RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
159. CAH BAGUS


__ADS_3

Malam semakin larut, sudah mendekati tengah malam… sebenarnya sudah waktunya kami semua tidur..


Tetapi, mas Agus, dan pak Pangat dan aku masih saja terjaga.


Nggak tau apa yang sedang aku pikirkan untuk saat ini. Kami bertiga diam di ruang tamu…


Sementara itu tadi aku sempat diajak ngobrol Inggrid… dia merasa akan ada sesuatu yang datang… dan dia akan berjaga di depan rumah pak Pangat.


“Eh.. kalian apa merasa ada yang janggal?” tanya pak Pangat setelah beberapa waktu terdiam di heningnya rumah


“Apa ya pak” tanya mas Agus


“Coba kalian berdua rasakan”


“Iya pak… ada bau busuk yang semakin  lama semakin jelas baunya pak”


“Nah itu mbak Tina.. bau busuk itu yang tadi mau saya katakan, karena bau ini bukan berasal dari hal yang wajar!”


“Bisa dikatakan bau bangkai ini merupakan kiriman dari seseorang  ke rumah ini… coba kalian panggil Inggrid dan tanyakan apakah ada sesuatu yang datang kesini”


“Tadi memang Inggrid sudah bilang kalau nanti ada  yang datang ke rumah ini pak.. Dan saya mulai yakin apa yang dikatakan Inggrid tentang kiriman itu ya ini pak”


“Ya benar mbak Tina.. bisa saja apa yang dikatakan Inggrid itu ada benarnya juga… ya sudah biarkan dia  di luar sana saja”


Inggrid dari tadi ada di depan rumah sudah memasang tampang was-was, dia tadi memang sempat bicara kepada aku bahwa nanti akan ada sesuatu yang dikirim kesini.


Tapi apa iya ada kiriman bangkai satu truk ke rumah ini?..karena bau busuk ini semakin menjadi jadi saja.


“Tutup hidung kalian semampunya, bau ini sekarang semakin tajam dan membuat saya mulai mual” kata pak Pangat


“Iya pak… tapi saya pernah mencium bau seperti ini ketika ada dirumah penggergajian, dan yang melakukan ini semua adalah Solikin pak” kata mas Agus


“Ah masak iya si Solikin mas… bukanya dia sekarang sedang ada di tahanan kota S?”


“Ehm Tapi apakah bisa pak… seseorang melakukan pekerjaan ghaib meskipun dia dalam keadaan tanpa ada semacam benda-benda yang digunakan untuk melakukan ritual itu?”


“Maksudnya semacam bunga, menyan dan lainya gitu mbak Tina?”


“Iya betul pak… apakah bisa Solikin melakukan sesuatu tanpa ada benda-benda yang biasanya digunakan untuk ritual?”


“Heheheh tentu saja bisa mbak… tentu saja bisa apabila orang tersebut memang sudah benar-benar menguasai ilmu ghaib itu”


“Dan ini yang sekarang sedang saya rasakan mbak … dia sedang mengirim sesuatu ke arah rumah ini… tetapi semoga pelindung rumah ini bisa menahan semua yang dikirim oleh orang itu”


Aku sebenarnya tidak begitu takut dengan kiriman -kiriman aneh seperti ini, hanya saja kenapa kok harus main hal klenik seperti ini  untuk urusan  narkoba.


Apakah Solikin sudah kehabisan akal untuk melawan kami, sehingga dia harus sampai melakukan hal-hal seperti ini…. Istilahnya dia akan kirim santed ke rumah ini.


Pak Pangat sekarang sedang duduk bersila, dia konsentrasi dengan  memejamkan matanya…peluh yang segede biji jagung mulai menetes dari dahinya.


Mas Agus dan aku hanya bisa melihat pak Pangat yang keliatanya sedang melawan kiriman ghaib itu…


“Tina…. Kalian siap-siap saja, karena ada setan yang berwujud manusia dan sangat bau sedang jalan ke arah sini”


“Maksudmu apa Nggrid?”


“Gini Tina… sebuah kiriman itu kan berasal dari demit yang membawa benda-benda mengerikan, dan kemudian dimasukan ke tubuh orang yang dituju”


“Saat ini demit yang sedang mengirim paket itu berubah wujud jadi manusia.. Dan sekarang dia sedang berjalan pelan menuju  rumah ini Tina”


“Hfffpppp… ya Inggrid benar mbak Tina… setan itu sudah saya rubah menjadi berwujud… dan sebentar lagi akan sampai di rumah ini” kata pak Pangat tiba-tiba setelah  membuka matanya


“Nanti kita bisa tanya dia itu siapa dan siapa yang mengirim dia kesini… tetapi kalian harus bisa menahan bau busuknya.. “


“Ya sudah kalau begitu… Inggrid akan berjaga-jaga di depan  lagi saja pak Pangat” kata Inggrid yang kemudian menghilang begitu saja”


“Apa demit itu nanti akan kita masukan ke rumah pak?” tanya mas Agus

__ADS_1


“Iya mas.. Dia kan sudah berupa manusia, dan dia harus sampai ke sini… sebenarnya demit itu kasihan juga mas” kata pak Pangat


“Maksudnya kasihan itu apa pak?”


“Jadi  begini mbak Tina.. demit atau setan atau sebangsanya itu kan punya dunia sendiri… tapi mereka entah bagaimana mau saja ditipu oleh manusia dengan iming-iming makanan dan kekuasaan”


“Setelah mereka tertipu dan mau bekerja sama dengan manusia..  kemudian setan akhirnya menjadi budaknya manusia”


“Manusia disini adalah manusia yang sudah mempelajari ilmu setan … manusia yang jahatnya melebihi setan, dan biasanya dia juga menyembah raja setan”


“Setan pun sebenarnya juga tertipu dengan manusia, Setan ini mau memberikan ilmu bagaimana cara menguasai setan dan mengajak kerjasama setan”


“Tapi manusia itu tidak goblok,  manusia itu berusaha nggobloki setan, setelah manusia menguasai setan.. Dia kemudian membelenggu setan itu dengan kedok ayat-ayat agama, sehingga setan itu tidak bisa pergi dari manusia itu”


“Dan selamanya setan yang sudah terjebak itu akan menjadi budaknya manusia, dan harus mau.. Kalau setan itu menolak.. Maka akan dimusnahkan”


“Jadi disini manusia itu banyak diuntungkan sebenarnya… dia bisa menjadi setan… tetapi ketika dia dalam keadaan terdesak karena setan itu sudah mulai ngamuk… maka manusia itu mendadak berubah menjadi alim ulama”


“Dan meminta perlindungan dari Tuhan sesuai dengan agama yang dianut”


“Dan untungnya Tuhan itu maha pengampun.. Sehingga apa yang manusia lakukan yang berhubungan dengan setan itu akhirnya diampuni oleh Tuhan heheheh”


“Demit, setan, atau sebutan lainnya itu sama saja dengan kita, mereka juga punya keluarga, punya teman, punya kerabat.. Mereka juga sama dengan manusia yang mudah untuk dibodohi”


“Sekarang bayangkan…..Setan saja dibodohi oleh manusia.. Apalagi manusia-manusia yang berkuasa yang mengatur negara.. Mereka bisa membodohi seluruh manusia atau rakyat yang ada di negara itu”


“Jadi benar manusia itu lebih mulia daripada setan, karena manusia itu bisa menjadi setan dan sedetik kemudian bisa menjadi seseorang yang sangat religius”


“Sebenarnya banyak juga ghaib yang sudah memeluk agama dan menyembah Tuhan… dan biasanya ghaib  yang seperti itu memang sudah bertaubat”


“Karena dia percuma juga jadi setan yang tugasnya mengganggu manusia, kalau manusianya saja bisa lebih jahat dari pada setan hehehe”


“Jadi sekarang kita tunggu saja setan yang akan datang kesini… memang dia sekarang berjalan sangat lambat., karena dia sekarang memiliki tubuh yang sangat bau”


Wah penjelasan pak Pangat ini agak aneh… tapi masuk akal juga….


“Permisiiiiii….. Saya boleh masuk….” aku mendengar suara yang lirih dan lemah… suara dari depan rumah pak Pangat…


“Permisiiii… saya mau masuk rumah ini” suara yang lirih dan lemah itu terdengar lagi disertai dengan bau busuk yang menyengat


“Setan itu sudah ada di depan rumah.. Kalian diam saja, saya akan keluar untuk menuntun setan yang sudah berwujud manusia itu masuk ke dalam rumah ini”


“Dan jangan kaget dengan wujudnya ya anak-anak, karena bisa saja dia menjadi sangat mengerikan atau sebaliknya, dia bisa saja sangat rupawan atau sangat cantik”


Setelah pak Pangat menjelaskan apa yang akan kita temui sebentar lagi, kemudian dia keluar rumah untuk mengajak setan itu masuk.


Ketika  aku lirik wajah mas Agus.. wajah mas Agus nampak tegang, jelas kami tegang, karena baru kali ini kami akan bertemu dengan setan yang membawa paket kiriman.


Ada sekitar lima menit pak Pangat di luar rumah, aku nggak tau apa yang sedang dilakukan pak Pangat diluar sana…mungkin dia sedang berusaha untuk mengajak masuk setan itu.


“Ayoooo… masuk saja, jangan takut dan jangan sungkan-sungkan.. Kita ini sama sama makhluk ciptaan Tuhan, hanya saja kamu dan kami ini mempunyai perbedaan tujuan” kata pak Pangat di luar rumah


Tidak ada jawaban sama sekali dari setan yang katanya sudah berubah wujud itu, yang aku dengar hanya langkah yang tertatih tatih saja.


Apa mungkin peralihan dari makhluk ghaib menjadi nyata itu mempengaruhi cara gerak dan langkahnya, mungkin karena mereka terbiasa melayang dan tidak menapak bumi.


“Ayooo masuklah.. Kami bukan macam bos kamu yang suka mengancam kamu apabila kerjaanmu tidak benar hehehe… ayo masuklah…”


“Eh mbak Inggrid.. Tolong bicara dengan dia.. Yakinkan bahwa kami ini tidak ada maksud jahat sama sekali” kata pak Pangat lagi


Aku tidak dengar apa yang dikatakan Inggrid kepada makhluk yang ada di depan rumah ini, tetapi tidak lama kemudian langkah tertatih tatih itu semakin jelas dan semakin dekat.


Mungkin sekarang langkah tertatih tatih itu ada di teras rumah pak Pangat”


“Eh mas Agus.. tolong matikan lampu ruang tamu.. Nyalakan lampu ruang tengah saja, agar tidak terlalu gelap keadaaan disini”


“Karena tamu kita ini keliatnya gak suka apabila ada di suatu ruangan yang terang.

__ADS_1


“Saklarnya ada di balik pintu ini mas” kata pak Pangat


Mas Agus berdiri dan mencari saklar lampu sesuai yang dikatakan pak Pangat… setelah keadaan rumah tamu ini agak temaram karena lampu ruang tamu yang dimatikan… kemudian suara langkah kaki tertatih tatih itu semakin dekat.


“Nah.. ayo masuk.. Dan sebelum masuk biasakan untuk mengucapkan salam … ayo ucapkan salam… terserah mau pakai bahasa apa, yang penting kalau mau masuk ke rumah orang harus ucapkan salam dahulu”


“Shalom alaichem….” kata suara lirih dan lemah dari depan pintu rumah


“Wah.. ternyata kamu bisa bahasa Ibrani kaum Yahudi ya.. Tapi maaf untuk penduduk disini biasakan salam itu gunakan bahasa arab, karena disini sebagian besar menganut agama islam”


“Atau kalau kamu merasa kepanasan dengan salam menggunakan bahasa arab, kamu bisa pakai bahasa Indonesia atau bahasa yang kamu pahami saja”


“Assalamualaikum…” kata suara lirih dan lemah itu sekali lagi


“Waalaikum salam” jawabku, mas Agus dan pak Pangat bersamaan


Bau ini samakin menyengat..bersamaan dengan demit yang sedang digandeng oleh pak Pangat mulai melangkah masuk ke dalam rumah.


Tetapi keajaiban terjadi, ketika demit yang tingginya seperti anak yang berusia sepuluh tahun itu melewati daun pintu rumah pak Pangat… bau busuk itu berubah!


Yang ada sekarang adalah bau bunga setaman..bunga yang biasanya kita beli ketika akan melakukan kunjung makam atau nyekar.


Dalam keadaan temaram ini aku bisa lihat demit yang berubah menjadi manusia itu berjalan dengan dituntun oleh pak Pangat.. Dan untungnya wajah demit itu tidak buruk rupa… dia sangat ganteng.


Hanya saja dia cacat… tangan kirinya mengecil dan tidak berbentuk,..yang ada hanya tangan kanan saya. Dimana tangan kanan dia sedang memegang sebuah bungkusan dari kain putih yang sudah lusuh..


Kain putih itu kain kafan bekas orang yang mati!


“Ayo duduk disana, jangan duduk di lantai.. Biasakan duduk itu di kursi bukan di lantai.. Kamu ini tamu kami, bukan musuh kami.. Ayo duduk di kursi sini saja” kata pak Pangat ketika demit itu akan duduk di lantai rumah


Awalnya demit kecil itu ragu untuk duduk di kursi, tetapi setelah pak Pangat memaksanya, dia kemudian mau juga duduk di kursi sebelah pak Pangat.


“Sebelum kita saling kenal.. Kamu mau minum apa, kopi atau air putih.. Jangan minta air bunga atau darah lho ya, disini tidak ada menu darah atau bunga atau kemenyan” kata pak Pangat


“Boleh saya minta kopi manis?” tanya demit yang sudah berwujud manusia itu


Kebetulan di ruang tengah tadi sudah disediakan termos air panas, gula dan beberapa kopi sasetan oleh istri pak Pangat sebelum dia tidur, jadi aku gak perlu ke dapur untuk  membuat kopi sasetan yang tidak perlu air mendidih


Terus terang aku agak takut juga ketika aku hidangkan kopi itu di meja, karena demit itu tiba-tiba tersenyum dan menampakan giginya yang agak mengerikan karena ada taring kecilnya.


“Nah kamu disini tamu, jadi kami harus hidangkan minuman untuk tamu.. Kamu disini bukan demit, dan kamu tidka akan kami binasakan seperti bosmu yang selalu mengancancam kamu” kata pak Pangat


“Sekarang sebutkan  siapa namamu?”


“Saya tidak punya nama… tapi bos saya  selalu memanggil saya dengan sebutan KIRIK” katanya dengan suara lirih


“Wah kasar sekali bos kamu itu, masak kamu dikasih nama KIRIK ( Anjing) sih?”


“Gimana kalau kamu sekarang kami panggil dengan nama Cah Bagus.. Mau gak kamu?” tanya pak Pangat


Demit itu tersenyum ketika pak Pangat memberikan nama yang bagus untuk dia, sebuah nama yang demit itu tidak pernah dapatkan sebelumnya.


“Saya  suka nama cah Bagus… terima kasih” katanya dengan suara lirih dan lemah


“Ya sudah cah Bagus… sekarang tujuan cah Bagus kesini untuk apa?” tanya pak Pangat


Dengan pertanyaan pak Pangat yang langsung tepat sasaran, tiba-tiba wajah demit itu tidak tersenyum lagi, wajah dia sekarang  terlihat sedih, sambi melihat bungkusan kain putih yang  sudah lusuh itu.


Kemudian dia tertunduk, keliatanya dia bingung mau berkata apa kepada pak Pangat.


“Kok malah diam.. Ngomong saja cah Bagus.. Kami tidak akan marah sama kamu, karena kamu itu hanya suruhan orang yang jahatnya melebihi setan” kata pak Pangat


“Kamu jangan takut dengan kami… kami ini bukan bosmu yang  mungkin saja jahat dan sangat merendahkan mahluk macam kamu ini”


Demit yang sudah berwujud manusia cacat itu hanya menunduk dan tidak berkata apapun, mungkin dia merasakan perbedaan dengan ketika dia bersama bosnya dan ketika dia bersama kami.


Hingga beberapa detik kemudian demit yang sekarang bernama cah Bagus itu tidak mengucapkan sepatah katapun.

__ADS_1


__ADS_2