
“Mas.. Tina kebelet mas….”
“Waduuh, disini tidak ada WC umum mbak… ada juga hanya ****** yang ada di pinggir sungai itu”
“Atau kalau mbak Tina nekat.. kita naik motor polisi itu, kita pergi dari sini menuju ke kota, nanti kita ke pom bensin atau ke rumah sakit mbak”
“Ayo mas… ambil motor milik polisi itu. eh kunci motornya ada dimana mas?”
“Dari kemarin kunci motor ada di jaket yang saya pakai ini mbak, kemarin salah satu polisi itu menyerahkan kunci motor itu kepada saya”
“Mbak Tina disini saja dulu, saya mau lihat kondisi motor itu, kalau memang bisa dipakai dan bisa dihidupkan nanti kita langsung berangkat ke kota.
Aku mengiyakan apa yang mas Agus akan lakukan, karena satu-satunya kendaraan yang bisa membawa kami ke kota ya dengan menggunakan motor milik polisi itu.
Tetapi ketika mas Agus akan menuju ke rumah penggergajian, tiba-tiba ada yang membisiki aku untuk mencegah mas Agus
“Jangan kesana… hentikan mas Agus itu mbak” suara perempuan yang aku kenal sebagai Inggrid
“Mas… jangan kesana!”
Untungnya mas Agus mendengar omonganku yang nyaris berbisik, kemudian dia kembali ke tempatku.
wajah masa Agus nampak bingung….
“Kenapa mbak.. kenapa saya tidak boleh mengambil motor itu”
“Tunggu mas… tunggu hingga beberapa menit lagi!...jangan tergesa gesa mas”
Inggrid kemudian muncul di sebelahku sambil tersenyum.
Tapi pandangan dia ke arah rumah penggergajian, dia tidak berkata apapun selain hanya melihat ke arah rumah penggergajian,
Aku berusaha menjalin komunikasi dengan Inggrid dengan cara bicara dalam hati, sambil berharap Inggrid akan mendengar apa yang sedang aku bicarakan.
“Jangan ke sana dulu… tunggu hingga beberapa menit” hanya kata-kata itu yang aku dengar atau aku rasakan dari seorang Inggrid yang masih berdiri di sebelahku.
“Kenapa kamu tidak menampakan wujudmu kepada mas Agus?”
“Energi saya tidak besar…Inggrid bisa datang ke mimpinya mas Agus dengan mudah, tapi untuk menunjukan wujud ke mas Agus dan mbak Tina sekaligus Inggrid tidak kuat”
“Jadi Inggrid pilih menampakan wujud Inggrid ke mbak Tina saja”
“Kemarin Inggrid kehabisan tenaga ketika harus memaksakan diri untuk menunjukan dan berusaha berkomunikasi dengan mbak Tina”
“Ya sudah Inggrid, jangan dipaksakan , biarlah semua mengalir apa adanya… Sekarang ada apa di rumah itu, apa yang sedang akan terjadi Inggrid?”
“Di dalam rumah ada orang yang mengejar kalian kemarin, mereka menunggu kedatangan kalian seharian di rumah itu”
“Hmmm Wito dan Yetno?”
“Iya betul mereka mbak Tina”
“Inggrid… kamu tau dimana Kunyuk berada?”
“Inggrid tau dimana dia mbak, tapi lebih baik tidak usah mencari Kunyuk, karena dia sekarang bersama dengan Solikin. dia bersama Solikin di suatu tempat yang tidak jauh dari sini”
“Kunyuk bukan arwah yang bisa kalian percaya, dia akan bekerja apabila ada yang memberinya imbalan layaknya hantu peliharaan”
“Inggrid…Tina mau tanya… kemarin malam yang masuk kedalam rumah dan menyalakan kemenyan dan asap itu siapa?”
“Tidak ada siapapun yang masuk rumah ini mbak… tapi Inggrid tau itu adalah ulah dari Solikin, tapi maaf…Inggrid tidak bisa bertindak apa-apa karena Inggrid tidak mempunyai kemampuan apa-apa”
“Yang kemarin menyalakan kemenyan adalah ghaib suruhan Solikin, dia sebenarnya mau masuk ke dalam kamar, tapi anehnya sepertinya ada semacam penghalang, sehingga dia tidak bisa masuk ke dalam kamar itu sama sekali”
“Oh begitu…. Inggrid sudah lama ada disini?”
“Sudah lama.. ini dulu merupakan tempat peristirahatan keluarga Inggrid”
Mas Agus tetap memperhatikan apa yang ada di depan rumah penggergajian, dia tidak tau bahwa hantu yang bernama Inggrid sekarang sedang ngobrol dengan aku.
Aku juga belum memberi tau mas Agus bahwa aku bisa berkomunikasi dengan ghaib, memang kusengaja agar aku tidak terlihat punya kemampuan lebih dari pada mas Agus.’
Sudah sekitar sepuluh menit kami menunggu, tiba-tiba pintu rumah penggergajian terbuka.
“Mbak Tina… lihat itu!”
“Iya mas… eh itu kan Yetno mas?”
“Iya mbak… sebentar lagi pasti pasangan humunya yang bernama WIto akan keluar juga mbak”
“Hush ngawur ae sampean ini mas… mosok mbok sebut pasangan humu mas hehehe”
__ADS_1
“Sssttt liha itu mbak… kan bener kan… wito juga keluar dari dalam rumah”
Wito dan Yetno ada di halaman rumah penggergajian… kedua orang itu tolah toleh tidak tau apa yang mereka berdua cari, tapi yang pasti mereka berdua pasti kelaparan.
Akupun kelaparan, hanya saja aku dan mas Agus kan tadi habis traveling ke rumah leluhur aku, dan tidak ada setengah jam ada disana hehehe.
Kedua orang itu kemudian keluar dari rumah penggergajian. kemudian mereka berdua menuju ke arah sungai belakang.
“Mas, mereka sedang ke belakang, kemungkinan besar pulang ke rumah Wito”
“Iya… sebentar mbak.. bisa saja mereka sedang kebelakang sebentar, dan setelah itu kembali lagi”
“Nggak mas.. mereka pulang ke rumah Wito… sekarang bisa mas Agus ambil motor itu”
Aku tau mereka berdua menuju ke rumah Wito karena Inggrid barusan melihat mereka menuju ke jembatan yang menuju ke arah desa seberang sungai.
Aku heran, sebenarnya apa yang dilakukan Wito dan Yetno dengan menunggu aku dan mas Agus di rumah itu, dan mengapa mereka mencari aku dan mas Agus.
Dan sebenarnya salah ku dan salahnya mas Agus itu apa… itu yang aku sampai sekarang tidak paham sama sekali.
Mas Agus sedang mengambil motor polisi yang ada di halaman rumah penggergajian.
*****
“Saya rasa tempat paling aman hanya ada di rumah sakit mbak”
“Ok gak masalah kalau mas Agus mau ke rumah sakit..”
“Tapi tempat itu sudah diketahui oleh seseorang yang tau dimana tempat kita selama ini”
“Jadi Tina ada usul untuk pulang ke rumah kosong yang ada di depan wartel Tina… disana adalah tempat yang belum diketahui oleh siapapun kecuali mas Agus dan Tina”
“Dan Tina harus mengambil tas ransel Tina dulu yang ada di dalam rumah”
“Apakah aman kalau kita masuk ke dalam sana?”
“Iya mas amaaan… Wito dan Yetno sekarang sedang pulang ke rumah Wito mas, jadi lebih baik kita ambil tas kita dulu!”
“Gak bisa mbak Tina.. keburu mereka datang”
“Dah ya mas… TIna gak mau debat dengan mas Agus.. Tina mau masuk ke dalam dan ambil tas ransel Tina dulu. terserah mas Agus mau pergi ninggalin Tina ya gak papa, Tina merasa aman di tangah hutan sana kok”
Orang itu ketakutan sendiri dengan keadaan ini. Dan sayangnya Inggrid gak mau menampakan dirinya ke mas Agus agar dia agak percaya diri dengan keadaan seperti ini.
Kalau seandainya dia mau ninggal aku gak masalah, selama ada leluhurku, aku tidak akan merasa ketakutsn
“Begini saja mbak… saya jaga di luar sini sementara mbak Tina masuk ke dalam, saya akan teriak apabila ada orang yang datang ke sini”
“Ya sudah mas, Tina akan masuk ke dalam sana”
Aku masuk ke dalam rumah, tetapi ketika aku ada di depan kamar mas Agus… aku sama sekali tidak melihat bekas pembakaran kemenyan atau apapun.
Keadaan rumah ini seperti biasanya, tidak ada bekas pembakaran apapun di depan pintu kamar, lebih baik aku ambil tas ranselku dulu saja.
Ketika aku sudah ada di ruang tamu dengan tas ransel ada di punggungku, tiba-tiba aku ada keinginan untuk melihat apa yang ada di dalam kamar Burhan atau kamar Mamad.
Kubuka sedikit kamar yang ada di sebelah kamar mas Agus…
Yang pertama terlihat hanya gelap saja tanpa ada apapun sama sekali, tetapi ketika mataku mulai terbiasa dengan situasi kamar yang gelap, tiba-tiba aku melihat sebuah bungkusan besar.
Bungkusan yang sebesar kardus air mineral… bungkusan yang tertutup rapat menggunakan lakban hitam.
Dan bungkusan itu diletakan di pinggir tempat tidur.
“Apa bungkusan itu harus aku ambil?”
“Iya… harus aku ambil saja bungkusan itu!”
Aku terlalu penasaran dengan isi dari bungkusan yang selama ini menjadi masalah di rumah penggergajian ini.
Aku akan bawa bungkusan itu dan akan kubuka bersama mas Agus di tempat yang aman.
Tapi sebelumnya aku harus tau dulu bagaimana keadaan pintu rahasia yang ada di dinding kamar… tetapi ternyata pintu rahasia itu masih tertutup dengan lemari yang cukup besar.
Berarti sekarang bungkusan itu tidak dimasukan lewat pintu rahasia, tetapi dibawa langsung oleh Wito dan Yetno, dan mereka ini anak buah dari Solikin.
Setelah menenteng bungkusan yang tidak berat ini… aku langsung menuju ke luar untuk segera pergi dengan menggunakan motor polisi yang sudah siap di depan rumah.
“Ayo kita pergi dari sini cepat mas….”
“Iya mbak…”
__ADS_1
Motor dijalankan mas Agus menuju ke arah keluar dari hutan…
Ketika sampai pertengahan jalan, tiba-tiba mesin motor ini mati…sebelum mesin motor ini mati, didahului dengan suara mesin bersuara aneh..
“Sialan… kayaknya kita kehabisan bensin ini mbak!”
“Waduh di tengah hutan gini kok kehabisan bensin mas….”
“Tina takut keadaan ini memang disengaja….”
“Maksudnya gimana mbak?”
“Disengaja… ya disengaja keadaan bensin yang sangat sedikit, agar kita tidak bisa ke mana mana”
“Disengaja agar kita tidak bisa pergi dari sini dalam keadaan selamat, karena bensin motor ini sangat sedikit, sehingga mereka dengan mudah menangkap kita mas”
“Eh … bungkusan apa itu yang dibawa mbak TIna?”
“Tadi Tina dapat dari kamar sebelah mas, ketika TIna sedang ambil tas ransel Tin…Tina pikir akan ada gunanya kalu bungkusan ini TIna bawa mas”
“Waduh mbak… bahaya mbak….. kita bisa dikejar sama mereka karena barang mereka ini kita bawa mbak”
“Ya tadi kan Tina pikir kita bisa naik motor dengan aman dan ketika sampai di tujuan Tina bisa buka bungkusan ini mas”
“Habisnya Tina penasaran sekali apa yang mereka perjual belikan mas”
“Sudah tinggalkan aja di atas jok motor ini bungkusan itu mbak… hari sudah menjelang siang… kita harus segera pergi dari daerah ini, saya takut ada yang sedang mengintai kita”
Ada benarnya juga apa yang dikatakan mas Agus… aku memang salah karena membawa bungkusan itu, yah cuma karena rasa penasaran yang amat sangat saja sebenarnya sih.
Tapi karena motor ini mogok , makan bungkusan paket dengan lakban ini harus aku taruh saja di sini.
Ketika aku turun dari motor dan menaruh bungkusan di atas jik motor, tiba-tiba aku mendengar suara mesin kendaraan dari kejauhan.
“Mas…. dengar ada suara motor yang menuju ke sini?”
“Iya mbak… ayo bantu sembunyikan motor polisi ini!”
“Nggak sempat mas… lebih baik tinggalkan saja disini bersama paket aneh ini mas”
“Ya sudah… ayo kita lari dari sini mbak…..”
Kebetulan saat ini kami ada di tengah hutan dengan pohon dan semak belukar yang lumayan rimbun. tapi tetap saja kami harus lari sejauh mungkin dulu.
Aku merasa yang datang ini adalah yang akan membeli paket… tapi kenapa transaksi ini dilakukan pada siang hari, biasanya kan mereka lakukan pada malam hari.
Setelah dirasa cukup jauh kami berdua lari… akhirnya kami tiba di sebuah semak belukar yang diapit beberapa pohon yang sangat besar.
“Stop disini saja mbak…. coba perhatikan dari sini mbak… apakah kita bisa lihat motor polisi dan paket yang tadi mbak Tina ambil?”
“Masih bisa mas… dari sini kita masih bisa lihat paket yang Tina taruh di atas jok motor itu”
“Ya sudah, kita tunggu hingga orang yang naik motor itu datang, dan pastinya Yetno dan pak Wito juga sedang mencari kita dan paket yang kita ambil itu mbak”
Kami berdua sembunyi hingga suara motor yang datang itu semakin jelas dan nampak dari tempat kami sembunyi.
Hingga tidak lama kemudian motor yang datang itu berhenti di motor yang tadi kami naiki dan ternyata kehabisan bensin.
Sayangnya dari sini kami tidak bisa melihat orang yang datang, karena mereka berdua menggunakan helm fullface.
Tapi mereka sempat berdiri dan menoleh kesana kemari untuk mencari tau apakah di sekitar sini ada orang yang bersembunyi.
Setelah beberapa saat mereka mencari tahu, kemudian mereka pergi… tapi tidak pergi ke arah desa, atau keluar dari hutan… melainkan mereka pergi ke arah rumah penggergajian.
“Mas.. kok mereka malah ke rumah penggergajian?”
“Iyalah mbak… kan mereka harus melakukan pembayaran dulu… mereka berdua kan harus taruh uang dulu disana”
“Terus gimana dengan kita mas.. kalau kita tetap ada disini, kemungkinan besar mereka akan datang dengan membawa bala bantuan untuk mencari kita mbak”
“Iya benar mas… Tapi kalau kita lari jelas tidak mungkin mas, jarak dari sini ke desa masih jauh, mereka pasti akan mudah menyusul kita karena mereka menggunakan motor”
“Lha sekarang mbak TIna masih kebelet ndak?”
“Ya udah nggak mas.. udah ilang kebetnya Tina”
“Kalau begitu… kita kembali ke rumah penggergajian saja… saya rasa disana adalah tempat yang aman untuk sekarang ini mbak”
“Karena mereka pasti akan mencari siapa yang mengambil paket itu dan mereka pasti akan mencari tahu di sekitar hutan ini, kita lebih baik kembali ke rumah penggergajian dan berlindung hingga malam hari mbak”
“Malam nanti kita pergi dari sini dan mencari tempat yang lebih aman lagi”
__ADS_1