
Dua orang berseragam polisi itu mengendus bau kemenyan yang dibakar pak Diran, mereka mengelilingi asap kemenyan itu sambil berteriak teriak gak jelas.
Pak Diran dan pak Hendrik yang tadinya ada di dekat kemenyan itu kemudian berbalik menuju ke arah kami lagi…. tapi lebih baik begitu, jadi kami tidak ketakutan.
“Ayo hisap…hisap semua asap itu bedebah” gumam pak Diran
Dua anggota polisi yang sudah berubah itu tetap berliling dan menghisap asap kemenyan dengan rakusnya, kadang diantara keduanya saling dorong hanya karena ingin menguasai asap itu.
Setelah saling dorong, kemudian diantar keduanya saling pukul, iya… mereka berdua sedang berebut asap yang semakin menipis karena kemenyan itu semakin habis terbakar.
“Biarkan mereka saling baku hantam dulu, ini juga pengaruh dari kemenyan yang sudah saya beri doa itu, ternyata efeknya bukan melemahkan energi mereka, melainkan mereka sekarang saling berebutan satu sama lain” kata pak Diran
Mengerikan, dengan diterangi sinar bulan yang tidak seberapa terang, aku bisa lihat mereka saling pukul, saling gigit, bahkan leher salah satu dari mereka robek dan mengeluarkan darah banyak.
Setelah lehernya robek, bukannya malah lemas, tapi petugas itu malah menghantam kepala lawannya di paving parkiran… suara kepala yang dihantamkan di paving itu mirip dengan suara buah kelapa yang pecah.
“Mereka saling serang saling bunuh, tapi tidak ada yang akan mati, setelah ini kita akan masuk dan bakar yang ada di dalam tubuh kedua polisi itu pak Hendrik” kata pak Diran
Pak Hendrik hanya mengangguk… bau amis dari darah yang muncrat dan otak yang terburai tercium hingga di tempat kami sembunyi.
Kulirik pak Jay, tangan dia gemetar, dia pasti tidak menyangka bahwa hotel dan rumah penggergajian dia akan hancur.
“Ayo sekarang kita ke sana pak Hendrik” ajak pak Diran
Keadaan tubuh atau fisik kedua polisi itu sudah berantakan.. Salah satu dari mereka dadanya robek, dan jantungnya dikeluarkan, tapi dia masih bisa berdiri dengan sempoyongan untuk melakukan perlawanan bagi temannya.
“Pak Jay, pak Agus, bu Tina dan Jiang.. Kalian jaga kami.. Pukul mereka apabila mendekati kami berdua, karena kami akan membakar iblis yang ada di tubuh mereka” kata pak Diran yang kemudian berjalan santai mendekati kedua polisi itu.
Pak Diran dan pak Hendrik duduk di parkiran tidak jauh dari dua polisi yang masih saja saling menghancurkan tubuh lawannya…
__ADS_1
“Hey…sini.. Ayo lawan kami berdua” tantang pak Diran
Dengan suara ngorok yang keras, mirip suara sapi kurban disembelih ketika ada Idul Adha, karena kerongkongan salah satu polisi itu robek, kedua tubuh yang sudah hancur itu perlahan lahan mendekati pak Diran dan pak Hendrik
Aku gak bisa menggambarkan keadaan kedua polisi itu, karena yang aku lihat saat ini sangat sadis dari pada pembunuhan yang sebelumnya…
Kepala pecah dengan cairan otak dan otak yang masih meleleh di wajahnya, dada yang berlubang tubuh yang sekilas ketika terkena cahaya bulan tampak penuh dengan darah berjalan kadang merangkak kadang berjalan dengan susah payah.
Sedangkan yang satunya.. Suara ngorok mengerikan karena akibat kerongkongan dan leher putus itu mengakibatkan kepala orang itu sudah tidak bisa disangga lagi.
Kepala yang masih utuh itu sudah miring ke samping, tapi yang mengerikan perut polisi itu terbuka lebar dengan usus yang terburai dan sebagian masih nyangkut di tubuhnya… dia berusaha berjalan menuju ke pak Diran dan pak Hendrik.
“Berhenti disana iblis!… sekarang kamu akan kami bakar!” kata pak Diran dengan suara keras
Aku nggak tau apa yang dilakukan pak Diran dan pak Hendrik, karena mereka berdua memunggungi kami… tapi yang aku lihat kedua tubuh anggota polisi itu bergetar hebat, dan kemudian jatuh di parkiran…
Dari belakang tubuh pak Diran dan pak Hendrik bergetar dan bergoyang goyang kayak sedang joget dangdut koplo, kayaknya apa yang ada di tubuh kedua anggota polisi itu sedang melakukan perlawanan.
Tidak ada yang bisa kami bantu, kami hanya menunggu keadaan genting apabila kedua polisi itu akan melakukan perlawanan.
Tetapi untungnya getaran dan goyangan tubuh pak Diran dan pak Hendrik mulai mereda…
Dengan meredanya getaran tubuh mereka berdua. mereka berdua mulai berdiri dari posisi duduk bersilanya. Tetapi tangan mereka berdua seperti sedang memegang sesuatu yang tidak kelihatan
Tubuh kedua anggota polisi itu tergeletak di beberapa meter di depan pak Diran dan pak Hendrik tidak bergerak sama sekali. Kayaknya setan yang da di dalam tubuh dua anggota polisi itu sudah hilang.
Pak Diran dan pak Hendrik berjalan menjauh ke arah hutan… mereka berjalan dengan tenang dengan tangan yang kayaknya sedang mencengkiwing (menjinjing) sesuatu.
Tepat di batas hutan dan area hotel pak Diran menoleh ke pak Hendrik, kayaknya pak Diran memberi kode ke pak Hendrik untuk melakukan sesuatu
__ADS_1
Dengan anggukan kepala.. Tiba-tiba pak Diran dan pak Hendrik secara bersamaan menghentakan kaki kanannya ke paving parkiran…
Suara letusan….suara letusan keras seperti meriam bambu yang biasanya aku mainkan di desa terdengar menggelegar ketika pak Hendrik dan pak Diran menghentakan kakinya.
Bau busuk seperti karet ban mobil atau motor yang dibakar dan bercampur dengan bau bangkai muncul bersamaan dengan suara letusan tadi, tapi tidak lama kemudian bau ini berangsur-angsur hilang.
“Dua iblis sudah kami bakar, dan di dalam sana sepertinya masih banyak iblis yang harus dibersihkan, terus terang kalau hanya saya dan pak Hendrik saja jelas tidak mampu pak Jay” kata pak Diran
“Betul pak Diran, kami butuh orang-orang yang mampu membantu kami membersihkan tempat ini Koh Jay, karena lubang yang dibuat oleh Solikin atau Watuadem itu semakin besar Koh.. lek cuma kita tok ya kayake gak mampu koh” kata pak Hendrik
“Eh pak Diran.. Kita bisa masuk ke dalam hotel atau tidak?” tanya pak Jay
“Bisa sih pak Jay… di ruang utama kelihatannya tidak ada iblisnya, iblis-iblis itu lebih suka di kamar yang penuh darah, seperti di kamar belakang, kamar nomor tiga, nomor sembilan, nomor sepuluh.. Mereka disana semua”
“Jadi kalau hanya di ruang tamu saja kayaknya sih gak papa, memangnya kenapa pak Jay?” tanya pak Diran
“Saya ingin lihat keadaan hotel saya untuk terakhir kalinya sebelum… eh sebelum saya hancurkan!” kata pak Jay sambil menunduk
Sementara itu di langit arah desa pinggir sungai terlihat warna oren…seperti nyala api yang besar.
“Kayaknya rumah Solikin sudah dibakar warga.. Nyala apinya sampai terlihat di langit” kata mbak Tina yang menengadahkan kepalanya
“Iya betul bu Tina..dan sepertinya hotel ini juga akan mengalami nasib yang sama.. Apakah begitu pak Jay?” tanya pak Diran
“Yah mungkin itu yang akan saya lakukan pak Diran.. Tapi apakah dengan dibakar itu semua masalah akan selesai?”
“Akan selesai apabila sekalian membakar setan yang ada di dalamnya, tapi cara membakarnya dengan cara ghaib. Dan untuk itu saya dan pak Hendrik butuh bantuan”
Nggak sengaja aku menoleh ke arah hutan.. Dari kejauhan aku melihat nyala lampu beberapa sepeda motor yang mengarah ke hotel.
__ADS_1