
Aku sebenarnya tidak mengira apabila arwah orang yang baru meninggal tadi bertemu denganku di mushola, bahkan tadi aku juga lihat dia sedang duduk di bangku depan kamar ini.
Sebenarnya aku sudah tau, tetapi tadi aku agak ragu dengan laki-laki tua yang memakai kaos biru dengan gambar baterai itu.
Tapi sekarang…. karena sudah diberitahu dokter Joko, aku jadinya ketakutan juga!
Sialan juga dokter Joko itu, sebenarnya dia tidak perlu kasih tau aku dan mas Agus tentang yang ada di sebelah tempat tidur yang nantinya akan aku tiduri itu.
Meskipun tempat tidurku dan tempat tidur dia dibatasi oleh kelambu, aku tetap saja takut lah.
“Mbak Tina… jangan takut dengan apa yang pak Joko barusan katakan. kita disini kan tidak mengganggu siapapun, dan kita juga tidak dibekali anugerah untuk bisa melihat hal ghaib yang ada di sekitar kita kan”
“Iya mas.. tapi Tina tetap saja takut mas”
Aku nggak mau cerita ke mas Agus apabila aku tadi juga sempat lihat sosok itu waktu di mushola dan waktu aku berjalan ke kamar ini juga.
Tadi mas Ags bilang kalau kita tidak diberi anugrah Tuhan untuk bisa melihat hal-hal ghaib… tapi ternyata kenapa aku bisa lihat..
Apakah aku memang bisa melihat hal ghaib atau bagaimana?
“Mbak Tina kalau masih takut, bisa tidur di kursi sebelah tempat tidur saya saja”
“Iya mas.. lihat nanti saja mas”
“Tenang saja mbak…. saya sebenarnya juga takut, tapi karena saya tidak mempunyai kemampuan untuk bisa melihat yang begituan, maka saya yakin tidak akan ditakut takuti oleh arwah orang itu”
“Iya mas…. “
Apa yang diomongkan mas Agus memang beralasan.. dia memang saat ini tidak bisa melihat laki-laki tua dengan kaos biru bergambar baterai itu.
Tapi aku tidak tau saat ini sepertinya bisa melihat hal itu…
Aku masih bisa merasakan bahwa orang itu masih tidur di tempat tidur sebelah sana.
Aku masih bisa merasakan bahwa orang itu sekarang sedang menoleh ke arah aku dan mas Agus, meskipun kami dibatasi oleh gorden.
“Mbak Tina tidur saja dulu… saya sudah mulai ngantuk lagi ini mbak”
“Iya mas.. mas Agus tidur saja dulu, Tina soalnya belum ngantuk sama sekali”
Jelas aku tidak ngantuk dan jelas tidak bisa tidur, karena aku tetap berpikir sosok yang ada di sana itu. Aku yakin sosok itu sedang melihat ke arah ku juga.
Mas Agus sudah mulai melanjutkan ngoroknya, tinggal aku sendiri saja yang masih terjaga.
Mataku tidak pernah lepas melihat ke arah kelambu yang ada di depanku…
Kelambu yang ada di sebelah tempat tidur pasien yang sebelumnya aku gunakan untuk tidur.
Kelambu yang memisahkan antara tempat tidur pasien yang kutiduri dengan tempat tidur yang saat ini mungkin sedang ditiduri oleh sosok yang tadi baru saja meninggal.
Terus terang aku tidak bisa melihat.. tetapi aku bisa merasakan… aku bisa merasakan sesuatu yang tidur dengan posisi menyamping ke arah kanan.
Posisi menyamping ke arah kanan adalah ke arah aku dan mas Agus berada.
Aku bisa merasakan sosok itu sedang melotot ke arah kami berdua…
“Ah itu kan hanya perasaanku saja… jangan ikuti perasaan, ikuti akal sehat saja!”
Aku duduk terbengong hingga kemudian tidak terasa waktu sudah menunjukan tengah malam.
Biasanya tengah malam gini ada suster yang masuk dan akan melakukan cek tensi darah.
Atau nanti aku ikut suster itu saja, dan menunggu di ruang jaga suster?, pokoknya aku harus bisa keluar dari kamar ini, daripada aku gila sendiri disini.
Benar juga… berselang beberapa belas menit kemudian pintu kamar mas Agus terbuka, dan kemudian ada sapaan ramah seorang suster yang muncul di hadapanku.
“Selamat malam bu… lho kok ibu belum tidur juga?” tanya suster itu dengan ramah
Suster ini berbeda dengan suster yang kemarin masuk tengah malam dengan sepatu yang berbunyi.
Suster yang ini layaknya suster-suster yang lainya.
“Eh iya sus, eh saya tidak bisa tidur, dan saya tidak ada teman yang bisa diajak ngobrol”
“Ini kan sudah tengah malam bu, sebaiknya dibuat istirahat saja daripada mencari teman ngobrol hehehe”
“Benar sus. tapi…..”
“Tapi ada sesuatu yang membuat saya takut sus”
“Hmm takut apa sih bu.. di rumah sakit ini tidak ada yang menakutkan, itu hanya perasaan ibu saja karena keadaan yang sepi atau…..”
“Atau apa sus…?”
__ADS_1
“Atau mungkin karena ibu tau bahwa pasien yang di sebelah itu sudah meninggal, sehingga ibu merasa ketakutan?” tanya suster itu sambil tersenyum
“Benar itu sus… alasan yang kedua itu yang membuat saya sangat ketakutan..”
“Sus.. kalau boleh saya ikut suster.. yah pokoknya saya bisa lihat orang… atau saya hanya duduk-duduk di dekat ruang jaga suster juga tidak papa”
“Lantas suaminya ditinggal begitu saja?”
“Iya sus tidak papa… suami saya lho tidur ngorok sampai-sampai suster periksa tensi darahnya saja dia tidak bangun sama sekali kan hehehe”
“Ya sudah tidak papa kalau mau ikut saya. tapi dengan catatan duduk saja di depan ruang jaga, dan jangan menghalangi kerja suster yang jaga malam”
“Ok sus.. saya setuju..”
Akhirnya aku ikut dengan suster itu…
Ketika kulewati tempat tidur yang mengerikan itu… ternyata kosong, tidak ada siapapun disana…
Aku benar-benar lega.. ternyata tidak ada sosok mengerikan, ternyata itu hanya perasaanku saja.
Karena kamar mas Agus ini adalah kamar terakhir yang diperiksa suster yang shift malam, maka selanjutnya kami menuju ke tempat ruang jaga suster.
Ruang jaga suster ini ada di depan kamar empat atau lima.
“Bu Agus bisa duduk di tempat duduk itu saja” kata suster itu sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang ada di depan kamar nomor 4.
Di ruang jaga suster itu ternyata hanya ada dua suster yang sedang berjaga.
Satu orang suster yang tadi.. yang berkeliling untuk melakukan tensi kepada pasien yang ada di ruang rawat inap ini, sedangkan satunya sedang menulis sesuatu.
Suasana lorong rawat inap ini semakin malam semakin suram dan mencekam.
Kulihat jam ternyata sekarang sudah menunjukan pukul 24.25
Kutoleh kiri dan kanan.. tidak ada siapapun kecuali ….
Kecuali ada sosok yang juga sedang duduk di bangku depan kamar… sosok yang nampak dari kejauhan yang perkiraanku ada di depan kamar tempat mas Agus sedang tidur.
Kupalingkan wajahku.. aku tidak mau lagi melihat sesuatu yang tidak nyata!
Ketika aku sedang berusaha untuk melupakan wajah sosok yang sedang duduk itu, tiba-tiba ada suara bel berbunyi..
Suara bel itu begitu keras hingga aku terperanjat…
Tanpa basa basi suster yang tadi bersamaku ketika di kamar mas Agus itu berlari menuju ke kamar nomor delapan.
Sedangkan suster yang satunya hanya menunggu di ruang jaga sambil menulis sesuatu di sebuah buku besar.
Tidak lama kemudian suster yang tadi sedang ada di kamar delapan itu kemudian lari menghampiri ruang jaga..
“Mbak Mel… pasien kamar delapan mengalami serangan jantung lagi…. tolong panggilkan anggota UGD, saya tidak mampu sendirian melakukan bantuan disana” kata suster yang tadi itu
“Kamu balik ke sana lagi mbak Wati.. saya akan telponkan UGD segera” kata suster yang dipanggil dengan nama Mel itu
Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan dari kamar nomor delapan, sementara itu tim yang dari UGD belum juga datang..
Ketika terdengar suara tangisan dari kamar delapan.. mbak Mel yang tadi sempat telepon ke bagian UGD menyusul temannya yang dipanggil mbak Wati tadi.
Suster itu berjalan dengan sedikit berlari menuju ke kamar nomor delapan.
Kedua suster itu ada disana.. entah apa yang sedang mereka perbantukan disana..
Suara isak tangis masih terdengar olehku… dan aku sekarang sedang sendirian di depan kamar nomor empat yang pastinya jauh dari kamar nomor delapan.
Tidak lama kemudian ada dua orang yang kelihatannya dari UGD yang datang dengan berlari lari, mereka membawa semacam alat yang aku tidak atau gunanya.
“Duh sialan.. kok malah ngeri sih disini… lebih baik aku ada di sebelah mas Agus kalau kayak gini keadaanya”
Suasana makin mencekam ketika samar-samar aku mendengar suara tit...tit…tit.. yang agak panjang dan makin lama makin melemah dan bunyi itu kemudian menjadi suara tiiiit yang panjang…
Tapi sayangnya aku hanya sendirian disini…
Dengan mendengar suara suara mesin dan suara tangisan, malah semakin menambah kengerian.
Aku hanya diam sambil melihat ke arah kamar delapan…
Tiba-tiba pintu kamar delapan terbuka lebar…
Tempat tidur kamar rawat inap keluar dari kamar nomor delapan dengan didorong dua orang petugas UGD bersama suster yang dipanggil Wati..
Seorang pasien yang nampak tua tergeletak dengan alat yang kelihatannya berfungsi sebagai asupan oksigen di sekitar wajahnya.
Dua orang petugas UGD itu mendorong tempat tidur itu entah ke arah mana, mungkin ke UGD atau ke instalasi yang lebih lengkap peralatanya.
__ADS_1
Mereka dengan tergesa-gesa melewati aku, satu orang keluarga pasien mengikuti dari belakang sambil sesekali sesenggukan menangis.
Tidak lama kemudian suasana sepi lagi…
Tidak ada suster jaga disini, karena salah satu suster jaga sedang bersama petugas UGD..
Sedangkan suster satunya yang dipanggil Mel itu masih ada di dalam kamar nomor delapan..
Di selasar rumah sakit ini hanya ada aku sendiri…
Suasana menjadi sepi lagi…setelah tadi melihat keadaan pasien yang kemungkinan besar dalam keadaan sakaratul maut.
Aku tidak tau apa yang akan kulakukan, untuk kembali ke kamar mas Agus jelas aku tidak berani…Untuk pergi dari sini pun aku tidak tau harus ke mana.
Secara tidak sengaja aku menoleh ke arah kamar delapan dan ke arah kamar tempat mas Agus dirawat..
Tiba-tiba aku melihat sosok orang tua dengan kaos biru bergambar baterai itu sedang berdiri di depan kamar nomor delapan.
Wajah sosok mengerikan itu menatap ke arah pintu kamar nomor delapan….
laki laki tua berkaos biru dengan gambar baterai itu sedang berdiri di depan pintu kamar nomor delapan, tidak tau apa yang sedang dia lakukan.
Seketika bulu kudukku meremang….. karena sosok yang tadi sedang duduk di depan kamar mas Agus sekarang ada di depan kamar nomor delapan.
Dan semakin dekat dengan posisiku berada.
Aku berusaha untuk tidak melihat sosok yang ada di kamar nomor delapan itu, tetapi tidak tau kata hatiku menyuruh yang sebaliknya.
Kata hatiku menyuruhku untuk tetap melihat apa yang akan terjadi dengan yang ada di kamar nomor delapan itu.
Bulu kuduku makin meremang…darah yang ada di darah kepalaku berdesir kuat ketika secara tidak sengaja aku melihat laki-laki itu menoleh ke arahku.
Laki-laki tua dengan kaos bergambar baterai… meskipun jauh dari posisiku tapi aku bisa merasakan bahwa dia sedang tersenyum ke arahku..
“Duuuh kenapa aku ada disini sendirian…!”
Tapi hanya sejenak dia menoleh ke arahku, karena sejenak kemudian dia menatap pintu kamar nomor delapan lagi.
Seolah dia sedang menunggu seseorang yang akan keluar dari kamar nomor delapan.
Pintu kamar nomor delapan kemudian terbuka… suster yang dipanggil Mel itu keluar dari sana bersama seorang pemuda yang kemungkinan besar adalah keluarga dari laki-laki yang dibawa ke suatu tempat itu.
Kedua orang itu berjalan cepat…
Ndak tau mereka berdua menuju ke mana, karena mereka berdua melewati aku yang sedang duduk sendirian di sini.
Suara langkah kaki dua orang itu terdengar cepat… mungkin mereka sedang menuju ke ruang administrasi, atau menuju ke tempat laki laki tadi sedang dibawa.
Dua orang itu semakin jauh… dan sekarang aku benar-benar sendirian lagi disini.
Kutundukan kepalaku agar aku tidak merasa ketakutan… tetapi yang kulakukan ini malah membuatku semakin ketakutan.
“Ok Tina….harus kuat… harus bisa mengatasi ketakutan!”
Aku berusaha memanipulasi otak agar semua rasa yang menyebabkan ketakutan hilang…..
Memang rasa takutku berangsur angsur berkurang…tapi ketika aku menengadahkan kepalaku dan tidak sengaja aku melirik ke arah kamar nomor delapan…
Hal yang mengerikan terlihat mataku lagi…
Laki-laki tua berkaos biru dengan gambar baterai itu sekarang tidak sendirian…
Dia bersama dengan seorang laki-laki yang tidak kalah tuanya.. seorang laki-laki berkaos kuning dengan gambar sandal jepit dengan merk skyway.
Tapi…. tapi mereka tidak berada di depan kamar nomor delapan… mereka berjalan ke arahku, .. ‘
Bukan.. mereka tidak berjalan… mereka melayang.. ya mereka melayang ke arahku .. dan sekarang mereka ada di depan kamar nomor 6.
Kedua orang dengan kaos biru dan kuning bergambar sandal jepit itu hanya menatap ke depan… mereka tidak menoleh ke kiri atau kanan sama sekali.
Semakin dekat… semakin dekat posisi mereka dengan aku yang sedang duduk di depan kamar nomor empat.
Tubuhku bergetar hebat… keringat dingin keluar dari pori pori.. kepalaku semakin senat senut ndak karuan… aku semakin tidak fokus….
Otaku tidak bisa berpikir jernih… hingga akhirnya kedua sosok yang agak tembus pandang itu sekarang semakin dekat dengan posisiku..
“Ya Allah.. semoga mereka berdua tidak menoleh ke arah ku dan tetap berjalan dan tidak berhenti di depanku ya Allah…”
Ternyata doaku yang singkat itu tidak dikabulkan oleh Allah.. kedua sosok yang sekarang sudah ada di depanku itu berhenti…
Wajah pucat pasi yang mengerikan itu menoleh ke arahku….
Mereka berdua tersenyum dengan mengerikan…
__ADS_1