
Aku gak paham apa yang sedang disembunyikan pak Pangat saat ini.. Karena aku merasa ada yang tidak beres dengan pak Pangat dan dengan Inggrid tadi.
Tadi pak Pangat dengan santainya masuk ke dalam rumah itu, dia tidak merasa terbebani masuk ke rumah orang yang kita pernah temui sebagai hantu di alam manusia.
Seolah olah mereka sudah mengenal lama, dan kalau dilihat dari cara duduknya pak pangat di kursi ruang tamu, seolah pak Pangat sudah pernah dan mungkin beberapa kali pernah ke sana.
Tapi permainan ini akan aku ikuti saja…sampai dimana permainan yang tidak masuk akal ini akan kelihatan lubangnya.
Aku tidak berani berpikir tentang pak Pangat ketika aku ada di sebelahnya, karena dia selalu berhasil membaca pikiranku.
Sesuatu yang sekarang ada di pikiranku adalah…waktu itu, waktu dia akan menumbalkan aku dan mas Agus, ketika dia sedang mencari harta yang ada di kuburan itu… dia waktu itu mengadakan perjanjian dengan siapa?
Karena disini kan ada Inggrid yang mungkin memang benar-benar Inggrid, dan ada Inggrid yang mungkin sebenarnya adalah jadi-jadian yang berbahaya..
Kalau dia mengadakan perjanjian dengan Inggrid jadi jadian, harusnya dia tidak kenal dengan Inggrid yang asli, tapi kenapa dia kenal dengan Inggrid yang asli sementara dia menumbalkan kami berdua juga…
Berarti secara logika pak Pangat kenal dengan keduanya dong…. Tapi bagaimana bisa dia kenal dengan keduanya, apakah dia memang sudah lama kenal dengan keduanya?
Ataukah semua ini hanya permainan dari pak Pangat saja, karena dia sepertinya menguasai keadaan, aku merasa tadi dia dengan sengaja memang mengajak aku dan mas Agus ke rumah Inggrid, tapi aku nggak tau dia itu Inggrid yang apa dan yang mana.
Dan yang aneh… tidak lama kemudian rumah Inggrid yang tadinya berupa istana yang pernah aku lihat, tiba-tiba berubah menjadi sebuah rumah sederhana. Lalu tujuan dari itu apa, dan kenapa harus merubah rumah dia menjadi Istana, ataukan semua ini hanya permainan antara pak Pangat dan Inggrid?
Yang tadi gak habis pikir, bagaimana bisa aku dan mas Agus bisa berubah menjadi sosokku yang sebenarnya , hingga Inggrid tadi bisa tau siapa yang ada di dalam tubuh mbah Sastro.
Teka teki ini makin membingunkan.. Tapi yang pasti sekarang kami akan melawan orang yang sangat jahat, orang yang akan membunuh aku dan mas Agus karena pak pangat sudah melakukan perjanjian denganya.
Duh kepalaku jadi pusing gara-gara mikir apa yang sebenarnya dilakukan oleh pak Pangat ini….
Sementara itu udara di sekitar sini semakin lama semakin pengab dan hangat, dan akhirnya sesuatu yang mungkin membuat keadaan disini menjadi panas dan bau busuk pun muncul.
“Mbak…mas, awas! Yang kita maksud sudah mulai berani menampakan diri… ingat dia ini sangat berbahaya… dan jangan tertipu dengan perkataannya!” kata pak Pangat
Mas Agus melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya, seolah olah apa yang sedang ada di pikirannya sama dengan yang sekarang ada di pikiranku…
Siapa yang akan keluar, dan kenapa pak Pangat bisa berkata jangan tertipu dengan perkataannya… apakah dia pernah tertipu dengan sesuatu yang akan muncul saat ini?
Bau busuk dan udara panas masih saja menyelimuti dimana kami sedang berdiri, terus terang bau busuk dan panas ini membuatku tidak bisa berpikir jernih, karena kepalaku mulai berdenyut denyut.
Pintu gerbang terbuka…..
“Ada apa kalian mencari saya” kata sesuatu yang sangat jelek di depanku dengan nada bicara yang tenang tanpa ada emosi sama sekali
Kenapa aku bilang sangat jelek… karena sosok yang ada di depanku ini bentuknya sangat tidak beraturan, tubuh yang cacat dan bentuk kepala yang tidak simetris, dan bentuk kaki kiri dan kanan yang sangat berbeda.
Bahkan di kepalanya.. Sebagian rambutnya sudah tidak ada…
Tapi secara utuh masih berbentuk manusia, hanya saja tidak utuh, karena mungkin cacat sejak lahir.
“Kenapa kalian memanggilku dan apa keperluan kalian dengan ku” suara yang sangat parau dan tidak jelas antara suara perempuan atau laki-laki
Tapi harusnya dia ini perempuan, karena dia bernama Inggrid ketika tadi dipanggil oleh pak Pangat
Tidak ada jawaban dari pak Pangat… dan semakin aneh saja, kenapa dia tanya keperluan kita ke sini untuk apa…
Yang ada di depanku ini hanya sosok manusia cacat dengan ukuran kaki yang besar sebelah dan tangan yang tidak tumbuh dengan normal.. Dan dia tanya ada perlu apa kita memanggilnya keluar.
Kulihat mas Agus masih bingung untuk melakukan apa, karena mas Agus hanya bisa berdiri saja di sampingku sambil sesekali melirik ke arahku.
Tapi berbeda dengan pak Pangat yang serius melihat ke arah sosok aneh yang cacat itu…
“Kami menantang kamu.. Dan kami akan membunuhmu sekarang juga!” kata pak Pangat dengan suara pelan namun sangat jelas”
__ADS_1
“Saya tidak punya masalah dengan kalian…. Jangan membuat sesuatu yang sudah tenang menjadi keruh… saya tidak mau melawan kalian.. Segeralah pulang karena sebentar lagi akan hujan”
Sosok aneh dan cacat itu kemudian berbalik arah dan akan berjalan kembali menuju ke rumahnya….
Dia berjalan pincang dan pelan, karena kaki dia yang berbeda ukuran antara kiri dan kanannya.
Tetapi sesuatu yang aneh kemudian terjadi…. Pak Pangat melempar sesuatu ke arah sosok cacat itu, dia mengambil sesuatu yang mirip batu dan kemudian melemparkan ke tubuh sosok yang kini berbalik arah menuju ke dalam rumahnya.
“Aaaahhhh panas sekali!” teriak sosok itu kemudian terjatuh karena salah satu kakinya yang cacat dan kecil itu tidak mampu menopang tubuhnya yang besar dan mengerikan
“Aaaarrgghh kenapa kamu menyakiti saya, bahkan saya pun tidak mengenal siapa kalian bertiga ini.. Saya tidak punya masalah dengan kalian bertiga” teriaknya dengan kesakitan
Sosok cacat itu berusaha bangkit dari jatuhnya karena sesuatu yang dilempar pak pangat barusan dan mengenai tubuhnya. Aku merasa heran.. Sosok aneh itu untuk berdiri saja kesulitan…tapi kata pak Pangat sosok itu sangat berbahaya.
Hingga beberapa kali mahluk cacat itu mencoba untuk berdiri, dan beberapa kali gagal karena kakinya yang cacat itu.., tapi setelah beberapa kali mencoba akhirnya dia bisa berdiri juga.
“Salah saya apa kepada kalian bertiga.. Saya tidak merasa pernah punya kesalahan kepada kalian bertiga”
“Saya tidak kenal dan tidak ada urusan dengan kalian, cepat kalian pulang karena sebentar lagi akan hujan” kata makhluk aneh itu sambil menutup hidung
Memang disini semakin lama semakin bau busuk dan udaranya panas pengab….
Memang ketika kulihat di langit.. Awan mendung sedang sedang menyelimuti langit malam.. .. ternyata panas dan pengab itu karena mendung.
“Pak Cheng… cepat pergi dari sini, bau gerobak sampahmu itu busuk sekali” kata sosok cacat yang dipanggil pak Pangat dengan nama Inggrid itu
“Baik Aik….” jawab penarik gerobak sampah yang dipanggil dengan nama pak Cheng
Ketika kutoleh… ternyata di belakangku ada gerobak sampah yang isinya masih terisi separuh,.... Ternyata bau ini berasal dari gerobak sampah itu.
Sialan tiwas tadi aku berpikiran udara yang panas dan bau busuk itu berasal dari sosokcacat yang ada di depan kami ini.
“Sekarang urusan dengan kalian bertiga…. Apa maksud kedatangan kalian bertiga, dan kenapa kamu menyakiti saya?” tanyanya kepada pak Pangat yang tadi melempar sesuatu
“Lebih baik kalian pulang saja… sebelum nanti ada pemburu yang akan memburu kalian”
Mahluk aneh yang dipanggil Inggrid itu berkata dengan tenang dan tanpa emosi sama sekali, padahal barusan pak Pangat menyakiti dia.
Pak Pangat hanya diam saja, dia tidak mengatakan sesuatu sama sekali, dia hanya menatap sosok cacat itu dengan tatapan benci.
Aku dan mas Agus tidak tau apa yang harus dilakukan, karena dari pengamatanku… sosok yang ada di depanku ini tidak berbahaya sama sekali, dia cacat, untuk berdiri pun kesusahan.
“Kamu… jangan mengejar kami lagi, atau kamu akan kami bunuh sekarang juga” teriak mas Agus sambil menunjuk tunjuk sosok aneh yang ada di depan kami
“Siapa … saya mengejar siapa.. Dan kalian ini siapa?” jawab orang cacat itu
“Saya Hari Supangat… dan dua orang yang bernama Agus dan TIna” sahut pak Pangat setelah mas Agus berani bicara dengan makhluk aneh yang bernama Inggrid
“Maaf saya tidak kenal dengan nama-nama itu..dan saya tidak pernah melakukan apa-apa dengan siapapun”
“Kalian salah orang dengan berusaha menyerang saya”
Sosok aneh ini tetap saja tidak mau mengakui apa yang dia lakukan. Dia tetap saja keukeuh dengan mengatakan bahwa dia tidak mengenal kami dan tidak melakukan tindakan apapun.
Dia bahkan tidak membalas apa yang dilakukan oleh pak Pangat…..
Ada yang aneh disini, tapi aku belum bisa menebak apa yang aneh itu…
Ketika kami sedang bicara dengan makhluk aneh ini, petugas sampah yang dipanggil pak Cheng masih ada di sekitar sini, dia sedang memperhatikan kami dari kejauhan.
Ada yang harus dicoba untuk dipahami disini, tapi sayangnya aku sama sekali tidak bisa menarik sebuah kesimpulan sama sekali. Aku tidak bisa membaca situasi yang sedang berlangsung.
__ADS_1
Bahkan aku tidak bisa membaca adanya kejahatan di dalam diri makhluk cacat yang ada di depan kami ini
“Sekali lagi kalian pulanglah sebelum penjaga istana ini menangkap kalian, dan membawa kalian ke suatu tempat dimana kalian tidak bisa kembali lagi”
“Dan saya tidak ada masalah dengan kalian bertiga… sekarang pulanglah dan jangan membikin onar di sekitar sini, atau kamu akan mendapat masalah yang besar” kata orang yang bernama Inggrid itu kemudian berbalik arah masuk ke dalam istananya.
“Stoopp bicara!!!!..... Kamu akan saya bunuh sekarang juga….. ARRGHHHHH!!!!” teriak pak Pangat
Pak Pangat lari menyusul sosok tua dan mengerikan sambil menghunus sebuah pisau yang entah dari mana dia mendapatkanya.
Karena dari ketika di rumah Jiang, pak Pangat tidak terlihat membawa pisau atau senjata lainya sama sekali. Tetapi ketika disini tiba-tiba dia mempunyai pisau dan senjata yang tadi dia lempar itu.
Pak Pangat langsung mendorong tubuh mengerikan yang untuk berjalan saja kesusahan..
Aku tidak tega melihat apa yang dilakukan pak Pangat kepada makhluk aneh itu.
“Jangan ikuti dia mbak… kita lebih baik lari dari sini saja!…” ajak mas Agus sambil menggandengku
“Ayo cepat kita pergi dari sini saja!....” mas Agus mulai berlari ketika aku mendengar suara rintihan kesakitan
“Sebentar lagi kawasan ini pasti akan dipenuhi oleh para penjaga wilayah ini, saya gak yakin kalau pak Pangat bisa selamat dari sini mbak”
Aku hanya diam dan membenarkan apa yang dikatakan oleh mas Agus itu, aku merasa bahwa keadaan kami disini sungguh berbahaya.
Benar-benar aku tidak menyangka bahwa pak Pangat tiba-tiba menyerang dia, tapi aku juga belum bisa mencerna apakah tindakan pak Pangat ini benar atau tidak.
Mas Agus menggandeng tanganku melintasi taman yang ada di depan istana… suara rintihan kesakitan tanpa ada suara permintaan tolong tetap terdengar di telingaku.
Suara pisau yang berkali kali menghujam ke sesuatu juga tetap terdengar dari tengah taman.
Aku tidak bisa menghitung berapa kali pisau itu menghujam sesuatu yang ada di depannya..pokoknya kedengarannya menakutkan bagiku.
Aku dan mas Agus tidak tau harus lari kemana, karena kami berdua ada di lingkungan asing yang sangat sepi…
Sekilas aku bisa lihat pak Cheng yang ada di pojokan gang melambaikan tangan kepada aku dan mas Agus.
“Mas.. itu tukang sampah yang tadi.. Dia melambaikan tangan ke arah kita…. Kita kesana saja mas” bisikku kepada mas Agus
Tanpa banyak bicara aku dan mas Agus segera lari menuju ke arah tukang sampah yang tadi dipanggil pak Cheng oleh Inggrid yang berwujud jelek
Jarak antara kami berdua dan tukang sampah itu tidak terlalu jauh, dan harus melewati jalan yang ada di seberang taman..
“Cepat masuk ke bak sampah ini mbah…!” kata tukang sampah itu
“T..tapi apa kami harus masuk ke sana?!”
“Iya mbah… sebentar lagi wilayah ini akan penuh dengan penjaga, pengawal, dan polisi daerah…. Kalian akan saya selamatkan sekarang”
“Sekarang kalian berdua diam mbah.. Kalian ini sudah tua kok keluyuran bersama pembunuh” kata petugas sampah itu lagi
Bau sampah yang ada di gerobak sampah ini sangat busuk…mirip dengan sampah di pasar yang lama terpuruk tidak diambil oleh dinas kebersihan pasar.
Aku dan mas Agus masuk ke dalam bak sampah yang masih separuh tapi baunya sudah luar biasa busuknya.
Tidak lama kemudian gerobak sampah ini mulai didorong oleh pak Cheng…. Bersamaan dengan itu aku mendengar suara derap langkah kaki berlari lari..
Banyak sekali suara langkah kaki yang menggunakan sepatu PDH itu terdengar jelas dari dalam bak sampah….
Aku tidak tau bagaimana nasib pak Pangat dan nasib makhluk aneh yang bernama Inggrid yang tadi sempat diserang pak Pangat.
Diantara tumpukan sampah yang menjijikan dan air lindi lengket yang ada di dasar gerobak sampah aku dan mas Agus tetap merunduk dan tidak berusaha untuk bicara sama sekali.
__ADS_1
Aku tidak tau bagaimana nasib pak Pangat, dan aku tidak tau juga bagaimana nasib kami kedepanya ini.. Karena pasti nanti pak Pangat akan bicara siapa saja yang bersama dia ketika terjadinya pembunuhan