RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
113.5. ADA YANG MENGIKUTI TINA MAS…


__ADS_3

“Aduuuh kenapa jadi takut masuk ke rumah sendiri ya”


Aku masih ada di depan pagar rumah, meskipun dua orang tadi sudah pergi, tapi rasanya aku harus perhatikan semua yang ada di depan rumahku dulu.


Pagar rumah kuperhatikan, kunci gembok juga… dan tentu saja debu yang ada di bagian atas pagar.


Debu yang sulit dijangkau untuk dibersihkan, karena terlalu tinggi untuk dipanjat.


Mungkin bagi orang laki-laki memanjat pagar bukan hal yang sulit, buktinya kemarin Burhan hampir  bisa masuk ke rumahku.


Kuperhatikan debu yang menempel… ternyata debu itu masih sama seperti terakhir kemarin ketika ada Burhan yang berusaha masuk ke dalam rumah.


Sebenarnya untuk saat ini aku sudah tidak bisa tinggal di rumah ini,... sudah dua kali ada orang yang tidak kukenal datang kesini.


Aku harus memikirkan untuk pindah dari rumah ini, keadaan disini semakin hari semakin tidak aman, semenjak Mas Agus berusaha menyelidiki apa yang sedang terjadi di rumah penggergajian itu.


*****


Aku berangkat menuju rumah sakit dengan membawa satu tas ransel yang lumayan besar, tas ransel itu berisi banyak pakaian ku.


Dan ada beberapa pakaian yang bisa digunakan oleh mas Agus juga.


Alasanku membawa banyak pakaian dan perlengkapan adalah karena aku merasa tidak aman apabila harus tinggal di rumah itu.


Besok atau lusa Burhan sudah keluar dari tahanan, sedangkan terakhir sebelum dia dipenjara dia kan berusaha masuk ke rumahku..


Sedangkan besok mas Agus sudah bisa keluar dari rumah sakit… dan jelas tidak mungkin mas Agus akan kembali ke rumah penggergajian itu lagi.


Aku harus mikir dimana aku tinggal…


Ah… mungkin aku bisa tinggal di rumah kosong depan rumahku saja, jadi sekalian aku bisa awasi keadaan rumah ku.


Coba nanti aku beritahu mas Agus tentang rencanaku untuk tinggal di rumah kosong depan rumah,  rumah kosong itu meskipun tidak aku tinggali tetapi listrik dan airnya masih jalan.


Jugaan rumah itu keadaanya bersih meskipun tidak ada yang menempatinya.


*****


Kupacu motorku dengan kecepatan sedang menuju ke arah rumah sakit.


Dengan Sebuah tas ransel yang lumayan besar pasti menjadi tanda tanya bagi orang yang melihatnya…


Keadaan di jalan desa ini siang hari bisa dibilang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi…

__ADS_1


Sehingga apabila ada kendaraan yang terus menerus ada di belakangku meskipun kecepatan motor kupelankan, aku bisa menebak orang itu sedang membuntutiku.


Semenjak keluar dari desa, aku selalu melihat ke arah spion.


Memang ada satu motor yang selalu ada di belakangku, sekitar jarak lima sampai enam rumah dari posisiku dan posisi orang yang ada di belakangku terus.


Meskipun aku memelankan laju motor, motor yang ada di belakangku itu juga ikut pelan.


“Aduuh apa yang harus aku lakukan…. “


Aku harus cari jalan yang ramai. jangan sampai aku ada di kondisi jalan yang sepi.


Ada sih sebenarnya jalan yang ramai, tetapi agak memutar kalau akan menuju ke arah rumah sakit…


Tapi menurutku itu jalan yang lebih aman daripada ada orang yang terus menerus mengikutiku.


Di depan ada pertigaan jalan dengan bangjo (lampu traffic light) yang sedang menyala warna merah.


Kalau aku lurus maka aku akan melewati jalan yang sepi karena di sebelah kiri adalah sawah, dan sebelah kanan hutan.


Kalau lurus memang lebih dekat dengan tujuanku yaitu rumah sakit. tapi bahaya dengan keadaan aku yang sedang diikuti orang seperti ini.


Aku harus belok ke kiri, karena di kiri itu akan menuju ke arah pasar, dan di pasar pasti keadaannya ramai, kadang ada petugas polisi yang menjaga disana.


“Tenang Tinaaaa.. kamu sanggup menghadapi hal sepele ini kok, tinggal menuju ke arah yang ramai dan dekati polisi juga”


Ok, akan kulakukan…


Kupercepat sedikit laju motor agar jarak ku dengan orang yang mengikuti aku agak jauh, sehingga aku masih punya waktu untuk  berpikir sejenak.


Berhasil, sekarang jarak ku dengan orang yang yang dibelakang sudah mencapai mungkin lebih dari tujuh rumah.


Di daerah pasar itu ada beberapa belokan yang ramai, karena gang-gang itu dipenuhi oleh pedagang meskipun sekarang sudah siang menjelang sore.


Di sini pasar buka pada sore hari hingga malam, kemudian lanjut lagi dengan pedagang luar kota yang datangnya sebelum subuh.


Biasanya pasar itu mulai buka tengah malam menjelang pagi hingga sebelum siang hari, beda dengan yang disini.


Penduduk disini lebih suka belanja sore hari hingga malam hari.


Beberapa mobil angkot yang berjalan pelan berhasil aku dahului, hingga motor yang ada di belakangku tidak terlihat lagi  keberadaanya.


“Di depan itu ada belokan, yang biasanya ramai!”

__ADS_1


Kupercepat laju motor, kemudian aku berbelok ke kiri…


Ternyata benar  perkiraanku, belokan kiri ini sudah ramai dengan pedagang dan orang yang berlalu lalang, baik menggunakan motor, sepeda, dan jalan kaki.


Gang yang berbelok ke kiri itu hanya berupa gang kecil yang lebarnya sekitar lima, tetapi gang ini ramai sekali dengan penjual dan pembeli.


Setelah masuk ke gang ini…akhirnya keadaan di belakangku sudah tertutup oleh orang-orang yang sedang belanja…


Kubuka helm yang berwarna kuning agar orang yang dibelakangku tidak bisa melihat keberadaanku.


Kumatikan mesin  motor dan kutuntun motor di tengah keramaian orang yang sedang belanja, tidak lupa aku tetap berusaha melihat ke arah spion.


Aku berjalan terus hingga aku sekarang akan keluar dari gang ini…


Aku berhenti sebentar di mulut gang, di sebelah lapak orang yang menjual ikan pindang.


Tujuanku berhenti sejenak bukan untuk beli pindang, melainkan untuk melihat keadaan di sekitar jalan depanku.


Tapi tiba-tiba penjual pindang itu mengusirku…


Dia bilang motorku menghalangi pembeli yang akan mampir ke lapaknya.


“Mbak.. kalau tidak beli pindang… jangan parkir di depan lapak saya!... orang-orang yang mau beli jadinya ketutupan sama motornya sampean”


“Maaf bu… saya tidak sengaja menutupi dagangan ibu”


TINA POV END


*****


“Tadi ada yang mengikuti Tina mas….”


“Untung Tina bisa lolos dari orang yang mengikuti tadi”


“Mbak Tina tau tidak siapa yang mengikuti mbak Tina”


“Jelas tidak tau mas, Tina ketakutan mas”


Tina menceritakan kepadaku tentang adanya orang mencurigakan yang ada di depan rumahnya, dan berhasil diusir oleh pak RT.


Kemudian dia bercerita juga tentang usahanya meloloskan diri dari orang yang mengikutinya tadi.


“Hmm jadi ada yang bernama Kunyuk ya mbak?”

__ADS_1


“Iya mas, kata pak RT seperti itu, salah satu orang itu memanggil temannya dengan sebutan Nyuk”


__ADS_2