RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
246.FOTO PAK SOLIKIN?


__ADS_3

Aku udah gak peduli lagi dengan sekitar…. Aku gak peduli apabila penduduk desa ini terbangun akibat suara motor yang kami  gunakan….


Aku gak peduli lagi apabila aku dan yang lainya akan masuk ke rumah pak Solikin dan mungkin akan membuat keributan disini.


Kuhentikan motor tepat di depan rumah pak Solikin yang sekarang keadaanya gelap gulita. Aku sangat yakin apabila solikin itu adalah Watu yang menyamar.


“Mas Agus… ngapain brenti disini?” tanya mbak Tina


“Saya mau ke rumah ini mbak… rumah ini sumber bencananya”


“Jangan mas…. Ayo kita jalan lagi saja, perasaan Tina gak enak sama rumah ini mas…..”


“Pak Agus.. apa yang akan kamu lakukan di rumah ini?” tanya pak Diran sambil menghentikan motornya”


“Saya yakin Watu itu berasal dari rumah ini, ini rumah Solikin, dan pak Jay kenal juga dengan Solikin pak”


“Jangan sekarang pak Agus, besok pagi saja kita ke sini lagi, ingat kematian yang tadi kita anggap tidak ada yang tau, jadi ndak usah membahas masalah ini disini pak Agus” bisik pak Diran


Astaga… benar pak Diran, tadi aku keburu nafsu untuk mendatangi rumah ini… aku sudah hampir membuka kedok kepada penduduk disini tentang kematian yang tadi ada di sungai itu.


Kujalankan lagi motor….


Tadi aku sudah benar-benar digelapkan oleh nafsu untuk melakukan sesuatu terhadap keadaan rumah pak Solikin…


Tapi entah kenapa aku yakin sekali apabila Watu itu tadi berasal dari rumah ini, aku yakin sekali apabila Watu ada hubunganya dengan rumah ini.


*****


Di  hotel menjelang pagi….


“Apa yang tadi kami lakukan di depan rumah itu pak Agus?” tanya pak Diran


“Saya merasa disana itu tempat watu  melakukan sesuatu pak”


“Iya.. saya pun merasa seperti itu pak Agus… di rumah itu ada energi yang tidak semestinya. Tapi kalau kita k sana malam malam gini, apa nanti kita tidak bermasalah dengan penduduk desa itu?”


“Bisa saja pemilik rumah yang akan pak Agus datangi itu teriak maling, dan kita akan dihajar habis-habisan” kata pak Diran


“Iya sih pak Diran, benar pak Diran” aku benar-benar nggak memikirkan hal itu…. Aku benar-benar nggak memikirkan akibatnya.


“Pak Jay, nanti tolong hub pak Burhan lagi, dan minta keterangan tentang Solikin, apakah dia masih ada disana atau bagaimana, dan minta fotonya yang terbaru”

__ADS_1


“Akan saya sms saja sekarang mas Agus, dan nanti saya akan pinjam komputer kantor hotel ini untuk cek email yang dari pak Burhan” jawab pak Jay


“Jangan lupa untuk tanya ke anak buah pak Jay, tentang rumah Watu pak, kita harus secepatnya mendapatkan alamat Watu untuk kita datangi” kata pak Diran


Malam menjelang pagi kami masih ada di lobby hotel yang sepi dan agak gelap, karena pada jam segini tentu tidak ada aktifitas hotel sama sekali.


Kita sedang memikirkan untuk mencari rumah Watuadem yang sebenarnya, yah sesuai dengan petunjuk yang dari mbak Kun tadi itu, untuk menghancurkan kamar tempat ritual si Watuadem.


“Masih ada sisa waktu menjelang pagi, ada baiknya kita gunakan untuk istirahat saja, karena besok kita pasti akan lebih sibuk dari hari ini” kata pak Hendrik.


“Iya Koh… saya capek sekali, ayo istirahat dulu saja…” kata pak Jay.


*****


“Jiang… apa kamu merasa ada yang aneh?”


“Aneh  gimana pak Agus.. kan Watu tadi sudah mati tenggelam”


“Betul JIang…. Waktu tadi Watu tenggelam dan teriak teriak, tidak ada polisi yang jaga di depan itu datang, apakah mereka tidak mendengarkan teriakan watu yang sangat keras itu?”


“Iya sih pak Agus,  harusnya polisi yang jaga di depan itu mendengarkan teriakan Watu, tapi bisa saja polisi itu ketakutan pak”


“Satu lagi Jiang, tentang Watu, aku rasanya sangat kenal sama suara ketika Watu teriak minta tolong”


“Ah itu kan perasaan bapak saja”


“Bukan gitu Jiang…..Kamu belum tau dan belum kenal dengan pak Solikin Jiang”


“Menurut aku dan mbak Tina, kalau brewok dan kumis Watu itu dipangkas, maka wajahnya akan mirip dengan Solikin yang anak buahnya pak Jay jaman tempat itu masih berupa rumah penggergajian”


“Tadi ada yang janggal juga Jiang, waktu kita berangkat, rumah itu terang, tetapi ketika kita pulang, rumah itu sudah gelap, berarti penghuninya kan sudah pergi dari rumah itu”


“Bukan pergi pak, tetapi penghuninya sudah tidur, itu lebih tepat pak Agus hehehe”


“Begini pak Agus… bisa saja memang apa yang pak Agus katakan itu benar, tapi pak Jay  harus mendapatkan info dari penjara dulu kan pak”


“Iya sih Jiang, tadi itu kan saya keburu nafsu untuk segera mengakhiri semua ini Jiang, saya sudah capek Jiang, selama saya merantau ke sini untuk kerja disini saya tidak pernah tenang”


“Biarkan pak Jay dulu saja mencari informasi tentang Pak Solikin yang ada di penjara itu dulu pak”


*****

__ADS_1


Pagi hari kami sedang sarapan di resto hotel…


Ternyata enak juga kalau kita ada misi bersama pak Jay, kita bisa tidur di hotel yang ber ac dan makan sarapan hotel yang nikmat hehehe, beda ketika aku dan mbak Tina sedang dalam pelarian hehehe.


Pak Jay sedang ada di kantor hotel, dia sedang meminjam komputer hotel untuk melihat email yang masuk, karena kami sedang menunggu info dari pak Burhan, polisi yang dulu menangkap Solikin.


Saat sarapan kami sama sekali tidak membahas mengenai urusan tangkap menangkap iblis atau memikirkan  apa yang kita lakukan di hotel Singgasana Adem Ayem, yang penting sarapan dulu….a


Pak Jay datang dari arah kantor hotel buru-buru sambil membawa selembar kertas..


“Ini foto pak Solikin.. Coba kalian perhatikan dengan teliti” kata pak Jay


Sekilas foto itu sama sekali tidak ada bedanya dengan Solikin yang kami kenal, aku dan mbak Tina merasa yakin bahwa foto yang ada di kertas itu adalah benar-benar pak Solikin.


Tapi aku harus bisa mencari celah dan harus bisa meyakinkan bahwa foto itu bukan pak Solikin yang aku pernah kenal.


“Mas…. ini benar-benar Solikin mas, tapi coba bayangkan kalau yang ada di foto ini menggunakan brewok dan kumis…” kata mbak Tina


“Iya bu Tina… orang ini mirip dengan Watuadem…eh jangan-jangan mereka berdua ini kembar?” kata pak Diran


“Koh… gua baru kenal ambek yang namae Watu itu beberapa hari lalu, tapi nek gua liak foto ini, gua rasa kok ada mirip miripe ya sama yang mati  tenggelam itu Koh” kata pak Hendrik dengan logat pasar atumnya.


“Gini ae lho koh…. kata mbak Tina dan mas Agus, yang namae Solikin itu kan juga ahli dalam ilmu ghaib,  lha nek sing mati itu lak juga pinter ilmu ghaib juga koh… apa tidak sebaike kita ke penjara, gua mau liak energi yang ada di dalam dirie koh”


“Lu apa ndak  isa liak foto ini ae tah Koh Hendrik?” tanya pak Jay


“Haruse isa Koh, tapi foto ini sama sekali ndak  isa gua prediksi.. Rasane hambar gitu..koh…Coba tanya pak Diran…..”


“Gimana pak Diran, pak Diran kan bisa liat energi meskipun hanya berupa foto saja kan pak?” tanya pak Hendrik


“Kosong pak Hendrik.. Sama sekali tidak ada energi yang ada di dalam foto ini, biasanya saya bisa lihat energi tubuh hanya dengan lihat fotonya saja” jawab pak Diran


“Bener kan apa kata gua koh Jay.. pak Diran ae isa bilang lek foto itu tidak ada energie sama sekali”


“Kita harus ke panjara Koh, takute beda orang itu Koh” kata pak Hendrik


“Tapi susah Koh.. lek misale kita ke penjara susah Koh ijine koh…” kata pak Jay


“Gini ae koh Jay, kita pigi rumahe aelah untuk sementara ini.. Lu apa sudah dapat alamat rumahe?” tanya pak Hendrik


“Gua sik nunggu sms dari anak buah gua koh, ntik kita pigi rumahe ae lah.” jawab pak Jay

__ADS_1


__ADS_2