RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
287. KEMATIAN YANG ADA HUBUNGANYA DENGAN ANAKKU


__ADS_3

“Jadi posisi mayat pak Kabul nyangkut di pinggir sungai depan makam Fong?” tanya istriku


“Iya yank, dan sayangnya aku belum bisa komunikasi dengan mbak Kunti yang ada di pohon beringin, aku kepingin tau apakah pak Kabul itu mati karena kecerobohan dia sendiri atau karena ada unsur lain”


“Gini aja mas… malam ini coba mas ke sana lagi…”


“Tapi kan kalau ke sana harus diantar penjaga, aku gak bisa ke sana tanpa diantar penjaga yank, mereka gak mau ada apa-apa dengan aku”


“Iya juga sih mas, eh nanti malam yang jaga siapa mas, apa pak Tejo. pak Rahmat, pak Toha dan pak Kabul lagi?”


“Entah Yank.. atau gini aja, coba aku telepon pak Diran sebagai kepala keamanan disini, siapa tau pak Diran mau antar aku ke sana nanti malam ini Yank”


Sebelum istiku menyetujui apa yang aku mau, aku sudah mengambil telepon satelit yang aku letakan di kamar tidur kami, harap maklum karena disini belum terjangkau sinyal telepon seluler, sehingga kami masih menggunakan telepon satelite yang harga pulsanya jauh lebih mahal dari pada seluler.


“Selamat siang pak Diran….”


“Weh pak Agus, ada apa dengaren siang-siang gini telepon saya” jawab pak Diran setelah pak Diran menjawab panggilan teleponku


“Gini pak Diran, tentang kasus pak Kabul….”


“Hmmm kenapa dengan kasus pak Kabul pak Agus, apakah pak Agus merasa ada sesuatu yang janggal?” tanya pak Diran


“Janggal sih nggak pak, saya merasa ada yang aneh, karena mayat dia kan ditemukan sedang nyangkut di pinggir sungai depan makam palsu Fong…. Apakah ada sesuatu yang  aneh disini pak Diran?”


“Yah itu juga ada di dalam pikiran saya pak Agus, tetapi saya berusaha untuk melepas pikiran itu, saya berusaha untuk berlogika dan menunggu penyelidikan dari  polisi terkait dengan kematian Kabul” jawab pak Diran


“Mmmm saya sebenarnya ada rencana untuk bicara dengan mbak Kunti yang ada disana pak Diran, tetapi kalau saya ke sana kan harus bersama penjaga proyek, sehingga saya tidak ada kesempatan untuk bicara dengan mbak Kunti”


“Iya pak Agus… sebenarnya setelah ditemukan mayat Kabul, ketika saya ada disana keliatanya mbak Kun ingin mengatakan sesuatu kepada saya pak, tapi saya buru-buru menutup keinginan untuk berkomunikasi dengan mbak Kun itu”


“Saya belum siap mental untuk mendengar sesuatu yang akan terjadi disana pak Agus” kata pak Diran


“Hmm atau begini saja pak Diran, malam nanti kita ke sana, kita bicara dengan mbak Kun,  hanya kita berdua saja pak Diran, bagaimana pak?”


“Ok pak Agus, nanti malam jam delapan pak Agus akan saya jemput, nanti penjaga malam akan saya atur agar mereka tidak mengikuti kita pak”


“Baiklah pak Diran, sampai nanti malam ya….”


Aku duduk di ruang tamu setelah aku matikan sambungan telepon dengan pak Diran, sementara itu  TIna istriku sedang menyusui mas Gusta yang selalu nangis minta susu.


Beda dengan mbaknya si  Gustin, dia lebih banyak diam dan selalu mengalah kepada saudara kembarnya, meskipun umur mereka masih tiga bulan, tetapi sifat mereka berdua sudah kelihatan.


Kenapa kami sebut Gustis sebagai kayak dan Gusta sebagai adik, karena meskipun mereka kembar tetepi kata dokter yang diangkat pertama dari rahim istriku adalah Gustin, makanya aku dan istriku memanggil Gustin itu adalah kakak dari Gusta.


“Nanti malam aku dan pak Diran akan ke sana Yank… kayaknya pak Diran juga curiga apabila ada sesuatu yang terjadi disini”

__ADS_1


“Waduh mas… apa lagi yang akan kita  hadapai disini mas, anak kita masih berumur tiga bulan, gak mungkin Tina bisa ikut dan bantu mas AGus dan pak Diran apabila ada sesuatu yang terjadi disini”


“Iya Yank, berdoa saja, semoga gak ada apa-apa dengan tempat ini”


Siang hari berlanjut ke sore hari, sore hari berlanjut malam hari…


Lampu rumah dan lampu jalan sudah nyala, kedua anaku yang semenjak sore belum tidur, sekarang sudah terlelap di dalam kamar.


“Jam delapan memangnya mau ngapain mas?” tanya mbak Tina Istriku


“Nggak tau yank… nanti pak Diran saja yang bicara dengan mbak Kun yang ada disana, siapa tau ada petunjuk tentang kematian pak Kabul”


Ketika aku sedang ngobrol dengan istriku, tiba-tiba bunyi telepon berdering.. Bunyi itu sangat keras, dan pastinya akan membuat kedua bayiku terbangun.


 Dan benar tebakanku, kedua anak kembarku menangis, kalau udah begini istriku akan sibuk dengan dua anak kembarku.


“Halo pak Jay..” sapaku ketika aku jawab panggilan telepon


“Ah mas Agus, gimana kabar mas Agus, mbak Tina dan si kembar Agusta dan Agustin?” tanya suara pak Jay


“Hehehe kami baik baik saja pak, gimana pak Jay, ada yang bisa saya bantu?”


“Hmm syukur kalau kalian baik-baik saja. Jadi begini mas Agus, Proyek akan berjalan lagi besok pagi, karena tadi sore dari kepolisian susah memutuskan  kejadian Kabul sebagai murni kecelakaan kerja, bukan karena ada masalah dengan Prapto”


“Saya sudah telepon kepala proyek untuk melanjutkan kegiatan pembangunan, mungkin besok belum sepenuhnya bekerja, karena masih harus memanggil satu persatu pekerja yang sudah pulang ke kampung masing-masing.”


Setelah selesai pembicaraan dengan pak Jay, ternyata pak Diran sudah ada di depan rumah, seperti biasa dia mengendarai sepeda motor, sementara itu istriku selesai menenangkan kedua bayi kembarku.


“Masuk dulu pak Diran, kita bicara sebentar di dalam” suruhku kepada pak Diran yang ada di depan teras


Pak Diran duduk d kursi sofa yang bisa dibilang masih baru, sebaru dengan rumah yang kami tempati ini. Istriku sedang membuatkan teh hangat untuk pak Diran.


“Gimana pak Agus, apa ada yang penting kok saya disuruh mampir dan duduk disini hehehe” kata pak Diran


“Nggak pak Diran, saya cuma mau kasih tau.. Barusan pak Jay telepon, dia bilang urusan dengan polisi sudah selesai, dan kematian pak Kabul dinyatakan murni sebagai kecelakaan kerja, bukan karena kabul bermasalah dengan pak Prapto”


“Tapi saya tidak percaya begitu saja pak Diran, saya rasa ada sesuatu dibalik kematian pak kabul, saya rasa ada campur tangan dari pihak lain”


“Hehehe pak Agus ini ada-ada saja…. Proyek tetap biarkan jalan saja gak papa”


“Oh iya…. sebenarnya kita kan sudah sepakat untuk tidak membahas masalah supranatural lagi pak, tapi yah gimana lagi, karena kematian pak Kabul ini, maka kita terpaksa melanggar kesepakatan hehehe”


“Eh pak Diran bawa apa itu?” ketika aku lihat pak Diran membawa tas ransel kecilnya


“Yah, saya bawa gorengan untuk penjaga malam, dan juga saya bawa hadiah untuk mbak Kunt dan teman-temanya, cuma kemenyan yang akan saya bakar disana”

__ADS_1


“Kalau bakar kemenyan, apa gak ada masalah dengan penjaga malamnya pak?”


“Tenang saja pak Agus.. yang jaga malam ini, Darto, Sapi’i, Gempo, sama Dargondes… mereka akan saya beritahu bahwa saya akan melakukan sesuatu di belakang, dan mereka akan saya suruh untuk jaga di depan dulu”


Setelah meminum teh yang disediakan istriku, tepat jam delapan kami  menuju ke area Proyek yang keadaannya gelap.


*****


“Pak Darto, tolong panggil kesini Dargondes dan Sapi’i yang sedang jaga di belakang” perintah pak Diran yang merupakan kepala keamanan disini


Dengan menggunakan Walky talky pak Darto memanggil kedua rekannya yang sedang berjaga di belakang, tidak lama kemudian yang namanya Sapi’i dan Dargondes datang dari belakang area proyek.


“Selamat malam rekan-rekan, saya mau kabari bahwa besok proyek ini akan berjalan lagi, jadi kalian akan bekerja seperti biasanya, kontrol keliling tiap setengah jam sekali”


“Malam ini saya dan pak Agus kesini karena ada sesuatu yang akan saya lakukan di belakang sana, Gondes dan Pi’i kalian disini dulu saja untuk sementara waktu”


“Siap pak Diran” kata mereka berdua


“Oh iya saya hampir lupa… ini ada gorengan untuk kalian hehehe” kata pak Diran kemudian menyerahkan satu kresek berisi aneka gorengan untuk mereka berempat


Aku dan pak Diran menuju ke belakang area proyek, ke pohon beringin yang masih berdiri tegak dan di sekitarnya diberi pelindung agar tidak terkena kotoran proyek.


Ketika kami sampai di bawah pohon beringin, aneka Kunti dan belasan makhluk ghaib ada disana… mbak Kun teman kami yang biasanya juga sudah ada di sana, dia menatap kami berdua tanpa berkedip sama sekali.


Aneh juga mata kunti ini, kayak mata ikan yang gak pernah berkedip, mata kunti ini kuat sekali melek hehehe.


“Halo mbak Kun… lama gak ketemu, ini saya bawakan dupa kesukaan kalian, tunggu saya bakarnya dulu ya” kata  pak Diran  kemudian menyiapkan sebuah anglo kecil dan  kemudian membakar kemenyan dan  membakar dupa juga di bawah pohon.


Bau kemenyan campur dupa yang tajam menyeruak di hidungku…


Penghuni pohon beringin saat ini sedang menikmati sajian wangi yang dibawa pak Diran.


“Aku tau kalian kesini tentang orang yang mati itu kan” tanya kunti itu tanpa membuka mulutnya sama sekali


“Iya mbak Kun…  gimana mbak Kun, apa mbak Kun tau penyebab kematian pekerja disini?”


“Kamu!” tunjuk mbak Kunti kepadaku dengan mata melotot


“Pisahkan anakmu kembarmu….atau akan datang bencana yang lebih besar disini!” kata Kunti itu lagi


“Apa… pisahkan anak saya, memangnya anak saya salahnya apa?” aku agak meradang juga mendengar omongan kunti ini


“Kekuatan besar dari anak kembarmu yang belum terarah…”


“Kekuatan mereka berdua yang belum terarah bisa mempengaruhi kami yang ada disini, dan menyebabkan kami menjadi beringas”

__ADS_1


“Membuat kami menjadi haus darah….”


“Membuat sisa sisa yang jahat datang kesini!” kata mbak Kun sambil menunjuk ke seberang sungai


__ADS_2