RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
110. SEDIKIT INFO MEMBINGUNGKAN DARI KUNYUK


__ADS_3

Aku dan Kunyuk sudah ada sekitar tiga puluh menit ada di hutan depan rumah  penggergajian…


Mamad dan Pak Wandi ( perkiraan, karena aku belum melihat wajah mereka, hanya mendengar suara saja) tidak nampak batang hidungnya.


Sesuai dengan apa yang dikatakan pak Solikin jangan percaya dengan nama yang mereka lontarkan karena bisa saja nama yang mereka lontarkan itu bukan nama yang sesungguhnya.


Tapi motor milik mereka masih terparkir tidak jauh dari tempat kami berdua bersembunyi…


Memang aku nekat dengan mencari tempat sembunyi yang berdekatan dengan motor mereka berdua.


“Pak…. apakah tidak bahaya kita sembunyi disini?” tanya Kunyuk


“Jelas bahaya!.... saya bawa kamu saja sudah merupakan bahaya besar. tapi apa boleh buat, karena rasa kemanusiaan saya, maka saya berani bawa kamu!”


“Sampean kenal sama Mamad dan Wandi pak” tanya Kunyuk


“Hehehe saya kenal mereka, mereka kan petugas jaga di rumah ini sebelum saya”


“Nyuk… sebenarnya kamu ini berada dalam kelompok apa?”


“Saya sebenarnya kurir pak, saya hanya orang suruhan dari bos besar… “


“Kadang saya membawa surat penting atau barang penting berupa paket yang harus saya kirim dari kota ke suatu tempat, dan letak pengirimannya berbeda beda satu sama lain”


“Paket apa…? Narkoba?”


“Tidak tau pak… paket yang saya bawa kadang lebih besar dari kardus air mineral dan kadang hanya sebesar kotak tisu” jawab Kunyuk


“Kalau narkoba kan paketnya kecil-kecil pak”


“Siapa nama bosmu?”


“Saya tidak tau pak, saya cuma panggil dia bos saja”


“Lalu apa yang tadi kamu lakukan disini, kenapa kamu curi uang mereka, dan itu uang apa?”


“Saya butuh uang…. untuk pengobatan anak saya”


“Kebetulan beberapa hari lalu saya curi dengar kalau akan ada transaksi di rumah penggergajian ini, dan kebetulan saya sudah pernah kesini dua kali”


“Saya tidak tau apa yang sedang mereka transaksikan… pokoknya saya sudah niat untuk mengambil uang itu”


“Kamu tau tidak Nyuk… kalau disini ada yang jaga… eh disini ada penjaga rumahnya maksud saya”


“Saya tau pak.. tapi kan dua kali transaksi sebelumnya di kamar itu ada pak Burhan, dia yang selalu mengamankan keadaan disini”


“Sedangkan untuk kali ini, saya dengar dari pembicaraan telepon pak bos dengan temannya… bahwa pak Burhan menghilang”


“Dan paket untuk transaksi kali ini bukan berasal dari rumah pak Bos, melainkan dari bos nya pak Wandi”


“Makanya bukan saya yang antar paketnya” kata Kunyuk yang bikin ndasku cenut-cenut


“Lhooo sik sik.. aku kok bingung gini sih.. jadi bosmu itu berbeda dengan bosnya pak Wandi?”


“Gini pak…pak Wandi itu punya dua bos…..bosnya pak Wandi sendiri,  dan bos yang bersama saya”


“Tapi yang saya tau dua bos itu saling  bersaing…”


“Dan saya tidak tau bagaimana pak Wandi bisa bekerja sama dengan bos saya, sedangkan dia sendiri juga punya bos yang merupakan saingan bos saya”


“Aduuuh makin bingung saya Kunyuk… sudahlah.. nanti saja ceritanya agar saya bisa konsentrasi mendengarnya"


"Sekarang yang penting kita harus pikirkan bagaimana caranya menghindar dari kedua orang itu”


Haduuuh… pusing juga mendengar omongan Kunyuk…


Aku bingung sebenarnya apa yang mereka transaksikan itu, karena kalau narkoba jelas paketnya tidak akan besar, sedangkan kata Kunyuk paketnya bisa besar ukuranya.


Tentang dua bos yang sekarang diikuti pak Wandi, apakah bos yang diikuti pak Wandi itu bos Jay, yang selalu aku telepon untuk melaporkan pekerjaan disini


Kalau seumpama benar itu bos Jay… lalu bisnis apa yang dia lakukan disini…


Dan aku ini sebagai apa, pak Solikin dan yang lainya itu sebagai apa?


Jangan-jangan kami yang kerja disini hanya digunakan sebagai kambing hitam untuk bisnis kotor mereka apabila ada pihak berwajib yang menggerebeknya.


“Pak… itu mereka datang…” bisik Kunyuk


“Diam dan merunduk Nyuk, karena posisi kita ada di dekat motor mereka”


“Nanti setelah mereka berjalan agak jauh, kita masuk ke dalam rumah!”


Tidak ada pembicaraan antara orang yang aku curigai sebagai pak Wandi dan Mamad itu, mereka berjalan tergesa gesa menuju ke motor mereka.


“Tidak ada Agus disana Mad…. kita sudah masuk dan geledah rumah itu, dan rumah itu dalam keadaan terkunci kan” kata suara orang yang perkiraanku adalah pak Wandi


“Berarti Agus saat ini sedang ada ini jangan-jangan ada di desa sebelah sungai pak?”


“Iya saya yakin dia ada disana, bagaimana mungkin dia pergi jauh kalau tidak ada motor!”

__ADS_1


“Motornya kan ada pada bagian kebersihan, dua hari lalu waktu kita ketemu dengan penyapu kotoran…dia kan bawa motor yang ada disini”


“Iya pak… saya yakin Agus ada di desa itu… bagaimana pak, apa kita ke desa sebelah sungai?”


“Jangan tolol kamu….!”


“Kamu ini dianggap mereka sudah mati Mad!, kita lapor ke bos saja dulu, nanti baru kita dapat instruksi apa yang akan kita lakukan selanjutnya”


“Ayo kita ke hutan, bawa Kunyuk pulang dan segera hilangkan dia!”


Wah.. ngeri juga dengar apa yang dibicarakan mereka,


Mereka ini kayaknya benar-benar raja tega, nyawa bagi mereka berdua ini hanya sebatas mainan saja..


Aku merasa makin terancam ada disini, untuk lari pulang ke desa pun jelas tidak mungkin, karena pak Wandi kan tetanggaku.


Lalu apa yang bisa aku lakukan.


“Pak…mereka mencari sampean”


“Iya Nyuk…. dan setelah ini mereka juga akan mencari kamu Nyuk, kita berdua ini target mereka untuk dihilangkan… paham kan kamu Nyuk?”


“Ayo kita masuk ke rumah saja, saya rasa disana lebih aman daripada kita ada di hutan ini”


“Nanti kita tutup saja pintu rahasia yang tembus ke samping rumah”


AKu menunggu hingga suara motor yang dikendarai pak Wandi dan Mamad itu jauh, baru kemudian aku dan Kunyuk menuju ke rumah penggergajian.


“Pak… kok tiba-tiba bau bunga pak” kata Kunyuk tiba-tiba


“Ah masak sih, saya tidak mencium bau apapun Nyuk”


Aku sebenarnya mencium bau wangi bunga… dan bau ini berasal dari parfum milik Inggrid, tetapi aku pura-pura tidak mencium bau wangi ini.


“Ah masak bapak tidak mencium bau ini…. bau wangi ini bau yang sama ketika saya menuntun motor saya.. sebelum pak Wandi dan mamad memukul kepala saya pak”


“Ah tidak.. saya tidak mencium bau apa-apa Nyuk”


Aku tau Inggrid ingin berkomunikasi dengan ku, tapi apa yang ingin dia katakan, dan kenapa bau in muncul ketika pak Wandi dan Mamad pergi dari sini.


Apakah ini merupakan semacam tanda agar aku melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu?


Atau bisa juga semacam peringatan dari Inggrid kepada kami?


Coba kucari dimana posisi bayangan hitam yang merupakan bayangan Inggrid itu


Ya Allah ternyata bayangan hitam yang biasanya ada di hutan, sekarang ada di depan pagar rumah…


Tapi tidak mungkin kalau aku disuruh cepat-cepat masuk, karena buat apa ada bayangan hitam kalau memang keadaan sudah aman.


Aku merasa  kalau Inggrid menginginkan aku agar tidak masuk ke dalam rumah dulu.


“Eh Nyuk..lebih baik kita tunggu saja disini  dulu, takutnya mereka berdua akan kesini lagi untuk mencari kamu dan aku”


“Pak.. bau wangi itu sekarang sudah tidak ada… “


“Kamu ini ada-ada saja, mana ada bau wangi di tengah hutan gini, yang ada hanya bau kuntilanak dan pocong  kan hehehe”


Ketika aku selesai bicara dengan Kunyuk….


Tiba-tiba dari arah jalan setapak, motor dengan kecepatan yang lumayan berbelok dan berhenti tepat di depan rumah penggergajian.


Aku terkejut dengan keberanian mereka memarkir motor di depan rumah.


Kemudian dua orang itu turun dari motor dan dengan langkah kasar mereka berdua masuk ke halaman rumah.


“Mereka datang lagi  Nyuk… mereka kayaknya curiga dengan lepasnya kamu akibat dari aku”


“Iya pak.. mereka sekarang bersiap mendobrak rumah itu”


“Tidak… mereka tidak akan berani Nyuk, mereka hanya akan melihat dari jendela, dan kemudian mereka akan masuk lewat pintu rahasia yang ada di kamar Burhan”


Ternyata benar dengan perkiraanku, pak Wandi dan Mamad hanya ingak inguk (melongok) dari jendela.


Kemudian mereka dengan sedikit berlari menuju ke samping rumah.


Tidak lama kemudian aku bisa lihat bayangan tubuh mereka berdua di dalam rumah, mereka kayaknya sedang mencari aku dan kunyuk.


Bayangan mereka berdua yang kelihatan dari jendela kayaknya sedang marah-marah, mungkin mereka tidak menemukan aku dan Kunyuk di dalam sana.


Aku bisa lihat mereka masuk keluar ke kamarku dan kamar Buruhan, mungkin juga mereka berdua menuju ke belakang rumah.


Yang aku takutkan adalah setelah ini mereka akan keluar dari sana dan  mungkin mereka bisa saja menuju ke rumah Tina.


Ternyata mereka tidak lama ada di dalam rumah itu karena beberapa belas menit kemudian dengan jalan yang bergegas mereka menuju ke motor yang terparkir di depan rumah.


“Bngksth…. kemana larinya kunyuk dan Agus!” teriak orang yang bisa kuterka itu adalah Mamad


“Kamu yakin bahwa Kunyuk dilepas oleh Agus!”

__ADS_1


“Saya yakin sekali pak, karena yang ada disini hanya Agus, Burhan saat ini tidak ada disini kan pak”


“Iya mas….. tapi kemana mereka larinya?”


“Saya yakin mereka tidak jauh dari sini… mereka bukan orang yang paham hutan ini!... saya lebih paham daripada mereka berdua!” kata Mamad dengan suara keras


“Ya sudah… sekarang kamu mau cari mereka ke mana?... sekalian bunuh saja kalau ketemu!” perintah pak Wandi


“Kita ke bagian belakang dulu saja pak…. mereka pasti saat ini sedang lari ke desa sebelah sungai!”


Mereka menggunakan motor menuju ke bagian belakang rumah, mungkin mereka mengira aku dan Kunyuk menuju ke desa sebelah.


Apakah aku harus masuk ke dalam rumah, sementara mereka berdua sedang menuju ke arah belakang rumah?


Aku takut apabila setelah ini mereka akan mencari kami di sini…


Bukankah tadi Mamd bilang kalau dia tau banyak soal hutan ini.


Bisa saja dia akan mencari kami  disini, karena dia dulu sudah lama ada di rumah penggergajian.


“Nyuk…lebih baik kita masuk ke dalam rumah saja, karena menurut pendapat ku, setelah mereka mencari kita di jalan setapak sebelah sungai, mereka pasti akan ke hutan ini juga”


“Yakin pak… kalau di dalam rumah itu kita akan aman?”


“Lho…. ya Bismillah… kita berusaha, tapi Allah yang akan menentukan”


“Kalau kamu tidak mau ikut dengan ku ya sudah, kamu bisa pergi dari sini dan menuju ke desa sana, dan disana juga sama sepingua dengan disini”


“Ya sudah pak, saya ikut sampean saja…”


Dengan mengendap endap kami masuk ke halaman rumah…tapi ada yang bikin aku heran…


Kenapa gembok rumah ini bisa terbuka, bukankah tadi aku sudah menguncinya?


“Sebentar Nyuk… ada yang aneh dengan gembok rumah ini”


Kuperiksa gembok itu dengan teliti, tetapi tidak kutemukan ada nya kerusakan atau buka secara paksa…Sepertinya Mamad punya kunci serep seluruh rumah ini!


Hal ini tentu saja bahaya  untuk kami berdua, bisa saja di masuk ke dalam rumah ini dengan mudah…


Tapi tadi waktu Mamad dan pak Wandi memeriksa bagian dalam rumah, mereka masuk lewat pintu rahasia yang ada di lamar Burhan.


Kalau benar Mamad punya kunci rumah ini,seharusnya dia juga bisa membuka pintu rumah dan masuk ke dalam rumah dengan mudahnya.


Tapi tadi mereka malah masuk lewat pintu rahasia kan…


“Ada apa pak… ada yang ndak beres?”


“Ini… gembok ini harusnya terkunci, tadi waktu saya keluar dari sini kan semua pintu saya kunci, termasuk pintu pagar ini”


“Sebelum kamu datang, saya sudah ada disini”


“Coba kamu lihat.. sekarang gembok ini terbuka”


“Berarti Mamad punya kunci rumah ini pak!”


“Lebih baik kita tidak ada disini pak, kita pergi ke tengah hutan saja hingga pagi hari”


Tanpa berpikir panjang, aku ajak Kunyuk pergi dari area rumah ini, aku berjalan menuju ke arah hutan yang lebih dalam.


Tetapi aku harus masih bisa melihat keadaan rumah penggergajian, aku harus tau apa yang akan terjadi lagi dengan rumah itu.


Setelah kurasa jarak kami aman…


“Stop… kita berhenti disini saja Nyuk… saya rasa kita sudah lumayan jauh”


“Apa tidak kurang jauh lagi pak?”


“Ndak usah… sementara disini dulu saja… asal kamu tau, hutan disini itu angker”


“Di tengah hutan sana ada makam ghaib, dan saya sudah pernah tersesat ke sana!”


“Jadi jangan sampai saya lihat makan itu untuk kedua kalinya Nyuk”


“Pantesan, saya waktu perjalanan kesini selalu mencium bau bunga kamboja, padahal disini tidak ada pohon kambojanya pak”


“Sudah.., jangan bahas itu dulu, yang penting kita perhatikan rumah penggergajian itu, saya kok merasa setelah ini mereka akan masuk ke rumah itu lagi!”


Duh… apa yang harus aku lakukan….


Sekarang aku buronan mereka, bisa saja aku akan dihabisi apabila bertemu dengan mereka.


Tapi…. tapi bukanya memang aku sudah menjadi target mereka? bukanya aku ini dianggap kotoran yang harus dibersihkan oleh bagian kebersihan?


Seperti yang terjadi dengan pak Solikin, tetapi untungnya pak Solikin masih hidup.


Apa yang harus aku lakukan… apakah aku harus ke rumah Tina…?


Tapi saat ini aku kan sedang bersama Kunyuk, jelas tidak mungkin kuajak ke rumah Tina.

__ADS_1


“Nyuk…. setelah keadaan aman, ada baiknya kita berpisah saja, jangan berjalan bersama sama”


“Kita selamatkan diri masing-masing, pokoknya sembunyi dulu dan jangan keluar-keluar”


__ADS_2