RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
41. TENTANG PAK SOLIKIN


__ADS_3

“Hmm apa yang terjadi dengan nak Agus itu sudah sangat serius”


Gumam bu Tugiyem setelah aku ceritakan apa yang terjadi dengan diriku tadi malam, hingga dadaku lebam karena pukulan yang tidak aku ketahui


“Lalu bagaimana pendapat ibu tentang yang dikatakan pak Solikin itu, kenapa dia begitu membenci Burhan bu,  apa saya nanti malam telepon pak Wandi saja ya bu?


“Saya tidak tau apa maksud dari Solikin nak, tapi ada baiknya juga nak Agus menanyakan kepada pak Wandi tentang Solikin”


“Karena di desa kami, Solikin itu seorang yang mempunyai pribadi yang baik, dia tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun”


“Tapi itu kan di desa kami nak, kami tidak tau bagaimana dia di sini dan apa yang dia lakukan disini” kata bu Tugiyem


“Nah untuk Burhan, nak Agus kan baru kenal dia belum ada sehari ini, sedangkan Solikin sudah kenal lebih lama dari nak Agus”


“Dalam hal ini saya tidak mau membandingkan satu sama lain, karena saya sendiri tidak tau apa yang terjadi antara Solikin dan Burhan” kata bu Tugiyem


“Jadi untuk masalah Solikin dan Burhan, nak Agus bisa tanyakan kepada pak Wandi saja, sedangkan luka lebam itu saya akan coba tanyakan kepada orang pintar yang ada di desa saya’


“Ya sudah bu terima kasih, Eh nanti selepas pekerja lautan, saya akan ke desa untuk menanyakan tentang Burhan dan pak Solikin”


“Oh iya bu, tunggu sebentar ya, saya mau ambil rantang yang kemarin saya taruh di depan karena saya makan di depan rumah, tapi  tiba-tiba hujan sehingga saya belum sempat mencuci rantang nya.


Setelah dicuci dan kuberikan kepada bu Tugiyem, dan setelah cerita dan segala nasihat kepada ku, akhirnya ibu dari Anik yang cantik itu pulang juga.


Tidak lupa dia juga menaruh rantang yang berisi makanan untuk bekalku nanti malam, tentu saja untuk saat ini harus ku bagi dua dengan Burhan.


Tetapi tadi bu Tugiyem sudah ku beritahu kalau besoknya gak usah bawakan makan malam untukku, karena sekarang disini sudah ada Burhan, sehingga kami bisa masak seadanya.


Anik semakin hari terlihat makin cantik, dia juga sekarang sudah mulai menggunakan pemerah bibir, akibatnya wajah dia yang sudah cantik itu terlihat makin cantik saja, Tapi…..


Tapi aku susah untuk berpaling dari mbak Tina yang luar biasa itu heheheh.


Dari pagi hingga sore hari Burhan selalu ada di belakang rumah, dia mengawasi pekerja dengan ketat.


Untuk hari pertama dia, dia sudah berhasil membuatku senang.


Dia tidak pernah lepas dari mengawasi pekerja yang ada di belakang, dia hanya beristirahat siang hari saja kemudian setelah itu dia tetap ada di bagian belakang rumah.


Hmm apakah ini yang tidak disukai oleh pak Solikin?


Apakah karena Burhan selalu mengawasi apa saja yang dilakukan pekerja….?


Lalu apakah karena rajinya Burhan ini mengakibatkan Solikin kebingungan?


*****


Sore hari setelah para pekerja pulang…


“Mas Burhan, seharian ini mas Burhan ada di penggergajian ya, apa ndak capek ngawasi seperti itu mas? beda dengan Mamad yang kadang tiduran di amben atau di ruang tamu”


“Iya pak Agus, saya disuruh pak Jayanto untuk terus mengawasi para pekerja, tapi mereka semua tidak bermasalah dengan saya kok pak”


“Hanya pak Solikin saja yang sepertinya kurang suka dengan kehadiran saya disini”


“Oh begitu, memangnya mas Burhan sudah lama kenal dengan pak Solikin?”


“Saya kenal sudah lama, tapi hanya kenal begitu saja pak tidak akrab, karena saya kesini kan hanya tiga hari sekali untuk ambil pallet yang sudah jadi”


“Oh gitu mas, tapi kenapa kok katamu tadi pak Solikin kurang suka sama kamu, memangnya pernah punya masalah dengan dia mas?”


“Ndak ada pak, mungkin karena saya awasi terus mereka, sehingga mereka tidak sempat bersantai” jawab Burhan

__ADS_1


“Hmm bisa juga begitu mas, tapi mas Burhan juga jangan terlalu keras mengawasi mereka, mereka kan juga sudah berumur hehehe’


“Iya pak Agus… saya paham pak”


“Sudah biar saja pak Solikin itu, dia memang agak aneh orangnya”


“Oh iya mas Burhan, sore ini saya harus ke wartel, karena ada beberapa hal yang harus saya laporkan, tolong mas Burhan jaga rumah ya”


“Kunci semua pintu dan jangan sampai ada orang lain yang masuk kesini “


“Siaap pak Agus, akan saya laksanakan…”


Sore hari setelah semua pekerja pulang, kuajari Burhan untuk menyalakan lampu petromak dan lampu minyak, kemudian kunci pintu juga.


“Mas Burhan itu ada rantangan untuk makan malam, dimakan saja soalnya saya makan di desa sana saja” tunjukan pada rantang tumpuk tiga


“Iya pak, terima kasih, eh  pak Agus nanti juga akan telepon bos Jayanto?”


“Iya mas, saya kan bilang mau laporan, ya ke bos Jayanto lah hehehe”


“Tenang saja mas Burhan, saya nanti juga harus bilang kalau mas Burhan kerjanya giat”


Perjalanan menuju desa sama sekali tidak mengandung kengerian, mungkin karena sekarang aku sudah mulai terbiasa melewati hutan angker.


Memang kadang di beberapa sudut selalu ada bau bauan wangi dan kadang juga ada bau busuknya, tapi kuanggap saja itu adalah ucapan selamat datang dari mereka penguasa hutan.


Sesampai di pintu masuk desa ternyata belum waktunya masuk maghrib, jadi lebih baik ke wartel dulu saja setelah itu ke warung mas Samsol.


Motor busuk kujalankan terus hingga akan melewati warung mie ayam mas Samsol..


Lhealah mie ayam Samsol ndak bukak, beberapa kayu penyangga warung masih tergeletak di pinggir jalan.


Kuarahkan  motor menuju ke wartel Tina sebelah balai desa,  tidak lama kemudian  terdengar adzan maghrib yang menandakan waktu maghrib tiba.


Aku agak ragu juga ke wartel mbak Tina karena nanti pasti dianggapnya sebagai suaminya dia lagi hehe.


Sebenarnya aku ini ragu atau doyan sih , kok ndak ada bedanya antara ragu dan mau.


Dari kejauhan wartel itu sudah nampak, jantungku berdebar keras, nafasku pun memburu membayangkan tubuh sintal mbak Tina yang kadang hanya dibalut pakaian seadanya.


Motor sudah diparkir di depan Wartelnya.  aku berjalan masuk ke sejenis garasi yang diubah menjadi bilik wartel


“Permisi mbak Tina…. kamar mana yang bisa saya pakek ya?”


“OOuuhh ada mas Aguuuussss” teriaknya sambil keluar dari balik etalase tempat dia biasanya duduk sambil melakukan sesuatu yang dia suka


Dia buru-buru keluar dari balik etalase…


Mbak Tina yang  saat ini memakai  rok  di atas paha dan kaos tipis itu mendatangiku dengan sedikit berlari.


Kemudian dia memeluk ku dengan liarnya. seolah olah aku ini suaminya yang sudah berhari hari belum pulang.


Wajahku Pun dihujani oleh ciuman dia yang bertubi tubi.


“Suamikuuuu…. kok lama ndak pulang sih, Tina kan kangen” dia tetap memelukku dengan mulut yang masih ada di leherku


“Mas masuk kamar dulu yuk mas, telponya nanti aja ya sayank”


“Lebih baik saya telepon dulu aja mbak , agar nanti maghrib nya ndak kesusu kan”


“Mas Agus mau susu beneran, Tina dah pasraaaaah massshhh “ sambil membusungkan dahdahnya

__ADS_1


“Hahaha bukan itu mbak Tina cantik heheh. Sebentar ya mbak, saya mau telepon pak Wandi dulu”


“Ya udah mas nanti setelah telepon mas Agus tina tunggu di kamar seperti biasanya ya”


Aku masuk ke bilik tiga sesuai yang dia katakan kepadaku, Tina pun sekarang sedang menutup pintu wartelnya.


Aku sebenarnya heran dengan Tina ini, di desa seperti ini dia buka wartel, apa laku?...


Apalagi dengan dandanan dia yang seperti itu apa orang desa  disini ndak girap girap?


*****


“Bagaimana pak Wandi, sebenarnya pak Solikin itu ada apa? Kenapa setelah ada Burhan pegawai baru yang dikirim bos Jayanto  itu dia tidak suka sama sekali?” tanyaku


“Mas Agus, ndak usah ikut campur antara Burhan dan Solikin, mas Agus tetap di porsi pekerjaan saja”


“Urusan mereka berdua biarkan saja, mas Agus ndak usah ikut campur” jawab pak Wandi lagi


“Ndak ikut campur bagaimana pak, karena pak Solikin itu malah nyerangnya ke saya, saya dituduh bahwa saya yang menyuruh Burhan kesini” aku sedikit emosi juga


“Saya sebenarnya tidak mau tau diantara mereka ada masalah apa. Tetapi masalahnya Solikin itu terus menuduh saya yang mengatur agar Burhan ada disini pak”


“Begini mas Agus, dulu Burhan itu adalah kenek pembantu, dia yang biasanya ikut Supir untuk mengambil palet dan mengatur palet agar muat banyak di bak truk”


“Mungkin Solikin iri karena Burhan naik pangkat menjadi pengawas disana, mungkin lho ini mas”


“Ndak mungkin pak dan bukan kemungkinan, karena Solikin itu bukan tidak suka, tetapi lebih ke dendam karena ada sesuatu dengan Burhan”


“Karena Solikin bilang bahwa Burhan melakukan kecurangan di tempat lain, untuk kepentingan dirinya sendiri. apakah itu benar pak Wandi?


Tidak ada jawaban dari pak Wandi, aku yakin pak Wandi sedang mencari jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaanku.


Sebenarnya ada apa juga antara pak Wandi, Burhan, dan Solikin. kenapa pak Wandi tidak mau berterus terang saja tentang apa yang  sebenarnya sedang terjadi.


“Tidak ada apa-apa mas Agus, Burhan orang yang  jujur, Solikin juga demikian. Mungkin ketidak senangan Solikin akibat dari isu yang beredar”


“Solikin itu pekerja yang giat disana, sedangkan Burhan juga seorang pembantu supir yang  rajin, mereka berdua mempunyai kelebihan di bidangnya masing-masing”


“Jadi lebih baik mas Agus tidak usah kepikiran tentang dia, biarkan saja dia dengan pikiranya sendiri”


Jawaban pak Wandi sama sekali tidak menunjukan sebuah jawaban yang pasti, jangan-jangan antara pak Wandi dan Solikin  ada sesuatu yang dirahasiakan.


Aku juga penasaran ketika ada Mamad disana. Karena Pak Solikin dengan Mamad tidak ada masalah, ah tapi itu kan hanya perkiraanku saja.


Atau aku bisa tanya ke Tina, tentang Solikin, apa yang sebenarnya dilakukan Solikin atas cerita dari pak Wandi kepada mbak Tina.


“Jadi gimana ini pak Wandi, apa saya lebih baik telpon ke bos Jayanto saja?” aku mulai mengancam


“Jangan mas!… jangan lakukan itu, bisa-bisa……”


“Pokoknya jangan sampai bos Jayanto tau tentang Burhan yang tidak disukai oleh Solikin.. “


“Kalau bisa mas Agus tengahi mereka, jangan sampai ada perselisihan diantara mereka, karena….”


“Karena apa pak?” aku makin penasaran


“Karena eh karena…. merusak pikiran…”


“Eh bukan .. bukan mas, itu  tadi lagunya Soneta mas. Karena susah mencari pengganti Solikin” jawab pak Wandi


Ada yang aneh dengan kelakuan pak Wandi, seolah olah dia sedang menyembunyikan sesuatu. dia membela Solikin dengan berkata susah mencari penggantinya.

__ADS_1


__ADS_2