RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
202 LEBIH BAHAYA APABILA ADA PENGINAPAN DISINI!


__ADS_3

Aku tidak sempat berpikir… semua terjadi begitu saja dan cepat, dulunya tempat ini adalah rumah penggergajian yang mengerikan, tetapi sekarang sudah berubah menjadi sebuah hotel dengan konsep alam.


Pak Jay tentu saja tidak tau apa yang ada disini, dia taunya disini hanya bermasalah dengan transaksi narkoba saja, dan tidak tau menahu tentang Inggrid dan hal yang mengerikan.


Mas Agus hanya diam saja ketika pak Jay bicara tentang hotel dan rencananya untuk sekira hotel ini… dan ternyata tidak hanya hotel ini saja yang akan menjadi tempat peristirahatan… bagian belakang, atau yang dekat dengan pohon beringin pun dia rombak.


Semua menjadi tidak mengerikan bagi yang tidak tau, tetapi bagi aku  tentu hal ini sangat menakutkan…


Aku dan mas AGus ditugaskan untuk mengurusi hotel ini, di sisi lain tentu saja ini merupakan sebuah kesempatan besar, karena tamu-tamu hotel sudah diatur oleh biro perjalanan.


Tetapi di sisi lain tentu saja tugasku dan mas Agus tidak hanya mengelola saja, lebih dari itu aku dan mas Agus harus melindungi tamu dari serangan Inggrid yang tentu saja akan bahagia apabila banyak orang yang akan menginap disini.


“Eh pak Jay… saya menghargai apa yang ditawarkan pak Jay… tetapi apakah pak Jay juga sudah memikirkan hal lain selain yang ada disini….?”


“Maksudnya bagaimana Agus?”


“Yah yang mudah saja… sungai di belakang rumah ini ada beberapa bagian yang  dalam, dan tentu saja bahaya bagi orang yang akan menginap disini. Apalagi yang bagian belokan yang sebelah kanan dari rumah… itu bagian sungai yang paling dalam pak”


“Jadi tapi untuk yang tepat di belakang , dekat dengan pohon beringin itu yang paling dangkal.. Karena disana ada gundukan pasirnya pak”


“Hmmm iya.. Saya tidak berpikir sampai ke sana Gus… dah gini saja, biar saya aturnya dulu dengan orang-orang saya… pokoknya ada semacam peringatan untuk tidak berenang ke bagian yang dalam”


“Eh nanti ketika orang saya datang, tolong kamu kasih tunjuk  bagian mana saja yang dalam  dan yang bisa digunakan untuk area bermain”


“Karena nanti bagian belakang itu akan saya renovasi untuk menjadi taman yang asri dan tempat yang enak untuk bersantai… oh iya, di belakang itu ada kuburan Gus.. apa bisa kuburan itu kita hilangkan saja?”


“Waduh saya tidak tau pak… begini saja pak Jay…lebih baik sebelum semua berjalan, ada baiknya bapak datangkan paranormal, yah paling tidak untuk memberikan semacam tanda dimana saja area yang berbahaya…”


“Tetapi tidak untuk mengusir mahluk halus yang ada disini… hanya semacam kulonuwun atau permisi kalau disini akan ada semacam hotel.. Tapi itu hanya saran saja pak. Kalau bapak keberatan ya tidak papa kok pak”


“Usulmu tentu saja akan saya pertimbangkan Gus… bagaimana, apa kamu ada usul lain lagi”


“Pekerjakan beberapa orang dari desa sebelah sungai juga pak, entah sebagai keamanan atau untuk bersih-bersih hotel.. Jadi kalau seumpama ada apa-apa kita tidak bingung mau ke mana”


“Waduuh… saya kok agak gimana gitu dengan orang-orang desa sana, saya sebenarnya tidak mau lagi berhubungan dengan orang desa itu” kata pak Jay dengan wajah yang kurang suka.


“Mas… gimana kalau kita gunakan pak Cheng dan Jiang saja untuk urusan keamanan disini?”


“Eh siapa itu pak Cheng dan Jiang mbak Tina?” tanya pak Jay


“Dia eh… dua  orang keturunan china yang pernah membantu kami pak… eh dia sudah seperti saudara, tapi sayangnya mereka berdua belum mempunyai pekerjaan tetap”


“Oh bagus kalau begitu, saya suka mempekerjakan orang-orang dengan multi etnis, jadi tidak hanya orang pribumi saja heheheh” jawab pak Jay


“Besok suruh mereka berdua menghadap saya…”


“Maaf pak Jay.. saya harus cari mereka dulu, karena mereka pergi untuk mencari pekerjaan di kota sebelah”


“Oh ya sudah… besok atau lusa bisa ketemu dengan saya… pokoknya sebelum semuanya final, saya harus tau siapa saja yang bekerka dengan saya… saya tidak mau bekerja dengan orang-orang yang bermasalah seperti sebelumnya


*****


“Mas… kita harus mengambil tas yang sudah hampir sebulan ada di losmen kota”


“Heheheh….iya mbak… tapi bisa saja tas itu sudah tidak ada disana mbak.. Kan sudah hampir sebulan kita tinggal”


“Dicoba saja mas, di dalam tas itu kan ada uang yang tidak sedikit, ayo kita kesana, semoga tas kita masih ada disana mas”


Hari semakin sore…. Pak Jay sudah kembali ke hotel tempat dia menginap di tengah kota… pekerja masih melanjutkan renovasi bekas rumah penggergajian ini.


Masih perlu sehari lagi untuk bisa menempati hotel yang dulunya adalah rumah penggergajian, aku dan mas Agus memutuskan untuk kembali ke losmen tempat kami meninggalkan tas ransel kami.


Apa sebaiknya aku pulang ke rumah dan tinggal di rumah dulu ya?

__ADS_1


Ah nanti saja dipikirkan, yang penting sekarang ke losmen untuk mengambil tas kami yang masih ada disana.


“Mas… kita tidak boleh lengah mas… kita masih harus mencari pak Cheng dan JIang…tapi bagaimana cara menemukan mereka berdua mas”


“Tenang saja mbak… kita tetap mencari, dan yang pasti mereka juga mencari kita mbak… masih ada waktu dua hari untuk memperkenalkan pak Cheng dan Jiang kepada pak Jay… kita harus tetap bersatu dan ada di rumah penggergajian yang sekarang menjadi hotel”


“Karena disana itu adalah tempat pertahanan kita mbak… kan begitu kata pak Cheng dan Jiang mbak”


“Iya benar mas….ayo cepat kita ke losmen…”


Aku tau kalau pekerjaan kita semakin berat, karena pasti harus melindungi orang yang menginap disana, tetapi nggak tau lagi kedepannya karena aku masih belum bisa memperkiraan apa yang akan terjadi.


Motor yang dulunya milik pak Pangat ini menuju ke tengah kota, untuk menuju ke losmen tempat kami menitipkan tas ransel kami.


Aku masih berpikir apa yang sekarang sedang terjadi dengan pak Pangat, apakah dia masih hidup atau tidak….


“Mas.. besok pagi sebelum ke rumah penggergajian kita mampir ke rumah sakit dulu.. Tina kepingin tau bagaimana keadaan tubuh pak Pangat mas”


“Iya mbak, tadi saya juga berpikir seperti yang mbak Tina pikirkan, kita tetap harus tau bagaimana keadaan pak pangat mbak… saya sih berharap dia tidak akan bertahan mbak… pikiran saya memang jelek, tapi dia kan memang sudah memilih jalan seperti itu”


“Iya juga mas… tapi gimana dengan istrinya mas?”


“Hehehe.. Saya kok merasa itu bukan istrinya mbak… masak sih seorang istri hanya diam saja dan seolah tidak mau tau dengan urusan suaminya hehehe”


“Ih jangan gitu mas… lha kalau Tina ini gimana mas, bukan istri tau terus menerus mengurusi urusan mas Agus heheheh”


“Mbak Tina… saya yakin seyakin yakinnya…. Selesai semua ini, mbak Tina akan punya seorang suami yang setia hihihi”


*****


“Iya bu… maafkan kami berdua, karena ternyata pekerjaan di kota S mengharuskan kami menuju ke luar pulau, dan tidak sempat kesini untuk kabari ibu dan bapak sebagai pemilik losmen ini” kata mas Agus


“Yah paling tidak ngabari gitu lho mas… kami kan kepikiran dengan tas itu” tunjuk bapak pemilik losmen pada tas ransel kami


“Kami tidak membuka tas itu sama sekali mas”


“Terima kasih pak… eh saya akan tetap membayar biaya sewa kamarnya selama kami tinggalkan tas ini”


“Nggak usah mas… cukup bayar saja sewa kamar lima hari setelah kami keluarkan tas itu dari kamar…” jawab istri pemilik losmen


“Eh maaf pak, untuk hari ini apakah ada kamar kosong, kami perlu istirahat sebelum besok atau lusa kami pergi dari sini”


Untung … benar benar beruntung tinggal di losmen ini… tasku masih utuh, bahkan isinya pun tidak ada yang berubah.


Pemilik losmen ini memang komit tidak akan membuang barang berharga milik tamu yang ketinggalan, karena mereka yakin pada suatu saat tamu yang merasa ketinggalan barang akan datang untuk mengambil barang tersebut.


Malam ini istirahat penuh, karena besok pagi sudah harus jalan untuk mendatangi dokter Joko, dan mencari keberadaan pak Cheng dan Jiang yang entah mereka ada dimana.


Dari pagi hingga malam hari ini tidak atau belum ada ancaman dari Fong, mungkin hal ini disebabkan karena pak Pangat  tidak bisa memikirkan dimana kami berada, sehingga mungkin pasukan khusus Fong tidak tau dimana kami berada.


“Eh mas… kalau seumpama apa yang dipikirkan pak Pangat itu berbeda dengan kenyataan… apakah pasukan khusus Istana bisa menemukan kita?”


“Maksudnya gimana mbak, saya kok belum bisa memahami apa yang mbak Tina katakan barusan”


“Gini mas….tadi Tina berpikir, pasukan khusus dari istana bisa menemukan kita ada dimana kan berdasarkan apa yang pak Pangat pikirkan”


“Seumpama pak Pangat berpikir kita ada di rumah sakit, bisa saja mereka akan mengejar kita di rumah sakit mas”


“Jadi apa yang pak Pangat pikirkan itu akan tergambar oleh pasukan itu…benar nggak mas?”


“Iya mbak… terus apa yang mbak TIna sekarang sedang pikirkan?”


“Kalau seandainya kita ada di rumah penggergajian yang sekarang sudah berubah menjadi sebuah Hotel, apakan mereka bisa menemukan kita disana? Karena kan yang ada di pikiran pak Pangat adalah sebuah rumah penggergajian yang jelek dan mengerikan mas”

__ADS_1


“Waduh maaf mbak.. Otak saya tidak sampai ke sana… lebih baik istirahat dulu mbak, besok kita bisa mikir lagi”


*****


Pagi hari di kamar losmen…mas Agus sedang duduk termenung di lantai losmen yang dilapisi springbed. Dia memang tidur di lantai yang dilapisi springbed. Dia tidak tidur satu tempat tidur bersama aku.


Aku bisa menebak bahwa dia sekarang sedang berpikir keras tentang apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita lakukan setelah ini.


Tidak hanya mas Agus.. aku pun sedang memikirkan apa yang tadi malam aku utarakan ke mas Agus.


“Sudahlah mbak.. Kita jangan berpikir terlalu keras.. Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan dan aman menurut kita mbak, saya yakin mereka yang mengejar kita tidak sehebat ketika di alam mereka sendiri”


“Mbak Tina kan masih ada backup dari leluhurnya mbak Tina”


“Iya mas.. Semoga apa yang mas Agus katakan itu benar, semalam sih Tina berpikir tentang segala kemungkinan yang akan terjadi pada kita berdua mas”


“Dan menurut apa yang Tina analisa kita masih punya peluang untuk selamat kok”


“Nah itu yang saya suka dari mbak Tina…. Selalu optimis di segala keadaan”


“Ya mas… kalau tidak optimis kita sendiri yang akan bingung mas”


“Rencana kita hari ini akan ke rumah sakit dan menemui dokter Joko kan mas…. Tapi apa perlu kita juga checkout dari losmen ini?”


“Jangan checkout dulu mbak… kita tetap ada disini dulu, tempat yang pak Pangat tidak akan tau.. Kita disini hingga kita bisa menemukan pak Cheng dan Jiang dulu”


*****


Pagi hari keadaan rumah sakit ini sudah cukup ramai… kami sedang mencari tempat parkir sepeda motor yang kosong…


Nggak tau kenapa pagi ini perasaanku nggak seperti sebelum-sebelumnya, nggak aku merasa akan ada sesuatu yang tidak semestinya kepada aku dan mas Agus.


“Yuk mbak.. Kita ke belakang…” ajak mas Agus sambil menggandeng tanganku


Kami berjalan dengan santai ke bagian belakang rumah sakit, ketika kami ada di belokan yang mengarah ke kamar Ugd dan kamar mayat… ternyata di depan kamar mayat ada beberapa orang yang sedang berdiri dan saling berbicara satu sama lain.


Disana juga ada anggota satpam termasuk pak siapa itu yang merupakan kepala satpam disini. Mereka berkumpul di depan kamar mayat.


Disana juga ada dokter Joko yang sedang mengobrol dengan beberapa orang yang kayaknya sedang menerangkan sesuatu kepada dokter Joko.


Dari  gestur tubuh orang yang ada disana, kelihatannya ada sesuatu yang terjadi, dan bukan sesuatu yang biasa terjadi. Bisa saja sesuatu yang istimewa terjadi, karena orang-orang yang ada disana itu saling bicara satu sama lain


“Kelihatannya ada sesuatu yang terjadi di depan kamar mayat itu mas”


“Iya mbak.. Gimana apa kita tetap kesana dan menemui dokter Joko?”


“Ya iya mas… kan kita sudah ada disini, masak kita harus balik ke losmen lagi?”


“Tapi masalahnya mereka disana itu kayaknya sedang sibuk mbak, kayaknya sedang terjadi sesuatu disana… coba lihat gerakan tangan penjaga kamar mayat yang sepertinya sedang berusaha menjelaskan dan meyakinkan orang yang diajak bicara”


“Iya sih mas… tapi jangan-jangan ada sesuatu dengan salah satu mayat yang ada disana?”


“Disana tidak ada mayat lain.. Selain tubuh pak Pangat yang mulai membusuk mbak”


“Ayo kita kesana saja mbak, dari pada kita penasaran apa yang sedang terjadi disana”


Ada sekitar enam orang yang ada di depan kamar mayat, dan rata-rata mereka sedang bicara dengan penjaga kamar mayat dan petugas keamanan.


Perasaanku yang tadi tidak enak pun kayaknya jawabanya akan berakhir disana…. Aku sempat dengar suara tinggi dari dokter Joko yang mengatakan…. KENAPA KOK BISA HILANG…..!


Tapi sayangnya aku tidak bisa mendengar jawaban dari petugas penjaga kamar mayat, dia berusaha menjawab pertanyaan dokter Joko dengan suara pelan dan lemah, disertai dengan gerakan tangan yang menyatakan tidak tau.


“Selamat pagi dokter Joko” sapa mas Agus ketika kami sudah dekat dan membelakangi dokter Joko

__ADS_1


“Oh eh… pagi mas ..mbak… eh kalian tunggu disana saja, di depan ruang UGD, nanti saya akan kesana menemui kalian berdua” kata dokter Joko mengusir kami berdua


__ADS_2