
Benar apa yang dikatakan mas Agus.. siang hingga menjelang malam tidak ada siapapun di rumah penggergajian.
Sore ini kami ada di ruang tamu tanpa penerangan sama sekali, hanya senter kecil milik mas Agus yang sesekali dinyalakan apabila diperlukan.
Aku sangat lapar, tetapi rasa lapar itu bisa kami tahan karena kami harus segera pergi dari rumah ini.
Inggrid ada disini, dia juga sempat cerita padaku tentang orang-orang yang ada disini, dan keinginan Inggrid agar ditemukan jasadnya.
Aku sempat meminta dia untuk membantu menyelesaikan kasus ini dengan cara sebagai mata ketiga kami dimana saja, karena aku merasa ada yang tidak beres dengan orang-orang yang ada di sekeliling kami, khususnya pihak pengamanan.
Inggrid awalnya menolak, karena dia bilang tidak bisa meninggalkan rumah, karena dirumah ini semua misteri tentang keadaanya itu bermula.
Dia tidak ingin pergi dari rumah ini karena dia takut apabila tiba-tiba rumah ini hilang, dan semua yang ada disini hilang juga hehehehe.
Tapi tadi sudah aku jelaskan bahwa rumah akan tetap berdiri disini, karena sampai saat ini tidak ada info akan digusur atau dijual… itu agar dia tidak takut untuk meninggalkan rumah barang sejenak.
Aku juga bilang kalau aku adalah keturunan dari penduduk yang pernah ada di tengah hutan atau desa yang hilang karena suatu sebab.
Pada intinya adalah kita akan saling bantu untuk menyelesaikan masalah satu persatu. dan sebagai permulaan Inggrid harus membantu aku dan mas Agus untuk menyelesaikan masalah kami dengan cara menjadi mata ketiga.
“Inggrid setuju mbak… sekarang Inggrid tidak takut lagi untuk meninggalkan rumah ini barang sejenak saja”
“Iyaaa Nggrid… saya dan mas Agus janji setelah masalah ini selesai, apa yang kamu inginkan itu akan kami bantu semampu kami, pokoknya semua harus jelas dan jejak-jejak masalahmu juga harus jelas”
“Tapi maaf Tina… Inggrid sampai saat ini belum bisa menampakan diri di dua orang… butuh tenaga dan lebih besar untuk bisa menampakan diri ke mas Agus juga”
“Begini saja Inggrid. kamu bisa bergantian menampakan dirimu antara Tina dan ke mas Agus”
“Agar mas Agus tidak merasa kamu tinggal hehehe”
“Iya Tina… Inggrid nanti akan menampakan diri ke mas Agus juga, tapi kalau ke mas Agus Inggrid selalu mendahului dengan bau parfum Inggrid dulu mbak hihihihi”
Hari semakin malam… keadaan menjadi gelap gulita, kini saatnya kami akan pergi dari rumah penggergajian.
Kami sekarang akan dibantu oleh Inggrid, karena dia sudah bersedia membantu kami agar semua selesai.
“Mas… ayo kita pergi dari sini mas”
“Iya mbak Tina.. sekarang saatnya kita pergi dari sini…”
Mas Agus membuka pelan pintu rumah, tetapi aku sudah suruh Inggrid untuk keluar dulu, aku suruh dia memantau keadaan diluar dulu.
Setelah Inggrid berkata keadaan diluar aman, baru akan aku sinkronkan dengan mas Agus…
Disini aku tidak mau mengesampingkan atau merendahkan usaha mas Agus, dimana aku lebih dulu tau keadaan di sekitar sini atas bantuan dari Inggrid.
Mas Agus adalah orang yang berhasil merubah aku yang awalnya hanya gitu-gitu saja dan tidak berguna bagi siapapun hingga aku bisa menjadi seperti ini, sampai-sampai leluhurku menemui aku.
“Mbak Tina… kita harus jalan kaki.. tidak masalah kan mbak?”
“Nggak masalah mas…,selama ada mas Agus, Tina rasa semua akan menjadi aman”
“Hihihih Tina..hati-hati di jalan tengah hutan ada Wito dan Yetno yang akan datang kesini, keliatnya ada paket yang harus mereka taruh lagi di rumah ini” kata Inggrid komunikasi denganku melalui batin.
“Iya Inggrid… akan saya sampai kan ke mas Agus agar jalan melalui hutan saja”
“Mas.. ada baiknya selepas dari rumah ini, kita jalannya melalui tengah hutan saja, Tina merasa kita akan aman lewat tengah hutan mas, karena di tengah hutan kan ada mbah-mbah Tina”
“Iya mbak Tina.. ayo kita jalan menembus semak belukar, tapi hati-hati lho mbak.. takutnya ada binatang melata yang akan muncul heheheh”
“Iiiih mas Agus… jangan nakut nakuti Tina dong mas… kalau benda melata milik mas Agus sih Tina gak takut sama sekali hihihihi”
Akhirnya kami berdua jalan menembus hutan, kami hindari jalan yang melalui jalan makadam itu..
Ternyata apa yang dikatakan Inggrid benar.. di kejauhan aku bisa lihat ada cahaya lampu motor yang bergerak kekiri dan ke kanan.
Karena posisi kami ada di hutan, jadi kami tidak takut dengan orang yang datang itu.
“Hehehe mereka datang lagi mbak…”
“Iya mas… ternyata disini masih ada transaksi ya… Tina penasaran, sebenarnya apa yang mereka perdagangkan itu”
“Apa mungkin narkoba ya mas?”
“Kalau narkoba apa iya pakai dos air mineral.. tapi kalau transaksinya dalam jumlah besar ya kita tidak tau juga mbak”
“Bisa jadi satu dos itu isinya satu kg an mbak”
“Tapi mungkin tidak mas… kalau mereka memperjual belikan organ tubuh manusia?”
“Organ tubuh manusia butuh tempat yang lebih steril daripada dus air mineral. perlu penanganan khusus yang tidak main main mbak”
“Untuk kali ini yang paling cocok ya perdagangan narkoba saja mbak”
Ketika aku sedang mengira ngira apa yang ada di dalam dus itu tiba-tiba dibelakang motor yang sudah berlalu itu ada motor lagi, tapi motor yang datang ini tidak menyalakan lampu.
Aku hanya mendengar suara mesin dan bayangan motor yang dinaiki dengan berboncengan… apa alasan tidak menyalakan lampu ini memang tidak jelas.
Tapi yang pasti antara motor yang di depan yang ada di belakang itu bukan teman!
“Sudah biarkan saja mereka dulu mbak..kita ada urusan yang lebih penting untuk dikerjakan”
__ADS_1
“Iya biar saja mereka melakukan apapun ..pokoknya kita cari tempat tinggal dulu, kemudian kita cari orang yang bisa dipercaya, setelah itu lakukan sesuatu”
“Mbak… ada yang saya heran disini mbak…”
“Mbak Tina… sebenarnya kemarin-kemarin kita ada di rumah penggergajian itu sebagai umpan atau sebagai tempat untuk perlindungan?”
“Karena kok aneh, sampai detik ini tidak ada pak Paijo atau anak buah dia yang sedang patroli di sekitar sini”
“Yang ada malah kita yang dikejar-kejar Wito dan Yetno”
“Ya itu yang selama kemarin Tina pikirkan mas… kita di rumah penggergajian itu sebagai apa, kok kayaknya polisi lepas tangan begitu saja… mau kita mati kek.. kita minggat kek.. kita ketangkep.. mereka kok gak peduli kayaknya”
“Tidak ada orang yang kesini dan memeriksa kita secara berkala… minimal kirim makanan untuk kita saja….apa mereka pikir di sini ada warung makan? sehingga kita bisa makan sepuas puasnya gitu mas hihihi”
“Untuk saat ini saya tidak mau urusan dengan pak paijo dulu mbak… saya harus berpikir cara lain dulu… saya sedang berpikir ke siapa kita harus melaporkan kasus aneh ini”
“Kita ini semut mbak… yang kita lawan adalah gajah hehehe”
*****
Akhirnya kami bisa keluar dari hutan setelah perjalanan yang cukup melelahkan.
Kami tidak langsung keluar ke dari hutan dan menuju ke jalan desa, karena di dalam hutan kan masih ada dua motor yang sampai sekarang belum keluar dari are hutan.
Inggrid juga melarang kami untuk jalan keluar dari hutan, karena menurut Inggrid sebentar lagi ada yang akan keluar dari are hutan.
“Mbak…. sekarang yang harus kita pikirkan itu bagaimana kita menuju ke rumah mbak Tina dengan aman, karena kita sekarang ada di jalan desa”
“Dan jalan desa ini tidak ada tempat untuk sembunyi sama sekali mbak,.. atau apakah kita ke rumah pak Pangat saja , dan ceritakan apa yang terjadi dengan kita”
“Rumah pak Pangat kan tidak jauh dari sini mbak?”
“Iya mas… bisa saja kita kesana dulu.. tapi kan pak pangat itu teman dari pada pak Paijo mas.. apakah aman kalau kita kesana?”
“Menurut pendapat saya… antara pak pangat dan pak paijo itu memang berteman, tetapi antara mereka berdua kan tidak tau apa yang sedang terjadi”
“Bisa saja apa-apa yang dilakukan pak Paijo.. pak Pangat tidak tau…yah hanya sebatas teman saja lah saya kira mbak”
Setelah keadaan dirasa aman oleh Inggrid meskipun dua motor yang ada di rumah penggergajian itu belum muncul juga, akhirnya kami nekat menuju ke rumah pak Pangat.
Aku akan ceritakan apa saja yang sedang terjadi dengan kami, dan semoga pak Pangat saat ini ada di rumah.
Gang yang menuju ke rumah pak pangat tidak jauh dari pertigaan hutan ini,m sehingga kami tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah pak Pangat.
“Yang itu gangnya mas… ayo kita ke sana”
Ketika kami sudah ada di depan rumahnya pak pangat, untungnya di dalam gang rumah pak Pangat ini gelap, apalagi di depan rumahnya pak Pangat.. tidak ada lampu penerangan sama sekali.
Tentu saja hal ini menguntungkan bagi kami berdua, karena keadaan kami tentu saja samar-samar apabila dilihat dari ujung gang.
“Kenapa kok menjauh Nggrid?”
“Inggrid tidak bisa masuk ke sana Tina… ada semacam pagar yang apabila terkena tubuh Inggrid rasanya panas sekali dan tenaga Inggrid semakin melemah…. Inggrid tunggu disini saja”
Beberapa kali kami ucapkan salam, tapi tidak ada seorangpun yang menjawab… wajarlah karena saat ini kan hampir tengah malam.
Datang ke rumah orang pada waktu tengah malam gini ini kan jelas bukan hal yang biasa.
“Gimana mas… jelas kita tidak akan dibukakan pintu mas…”
“Huuf .. saya bingung mbak.. apakah kita tunggu di depan ruma pak Pangat hingga pagi hari saja mbak?”
“Nanti kan akan ada orang yang ronda… kita nanti minta tolong orang yang ronda untuk memanggilkan pak Pangat”
Akhirnya kami putuskan untuk ada di depan rumah pak Pangat, dan menunggu orang yang ronda datang sampai di sekitar sini.
Ini terpaksa kami lakukan karena beberapa kali aku dan mas Agus coba memanggil pak Pangat, tetapi tidak ada sahutan sama sekali.
“Tina…. ada yang datang kesini…kalian hati hati saja” kata Inggrid tiba-tiba
“Berapa orang yang datang Nggrid?”
“Satu orang saja Tina… dia berjalan menuju ke arah gang sini”
Aku harus bilang kepada mas Agus yang saat ini sudah mulai putus asa, dia duduk sambil melamun di kursi kayu depan rumah pak Pangat.
“Mas…jangan melamun…. kita harus waspada mas, siapa tau ada yang datang kesini tanpa kita tahu mas”
“Yang datang paling ya penjaga malam alias orang ronda mbak”
lamat-lamat aku mendengar langkah kaki yang berasal dari mulut gang, kemudian orang yang ada di mulut gang itu berdiri diam
“Siapa kalian , dan apa yang kalian lakukan di depan rumah itu?”
Aku tau suara itu, itu pasti suara dari Pangat!.
“Ini kami pak… Tina dan mas Agus”
“Oh kalian berdua… lalu yang ikut bersama kalian ini siapa?”
“Dia Inggrid pak… teman kami”
__ADS_1
“Inggrid?.... dari tadi memangnya dia ikut bersama kita?” tanya mas Agus kaget
“Iya mas… hanya saja Inggrid tidak bisa nampak ke mas Agus, karena dia kehabisan tenaga ketika berusaha berkomunikasi dengan Tina”
“Nanti saja dijelaskan di dalam anak-anak… sekarang kalian masuk saja ke dalam… saya sudah menunggu kalian dari kemarin”
“Pak Pangat ini dari mana tadi” tanya mas Agus
“Biasa… kalau tengah malam saya kan ke masjid…ayo cepat masuk ke dalam…”
“Yang pertama akan saya lakukan adalah memberikan energi untuk teman kamu ini… dia sudah benar-benar lemah”
“Ayo sini mendekat ke saya nak siapa namamu tadi… Inggrid ya, akan saya berikan sedikit tenaga untuk kamu”
Aku nggak tau apa yang sedang dilakukan Inggrid, tetapi yang pasti yang aku rasakan adalah Tubuh Inggrid yang semakin bersinar.
Berbeda dengan ketika tadi dia bersama kami dari rumah penggergajian menuju ke rumah pak Pangat.
Wajah Inggrid yang sangat pucat tadi, sekarang sudah berbeda, meskipun tetap saja pucat, tapi paling tidak ada perubahan daripada yang tadi
“Tunggu satu jam lagi.. setelah energy kamu pulih dengan sempurna.. kamu bisa perlihatkan dirimu kepada mas AGus dan mbak TIna”
“Sekarang tentang kalian… bagaimana apakah semua baik baik saja dengan para penegak hukum itu?” tanya pak Pangat dengan tersenyum
“Kalian tidak usah cerita kepada saya, saya sudah tau apa yang terjadi dengan kalian selama ada disana”
“Kalian berdua sudah dewasa, pasti sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri kan?” tanya pak Pangat dengan tersenyum lagi
“Ok… kalian pasti bingung dengan apa yang saya katakan… saya akan ceritakan sedikit tentang apa yang menimpa kalian, tapi hanya sedikit saja ya”
“Jadi begini… kalian dengarkan baik baik apa yang saya katakan”
“Kalian sudah ikut campur terlalu jauh di dalam urusan sindikat perdagangan narkoba…” kata pak Pangat dengan suara yang sangat lirih
“Kalian jangan tanya saya tau dari mana.. pokoknya kalian diem saja dan dengarkan apa yang saya katakan”
“Jadi kalian sudah terlalu mencampuri urusan perdagangan narkoba.. dan yang kalian ikut campuri ini bukan sembarang bandar… tapi mereka ini merupakan bandar besar antar pulau”
“Kalian dalam bahaya besar…” pak Pangat terdiam sejenak….
“itu pertama yang sedang saya jelaskan…. sekarang yang kedua… ini yang berbahaya…”
“Peran Paijo……” Pak Pangat berhenti menjelaskan sebentar… mungkin dia sedang berpikir untuk menjelaskan tentang pak Paijo
“Dia sahabat saya…….”
“Ok… saya akan cerita sedikit tentang kami bertiga dulu.. agar kalian bisa menarik kesimpulan sendiri”
“Saya, joko, dan Paijo dulu kami satu SMA… kami juga satu perguruan di sebuah perguruan pencak silat… kami bersahabat bertiga …huuufff”
“Kami bersahabat mulai kelas satu SMA hingga kami lulus SMA. kami selalu bertiga… Paijo orang ya paling agresif, Joko lebih ke seorang yang kutu buku.. Joko memang pintar sejak kelas satu”
“Sedangkan saya biasa-biasa saja”
“Lulus SMA Joko yang orang tuanya kaya raya bisa sekolah kedokteran di kota S”
“Paijo yang orang tuanya mempunyai kedudukan di kepolisian berhasil menyekolahkan anaknya hingga berhasil menjadi seorang polisi”
“Saya… orang tua saya hanya petani penggarap sawah, hanya bisa menyekolahkan saya sampai jenjang SMA, setelah lulus saya menganggur, bantu-bantu orang tua di ladang sambil memperdalam ilmu agama pada seorang guru”
“Setelah lulus SMA… Joko sibuk dengan perkuliahanya, Paijo tidak pernah muncul karena dia sedang pendidikan di sebuah akademi polisi”
“Saya juga sibuk dengan membantu orang tua dan memperdalam ilmu agama”
“Kami sudah tidak pernah bertemu hingga pada suatu ketika, istri saya keracunan makanan, dan saya bawa ke UGD rumah sakit yang ada di kota”
“Secara tidak sengaja saya bertemu dengan Joko yang waktu itu sedang bertugas di UGD”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maaf.…sejenak tentang penulisan saya..
Saya sebenarnya bukan seorang penulis… saya hanya seorang pembaca…
Semasa remaja saya banyak baca novel dari penulis Sidney sheldon, Agatha christie dengan tokoh Hercule Poirot yang mbulet, dan yang paling gampang dicerna adalah novel dari Enid Blyton dengan lima sekawan, dan Alfred Hitchcock dengan Trio detektif.. dan tentu saja tidak lupa novel ENNY ARROW
Tapi itu semua saya baca pada tahun 90an hingga tahun 2000 an saja, karena setelah itu saya menikah.
Saya pernah juga baca novel yang ada di noveltoon juga, dan kesemuanya bagus bagus, tajam, dan ringan.
Karena kegemaran saya membaca buku novel dari saya kecil, khususnya yang bertema detektif dan pembunuhan dari novel yang saya baca waktu saya masih remaja.. akhirnya gaya cerita saya agak terpengaruh juga.
Saya tidak bisa menulis dengan cepat dan meledak ledak…
Yang saya bisa tulis itu sebisa mungkin berjalan apa adanya… dan pada akhirnya memang terkesan berbelit belit, bolak balik, berputar putar, kelamaan, kesitu situ aja, dan lain sebagainya.
Karena bagi saya.. sebuah cerita itu tidak harus cak cek sat set bat bet… ndang selesai ndang buyar….semua itu ada alurnya.
Inilah saya yang mungkin mbulet…
Saya juga minta maaf sebesar besarnya karena tidak pernah balas komentar pembaca, bukan karena saya sombong… tapi saya bingung harus balas apa, saya tidak pandai menjawab komentar.
__ADS_1
Dan atas kesabaran para pembaca atas cerita saya yang mbulet, saya ucapkan banyak terima kasih.
Salam Mbak Bashi