RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
155. ADA YANG BERTAMU DISINI MAS


__ADS_3

“Eh gini pak Agus.. Saya tidak bisa meninggalkan kalian di sebuah tempat yang asing bagi saya” kata suara Burhan melalui HT


“Gini lho Pak Burhan.. Bukanya saya tidak mau di carikan tempat yang aman, tetapi untuk sementara ini pak Burhan kan masih sibuk dengan penggerebekan tempat penjualan solar curian, jadi untuk sementara kami disini dulu sebelum sampean ajak ke kota S”


“Jadi setelah urusan pak Burhan rampung, kami akan ikut pak Burhan hingga Paijo dan Hari tertangkap, saya tidak mau menjadi korban mereka yang berikutnya pak” kata mas Agus yang sedang bicara dengan Burhan


Sementara mas Agus sedang bicara dengan Burhan, aku menuju ke arah dapur rumah kosong… dimana dapur rumah kosong ini nyambung dengan dapur rumah utama.


Tujuanku adalah mencari bahan makanan yang bisa aku masak.. Karena dari semalam kami belum makan.


Rumah bagian belakang ini agak gelap meskipun bagian dapur ini menggunakan genting kaca, yang mana seharusnya dengan menggunakan genting kaca, cahaya matahari masih bisa masuk ke dalam rumah.


Setiap sudut rumah kosong ini selalu ada saja makhluk ghaib yang tinggal, tetapi setiap makhluk itu melihat aku, makhluk itu pasti pergi  dari sudut itu…


Yah biarlah.. Sebenarnya aku ke sini kan tidak mengganggu mereka, aku hanya ingin lewat untuk cari makanan yang ada di dapur.


“Tina… coba kamu buka pintu yang menghubungkan dapur rumah kosong ini dengan dapur yang ada di sebelah” suruh Inggrid yang dari tadi ikut bersama aku.


“Memangnya ada apa Nggrid?”


“Kan inggrid gak bisa masuk ke sana, jadi kamu yang ke masuk ke sana Tina heheheh”


“Ah iya ya.. Ada jebakan buat demit kayak kamu ya Nggrid?”


“Iiiih kok demit sih?.... Inggrid ini bukan demit, Inggrid ini mahluk tak kasat mata yaaaa”


“Heheheh iya..iyaaaaa”


Aku penasaran dengan yang ada di balik pintu itu, apakah pintu itu terkunci atau tidak.


Kemarin sore aku kan masak bersama istri pak Pangat disini, jadi seharusnya saat ini keadaan dapur sudah bersih, karena aku paling tidak suka dengan dapur yang kotor.


Gagang pintu yang tembus dengan rumah utama kucoba tekan kebawah, siapa tau pintu ini akan terbuka.


Pelan-pelan aku tekan gagang pintu yang agak kotor dengan debu…


Ternyata pintu ini bisa aku buka….


Lebih baik aku panggil mas Agus dulu saja, dari pada nanti ada apa-apa di dalam rumah pak Pangat.


“Eh Nggrid… aku mau ajak mas Agus untuk periksa bagian dalam rumah, siapa tau ada makanan atau apa gitu, kamu jaga di depan dulu saja Nggrid, nanti kalau ada yang datang, tolong kasih tau kami berdua”


Inggrid pergi ke depan rumah kosong, sementar itu aku memanggil mas Agus untuk memerika keadaan rumah utama.


“Mas… ruangan dalam ini gelap sekali.. Gimana mas? Apa kita cari cetekan lampunya?”


“Lebih baik begitu mbak, karena kita tidak tau apa yang ada di dalam rumah ini, tapi apa mbak Tina yakin keadaan rumah ini sedang kosong?”


“Yakin mas… kalau seumpama ada orang didalam rumah ini, pasti pak Pangat tidak akan mengaktifkan jebakan untuk mahluk ghaib”


“Tina kesini cuma mau makan aja mas… kemarin sore waktu kita disini, Tina lihat ada mie instan di rak dapur”


“Ya sudah mbak… kita cari saklar lampu belakang”


“Kalau tidak salah di sebelah pintu ini ada cetekan lampu mas”


“Sik Sebentar.. Biar aku carinya dulu saklar lampunya mbak”


Mas Agus pelan-pelan berjalan masuk, dia sengaja tidak melangkah lebar, tetapi langkah dia perlahan-lahan karena takutnya di lantai dapur masih ada peralatan dapur yang masih bergeletakan.


Akhirnya lampu dapur pun nyala, sehingga keadaan dapur bisa terlihat dengan jelas.


“Ya Tuhan mas… coba lihat dapur ini, dapur ini masih berantakan seperti ketika semalem ketika kita tinggal ke rumah penggergajian”


“Iya mbak.. Lha itu ada panci yang masih penuh dengan lodeh yang kemarin mbak Tina masak, sayang sekali lodeh itu mbak.. Kita makan lodeh itu aja mbak, biar saya panasin dulu saja mbak”


“Iya mas… sik Tina lihat isi magic jar nya dulu, kemarin malam istri pak Pangat masak nasi banyak soalnya”


Magic Jar itu masih nyala, kabelnya masih tertancap di stopkontak listrik.


Dapur rumah ini memang masih berantakan, di lantai dapur keadaanya masih seperti kemarin sore…


Kayaknya pak Pangat dan istrinya meninggalkan rumah dengan tergesa gesa, hingga istri pak Pangat tidak sempat membersihkan dapur.


Eh ..tapi  kemarin disini kan ada dokter Joko…!


Apa mereka bertiga pergi tergesa gesa dari sini?


“Mbak Tina.. lodehnya udah panas ini, untung lodehnya gak bau mbak… oh iya,  magic jar itu ada nasinya nggak mbak?”


“Ada mas, bahkan nasinya masih belum kalong (berkurang) sama sekali, yang berarti tidak ada yang makan dari kemarin sore mas”

__ADS_1


“Iya mbak… saya berpikir mungkin penghuni rumah ini pergi dengan tergesa-gesa sehingga mereka belum sempat makan sama sekali mbak”


“Asyudahlah mas.. Kita makan dulu saja, nanti saja kita pikir lagi.. Kepala Tina sudah pusing”


*****


Mas Agus sedang duduk di antara pintu dapur, sedangkan aku sedang mencuci piring yang barusan kami gunakan untuk makan.


Meskipun aku dan mas Agus makan secara diam-diam… tapi kami harus membereskan piring kotor yang baru saja kami gunakan.


“Apa yang terjadi dengan pak Pangat dan Istrinya ya mas?”


“Nah itu yang sedang saya pikir mbak…. Kemarin sore kita kan berangkat bertiga sama pak Hari… waktu itu kan sebenarnya dokter Joko kan ingin ikut, tetapi dilarang oleh pak Pangat kan”


“Kita juga kan gak boleh ikut Hari ke sana mbak, dia kan sempat bilang kita tinggal disini saja”


“Iya mas…  Tina ingat.. Hari memang menyuruh kita untuk tinggal disini mas, dan kemungkinan besar kalau kita ada disini maka kita hari ini pasti tidak ada disini  mas, Kita pasti sudah  ditahan oleh mereka hehehe”


“Saya sedang berpikir, ada beberapa kemungkinan rumah ini kosong mbak… mungkin mereka menyelamatkan diri karena tiba-tiba ada yang menyerang kesini”


“Tidak mungkin mas.. Kalau  seandainya ada yang menyerang, maka lampu rumah ini tidak  akan dimatikan, dan tidak ada jebakan untuk mahluk halus juga mas”


“Iya  sih mbak, gak mungkin kalau ada penyerangan secara tiba-tiba”


“Gini mas…kalau menurut Tina…mereka ini pergi karena suatu hal yang mendadak. Bukan karena ada serangan atau semacamnya mas”


“Jadi mereka bertiga meninggalkan rumah karena sesuatu hal yang mengharuskan mereka untuk segera pergi dari sini”


“Dan sesuatu hal yang mengharus kan mereka pergi, bisa karena adanya sesuatu yang telah beres, atau selesai dilakukan, sehingga mereka harus mengikuti sesuatu itu di tempat lain”


“Apa mungkin ada hubunganya  dengan barang bukti yang berhasil dibawa oleh Paijo dan Hari?”


“Itu yang tadi kepingin Tina omongkan mas… jadi menurut pikiran Tina, mereka pergi setelah pengiriman itu selesai dan saatnya berkumpul di suatu tempat”


“Iya mbak… bisa saja itu yang sedang terjadi mbak… Ayo kita kembali ke depan saja mbak…kita matikan lampu dapur ini”


“Sik mas… Tina kepingin ke ruang tamu, kepingin lihat keadaan ruang tamu dulu mas”


“Jangan mbak… mau ngapain ke ruang tamu?!“


“Sudahlah mas Agus tunggu disini saja, nanti kalau Inggrid kasih kode ada yang datang, tolong mas Agus teriak ke Tina”


Aku kepingin periksa keadaan ruang tamu, siapa tau ada sesuatu yang ketinggalan di ruang tamu itu.


Untungnya saat ini siang hari, jadi dari jendela depan ada cahaya yang masuk dari luar meskipun tidak terlalu terang.


Hmmm keadaan ruang tamu ini persis ketika kami tinggalkan kemarin sore, tapi di meja itu ada tiga cangkir kopi.. Padahal kemarin sore aku dan istri pak Pangat belum sempat menyediakan minuman.


Berarti tiga cangkir kopi ini disediakan ketika kami pergi ke rumah penggergajian bersama Hari.


Hanya saja kenapa ada tiga cangkir kopi… kenapa tidak dua cangkir saja, bukanya hanya ada pak Pangat dan dokter Joko saja.


Masak istri pak Pangat juga ada disini bersama pak Pangat dan dokter Joko… bukannya istri pak Pangat itu tidak suka ikut campur urusan pak Pangat.


Berarti ketika kami pergi, ada tamu yang datang lagi ke sini, dan tamu itu sempat ngobrol lama, karena kopi yang ada di sini keadaanya ada yang sudah habis dan ada yang masih separuh.


Hmmm siapa tamu yang datang kesini itu ya..?


Dan apakah tamu itu yang mengajak pak Pangat, istri pak Pangat dan dokter Joko untuk pergi dari rumah ini secepatnya?”


Mataku berusaha menyapu keadaan ruang tamu rumah pak pangat ini,  tidak ada sesuatu yang mencurigakan, bahkan ransel kecil itu juga tidak ada.


Jadi kemungkinan tas ransel itu  milik dokter Joko.


*****


“Jadi ada tiga cangkir kopi disana mbak?”


“Iya mas…yang artinya ada tamu yang kesini ketika kita bertiga ke rumah penggergajian”


“Dan menurut mbak Tina, orang itu mengajak pak Pangat, istri pak Pangat, dan dokter Joko pergi dari sini dengan tergesa gesa gitu ya mbak?”


“Iya mas..itu yang ada di pikiran Tina mas…”


“Kan aneh mas… masak istri pak Pangat tidak sempat memberesi cangkir yang ada di ruang tamu, tetapi kalau tiba-tiba ada sesuatu yang mengakibatkan mendadak mereka harus segera pergi dari sini ya beda lagi mas”


“Iya… benar juga mbak”


“Mas.. gimana apa tidak ada kabar dari Burhan tentang apa yang sudah mereka lakukan?”


“Nggak ada mbak… nanti sore saja saya  hubungi Burhan, dan menanyakan apa yang  harus kita lakukan”

__ADS_1


Kami memang harus segera pergi dari sini secepatnya… paling tidak hingga Paijo dan Hari ketangkap.


Karena posisi kami sebagai saksi mata itu sangat berbahaya bagi Paijo dan Hari.. apalagi aku sempat merekam semua yang mereka lakukan di rumah penggergajian.


Sore hari ketika kami sedang dalam posisi melamun memikirkan apa yang sedang terjadi, Inggrid masuk ke dalam rumah kosong…


Kayaknya ada yang akan dia omongkan kepada kami  berdua..


“Eh.. dari tadi ada orang yang sedang memperhatikan rumah ini” kata Inggrid


“Mungkin polisi suruhan Burhan Nggrid?”


“Heheh bukan Tina… orang itu tidak selalu diam dan memperhatikan rumah ini, tetapi sesekali pergi ke arah jembatan besi, tetapi tidak lama kemudian dia datang lagi kesini… begitu berulang sampai tiga kali selama Inggrid tadi ada di luar sana”


“Sepertinya dia bawa alat komunikasi yang mirip dengan yang dibawa mas Agus itu”


“Oh ini namanya HT Nggrid” jawab mas Agus


“Kalau bawa HT berarti itu polisi Nggrid” kata mas Agus


“Apa dia tau kalau kita ada di dalam rumah ini Nggrid?”


“Sepertinya dia nggak tau Tina… mungkin orang itu sedang menunggu pak Pangat datang”


“Eh coba gini saja Nggrid.. Kamu kan bisa dekati orang itu tanpa orang itu tau kalau kamu ada disebelahnya kan heheheh” kata mas Agus


“Ya iyalah mas… Inggrid kan mahluk tak kasat mata” jawab Inggrid agak sewot


“Hehehe, gini Nggrid, seumpama orang itu tugasnya memperhatikan rumah ini saja, pasti dia tidak akan pergi ke mana mana kan?”


“Tetapi apabila orang itu punya tugas lain selain rumah ini pasti dia akan pergi dari sini dan kadang datang lagi”


“Nah apa betul tadi kamu lihat orang itu bawa HT  Nggrid?”


“Iya mas Inggrid lihat…HT yang kayak dipegang mas Agus itu bentuknya”


“Sekarang gini aja Nggrid… nanti kamu kesana dan lihat nomor yang tertera di layar HT itu… itu adalah frekuensi yang sedang digunakan orang itu untuk berkomunikasi dengan temannya”


“Nah angka itu nanti beritahu ke saya Nggrid.. Eh siapa tau kita bisa mendengarkan pembicaraan mereka dengan mengetahui frekuensi yang mereka sedang pakai”


“Memangnya bisa mas?”


“Hehehe namanya juga percobaan mbak Tina.. soalnya yang saya tau HT itu bisa digunakan oleh beberapa pemegang HT asal frekuensinya sama”


“Ok mas … Inggrid liat dulu saja angka frekuensi  yang ada di HT  itu”


Inggrid pergi dari hadapan kami berdua dengan tergesa gesa…


Tapi memang aneh.. Siapa orang yang sedang mengawasi rumah ini, dan apa tujuan orang itu mengawasi rumah ini.


Kalau misalnya orang itu sedang mengawasi pak Pangat, lalu apa hubunganya pak Pangat dengan orang ini. Apakah yang sedang mengawasi rumah ini adalah orangnya Solikin?


Aku sebenarnya sudah capek berurusan dengan hal ini, tidak ada habis habisnya, yang malah aku sekarang semakin tidak terawat, kulitku kotor dan bersisik…apalagi wajahku!


Tapi berurusan dengan mafia atau sindikat narkoba itu memang tidak ada habisnya, karena apabila bos mereka tidak diciduk maka tetap saja mereka bisa jalan.


Apalagi dibantu oleh oknum aparat.. Bahkan bisa juga narkoba yang beredar itu bukan dari luar negeri, bisa saja barang haram itu berasal dari sini!


Atau bisa saja narkoba itu adalah juga hasil tangkapan polisi yang mana barang buktinya tersimpan rapi di tempat penyimpanan barang bukti, tapi kemudian entah bagaimana caranya, oknum aparat itu bisa menjualnya.


*****


“Mas Agus” kata Inggrid yang tiba-tiba njemunuk, mbedunduk, mak jegagik, mak kluwer ada di hadapan kami


“Duh Nggrid..kamu ini bikin kaget Tina ae Nggrid… kalau mau njemunuk jaya itu mbok ya kasih kode gitu lho Nggrid hehehe”


“Halah.. Kamu  kan udah sering liat Inggrid datang seperti ini Tina.. ini lho Inggrid dapat angka yang ada di HT orang yang tadi di luar sana itu”


“Orang itu masih ada di luar sana memangnya Nggrid?”


“Masih lah Tina…dia kayaknya sedang menunggu pak Pangat”


Inggrid kemudian memberikan angka yang tadi tertera di HT milik orang yang ada diluar sana, orang yang sedang memperhatikan rumah ini.


“Ok.. ini frekuensi yang tadi dilihat oleh Inggrid.. Sekarang kita siap-siap saja mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh orang yang ada di luar sana” kata mas Agus


Mas Agus mengecilkan volume HT itu dulu..


Tapi hingga beberapa belas detik tidak ada pembicaraan di frekwensi HT itu…


“Nggrid…apa gak salah angka yang tadi kamu lihat itu?” tanya mas Agus

__ADS_1


“Nggak lah mas… Inggrid ini kalau soal mengingat angka juara mas heheheh”


“Coba tunggu saja mas” kata Inggrid


__ADS_2