
“Apa gak ada yang kepingin lihat di dalam?” tanya mas Agus
“Jangan Gus… jangan ganggu mereka, biarkan mereka melakukan apa yang mereka lakukan… kalian cukup tau saja apa yang dari tadi keluar dari ruangan utama”
“Iya pak Cheng… hehehe dari tadi mbak kunti dan mas Cong bolak balik keluar sambil tertawa tawa…. Seolah mereka menertawakan apa yang ada di dalam sana”
“Iya mbak Tina.. Makanya itu, biarkan saja mereka melakukan apa yang sesuai dengan pekerjaan mereka, kita disini sambil menunggu yang ada di seberang sungai itu muncul”
“Mereka masih terdengar gedebag gedebuk pak…..” kata mas Agus
“Iya Gus.. mungkin ilmu dari apa yang mereka dapati itu memerlukan suara gedebukan, sehingga orang-orang yang menyewa mereka akan tau apa yang sedang mereka lakukan heheheh” jawab pak Cheng
“Tunggu hingga mereka selesai, nanti kita ajak mereka duduk di halaman belakang untuk menyaksikan sesuatu yang selanjutnya akan datang”
Sudah ada sekitar dua jam mereka ada di dalam, dan selama dua jam itu mbak kunti dan mas Cong selalu keluar masuk ke ruangan utama….
Mereka para mahluk halus itu kayaknya bahagia karena orang-orang yang ada di dalam itu seperti seorang entertainment yang sedang melakukan pertunjukan.
Aku nggak mudeng dengan apa yang mereka lakukan di dalam sana. Dan aku cukup heran dengan pak Jay yang bisa percaya dengan mereka tanpa melihat bukti dari pekerjaan mereka.
Apa yang harus kami lakukan sudah selesai.. Bagian halaman belakang dengan sepuluh kamar ini terlihat terang benderang.. Seperti ada hajatan saja.
“Pak Cheng… Tina ini heran, lampu petromak ini kan sangat panas.. Lalu apakah di dalam kamar itu tidak panas pak?”
“Hehehe.. Coba mbak Tina masuk ke dalam kamar, dan rasakan panas yang keluar dari lampu itu…. Pasti mbak Tina sangat gerah… hanya saja karena ventilasi pondok-pondok itu dibuat sedemikian rupa, sehingga panas yang dihasilkan dari lampu itu akan luar secepatnya”
Benar juga dengan yang dikatakan pak Cheng, tiap pondok itu mempunyai ventilasi udara yang khas… antara atap dengan keempat dinding itu berlubang, sehingga panas yang keluar dari lampu akan menghilang melewati ventilasi udara.
Ketika kami sedang asik bicara tentang bangunan pondok, tiba-tiba, pintu ruang utama terbuka dengan disertai teriakan puji syukur yang menandakan sesuatu itu selesai dilakukan.
Kami menoleh ke belakang… ternyata keempat orang itu sedang keluar dari ruangan utama…
“Bagaimana bapak-bapak…. Apakah sekarang hotel ini sudah aman dari yang namanya mahluk halus?” tanya pak Cheng
“Sudah… sudah kami tangkap dan kami masukan ke dalam beberapa botol ini…” tunjuk salah satu orang ke arah tiga botol kaca yang berjajar rapi di lantai
“Bearti demit-demit itu sudah terkurung disana pak?” tanya mas Agus
“Iya… sudah terkurung semua termasuk raja dan ratunya… dan besok pagi akan kami larung ke laut..” kata Ki Gondrong Nyowo
Kulirik apa yang mereka katakan dengan sudah menangkap ratu dan rajanya, tetapi yang bisa aku lihat hanya botol kosong dengan sebiji tuyul yang terperangkap di dalamnya. Heheheh
Tidak ada yang namanya mahluk ghaib yang mengerikan di dalam botol itu….. Mungkin saja tuyul itu sial dan masuk ke dalam botol itu.
Dan yang bikin aku jengkel…. Mereka sudah melepas seragamnya dan bersiap siap untuk pulang, padahal santapan utamanya belum juga hadir.
“Lho ….. Bapak bapak ini mau ke mana?” tanya pak Cheng
“Tugas kami sudah selesai…. Besok pagi kami harus ke laut untuk membuang demit yang mengganggu disini” jawab salah satu dari mereka
“Heheheh jangan pergi dulu pak… tunggulah hingga tengah malam, nanti bapak-bapak ini akan tau yang sesungguhnya ada disini”
“Maksudmu apa orang tua…. Kami belum menangkap seluruh demit pengganggu disini?”
“Kami ini yang tau tentang apa yang mengganggu disini, bukan kamu…. Tugasmu hanya sebagai tukang disini, bukan sebagai tenaga ahli dalam urusan dengan mahluk ghaib” kata Ki gondrong Nyowo
“Iya ki gondrong nyowoooo….. Pokoknya saya minta tolong tunggu sebentar disini, kalian pasti bisa mlihat pengganggu yang ada di sini hehehehe”
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari para pemburu makhluk ghaib, mereka hanya diam saja ketika pak Cheng berkata demikian…. Mereka hanya diam di halaman belakang yang terang benderang ini…
“Ki…. Tina mau tanya. Apakah kalian semua bisa melihat bangsanya pocong, kunti dan lainya?”
“Tentu saja itu hal yang mudah bagi kami mbak… memangnya kenapa kok mbaknya tanya seperti itu?” jawa Gondrong nyowo
“Nggap papa… Tina hanya tanya saja kok.. Soalnya Tina rasa kalian ini hebat hebat… pasti pengalamanya luar biasa dalam melakukan penangkapan mahluk tak kasat mata”
“Yah itu kan memang pekerjaan kami mbak…kami memang bekerja dengan profesional dan bergaransi juga”
“Kalau begitu tolong tunggu sebentar, kalian jangan pergi dulu dari sini, karena Tina rasa yang mengganggu itu bukan di dalam ruang utama.. Tetapi ada di sana itu… di balik sungai pak heheheh”
“Kamu tau dari mana mbak… apakah mbaknya ini juga punya ilmu seperti kami ini hehehehe” kata salah satu orang yang sedang memegang botol yang katanya berisi raja dan ratu pengganggu
“Tentu saja tidak pak… Tina kan hanya kata orang-orang saja, dan tidak ada salahnya kan apabila bapak-bapak ini tidak buru- buru pulang dari sini”
Mas Agus melihat jam tangannya, dia mungkin berharap agar waktu berlalu dengan cepat hingga tengah malam, karena pada tengah malam nanti akan muncul suruhan si Fong yang ada di balik sungai itu.
Tapi ternyata saat ini mungkin baru pukul sepuluh malam….
“Tunggu hingga tengah malam dulu pak, jangan keburu pulang… tugas kalian ini membersihkan area ini dari demit yang mengganggu.. Bukanya sok gedebak gedebuk tapi tanpa hasil sama sekali” kata mas Agus yang mungkin mulai emosi
“Hei.. jaga omonganmu mas… kamu tidak tau dengan siapa kamu berhadapan… bisa bisa kami akan buat kamu menyesal apabila kamu tidak meminta maaf atas perkataanmu itu” kata salah satu dari mereka
“Sudah.. Maafkan kawan saya ini pak.. Dia tidak tau kalau bapak bapak ini sudah bekerja keras untuk menangkap demit pengganggu hotel ini… tetapi tidak ada salahnya apabila bapak-bapak ini menunggu hingga tengah malam disini”
“Kami bukanya sok tau pak… tetapi ada yang mungkin bapak akan tertarik untuk melihat apa yang akan datang tengah malam nanti… jadi tolong tunggu dulu, dan jangan pergi dulu pak”
“Ok baiklah kami akan ada disini dan menunggu apa yang kalian katakan itu… yang pasti hotel ini sudah aman dari mahluk ghaib pengganggu”
Hehehe mas Agus emosi juga akhirnya. Tapi apa yang dikatakan mas Agus itu ada benarnya juga..
Tapi karena kelakuan mereka dan secara tidak sengaja ada mahluk kecil gundul yang terperangkap di dalam botol, akhirnya kunti dan poci itu pun marah pada mereka berempat.
Dan yang menyeramkan adalah mereka berempat seolah olah tidak merasakan adanya kemarahan dari mahluk halus yang ada disini.
“Eh bapak-bapak…. Ini cuma saran dari Tina aja ya…. Saran Tina adalah lepaskan satu makhluk yang ada di dalam botol itu, karena kalian sekarang jadi amukan beberapa makhluk tak kasat mata yang tidak suka dengan apa yang barusan kalian lakukan”
“Yang kalian tangkap itu hanya mahluk yang tidak pernah melakukan kejahatan apapun… memang bagi kalian semua yang taunya semua jenis ini jahat ya pasti akan menangkap dan membuangnya, tetapi tidak semuanya itu jahat pak”
“Kamu ini ada-ada saja mbak.. Kamu ini siapa, dan apakah kamu tau apa yang kami tangkap sekarang ini… yang kami tangkap adalah raja dan ratu mereka…hahahah”
“Yah Tina kan hanya memberikan saran saja, mau diterima atau tidak ya itu terserah sampean , yang pasti sekarang banyak pocong dan kunti yang mengelilingi kalian berempat….”
“Masak sih kalian tidak bisa merasakan banyak mahluk halus yang sedang marah kepada kalian, karena menangkap mahluk tak kasat mata yang tidak bersalah apapun hehehe”
Mereka berempat sama sekali tidak merespon apa yang aku katakan… tapi setelah aku berkata seperti itu, salah satu dari mereka kemudian memasang wajah waspada.
Pak Cheng, mas Agus, dan Jiang hanya tersenyum mendengar apa yang aku katakan kepada mereka berempat… kayaknya teman temanku membiarkan keempat pemburu hantu itu bereaksi dan melakukan sesuatu.
Aku nggak tau bagaimana mereka atau cara mereka dalam mendeteksi adanya mahluk ghaib di sekitar mereka, cukup aneh aja bagiku, mereka tidak merasakan kehadiran banyak kunti dan poci di sekitar mereka.
Dan yang bikin aku heran, setelah aku berkata seperti itu, mereka langsung membongkar tas ranselnya dan memakai lagi jubah panjang kebesaran mereka yang baunya sangat wangi, nggak lupa sorbannya juga mereka pakai.
“Ayo kita minggir saja.. Biarkan mereka melakukan tugasnya lagi” kata pak cheng yang tersenyum melihat keempat pemburu hantu itu mulai gerakan-gerakan seperti pencak silat
Empat orang itu mulai llagi memperagakan gerakan-gerakan yang mirip gerakan silat…
__ADS_1
Tapi… ada tapinya yang bikin aku geli…. Gerakan mereka itu sama sekali tidak mengenai mbak kunti maupun mas Poci yang dengan mudah menghindar.
Poci dan kunti sepertinya menikmati permainan mereka berempat, mereka berlompatan ketika keempat pemburu hantu itu mulai melakukan sesuatu yang mirip dengan orang yang melakukan pencak silat.
“Sudah jangan melihat mereka terus… kita harus fokus pada apa yang ada di depan kita” kata pak Cheng
“Pak Cheng… lampu-lampu petromak ini apa tidak usah dimatikan?” tanya Jiang
“Ia Jiang…. Benar kamu… yang ada di kamar saja dimatikan…dan sisakan satu lampu yang di tiang belakang kita ini saja” jawab pak Cheng
“Dan tajamkan telinga kalian, saya merasa ada langkah kaki pelan namun sangat lambat di sekitar sini”
“Ingat kita disini bisa saja diserang dari berbagai arah, namun untungnya kemarin ada sesuatu yang melindungi area ini, sehingga serangan itu tidak sampai menimbulkan masalah bagi pekerja yang ada disini kemarin”
Pak Cheng dan kami bertiga sedang berusaha mendengarkan dengan teliti suara langkah kaki yang menuju ke arah sini, tetapi tidak dengan keempat team pemburu hantu yang masih melakukan gerakan pencak silat, mereka tidak peduli dengan kami.
Sebenarnya bukan tidak peduli, namun mereka masih asik dengan gerakan tak terarahnya. Kenapa aku bilang tidak terarah , karena saat ini kunti dan poci sudah minggir… mereka juga sedang mendengarkan sesuatu yang sedang berjalan kesini
“Heh… stop kalian berempat… masak kalian tidak bisa merasakan sesuatu yang datang kesini… lihatlah itu kunti dan pocong yang tadi bermain dengan kalian, mereka sudah mundur alon alon dan mendengarkan siapa yang akan datang kesini”
“Heh pak.. Jangan memerintah kami.. Kami tau diaman demit-demit itu berada” bentak salah satu dari mereka kepada pak Cheng
“Ya udah, terserah kalian, yang pasti sudah tidak ada demit diantara kalian, mereka sudah pergi untuk mencari sesuatu yang lebih menarik daripada bermain dengan kalian berempat”
Akhirnya mereka berhenti menari dan melakukan gerakan silat…. Mereka terbengong bengong dengan nafas yang tersenggal senggal.
“Ya gitu diam, dan rasakan energi hitam yang sangat besar secara perlahan lahan datang ke sini” kata pak Cheng
“Pak… siapa yang akan datang ini… kenapa Tina kok rasanya merinding gini pak?”
“Iya mbak Tina… yang akan datang ini adalah sesuatu yang sangat besar energinya, dan juga mengerikan….”
“Heh kalian berempat…. Sekarang inilah tugas kalian yang sesungguhnya… kalian harus bisa mengusir yang akan datang kali ini”
“Heh… sebenarnya kalian ini siapa… apakah kalian ini juga pemburu hantu seperti kami?” tanya Ki Gondrong Nyowo
“Bukan.. Kami bukan pemburu hantu.. Kami adalah kawan hantu yang baik hati macam Casper” jawab mas Agus asal
“Kami ini ini hanya tukang dan pekerja…. Pemburu hantu itu adalah kalian berempat pak…tetapi kami memiliki kemampuan untuk melihat dan melakukan perlawanan juga… hanya saja tidak kami lakukan untuk melawan mereka”
Tidak ada jawaban dari empat orang berjubah panjang dan bersorban itu… mereka diam dan berusaha mendengarkan apa yang barusan pak Cheng katakan.
Mereka tidak bereaksi atas apa yang dikatakan pak Cheng, tapi dari wajah mereka yang berkeringat kepanasan menampakan wajah yang khawatir.
Keempat badut bagi pocong dan kunti itu sedang berusaha mendengarkan apa yang barusan tadi pak Cheng katakan.
“Wah.. itu sih manusia biasa yang jalan di sekitar sini….” jawab salah satu dari empat badut
“Hehehe… apakah kalian ini tidak bisa merasakan getaran energinya yang besar?... atau jangan-jangan kalian ini hanya dukun palsu yang menyamar sebagai pemburu hantu” kata mas Agus yang mulai kesal
“Heiiii tolong dijaga mulutnya.!” teriak salah satu dari mereka
“Sstttt jangan ribut…. “ tegur pak Cheng….
“Heh kalian berempat para pemburu hantu… kalau kalian memang ingin dijuluki sebagai pemburu hantu… cepat ke depan dan lihat apa yang ada di depan sana”
“Ada sesuatu yang semakin mendekat hotel ini dengan energi yang hitam dan besar”
__ADS_1
“Ingat kalian berempat, gunakan keahlian kalian, jangan cuma bisanya berbohong untuk mendapatkan keuntungan dari orang yang tidak tau siapa kalian sebenarnya ini”