
Anggota polisi itu berlari menuju ke arah kami, meskipun disini sangat gelap, tapi dia bisa datang kesini dengan berlari tanpa tersandung apapun, padahal disini banyak pot bunga yang pecah dan berbagai perabot kamar yang hancur….aneh!
“Stop!... kamu siapa?” tanya pak Dollah dengan tenang kepada anggota polisi yang datang itu
“Dia anggota saya pak… dia Mahmud” kata pak Senja
“Jangan mendekat….siapa kamu, ayo katakan siapa kamu, atau kamu saya bakar” kata pak Dollah dengan suara tenang
Pak Dolah mulai mengangkat tanganya, tiba-tiba anggota polisi itu menghilang!... dia iblis, tadi aku sudah curiga kalau yang datang itu bukan manusia
“Dia iblis yang menyamar… sepertinya kita akan dipecah pecah, agar kekuatan kita berantakan” gumam pak Diran
“B..bagaimana pak Dollah tau kalau itu bukan anak buah saya?” tanya pak Senja
“Saya jekas bisa tau mana yang manusia sebenarnya dan mana yang hanya jelmaan iblis… tapi seharusnya pak Senja juga curiga, bagaimana anak buah pak Senja bisa sampai sini dengan setengah berlari tanpa tersandung oleh apapun di sekitar sini” kata pak Dollah
“Di parkiran juga ada dua anak didik saya yang bernama fathur dan Qolil, mereka anak didik saya yang bisa diandalkan untuk mengalahkan iblis yang sekelas tadi itu, bahkan di atas iblis yang tadi itu”
“Sekarang kita harus fokus pada apa yang akan datang kesini.. Dan sebentar lagi di belakang sana akan ada peperangan, kita harus tetap waspada” kata bu Tugiyem..
Aku tadi juga sudah mengira.. Kalau yang tadi itu bukan manusia….
Tapi aku tidak bisa melihat apakah yang tadi itu benar-benar iblis atau bukan…
“Coba lihat disana itu” gumam pak Senja setengah berteriak
“Peperangan sudah dimulai” gumam pak Dollah
“Kita harus lebih waspada lagi.. Ayo bantu melihat sekeliling, karena bisa saja ada yang menyusup ke sini” kata pak Diran
Di belakang dekat sungai benar-benar luar biasa, banyak sinar berwarna putih, biru, merah saling memancar. Sinar yang memancar seperti srengdor itu berasal dari pinggir sungai dan dari seberang sungai.
Kalau dilihat memang Indah, tetapi kita tidak tau yang sebenarnya. Yang sebenarnya terjadi adalah peperangan yang luar biasa.
Pak Jay, mbak Tina, komandan Senja dan anak buanya takjub dengan cahaya yang mirip dengan sreng dor… saling serang antara penduduk ghaib disini dengan yang ada di seberang sungai.
“Eh bu Tugiyem.. Pak Dollah.. Eh ini mbah Tina leluhur Tina bilang kalau sebentar lagi akan ada yang datang ke sini, kemungkinan besar ada adalah pemimpin disini pak” bisik mbak Tina Panik
__ADS_1
“Lalu apa yang harus kita perbuat pak?” tanya mbak Tina
“Hehehe ya tetap mempertahankan tanah ini saja mbak, jangan sampai mereka mendapatkan apa yang mereka cari. Eh ada informasi tidak tentang kemunculan pusaka itu, dan dimana tepatnya letaknya?” tanya pak Dollah
“Tidak ada pak,, tentang pusaka itu leluhur Tina tidak menjawab” jawab mbak Tina
“Hmmm kalau kedua iblis itu akan datang kesini, berarti sudah waktunya pusaka atau sesuatu sebagai penyeimbang daerah ini akan muncul” kata pak Dollah
“Dan pada waktu kemunculan benda yang katanya hanya seratus tahun sekali itu maka Kedua iblis itu akan mati-matian mengambilnya dari kita” tambah pak Diran
Keadaan disini sangat tenang, sunyi dan sama sekali tidak ada suara, yang ada hanya kilatan cahaya warna warni yang ada di sekitar sungai saja. Tidak ada suara sama sekali layaknya peperangan.
Yah cukup aneh untuk sebuah kalimat serangan, peperangan, atau pemusnahan, ya aneh karena disini sepi.
Sepi tapi tidak bagi pak Diran, pak Hendrik, bu Tugiyem, dan pak Dollah yang berusaha mencari energi di sekitar sini, indera keenam mereka bagaikan sonar yang mendeteksi energi jahat yang bersembunyi di sekitar sini.
“Pak Diran…” panggil pak Hendrik yang ada di sebelah pak Jay…
“Coba kesini pak, di sekitar saya ini kok rasanya ada getaran energi eneh” lanjut pak Hendrik lagi
“Diam pak Jay, jangan bergerak barang satu centimeter pun” kata pak Diran
“Pak Agus agak menjauh dari pak Jay dulu, saya mendeteksi ada energi yang sedang masuk ke tubuh pak Jay… “ kata pak Diran
Keempat orang mengelilingi pak Jay yang kebingungan, jelas dia bingung, karena pak Jay merasa tidak ada yang aneh sama sekali.
Tetapi tidak bagi keempat orang itu, mereka tau kalau ada sesuatu yang sedang berusaha masuk ke dalam tubuh pak Jay, meskipun tubuh pak Jay sudah diberi pelindung oleh pak Dollah.
Pak Diran dan pak Hendrik kemudian jongkok di sekitar kaki pak Jay, kemudian pak Jay membuka resleting celananya dan kemudian tangan pak Diran memegang sesuatu yang panjang dan lonjong, selanjutnya kepala pak Diran bergerak maju mundur….
Eh salah!....
Pak Diran dan Hendrik kemudian jongkok di sekitar kaki pak Jay, kemudian tangan pak Diran dan pak Hendrik seperti menangkap sesuatu di sekitar telapak kaki pak Jay.
Mereka berdua seperti memegang sesuatu yang berat dan melawan…. Telapak tangan pak Diran dan pak Hendrik tiba-tiba mencengkeram erat di sekitar telapak kaki pak Jay.
“TARIIIK.. AYO TARIIIK PAK DIRAN.. SAYA PEGANG KEPALANYA INI” teriak pak Hendrik dengan suara tertahan
__ADS_1
“TAHAN DULU PAK HENDRIK DAN PAK DIRAN.. DALAM HITUNGAN TIGA. TARIK SETAN ITU DARI DALAM TANAH.. SAYA AKAN BAKAR SEKARANG JUGA” teriak pak Dollah.
Dalam kondisi jongkok pak Diran dan pak Hendrik berusaha menarik sesuatu dari bawah pak Jay, sedangkan bu Tugiyem sedang memegang bahu pak Jay, aku nggak tau apa yang sedang dilakukan bu Tugiyem itu.
“HITUNGAN KE TIGA TARIK DENGAN KERAS PAK” kata pak Dollah
“SATU.. DUA …TIGA.. TARIIIK” kata pak Dollah
Dengan sekuat tenaga pak Diran dan pak Hendrik menarik sesuatu, hingga akhirnya mereka berdua terjungkal dengan posisi tangan masih memegang sesuatu.
“Sekarang angkat iblis itu tinggi- tinggi” kata pak Dollah yang kemudian seolah-olah memecutkan tasbih yang dia pegang
SPLAAASH!....… DHUAAAR…..!
Pak Hendrik dan pak Diran jatuh berguling guling setelah sesuatu yang ada di tangannya itu meledak.
“Arrghh sakit sekali tangan saya” keluh pak Hendrik
“Untung kalian berdua cepat menemukan dan memegang iblis itu, kalau tidak roh pak Jay akan ditarik dari bawah, tentu saja akibatnya pak Jay akan mati” kata pak Dollah
Ketika kami sedang membahas apa yang barusan terjadi, tiba-tiba aku mendengar suara erangan kesakitan, tapi suara itu berasal dari mbak Tina
“MBAK… ADA APA MBAK.. KENAPA KAMU MBAK!”
“Aarrghh sakit mas badan Tina sakit semua mas….. Aaduuuhh”
“Tidurkan di sini dulu nak Agus, biarkan pak Dollah memindai apa yang terjadi dengan mbak Tina….” kata bu Tugiyem panik
Pak Hendrik dan pak Diran juga sedang memindai atau mendeteksi kemungkinan adanya serangan atau kiriman kepada mbak Tina.
Tetapi hingga satu menit kemudian, mereka hanya menggelengkan kepala, seolah tidak ada apa pun yang terjadi dengan mbak Tina.
“Aneh, tidak ada serangan atau iblis yang berusaha masuk dan menyerang mbak Tina” gumam pak Dollah kemudian
“Tolooong pak, tubuh Tina sakit sekali aaaadhhhuuuh” kata mbak Tina yang mulai menggeliat geliat kesakitan
“Pak Dollah, saya juga tidak menemukan apapun di tubuh bu Tina… eh apakah ini merupakan tanda sesuatu pak?” kata pak Diran
__ADS_1