RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
228. BEROPERASI LAGI


__ADS_3

“Jadi kita harus bagaimana pak Diran?”


“Tidak ada yang bisa dilakukan, bu Tina pun kalau mau ke leluhur ya  silahkan, tapi jangan bilang kalau ada rahasia yang bu Tina sudah ketahui”


“Dan menurut guru saya urusan dengan yang besar akan ditangani oleh leluhur bu TIna, sedangkan urusan yang kecil kecil  adalah tanggung jawab kita, jadi kita hanya mempertahankan diri dari yang kroco-kroco saja”


“Untuk malam ini bagaimana pak Diran? Apa masih akan ada serangan lagi?”


“Nanti pak Agus.. kita nanti malam ke belakang untuk menanyakan kepada mbak Kunti apa yang dia tau tentang apa yang ada disini”


Malam semakin larut, lampu petromak halaman belakang sudah kami nyalakan, sekarang kami ada di ruangan utama. Mbak Tina sedang mengecek email yang masuk..


“Mas… gawat!...”


“Ada apa mbak?”


“Coba lihat email dari anak buah pak Robert… besok akan ada sepuluh keluarga yang datang ke sini…”


“kok pak Jay gak cerita ke kita kalau dia buka lagi hotelnya, padahal kan kata pak Polisi hotel ini belum diperbolehkan beroperasi”


“Sik mbak, coba saya telepon dulu  pak Jaynya”


Waduh, kenapa harus sudah ada tamu yang akan masuk ke sini, bukanya dari pihak kepolisian belum juga mengizinkan hotel ini untuk beroperasi.


Memang baru juga dua hari dari kematian keluarga Prabowo, dan hingga hari ini belum ada yang mengambil jenazah keluarga di kamar mayat rumah sakit kota.


Apakah pak Jay tau tentang tamu  yang sudah reservasi dan besok mereka akan datang ke sini?


“Pak Agus…. Saya rasa pak Jay tidak beritahu pak Robert tentang masalah sebenarnya yang terjadi disini, sehingga pak Robert sudah membuka kembali pendaftaran hotel ini di travel agent dia” kata pak Diran


“Sik bentar pak, saya akan hubungi pak Jay dulu… kalau kayak gini caranya jelas melanggar hukum… tapi kan memang pita kuning dari kepolisian sudah tidak ada pak Diran?”


“Pita kuning itu sudah tidak ada ketika kita datang ke sini pak Agus” jawab pak Diran


Aku mengambil telepon satelite yang memang disediakan hanya untuk keadaan darurat, atau menghubungi pak Jay saja, karena pulsa telepon satelite ini tidak murah.


Saat ini baru pukul delapan malam, jadi nggak masalah kalau aku hubungi pak Jay.


Nomer telepon pak Jay sudah kutekan, dan nada sambung sudah tersambung…. Speaker phone aku nyalakan agar pak Diran, mbak Tina dan Jiang mendengar apa yang aku dan pak Jay katakan.


“Selamat malam pak Jay… maaf saya mengganggu isirahat pak Jay”


“Ya.. ada apa mas Agus?” kata suara pak Jay


“Pak, mohon infonya… barusan mbak Tina cek email, dan ternyata ada email masuk berisi daftar tamu yang akan datang besok siang pak… bukanya kita belum bisa menerima tamu pak?”


“Iya mas Agus… memang saya yang suruh Obet untuk membuka reservasi hotel lagi… saya sudah hubungi kepolisian, dan mereka mengizinkan hotel untuk beroperasi, tentu saja dengan jaminan yang tidak sedikit”


“Karena kalau hotel ini tidak jalan, saya yang akan rugi mas Agus….” kata pak Jay


“Oh begitu pak, kok bapak tidak hubungi kami sebelumnya pak?”


“Saya baru saja mau telepon kalian, ternyata mas Agus sudah telepon saya duluan, dan mulai besok sore petugas catering akan datang seperti biasanya”


“Jadi besok pagi kalian mulai bersihkan kamar lagi, agar siangnya tamu-tamu yang datang  sudah bisa menikmati hotel kita.”


“Oh iya mas Agus, besok pagi saya juga akan datangkan petugas taman.. Yang akan bekerja membersihkan dan merawat taman hotel”


“Oh begitu ya pak.. Baiklah pak Jay… eh apa besok pagi pak Jay ke sini saja untuk menginspeksi dan mengecek keadaan hotel, saya takut apabila ada  yang kurang dan tidak sesuai dengan yang diinginkan pak Jay”


“Tidak perlu mas Agus, saya sudah percaya dengan kalian, saya rasa kalian sudah mampu memberikan yang terbaik bagi hotel ini… jadi begitu saja ya mas Agus, besok kalian mulai bekerja lagi”


Tanpa memberikan aku kesempatan untuk bicara lagi, sambungan telepon ditutup oleh pak Jay. Mau gak mau kami harus kembali menjaga hotel ini, mau gak mau tiap malam kami tidak akan bisa tidur lagi meskipun memang kami sudah biasa tidak tidur malam hari.


“Nah kan… kalian dengar sendiri kan apa yang dikatakan pak Jay…. bagaimana menurut pak Diran?”


“Wah… ya sudah, kita hanya pekerja yang dipekerjakan pak Jay, dan kita harus menurut kepada pimpinan kita, apapun yang terjadi ya harus kita jalani” kata pak Diran dengan nada lemah


“Uang lebih berkuasa pak Agus… larangan bisa ditunda bahkan bisa dilanggar dengan menggunakan uang” kata pak Diran


“Masalah gangguan yang akan muncul, bagaimana pak Diran?”


“Hufffh dijalani saja pak Agus… jalani semaksimal kita saja, dan jangan membahayakan diri kita” jawab pak Diran


“Tengah malam nanti kita ke belakang untuk mengetahui apa yang ada disana, dan sekaligus tanya ke mbak Kunti tentang apa yang terjadi”

__ADS_1


Malam sebelum tengah malam pak Diran patroli di sekitar halaman depan parkiran hotel, sedangkan kami bertiga ada di ruangan utama dan sedang membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tidak ada pembicaraan tentang tamu yang akan datang besok, kami takut apabila tamu yang datang tidak terseleksi seperti yang sudah aku  bicarakan dengan pak Jay sebelumnya, ketika kejadian bunuh diri itu.


“Mbak Tina… eh di email tertulis umur tamu atau tidak?”


“Gak ada mas, hanya tertulis anak-anak, dewasa dan orang tua.. Sudah gitu saja mas”


“Definisi anak,dewasa, dan orang tua apa mbak?”


“Nggak ada informasinya mas… tapi yang sebelumnya itu untuk ukuran keluarga prabowo, suami istri itu tertulis orang tua, sedang kan anak perempuanya masuk kategori dewasa” kata mbak Tina


“Berarti anak-anak itu hanya anak kecil saja ya mbak…. Macam anak yang pernah diganggu mahluk disini?”


“Kayaknya seperti itu mas”


“Waduh kalau caranya seperti itu ya bahaya mbak”


Pak Diran masuk ke dalam ruangan utama, kemudian aku katakan tentang klasifikasi tamu yang menginap disini sesuai dengan email yang masuk barusan.


“Kan sudah saya katakan pak Agus… kita lindungi semampu kita saja, tidak usah membahayakan hidup dan diri kita”


“Kalau masih cocok ya monggo tetap kerja disini, kalau sudah tahap berbahaya kita tinggalkan saja…. Dari pada hidup kita terancam bahaya” kata pak Diran


“Tidak bisa pak… lalu saya dan daerah ini bagaimana pak?” sahut mbak Tina


“Nah makanya bu Tina…. Sekarang tergantung pola pikir kitakan.. Lindungi semampu kita… karena kekuatan kita kan terbatas…”


“Kalau kita sudah di ambang batas, kita harus segera pergi dari sini, apa mbak Tina akan melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari pada mbak Tina… tentu saja tidak kan” jelas pak Diran


Menjelang tengah malam… kami masih ada di ruang utama hotel, keadaan disini aman, tidak ada gangguan apapun yang membuat kami gusar.


“Ayo pak Agus… kita ke belakang, mbak Tina dan Jiang jaga disini saja” kata pak Diran


Aku dan pak Diran melintasi halaman belakang yang terang, karena dua lampu petromak menyala dengan sangat terang… tetapi tetap saja bagian belakang jauh lebih gelap, apalagi pinggir sungai yang gelap gulita.


Kayaknya aku harus bicara pada pak Jay untuk menambah penerangan di bagian sungai dengan lampu bertenaga matahari seperti yang ada di sepanjang jalan menuju ke hotel ini.


Kami melewati kamar nomor sepuluh yang pintu kamarnya menutup, tapi baik aku dan pak Diran tidak menoleh ke kamar itu, anggaplah tidak ada yang terjadi dengan kamar nomor sepuluh.


Akhirnya kami sampai juga di sebelah pohon beringin, tempat mahluk halus disini tinggal. Dan ternyata mbak Kunti yang kapan hari itu sudah ada disana, kelihatannya dia sedang menunggu kedatangan kami berdua.


“Nah gitu dong nduk… dijawab ketika tak panggil… ayo sini ngobrol sama saya nduk”


Aku gak tau apa yang pak Diran dan mbak Kunti itu bicarakan selanjutnya, karena mereka berdua bicara dengan menggunakan kata hati, dan sayangnya aku belum bisa menggunakan kata hati seperti pak Diran ini.


Tapi aku bisa melihat kunti yang matanya selalu melotot dan tidak pernah berkedip itu…


“Ojo mendelik ngono to Nduk (jangan melotot gitu dong nak)… saya kan ya takut”


“Ayo rubah dirimu menjadi lebih cantik nduk.. Biar saya dan pak Agus ini kerasan ada di sebelahmu nduk hihihi” aku pikir pak Diran ini agak gak beres otaknya… mana ada manusia yang kerasan di sebelah kunti


Tapi apa yang dikatakan pak Diran , mbak Kunti itu turuti. Dia sekarang berubah menjadi wajah manusia sebelum dia mati, hanya saja kulitnya sangat pucat.


“Nah itu lebih baik mbak Kun… oh iya mbak Kun.. apa yang mau mbak Kun ceritakan kepada saya?” tanya pak Diran


Pak Diran manggut manggut sambil menatap wajah mbak Kun yang berubah menjadi wajah ketika terakhir dia menghembuskan nafasnya.


“Hmmm oh begitu ya… jadi orang tua yang datang jauh-jauh kesini itu seorang dukun yang datang kesini untuk mencari sesuatu yang ada disini?”


“Tetapi kemudian dia mati karena dibunuh oleh penjaga tanah ini?” kata pak Diran dengan suara pelan


“Hmmm iya iya… dia akan membuka pagar disini dengan cara pak owo sendiri agar apa yang dicari disini muncul, gitu ya mbak Kunti….?”


“Tapi belum berhasil karena saya, pak Agus dan cicit penghuni sini datang, eh maksudnya cicit itu ibu Tina?” tanya pak Diran yang sedang bicara dengan mbak Kunti


“Nah pak Agus…. Ternyata pak Owo itu bukan seperti yang kita perkiraan sebelumnya… dia berniat jahat disini dan kemudian berhasil di binasakan oleh leluhur mbak Tina…. “ jelas pak Diran sambil menoleh ke arahku


“Pak Prabowo dirasuki penunggu tanah ini, tapi dia melawan… dia melawan dengan mencekik istri dan anaknya yang tidak bersalah, dengan harapan yang merasuki tubuh pak Owo kasihan dan melepaskan raga pak Owo”


“Ketika anak dan istrinya mati, yang merasuki tubuh pak owo keluar, pak Owo ketakutan, kemudian dia bunuh diri, dengan sebelumnya menggores nadi istri dan anaknya dahulu”


“Kemudian mungkin karena rasa bersalah… dia pun bunuh diri dengan harapan akan menghantui hotel ini, tetapi arwah dia ternyata sudah disekap oleh penghuni tak kasat mata hutan ini…..”


“Sik mas…keliatanya ada yang lebih penting lagi yang sedang akan mbak Kunti itu bicarakan” kata pak Diran yang kemudian manggut manggut lagi

__ADS_1


“Jadi setelah kematian yang berdarah itu, ada orang yang datang kesini dengan membawa sesuatu yang diletakan di kamar nomor sepuluh yang gunanya untuk membuka pagar ghaib dan mengundang makhluk halus datang ke darah segar yang ada di kamar nomor sepuluh itu?”


“Benar seperti itu ceritanya mbak Kun?” tanya pak Diran ke kunti yang ada di depannya


“Iya mbak Kunti… terimakasih atas informasinya ya… akan kami bicarakan dengan teman-teman kami dulu mbak”


Pak Diran menyudahi pembicaraan dengan mbak Kunti itu.


“Pak Agus.. ayo kita ke kamar sepuluh… disana ada sesuatu yang harus kita cari sebelum sesuatu itu melebur dan masuk ke kamar sepuluh..”


“Pak Diran saya yakin yang membawa benda berbahaya itu Watuadem pak”


“Iya pak Agus, karena ciri-ciri yang disebutkan mbak Kunti itu memang mengarah ke watuadem saja” jawab pak Diran


Aku dan pak Diran menuju ke kamar nomor sepuluh, aku sudah tidak takut lagi dengan kamar itu setelah aku tau si Watuadem ada di balik semua ini, dan aku belum tau apa tujuan dari watuadem itu.


Kamar mengerikan nomor sepuluh sudah ada di depan kami….


Pak Diran berdiri di depan pintu kamar , mulut pak Diran sepertinya sedang melafalkan sesuatu, entah itu doa atau sejenisnya.


“Buka pintu itu pak Agus, dan mungkin akan sulit untuk membuka pintu itu, saya akan bantu doa dari sini pak Agus”


Handle pintu kuputar dan kemudian pintu itu aku dorong ke dalam… ternyata benar!


Pintu itu sangat berat dan sama sekali tidak bisa dibuka atau didorong ke dalam.


Pak Diran menggumamkan doa sekali lagi, dari nada dia berdoa itu terdengar bahwa dia sedang marah.. Karena doa yang dia ucapkan itu dengan adanya penekanan di beberapa kata.


Kudorong pintu itu lagi dengan kekuatan penuh…


Sedikit terbuka. Hanya sejengkal tangan saja pintu itu terbuka!


Bau busuk menyelinap keluar….. Tapi bisa aku tahan!


Pak Diran semakin keras membaca doa  dan sangat dengan nada sangat marah…


“MINGGIR KALIAN!.. ATAU SAYA BAKAR DENGAN API NERAKAAA!” teriak pak Diran


Kudorong lagi dengan kuat pintu ini dan ternyata berhasil terbuka… bau busuk keluar dari dalam kamar yang sangat gelap


Eh tapi tadi aku sempat heran ketika pak Diran berkata akan membakar dengan api neraka…. Eh bukanya setan itu dari neraka, harusnya mereka bahagia dong apabila dikirim ke neraka.


Kalau misal… saya akan bakar dengan api surgawi mungkin setan itu akan ketakutan… tapi entahlah, aku nggak paham dengan hal begituan.


Bau busuk yang keluar dari kamar berangsur angsur berubah menjadi bau springbed, selimut dan sprei baru….


Tidak ada lagi bau busuk..


“Ayo kita cari barang yang tadi dikatakan oleh mbak Kunti itu pak Agus… harus ketemu sebelum matahari terbit hari ini juga”


“Eh pak Agus lebih baik ambil satu buah lampu petromak, dan panggil mbak Tina kesini, Jiang suruh tetap jaga di ruang utama”


“Saya akan jaga disini agar demit yang tadi saya usir tidak kembali masuk ke dalam kamar ini lagi”


Setengah berlari aku menuju ke ruangan utama untuk memanggil mbak Tina sekalian aku ambil satu lampu petromak yang ada di taman belakang.


Ketika aku datang ke kamar sepuluh, keadaan pak Diran sedikit kepayahan… dia sedang terduduk di ambang pintu dengan nafas yang terengah engah.


“Bu Tina cepat masuk ke dalam sekarang…!” suruh pak Diran yang kecapekan


“Pak Agus.. taruh lampu petromak itu di tengah kamar, dan setelah itu kita lakukan pencarian benda yang dikatakan mbak Kunti tadi”


Mungkin dengan datanya mbak Tina bisa menyebabkan  demit demit yang ada disini ketakutan, karena mbak Tina adalah keturunan dari penghuni ghaib disini.


“Syukur alhamdulillah… fuiih saya tadi sudah tidak kuat menahan serangan kunyuk kunyuk yang jumlahnya semakin banyak saja”


“Dengan adanya mbak Tina disini, mereka tidak akan berani masuk ke sini untuk sementara waktu” kata pak Diran


“Mereka masuk melalui lubang yang dibuat oleh sesuatu yang dibawa oleh Watuadem, dan benda itu yang harus kita temukan dan kita lempar ke seberang sungai”


Kamar sepuluh ini terang benderang, karena lampu petromak yang aku bawa dari taman itu ukuranya jauh lebih besar dari pada yang ada di dalam kamar ini.


Pak Diran yang keadaanya sudah pulih kembali  kemudian membantu aku dan mbak Tina mencari benda yang katanya ditaruh watuadem disini.


“Coba di bawah kolong tempat tidur dan kolong meja itu dulu. Untuk saat ini kita telusuri lantai dulu, benda itu bisa berupa sesuatu yang dibungkus atau bisa berupa serpihan tulang manusia”

__ADS_1


“Pak.. kalau di lantai kan sudah kita bersihkan lantainya pak…bisa saja sudahi ikut kebuang ke sungai pak”


“Kalau begitu dinding.. Cari coakan atau semacam lubang di dinding sekecil apapun yang ada di kamar ini….”


__ADS_2