
“Ketika bertemu Joko, akhirnya kami cerita tentang apa saja yang terjadi pada kami selepas SMA itu, hingga Joko mulai cerita tentang Paijo”
Sampai disini pak Pangat diam.,... dia kelihatannya tidak suka untuk menceritakan tentang sahabatnya itu. aku lihat wajah pak Pangat yang tegang…
“Joko waktu itu cerita kepada saya bahwa dia pernah dengar tentang sepak terjang seorang oknum polisi yang melakukan kegiatan tidak terpuji.. dan pada waktu itu Joko tidak menduga kalau yang terlibat itu Paijo”
“Joko tau tentang Paijo bermula ketika ada seseorang yang terluka parah karena perkelahian, kata Joko orang itu diantar oleh tukang becak dan beberapa orang yang peduli ke UGD”
“Dia ditemukan terkapar di dekat kuburan kembar sana itu”
“Ketika masih setengah sadar, orang yang terluka parah itu sempat berkata bahwa dia sedang diburu oleh oknum polisi dan beberapa orang karena memergoki oknum itu sedang pesta narkoba di sebuah warung tempat penjualan solar oplosan”
“Orang yang terluka parah itu akhirnya Mati setelah kehilangan darah banyak, karena sabetan celurit dan ada pula sebutir peluru yang menancap di perutnya”
“Sebutir peluru yang mengenai perut orang itu harusnya diselidiki, karena seorang polisi harus bertanggung jawab atas peluru yang keluar dari moncong senjatanya”
“Tetapi oleh Joko peluru itu disimpan dulu, karena Joko tidak mau berurusan dengan pihak kepolisian tentang kematian orang itu”
“Lagi pula tidak ada saksi mata atas kejadian yang menimpa orang itu, orang itu hanya ditemukan di samping kuburan saja”
“Dari kematian orang itu, kemudian Joko iseng menyelidiki apa dan bagaimana serta apa yang terjadi sebenarnya”
“Joko penasaran dan ingin menyelidiki kasus ini, karena ada seorang oknum yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu”
“Jokopun iseng menghubungi Paijo untuk menanyakan apakah dia tau tentang kasus pengeroyokan yang menyebabkan matinya seseorang”
“Tapi waktu bertanya kepada Paijo… Joko sama sekali tidak membahas masalah adanya peluru yang bersarang di perut korban, Joko hanya menanyakan apakah Paijo tau tentang kasus orang mati karena pengeroyokan saja”
“Karena yang tanya ke Paijo adalah sahabat karibnya, bukan komandannya Paijo…..maka jawaban Paijo agak ngelantur dan terkesan menutup nutupi kasus ini”
“Makin lama Joko curiga….”
“Diam-diam Joko ternyata punya sahabat karib seorang reserse dari kepolisian yang ada di kota S, dia pun menanyakan tentang apakah ada kasus besar di kota ini”
“Jawaban dari teman Joko yang ada di kota S,... ada!…"
"Sebuah kasus narkoba yang masih dalam penyidikan setelah melalui penyelidikan yang lumayan lama”
“Kasus narkoba itu masih dalam pendalaman dan penyidikan untuk mencari barang bukti”
“Mereka sangat berhati hati dalam pencarian barang bukti karena ada oknum polisi yang terlibat, dan sayangnya belum ada bukti-bukti yang bisa memberatkan oknum yang ada di kota ini”
“Joko kemudian tanya. siapa oknum disini yang terlibat dalam kasus ini…. jawaban dari teman joko adalah kemungkinan Paijo yang terlibat”
“Dari sinilah Joko mulai tau bahwa Paijo terlibat dalam permasalahan narkoba”
“Untuk kalian ketahui mas mbak… Joko itu sama dengan saya. dia mendalami pengobatan alternatif juga, hanya saja dia hanya sebatas pengobatan untuk sakit yang akibat dari sesuatu yang tak kasat mata”
“Sedangkan saya lebih ke ilmu untuk melawan, mengusir dan eeh …pokoknya yang berhubungan dengan hal-hal ghaib lah, dan satu lagi, saya belajar untuk membaca pikiran orang”
“Pernah suatu ketika Joko iseng mengajak reunian bertiga, sebenarnya itu bukan reunian, tetapi agar saya bisa membaca pikiran Paijo saja”
“Kami bertiga ketemuan, kami bersenda gurau mengingat ingat masa lalu, kami makan apa yang jadi kegemaran kami pada jaman dulu”
“Pada saat itu saya berusaha masuk ke alam pikiran Paijo…”
“Selama reuni itu Paijo terlihat aneh, dia seperti orang yang sedang bingung, resah, beberapa kali masuk ke toilet dan terus menerus meludah dan pandanganya kayak tidak fokus”
“Yang ada di pikiran Paijo selama yang bisa saya baca cuma dia dalam keadaan sakau..dan butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya”
“Keringat mengucur dari kepala Paijo… sampai disini Joko hanya melihatnya saja, dia tidak menanyakan sakit apa atau kenapa atau ada apa…. Joko hanya melihat keadaan Paijo yang semakin meresahkan”
“Akhirnya Paijo pamit pulang… Setelah Paijo pulang, Joko baru buka suara bahwa keadaan Paijo tadi sedang sakau”
“Kami berdua akhirnya tutup mulut untuk kasus ini, karena yang terlibat adalah sahabat kami berdua. Tetapi penyelidikan Joko tidak hanya berhenti disini saja, dia tetap berhubungan dengan sahabatnya yang reserse itu”
“Setelah melakukan pendalaman… kecurigaan sahabat Joko mengarah ke rumah penggergajian”
“Beberapa kali ada petugas yang datang dan memeriksa rumah penggergajian itu, tetapi tidak didapat bukti apapun, yang ada hanya penjualan solar saja… sebuah kasus yang biasa kata teman Joko yang ada di kota S”
“Hingga lama kemudian Joko akhirnya dapat info dari sahabatnya bahwa mereka ini masuk dalam bandar besar!”
“Joko dan saya sudah tidak mau lagi berhubungan dengan Paijo , kami berdua jelas takut hingga kemudian datanglah mas Agus ini”
__ADS_1
“Mas Agus ini datang dengan kasus aneh… dan kebetulan kasus luka itu berasal dari rumah penggergajian, Joko kemudian bersemangat lagi untuk menyelamatkan Paijo dari urusan bandar ini”
“Ketika mas Agus terkena tabrak lari.. Joko curiga pasti ini ada hubunganya dengan rumah penggergajian itu”
“Kemudian Joko kontak saya, kami berdua berniat menyelamatkan Paijo dengan cara menangkap Paijo untuk mendapatkan pengobatan atau rehab”
“Intinya Paijo harus keluar dari persengkongkolan ini, meskipun dia harus masuk penjara, karena menurut sahabat saya Joko….keadaan Paijo sudah lumayan parah”
“Paijo disini merangkap sebagai pengguna dan pengedar, dan tentu saja itu sangat berbahaya”
“Ketika mas Agus cerita kepada Joko tentang kasus yang dihadapi… Joko punya sebuah ide untuk menangkap dan mengobati Paijo”
“Ide Joko adalah menyuruh Paijo datang ke rumah sakit dan bertemu dengan mas Agus dan mbak Tina untuk minta keterangan atas kasus tabrak lari itu”
“Akhirnya saya dan Joko menyusun rencana untuk melibatkan Paijo, dalam masalah Mas Agus”
“Joko yang pura-pura tidak tau apapun tentang Paijo, memanggil Paijo ke rumah sakit untuk mendengarkan cerita dari mas Agus dan mbak Tina”
“Kemudian yang terjadi selanjutnya pasti kalian tau sendiri dan merasakan sendirikan, dia bersandiwara seakan akan dia akan menyelamatkan kalian”
“Untungnya kalian minta ke rumah penggergajian, tidak ikut bersama Paijo, bisa bisa kalian sudah tidak kembali lagi seandainya kalian ikut Paijo”
“Jadi sekarang begini saja anak-anak…untuk sementara waktu kalian ada disini saja, di sebelah rumah saya ini kosong, dan biasanya saya pakai untuk pengobatan, kalian bisa tinggal disana saja untuk sementara ini”
“Joko nanti akan hubungi secara diam-diam teman dia yang ada di kota S, nanti mungkin kalian akan dimintai keterangan sedikit tentang apa yang terjadi disini”
“Eh pak Pangat… saya ada sedikit pertanyaan… .bagaimana dengan Solikin?” tanya mas Agus
“Begini mas…untuk solikin dan yang lainya itu saya kurang tau, karena yang namanya sindikat pasti akan berusaha melindungi anggotanya, bahkan bisa saja dibunuh anggotanya itu”
“Jadi saya lebih fokus ke kalian yang jadi target selanjutnya, dan saya berusaha menyembuhkan Paijo sebagai sahabat kami”
“Kalian sekarang masuk saja ke rumah saya yang ada di sebelah dari rumah ini… semua bawa, jangan sampai meninggalkan jejak disini”
Aku dan mas Agus menuruti apa yang dikatakan pak Pangat….
Sampai disini aku mulai paham apa sebenarnya yang terjadi dan kenapa dengan pak Paijo kelakuannya agak aneh dan kerjanya kadang lambat itu.
Dan kenapa sampai tidak ada polisi yang menjaga kami, serta kenapa sampai bahan bakar motor polisi itu hanya sedikit sekali.
“Mbak Tina… apa mbak Tina percaya dengan yang dikatakan Pak Pangat itu?”
“Tina percaya mas.. karena bukti-bukti nyata yang ada memang mengarahnya ke Paijo mas”
“Tina selama ini semenjak mulai dirumah sakit sudah curiga dengan pak Paijo, pokoknya banyak yang mencurigakan dan janggal dari Paijo mas”
“Ya sudahlah …..kita tetap ada disini hingga semuanya membaik”
Tiba-tiba pak Pangat muncul dari ruangan belakang…
“Kalian kalau lapar bisa masak di dapur ya, rumah sebelah dan rumah ini tembus ke bagian dapur di bagian belakang”
“Iya pak.. ini kan memang sudah lewat tengah malam pak… besok pagi saja kami makan””
“Ya sudah anak-anak.. oh iya.. apabila ada Paijo kesini dan berusaha berbicara dengan saya tentang kalian yang dan memancing kalian untuk keluar apapun yang terjadi… kalian jangan keluar, tetep di rumah ini saja!”
“Baik pak Pangat” jawab mas Agus
Bangunan rumah ini tidak sebesar rumah pak Pangat yang ada di sebelah, disini hanya ada satu kamar dan satu kamar mandi saja.
Sedangkan ruang tamu tempat kami berada ini hanya dilapisi karpet yang masih lumayan bagus.
Jadi aku dan mas Agus putuskan untuk tidur di ruangan ini…
Aku mulai ngantuk….
“Heh kalian berdua melupakan Inggrid yaaaaa…” tiba-tiba Inggrid bicara dengan lantang
“Sekarang Inggrid sudah bisa menampakan diri ke kalian berdua”
“Aduuuh Inggrid… biarkan kami istirahat dulu saja ya.. besok saja kita ngobrolnya Nggrid”
*****
__ADS_1
Terus terang aku nggak bisa tidur sama sekali, aku masih memikirkan cerita tentang Joko, Paijo, dan Pangat. Cerita tentang persahabatan yang mengerikan.
Tapi yang aku nggak habis pikir… kemana sekarang si Wandi dan Mamad, Ok lah terlepas dari oknum polisi yang melakukan tindakan tidak terpuji.
Dimana Wandi dan Mamad, dimana pula si Solikin… lalu apabila Paijo tertangkap, apakah Wandi, Mamad, Solikin, Yetno, Burhan, Wito juga bisa ditangkap?
Kalau mereka semua tidak bisa ditangkap… tentu saja sangat bahaya bagi aku dan mas Agus…kami semakin tidak aman, karena akibat dari kami, bandar narkontil eh narkoba itu akan terbongkar.
Dan sampai kapan kami ada di rumah pak Pangat ini, karena apabila Paijo dan kawan-kawannya belum juga tertangkap tentunya kami tidak akan bisa keluar dari rumah ini.
Tapi kalau memang benar nantinya ada reserse teman dari dokter Joko kesini, dan meminta keterangan aku dan mas Agus..aku bisa minta tempat perlindungan lain yang jauh dari desa dan kota ini.
Minimal jauh dari mereka-mereka yang melakukan kejahatan disini.
*****
Pagi hari…
Sinar matahari masuk melalui sela sela kaca rumah yang berkelambu…
badanku rasanya capek sekali, dan untungnya malam ini tidurku sangat nyenyak setelah beberapa hari aku sangat kurang tidur.
“Mas… bangun mas… udah pagi…”
“Iya mbak…uuuaaahhmmm… rasanya puas sekali malam tidur saya mbak”
“Sama mas.. Tina juga rasanya enak sekali meskipun hanya beralaskan karpet saja”
“Udah jam berapa ini mas?”
“Jam 09.20 mbak… lumayan lama juga tidur saya mbak”
“Eh ngomong-ngomong Inggrid ke mana mas, kok tidak ada di ruangan ini?”
“Waduh… saya nggak tau mbak… saya kan tadi juga tidur nyenyak mbak hehehe, mungkin dia sedang jalan-jalan menikmati suasana barunya mbak”
“Wah ngawur ae…. kondisi gini kok sempatnya jalan-jalan.. ketangkep Solikin baru tau rasa dia….”
“Dah ah mas… Tina mau mandi dulu”
Rumah ini memanjang ke belakang, jadi paling depan adalah ruang tamu, dibelakang ruang tamu adalah kamar.
Dari ruang tamu ke dapur harus melewati lorong selebar satu meter lebih yang memanjang ke arah dapur dan kamar mandi.
Agak aneh juga penataan ruangan di rumah ini. Aku ndak pernah melihat sebuah rumah dengan arsitektur lorong yang menuju ke arah dapur dan kamar mandi heheheh
*****
“Nanti siang apabila keadaan aman, dalam artian Paijo tidak kesini… teman Joko yang berasal dari kota S akan datang kesini. dia ingin meminta sedikit keterangan kepada kalian berdua”
“Berarti nanti kasus ini ditangani oleh kepolisian kota S pak?”
“Bisa jadi begitu mas Agus, karena hingga saat ini yang terindikasi masuk dalam kelompok perdagangan narkoba ini baru si Paijo”
“Bisa saja nanti Paijo buka mulut siapa saja yang ikut bersama dia….”
“Makanya untuk saat ini akan dilakukan pencarian barang bukti dan meminta keterangan dari kalian berdua”
“Oh iya.. tadi teman hantu kalian pamit saya, katanya mau jalan-jalan di sekitar sini, tetapi hingga jam segini dia belum juga datang, saya tidak tau kemana teman hantu kalian itu” kata pak Pangat
“Sudah biarkan saja pak Pangat, mungkin Inggrid butuh suasana baru setelah bertahun tahun dia tinggal di rumah penggergajian sana.
Aku nggak paham, yang berhak menangkap polisi itu apakah polisi juga atau polisinya polisi hehehe.
jadi untuk kasus si Paijo, apabila dia tertangkap, lalu siapakah yang punya wewenang menangkapnya, dan apabila anak buahnya ternyata ada indikasi ikut dengan dia.. apakah semua harus ditangkap juga hihihih.
Tapi lebih baik begitu, agar kinerja polisi tidak minus di mata masyarakat… ternyata yang mengayomi dan melindungi masyarakat kok malah kayak penjahat hehehe.
Tapi tugasku dan mas Agus belum selesai sampai disini… meskipun semua orang-orang yang terlibat perdagangan narkoba ini diringkus, kami masih punya tugas untuk membantu Inggrid.
Kita lihat saja dululah.. karena menurutku kasus Paijo dan lainya ini tidak akan mudah untuk diselesaikan… pasti ada saja yang melindungi satu sama lain.
Bahkan apabila perlu anggota yang tertangkap akan dibunuh oleh anggota lain agar tidak buka mulut tentang apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
Tapi itu kan hanya pikiranku saja, aku tidak tau bagaimana dan apa yang akan dilakukan polisi untuk menangkap oknum polisi.