mobil…
Ternyata aku salah sangka, kupikir dia menaruh orang di sekitar rumah sakit ini, ternyata anggotanya dia taruh di sekitar hutan sana.
Tapi herannya kenapa tidak dilakukan penangkapan saja… kenapa dibiarkan orang-orang yang riwa riwi di sana… kan sudah jelas mereka yang ada di sana sedang melakukan sebuah transaksi.
__ADS_1
Tapi mungkin ini adalah prosedur mereka,... aku yang orang awam seperti ini hanya memikirkan bagaimana mereka bisa ditangkap secepatnya saja.
Mobil dinas bercorak khas kepolisian meluncur menuju ke arah desaku…kebetulan hari ini lalu lintas tidak seramai seperti biasanya, sehingga mobil ini bisa berjalan cepat.
Tapi yang aneh… di dalam mobil ini aku merasa tidak hanya dengan pak Paijo saja.. aku merasa ada yang lain juga. hanya saja yang lain itu apa dan siapa.
Ku Toleh ke kursi belakang mobil… ternyata tidak ada siapapun di belakang.
“Ada apa bu Agus… apakah ada yang mengikuti kita?”
“Tidak pak… tidak ada siapapun kok… saya hanya merasa ada sesuatu… “
“Sesuatu itu apa bu.. bisa lebih spesifik lagi?”
“Tidak tau pak… pokoknya ada yang lain selain kita berdua yang ada di dalam mobil ini”
“Sudahlah bu.. mungkin itu hanya perasaan ibu saja, karena beberapa hari di rumah sakit itu ibu selalu mengalami hal yang tidak wajar”
“Ingat bu…yang ibu hadapi ini bukan orang amatiran… sehingga butuh perencanaan yang matang agar bisa membekuk mereka”
“Tidak hanya yang ada di level bawah… tetapi juga bos mereka”
“Sebentar pak… sebenarnya yang kita hadapi ini siapa dan apa pak, dan bagaimana bapak bisa berkata seperti itu apabila tidak tau apa yang bapak Hadapi?”
“Tenang bu… sebenarnya saya sudah lama melakukan penyelidikan ini, tetapi hasilnya selalu nihil… yang saya dapatkan hanya pencurian solar biasa saja”
“Tidak ada hal yang spesial seperti transaksi narkoba atau perdagangan sesuatu yang mengerikan”
“Tetapi dalam beberapa minggu terakhir ini anak buah saya sempat melihat seorang bandar besar narkoba ada i sekitar desa tempat mbak Tina tinggal”
“Biasanya apabila disuatu tempat ada bandar besar narkoba…berarti disana ada sesuatu yang mencurigakan”
“Dari sana saya dan anggota melakukan penyelidikan… tapi hasilnya masih saha nihil.. kami tidak bisa mendapatkan dimana mereka mengadakan transaksi”
“Ya di rumah penggergajian lah pak” aku semakin sebel sama polisi ini, kenapa kerja mereka lambat sekali
“Tidak semudah itu bu…makanya dengan adanya ibu dan bapak Agus dan berdasarkan cerita kalian berdua, saya dan anggota bersemangat lagi untuk menyelesaikan masalah ini”
“Harusnya kalau bapak taruh anggota di rumah sakit, tidak akan terjadi pemukulan dan penculikan seperti ini pak.. seharusnya hal ini tidak terjadi”
“Maafkan saya bu Agus… memang untuk menyelesaikan sebuah kasus kadang ada saja korban yang tiba-tiba berjatuhan”
“Tapi biasanya pengalaman saya, apabila sudah ada korban itu menandakan kasus tersebut akan semakin mudah untuk diselesaikan”
Ya sudahlah.. susah bicara dengan aparat penegak hukum macam ini… harusnya mereka cepat tanggap dengan segala hal yang mencurigakan.
Lha yang ini malah nunggu ada korban dulu… apa mereka ini butuh sesuatu yang lebih ekstrim untuk menyelesaikan sebuah kasus.
Semoga di negara wakanda aparat yang berwajib kerjanya lebih cepat tanggap dalam menuntaskan sebuah kasus yang besar… macam kasus pembunuhan sesama aparat yang bernama Mambo itu.
Aku hanya manusia biasa yang tidak tau bagaimana kerja aparat penegak hukum.. jadi yang ada di otakku semua harus cepat untuk diselesaikan
*****
Hari semakin sore. matahari semakin berada di ufuk barat ketika mobil pak Paijo sudah sampai di sekitar jalan di desaku.
Mobil berjalan biasa hingga melewati belokan yang menuju ke arah rumah penggergajian.
“Lho pak.. belokan ke rumah penggergajian nya kelewatan pak”
“Iya saya tau bu.. memang sengaja saya lewatkan karena saya memakai sebuah mobil polisi yang mencolok, lagi pula anak buah saya ada di sana tadi”
“Dimana anak buah bapak, kok saya tidak melihat sama sekali pak?”
“Tadi bu, di dekat belokan sana, disana ada dua anak buah saya yang melaporkan apabila ada yang datang ke sana”
“Kita nanti ke arah lurus dulu bu, kita ke rumah teman saya dan teman dokter joko yang bernama pak Heri Supangat atau biasanya dipanggil pak Pangat”
“Lho… pak Pangat itu teman bapak juga.. saya dan suami saya pernah kesana untuk mengobati luka di dada suami saya akibat dari semburan cairan pocong”
“Oh … jadi kalian berdua sudah kenal dengan pak Pangat?”
“Iya pak… Dokter Joko yang mengarahkan kami untuk ke rumah pak Pangat”
Ternyata ke rumah pak Pangat juga….
Semakin sore menjelang maghrib… perasaanku tentang adanya sesuatu di dalam mobil ini semakin kuat.
__ADS_1
Aku semakin bisa merasakan adanya sosok yang kini ada di kursi belakang mobil pak Paijo ini.